Lho di Monas itu kan bukan tawuran tapi penyerangan oleh LPI. Tak ada perlawanan dari AKKBB.
bhm > Jelas sekali ada skenario besar yang mungkin tidak disadari oleh oleh > pimpinan nasional , sebagian rakyat indonesia maupun sebagian besar umat > Islam. Sebagai negara besar dengan luas wilayah, sumber daya alam, jumlah > penduduk muslim yang tertinggi di dunia maka Indonesia bersama-sama dengan > Iran, Irak,Pakistan,Afghanistan,Arab Saudi dan Sudan menjadi target > Amerika +Yahudi dan antek-anteknya Inggris , Australia dan > Singapura. Kalau tidak hati-hati dan waspada kita pun sedang berada pada > tahap untuk di Irakkan, yang tujuan akhirnya adalah menjajah dan menguasai > sumber daya alam. > Iran dengan kasus nuklir (padahal Israel sudah memiliki 150 bom nuklir > seperti disampaikan oleh Jimmy Carter), Irak dengan isu senjata pemusnah > massal yang tidak terbukti,Pakistan dan Afghanistan dengan isue teroris, > Arab Saudi dengan isu demokrasi serta diserang dengan pornografi serta > Sudan dengan isu darfur. FPI, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis > Mujahidin Indonesia (MMI) di mata Amerika +Israel dan antek-anteknya sama > dengan Hamas, Hezbollah, Al Qedah karena menjadi penghalang besar bagi > ambisinya. > Amerika dan yahudi serta antek-anteknya tahu betul , bukan tentara yang > kuat yang menjadi penghalang ambisinya tetapi Islam garis keras yang > berjihad seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw di mana kematian bukanlah > sesuatu yang ditakutkan. Tidaklah mengherankan kalau Israel sangat gerah > dengan Hamas, ihwanul Muslimin dan Hezbollah serta Amerika sangat takut > dengan Iran yang revolosioner, Taliban, Al Qaedah dan LaskarMahdi. > Sejarah membuktikan Israel bisa mengalahkan koalisi negara-negara Arab > pada perang 1948 dan 1967 dalam beberapa hari tetapi sulit mengalahkan > Hezbolah yang jumlah tentaranya kurang dari lima ribu saja. Israel juga > sangat ketakutan dengan hamas dengan aksi intifadhahnya. Betapa kecewanya > kita ketika aparat polisi dan TNI sangat lamban menangani kasus kerusuhan > maluku yang meluas dengan ribuan korban, tetapi dengan adanya Laskar Jihad > kerusuhan tidak meluas. > Kalau kita teliti dan waspada kelihatan sekali skenario melemahkan bangsa > kita : > 1. Bisnis hiburan : bisnis hiburan > yang menjamur baik di TV maupun tempat hiburan yang mengobral pornografi. > Antek-antek asing ngotot sekali mempertahankan majalah Play Boy. > Sementara mereka menentang keras undang-undang anti pornografi dan > pornoaksi. Generasi muda diarahkan lebih memilih cita-cita di jalur > hiburan dibandingkan dengan sekolah yang tinggi. > 2. Sekolah di buat mahal dari SD > sampai perguruan tinggi untuk merperbodoh masyarakat > 3. Isu Flue burung supaya masyarakat > kekurangan gizi karena takut makan telur dan daging ayam > 4. Tawuran antar pelajar > 5. Narkoba dll > Kembali ke kasus Monas terlihat sekali keberhasilan skenario antek-antek > Amerika sampai Presiden SBY pun perlu bersuara lantang untuk menindak FPI. > Sekitar 2000 aparat polisi dengan senjata lengkap mengepung markas FPI > yang jumlahnya sedikit yang mestinya cukup ditangani polsek atau paling > banter Polres. Apa yang dilakukan FPI di Monas skala kekerasannya masih > kalah jauh dengan kerusuhan pada pertandingan sepak bola bahkan masih > kalah dengan kekerasan yang dilakukan pada perkelahian antar pelajar > maupun mahasiswa dan bahkan masih kalah dengan kekerasan yang dilakukan > aparat polisi pada kasus Unas. > Mestinya presiden SBY lebih berhati-hati dalam berpihak yang secara kasat > mata tampak sekali beliau berpihak ke mana, terutama menjelang pemilu > 2009. Isu-isu negatip tentang SBY pada pemilu 2004 lalu bisa menjadi bahan > kampanye negatip bagi lawan-lawan politiknya. Betapa lantangnya sebagian > dari masa NU-Gusdur (Ketua NU Hasyim Muzadi tidak setuju dengan pembubaran > FPI)serta masa Banteng Muda PDIP untuk membubarkan FPI. Apakah mereka > sudah lupa dengan kerusuhan TUBAN pasca kekalahan jagonya, kerusuhan Solo > saat Megawati kalah dalam pemilihan presiden serta demo anarkis anti Amin > Rais saat pemilu 1999 yang merka buat. > > Demo anarkis yang dilakukan oleh elemen-elemen anti FPI juga perlu > ditindak sesuai dengan hukum,Itu kalau pemerintah dan aparat mau bertindak > adil. Mestinya kita bisa berpikir positip dengan organisasi seperti FPI > dan yang sehaluan. Kalau seandainya kita berperang dengan Amerika > kira-kira siapa yang paling berani pada barisan terdepan padahal kita > sedang menunggu giliran setelah Irak, Afghanistan, Iran, Sudan,Pakistan > dan Suriah. Banyak-banyaklah membaca maupun menonton film tentang > spionase. Kita diberi anugerah sebagai orang yang terdidik yang diharapkan > dapat berfikir jernih, obyektip dan proporsional. > > --- On Sat, 6/7/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [indonesia] Renungan : Sikap Adil kepada FPI, AKKBB dan Ahmadiyah > To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED] > Date: Saturday, June 7, 2008, 11:59 AM > > > ----- Forwarded Message ---- > From: Hafid Baradja <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, June 6, 2008 1:43:26 PM > Subject: Sikap Adil kepada FPI > > Sikap Adil Kepada FPI > (Pasca Kasus Kekerasan di Monas) > Oleh Abu Muhammad Waskito *) > > Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh > sebagian aktivis Front > Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang > menamakan diri > sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama > dan Berkeyakinan > (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para > aktivis FPI terhadap > massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung > Ahmadiyyah. Disana ada > aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas > sound system, > kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat > prihatin melihatnya. > > Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. > Melalui jubir > kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi > anarkhis aktifis FPI > di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, > disiarkan TV-TV, bahwa > dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku > kekerasan ditindak > secara hukum. SBY juga menekankan, "Negara kita negara > hukum." Gayung > bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku > kekerasan di Monas. > > MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas > itu (Republika, 2 > Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum > Muhammadiyyah, setelah > pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din > tidak menuntut FPI > dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika > Pemerintah ingin > membubarkan FPI ( www.jawapos.co.id, 2 Juni 2008). Arbi > Sanit, pakar > politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan > karena mengancam > kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP > Anshor, Malik > Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau > pemerintah tidak tegas. > Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan > sempat terjadi > keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh > pemuda-pemuda > tersebut > (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008). > > Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan. > Sebelumnya juga > bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan > aksi-aksi nahi > munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah > kita menghukum FPI > sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan) > pasca kasus > kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani > melihat masalahnya > secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi. > > Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan > dalam kasus di > atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara > cermat, sehingga kita > bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau > tidak? > > Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris > Besar Heru Winarko, > beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka > mulanya hanya > berencana > berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB > beraksi sampai ke > Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga," kata > Kombes Heru Winarko > (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan > Akibat Pemerintah > Lamban," hal. 1). > > Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar > hukum. Mereka > melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak > kepolisian. Jika > mereka > beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut > tidak perlu > terjadi. > > Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di > GlobalTV siang hari, > disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di > Monas tersebut. Pada > mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah > satu lokasi Monas > sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa > TOA. Mereka kadang > bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa > Allah". > > Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang > siapapun. Aksi > mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai > timbul masalah ketika > AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system > kuat, tidak jauh > dari > lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung > Ahmadiyyah, di sisi > lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. > Anda bisa > bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk > Ahmadiyyah di dekat > telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka > sebagai nantangin > perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat > disebut terprovokasi > oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak > awal untuk berbuat > kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib. > > Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus > mawas diri, > menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, > Muhammadiyyah, sampai > ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga > dengan FPI, tidak > usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3 > Juni 2008). > > Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana > terlihat dengan > jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras > menertibkan para > aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, > tendangan, menenangkan > aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian > pemuda aktivis FPI > mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak > mampu mencegah > secara keseluruhan. > > Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, > cacian, atau > perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk > melihat bahwa > disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para > pemuda yang sudah > terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya > mendamaikan, saya yakin > akan > jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam > kasus tersebut, > menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu > mencegah aksi-aksi > individu yang terlanjur terjadi. > > Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita > harus jujur > mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha > mencegah kekerasan > itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak > kepolisian sering > berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi > bisa khilaf, > melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu > pula dengan kasus > para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada > instruksi kekerasan, > tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi. > > Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas > ditindak secara hukum, > tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu > berbeda konteksnya. > Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut > saja- oknum aktivis > FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah > untuk > menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus > kekerasan oleh > oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. > Ia dianggap kasus > kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada > tuntutan untuk > membubarkan lembaga Polri. > > Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian > warga > Muhammadiyyah > -misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi > "bola liar" untuk > membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan > oleh oknum tetap > dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi. > > Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari > lima tersangka > kasus > di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan > sebagai lembaga FPI > secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah > individual case, bukan > organization case. Kalau setiap kasus individu bisa > menjadi dalih untuk > membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji > SBY yang katanya > tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa > dijadikan dalih > untuk membubarkan kabinetnya. > > Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme > di Monas atas > nama > "negara hukum", dia telah menggunakan dalil yang > benar. Tetapi > seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah. > Bukankah penanganan > kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur > hukum? Disana ada > Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi > Depertemen Agama RI, > rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi > kepala-kepala daerah > tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat "negara > hukum"? Mengapa > SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah > hukum berlaku bagi > FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi > tentang kesesatan > Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan > Buyung Nasution, > selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi > keadilan hukum? > Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres > bisa > mengintervensi > kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam > AKKBB yang melakukan > aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah > disepakati sesat oleh > Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di > bawah Kabinet > SBY? > > Jadi kesan yang muncul, istilah "negara hukum" itu > hanya dipakai untuk > mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok > lain, konsep > ketegasan > hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan > Buyung Nasution, dia > bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas > Islam dalam > kasus > Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai > "profesional hukum" ketika > membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya > hanya sekedar > "kuda tunggangan" belaka. > > Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, > emosi, mengutuk, > dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli > peserta aksi AKKBB. > "Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris > sembilu," begitulah > kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati > kekerasan ini. > > Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam > ketika > Ahmadiyyah > terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita > terketuk hati ketika > ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia > mendakwakan diri > sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan > kitab At Tadzkirah > sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika > ajaran-ajaran Islam > dilecehkan oleh orang-orang itu? > > Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, > atau sedih, apalah > artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan > yang menimpa > Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan > Islam? Dan > sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, > demikian mudahnya > dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah). > Sebagai seorang > Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan > Rasulullah dan > Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, > sehingga atas hidayah > Allah saat ini kita menjadi Muslim? > > Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan > oleh kaum > Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah > 'alaih. Bukan > berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa > dibenarkan, sebab > bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada > tindakan rakyatnya > sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan > kepada kaum Ahmadiy > membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat > ketika mulai > mendakwahkan Islam di masa lalu. > > Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun > pelakunya. Tetapi > dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat > secara jernih dan > adil. Jangan karena sentimen, atau sudah "kadung > kesal" dengan FPI, > lalu > kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta'ala tetap > memerintahkan agar > kita > selalu berbuat adil. "Janganlah kebencian kalian > kepada suatu kaum, > membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, > sebab adil itu > lebih dekat kepada taqwa." (Al Maa'idah: 8). > > Wallahu a'lam bisshawaab. > > ---------------------------------------------------------- > -------- > Note: Mohon dibantu menyebarkan, dalam rangka menolong > FPI menghadapi > tekanan pembubaran dari berbagai pihak. Minimal, > tulisan ini bisa > menjadi referensi pribadi. Wahana diskusi tentang > masalah terkait, > silakan menulis ke: [EMAIL PROTECTED] > < mailto:langitbiru1000%40gmail.com> > < mailto:langitbiru1000%40gmail.com> . Syukran > jazakumullah khair atas > kontribusinya demi kebajikan Ummat Islam. > > > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
