Mas Anggono,

Saya tergugah dengan pemikirannya. Terlihat kematangan dan kedalaman analisis di dalamnya. Namun, bagaimana menurut pendapat Mas tentang informasi-informasi berikut ini:

(i) Subsidi energi, terutama dalam bentuk subsidi harga, umumnya justru lebih banyak dinikmati oleh golongan menengah ke atas. Kaum perekonomian kelas bawah, justru menikmati lebih sedikit.

(ii) Perekonomian kita sesungguhnya adalah perekonomian minyak. Kata orang-orang, efek petroleum pada day-to-day activity sangat kentara. Artinya, jika perekonomian seperti ini tidak dibangun dengan market price, tentunya ini memberikan sinyal yang salah pada kegiatan yang berlangsung. Sinyal yang pada ujungnya, tidak akan membawa kegiatan perekonomian pada efisiensi. Hmm, jika efisiensi gagal jadi tujuan, tentu pertumbuhan dan kesejahteraan tidak akan tercapai juga.

(iii) Indonesia itu pada dasarnya sudah jadi net-importer oil country. Nilai duit yang kita keluarkan untuk mengimpor minyak justru pada saat ini lebih besar daripada jumlah duit yang kita peroleh dari jualan minyak. Artinya, kita sudah tak bisa mengklaim bisa memainkan harga minyak. Artinya juga, kita harus mengambil langkah-langkah untuk melakukan penurunan konsumsi karena volume impor yang begitu besar. Artinya juga, kita mau tak mau harus menjadikan harga minyak di pasar internasional sebagai referensi paling sahih (di sanalah, in my humble opinion, kesalahan terbesar dari opini Pak Kwik Kian Gie yang legendaris).

(iv) Sedikit bicara dari sisi swasta, besarnya porsi subsidi di anggaran negara memberikan tekanan pada sustainabilitas fiskal. Hal ini akan meningkatkan country risk dari sebuah negara. Nah, efeknya besar buat rencana-rencana investment di Indonesia. Country risk akan meningkat, dan pasti suku bunga meningkat dan prosedur-prosedur terkait finansial makin bikin puyeng. Intinya, makin jauh harapan untuk membuka new investment di dalam negeri.

(v) Satu hal yang benar-benar susah di negeri ini adalah birokrasi pemerintahan yang tidak bagus dan terkesan serampangan, profesional, dan lamban. Jadi, program dan kebijakan yang bagus pun, menjadi tak efektif dan malah membawa efek yang lebih buruk. Dan, akhirnya masyarakat kemudian menilai program yang cerdas sebagai sebuah kesalahan.

Punten, mohon maaf kalo sok tau...Cuma sekedar sharing info yang saya miliki.

  Salam,

  Adrisman Tahar (Ade)
   TK'95


On Wed, 07 May 2008 15:30:39 +0700, agung anggono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Subsidi mungkin suatu saat harus dicabut untuk menghindari pola hidup boros, tetapi sebelum subsidi dicabut seharusnya daya beli dinaikkan dulu. Soal pengalihan subsidi untuk bidang lain (misalnya pendidikan) belum tentu pemerintah bisa konsisten. Lha wong ada sekolah di Jl. Senopati sampai ambruk atapnya karena kondisi yang sudah terlalu bobrok menunjukkan bahwa pemerintah mengurus yang di daerah elit Jakarta saja tidak bisa apalagi mengurus sekolah di cerita Laskar Pelangi nya Andre Hirata.

Naiknya harga BBM dalam negeri karena naiknya harga BBM dunia mungkin perlu dipertanyakan kembali relevansinya. Salah seorang teman kita pernah menyajikan perhitungannya Kwik Kian Gie soal deficit anggaran karena harga BBM dunia naik. Logikanya adalah kita sebagai negara penghasil minyak semestinya senang dengan naiknya harga minyak dunia, karena barang jualan kita semakin mahal. Jadi semestinya kenaikan harga BBM dalam negeri tidak perlu dilakukan.

Hal lain lagi adalah timing untuk mengumumkan. Sebelum harga naik, pemerintah sudah gembar-gembor akan menaikkan harga. Akibatnya harga sudah naik duluan. Ketika harga BBM benar-benar naik harga kebutuhan pokok ikut naik lagi. Sehingga menimbulkan efek berganda.

AA/AS84


----- Original Message ----
From: Pekik A. Dahono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, May 7, 2008 9:52:53 AM
Subject: [indonesia] Re: Krisis Energi Sektor BBM dan Langkah-langkah Penyelesainnya

Subsidi tetap perlu ...
apa bedanya Indonesia yang kaya minyak dengan Singapore yg tidak punya
minyak ?

Bedanya, mestinya kita lebih makmur dari Singapore. Subsidi bisa dipakai
untuk membuat sekolah gratis, kesehatan gratis, dsb.

soal jalan macet
ya itu salahnya pemerintah tidak pernah menambah jalan baru kecuali jalan
tol saja ...

Kemacetan tidak bisa diatasi dengan membangun jalan. Kemacetan bisa
dikurangi dengan memperbanyak mass transportation system. Di mana-mana, yang
namanya kota besar macet kok.


soal penyelundupan , ah itu masalah niat aja koq ...

Tapi jangan dikasih iming2 dong.



Untuk mengurangi subsidi tanpa menaikkan harga BBM sebenarnya semua orang
tahu. Tinggal pemerintah niat apa enggak.
1) Kalau ingin mengurangi subsidi, mengapa cari pertamax lebih susah dari
cari cari premium? Mengapa cari solar DEX lebih susah dari cari solar
bersubsidi? Coba kalau cari premium lebih susah dari cari pertamax, terutama
di kota besar, saya yakin subsidi berkurang.
2) Mengapa cari gas susah saat orang disuruh beralih dari minyak tanah ke
gas.
3) Mengapa PLN tidak jualan listrik bersubsidi dan non subsidi?
4) Kalau Pertamina dan PLN menyatakan harga ekonomi atau harga pasar, siapa
yang memeriksa? Masih monopoli kok bisa bilang harga pasar.

>
>
>
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt






--
Using Opera's revolutionary e-mail client: http://www.opera.com/mail/

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke