Memang umat Islam Indonesia sendiri suka ribut satu sama lain kok :-(
Baru saja disebutkan katanya umat Islam diadu dan terprovokasi bangsa
asing, tapi pertanyaan anda ini juga bisa memulai provokasi baru ...
;-) Memang kita ini senangnya ribut saja ... tidak bisa tinggal diam
dgn adanya perbedaan pendapat ...

Anda tidak bisa mengharapkan semua orang sama pendapatnya ... . NU,
Muhammadiyah, FPI, dan yang lain masing2 punya pendapat sendiri, punya
interpretasi sendiri, melihat sesuatu dgn sudut pandang berbeda.
Rasulullah sendiri sudah mengatakan bahwa nanti umat Islam akan
terpecah menjadi 73 golongan (? tolong koreksi kalau saya salah). Dan
mungkin kita ikut berkontribusi atas perpecahan ini karena masing2
sangat mempertahankan egonya ... dan merasa dirinya lah yang paling
benar ...

Menurut saya ... sudut pandang Gus Dur bukan membela Ahmadiyah ...
tapi membela "kebebasan beragama" dan mungkin sedang menjalankan
prinsip "tidak ada paksaan dalam beragama". Tentu saya mengatakan ini
dgn motivasi "khusnudhon".  Ini pasti nanti anda akan debat lagi ...
dan tidak akan pernah selesai perdebatan ini sampai akhir jaman
sekalipun ... ;-) Dan nanti ujungnya saya akan dicap ... membela Gus
Dur ... yg nanti dianggap sebagai membela Ahmadiyah .... . Duh ..
logika macam apa ini ... . Ini mirip seperti logikanya GW Bush ...
"are you with us or against us".  Logika yang digunakan bukan oleh
umat yg berpikir :-(

Sudah lah ... lebih baik kita bersama-sama memikirkan problem besar
lainnya dari umat ini. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dari
bangsa kita ini ... . Selama kita masih seperti ini ... sampai kapan
pun kita selalu ribut satu sama lain. Dan jangan salahkan bangsa
asing, lha wong kita sendiri lebih senang ribut sesama tetangga :-(
Atau ini memang sengaja ya ... menjelang Pemilu 2009 ? ;-)

Lama-lama milis ini nanti bukan menjadi ajang untuk memikirkan mencari
solusi Indonesia next better ... tapi malah menjadi ajang debat dan
ribut satu sama lain ... . Apa itu yang diharapkan dari milis Next
better ini ???


salam,

-ai-



2008/6/7 Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>:
> Terima kasih sekali rekan Ghozali atas tulisannya, yang mengingatkan kita
> bahwa melihat sesuatu jangan hanya yang kasat mata, tetapi juga yang tidak
> kasat mata harus dilihat dengan pemikiran dan hati yang jernih termasuk
> dengan kacamata intelijen/spionase :-)
>
> Nampaknya salah satu kelemahan bangsa Indonesia adalah kurang sadar dan atau
> waspada terhadap cara cara halus dengan bahasa HAM, liberalisme, globalisasi
> dan sebagainya  dari kekuatan imperialisme dunia yang tidak hanya ingin
> menguasai ekonomi maupun politik Indonesia termasuk sumber dayanya sehingga
> Indonesia dibuat lemah terus dan tergantung kepada luar negeri (baca
> Amerika, Inggris yang banyak dilobby oleh Yahudi).
>
> Apakah ada yang bisa kasih pencerahan mengapa Gus Dur dengan suara lantang
> mengatakan bahwa MUI tidak berhak mengatakan/mengeluarkan fatwa bahwa ajaran
> Ahmadiyah itu sesat ? dan menurut Gus Dur yang barusan disiarkan METRO TV
> dalam siaran Headline jam 16.00 sebagai juru bicara AKKBB mengatakan
> Ahmadiyah adalah bukan aliran sesat ?
> Mengapa Gus Dur yang merupakan tokoh PKB/NU bisa membela Ahmadiyah ? apakah
> belum tahu nabi Ahmadiyah Gulam Ahmad ? atau Gus Dur termasuk yang setuju
> nabi terakhir Gulam Ahmad ? atau GUs Dur tertipu/dikadalin secara halus oleh
> Ahmadiyah ?
>
> Salam,
> Zaenal
>
> At 15:45 07/06/2008, ghozali  wrote:
>
> Jelas sekali ada skenario besar yang mungkin tidak disadari oleh oleh
> pimpinan nasional , sebagian rakyat indonesia maupun sebagian besar umat
> Islam. Sebagai negara besar dengan luas wilayah, sumber daya alam, jumlah
> penduduk muslim yang tertinggi di dunia maka Indonesia bersama-sama dengan
> Iran, Irak,Pakistan,Afghanistan,Arab Saudi dan Sudan menjadi target  Amerika
> +Yahudi  dan antek-anteknya Inggris , Australia dan Singapura. Kalau tidak
> hati-hati dan waspada kita pun sedang berada pada tahap untuk di Irakkan,
> yang tujuan akhirnya adalah menjajah dan menguasai sumber daya alam.
>
> Iran dengan kasus nuklir (padahal Israel sudah memiliki 150 bom nuklir
> seperti disampaikan oleh Jimmy Carter), Irak dengan isu senjata pemusnah
> massal yang tidak terbukti,Pakistan dan Afghanistan dengan isue teroris,
> Arab Saudi dengan isu demokrasi serta diserang dengan pornografi serta Sudan
> dengan isu darfur. FPI, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis Mujahidin
> Indonesia (MMI) di mata Amerika +Israel dan antek-anteknya sama dengan
> Hamas, Hezbollah, Al Qedah karena menjadi penghalang besar bagi ambisinya.
>
> Amerika dan yahudi serta antek-anteknya tahu betul , bukan tentara yang kuat
> yang menjadi penghalang ambisinya tetapi  Islam garis keras yang berjihad
> seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw di mana kematian bukanlah sesuatu
> yang ditakutkan. Tidaklah mengherankan kalau Israel sangat gerah dengan
> Hamas, ihwanul Muslimin dan Hezbollah serta Amerika sangat takut dengan Iran
> yang revolosioner, Taliban, Al Qaedah dan LaskarMahdi.
>
> Sejarah membuktikan Israel bisa mengalahkan koalisi negara-negara Arab pada
> perang 1948 dan 1967 dalam beberapa hari tetapi sulit mengalahkan Hezbolah
> yang jumlah tentaranya kurang dari lima ribu saja. Israel juga sangat
> ketakutan dengan hamas dengan aksi intifadhahnya. Betapa kecewanya kita
> ketika aparat polisi dan TNI sangat lamban menangani kasus kerusuhan maluku
> yang meluas dengan ribuan korban, tetapi dengan adanya Laskar Jihad
> kerusuhan tidak meluas.
>
> Kalau kita teliti dan waspada kelihatan sekali skenario melemahkan bangsa
> kita :
>
> 1.       Bisnis hiburan : bisnis hiburan yang menjamur baik di TV maupun
> tempat hiburan yang mengobral pornografi. Antek-antek asing ngotot sekali
> mempertahankan majalah Play Boy.
>
> Sementara mereka menentang keras undang-undang anti pornografi dan
> pornoaksi. Generasi muda diarahkan lebih memilih cita-cita di jalur hiburan
> dibandingkan dengan sekolah yang tinggi.
>
> 2.       Sekolah di buat mahal dari SD sampai perguruan tinggi untuk
> merperbodoh masyarakat
>
> 3.       Isu Flue burung supaya masyarakat kekurangan gizi karena takut
> makan telur dan daging ayam
>
> 4.       Tawuran antar pelajar
>
> 5.       Narkoba dll
>
> Kembali ke kasus Monas terlihat sekali keberhasilan skenario antek-antek
> Amerika sampai Presiden SBY pun perlu bersuara lantang untuk menindak FPI.
> Sekitar 2000 aparat polisi dengan senjata lengkap mengepung markas FPI yang
> jumlahnya sedikit yang mestinya cukup ditangani polsek atau paling banter
> Polres. Apa yang dilakukan FPI di Monas skala kekerasannya masih kalah jauh
> dengan kerusuhan pada pertandingan sepak bola bahkan masih kalah dengan
> kekerasan yang dilakukan pada perkelahian antar pelajar maupun mahasiswa dan
> bahkan masih kalah dengan kekerasan yang dilakukan aparat polisi pada kasus
> Unas.
>
> Mestinya presiden SBY lebih berhati-hati dalam berpihak yang secara kasat
> mata tampak sekali beliau berpihak ke mana, terutama menjelang pemilu 2009.
> Isu-isu negatip tentang SBY pada pemilu 2004 lalu bisa menjadi bahan
> kampanye negatip bagi lawan-lawan politiknya. Betapa lantangnya sebagian
> dari masa NU-Gusdur (Ketua NU Hasyim Muzadi tidak setuju dengan pembubaran
> FPI)serta masa Banteng Muda PDIP untuk membubarkan FPI. Apakah mereka sudah
> lupa dengan kerusuhan TUBAN pasca kekalahan jagonya, kerusuhan Solo saat
> Megawati kalah dalam pemilihan presiden serta demo anarkis anti Amin Rais
> saat pemilu 1999 yang merka buat.
>
> Demo anarkis yang dilakukan oleh elemen-elemen anti FPI juga perlu ditindak
> sesuai dengan hukum,Itu kalau pemerintah dan aparat mau bertindak adil.
> Mestinya kita bisa berpikir positip dengan organisasi seperti FPI dan yang
> sehaluan. Kalau seandainya kita berperang dengan Amerika kira-kira siapa
> yang paling berani pada barisan terdepan padahal kita sedang menunggu
> giliran setelah Irak, Afghanistan, Iran, Sudan,Pakistan dan Suriah.
> Banyak-banyaklah membaca maupun menonton film tentang spionase. Kita diberi
> anugerah sebagai orang yang terdidik yang diharapkan dapat berfikir jernih,
> obyektip dan proporsional.
>
>
> --- On Sat, 6/7/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indonesia] Renungan : Sikap Adil kepada FPI, AKKBB dan Ahmadiyah
> To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
> Date: Saturday, June 7, 2008, 11:59 AM
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: Hafid Baradja <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, June 6, 2008 1:43:26 PM
> Subject: Sikap Adil kepada FPI
>
> Sikap Adil Kepada FPI
> (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)
> Oleh Abu Muhammad Waskito *)
>
> Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh
> sebagian aktivis Front
> Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang
> menamakan diri
> sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
> dan Berkeyakinan
> (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para
> aktivis FPI terhadap
> massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung
> Ahmadiyyah. Disana ada
> aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas
> sound system,
> kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat
> prihatin melihatnya.
>
> Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon.
> Melalui jubir
> kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi
> anarkhis aktifis FPI
> di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung,
> disiarkan TV-TV, bahwa
> dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku
> kekerasan ditindak
> secara hukum. SBY juga menekankan, "Negara kita negara
> hukum." Gayung
> bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku
> kekerasan di Monas.
>
> MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas
> itu (Republika, 2
> Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum
> Muhammadiyyah, setelah
> pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din
> tidak menuntut FPI
> dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika
> Pemerintah ingin
> membubarkan FPI ( www.jawapos.co.id , 2 Juni 2008). Arbi
> Sanit, pakar
> politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan
> karena mengancam
> kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP
> Anshor, Malik
> Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau
> pemerintah tidak tegas.
> Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan
> sempat terjadi
> keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh
> pemuda-pemuda
> tersebut
> (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).
>
> Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan.
> Sebelumnya juga
> bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan
> aksi-aksi nahi
> munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah
> kita menghukum FPI
> sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan)
> pasca kasus
> kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani
> melihat masalahnya
> secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi.
>
> Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan
> dalam kasus di
> atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara
> cermat, sehingga kita
> bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau
> tidak?
>
> Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris
> Besar Heru Winarko,
> beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka
> mulanya hanya
> berencana
> berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB
> beraksi sampai ke
> Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga," kata
> Kombes Heru Winarko
> (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan
> Akibat Pemerintah
> Lamban," hal. 1).
>
> Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar
> hukum. Mereka
> melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak
> kepolisian. Jika
> mereka
> beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut
> tidak perlu
> terjadi.
>
> Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di
> GlobalTV siang hari,
> disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di
> Monas tersebut. Pada
> mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah
> satu lokasi Monas
> sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa
> TOA. Mereka kadang
> bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa
> Allah".
>
> Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang
> siapapun. Aksi
> mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai
> timbul masalah ketika
> AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system
> kuat, tidak jauh
> dari
> lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung
> Ahmadiyyah, di sisi
> lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI.
> Anda bisa
> bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk
> Ahmadiyyah di dekat
> telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka
> sebagai nantangin
> perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat
> disebut terprovokasi
> oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak
> awal untuk berbuat
> kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.
>
> Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus
> mawas diri,
> menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU,
> Muhammadiyyah, sampai
> ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga
> dengan FPI, tidak
> usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3
> Juni 2008).
>
> Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana
> terlihat dengan
> jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras
> menertibkan para
> aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan,
> tendangan, menenangkan
> aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian
> pemuda aktivis FPI
> mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak
> mampu mencegah
> secara keseluruhan.
>
> Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan,
> cacian, atau
> perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk
> melihat bahwa
> disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para
> pemuda yang sudah
> terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya
> mendamaikan, saya yakin
> akan
> jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam
> kasus tersebut,
> menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu
> mencegah aksi-aksi
> individu yang terlanjur terjadi.
>
> Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita
> harus jujur
> mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha
> mencegah kekerasan
> itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak
> kepolisian sering
> berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi
> bisa khilaf,
> melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu
> pula dengan kasus
> para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada
> instruksi kekerasan,
> tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.
>
> Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas
> ditindak secara hukum,
> tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu
> berbeda konteksnya.
> Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut
> saja- oknum aktivis
> FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah
> untuk
> menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus
> kekerasan oleh
> oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta.
> Ia dianggap kasus
> kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada
> tuntutan untuk
> membubarkan lembaga Polri.
>
> Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian
> warga
> Muhammadiyyah
> -misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi
> "bola liar" untuk
> membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan
> oleh oknum tetap
> dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.
>
> Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari
> lima tersangka
> kasus
> di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan
> sebagai lembaga FPI
> secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah
> individual case, bukan
> organization case. Kalau setiap kasus individu bisa
> menjadi dalih untuk
> membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji
> SBY yang katanya
> tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa
> dijadikan dalih
> untuk membubarkan kabinetnya.
>
> Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme
> di Monas atas
> nama
> "negara hukum", dia telah menggunakan dalil yang
> benar. Tetapi
> seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah.
> Bukankah penanganan
> kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur
> hukum? Disana ada
> Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi
> Depertemen Agama RI,
> rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi
> kepala-kepala daerah
> tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat "negara
> hukum"? Mengapa
> SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah
> hukum berlaku bagi
> FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi
> tentang kesesatan
> Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan
> Buyung Nasution,
> selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi
> keadilan hukum?
> Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres
> bisa
> mengintervensi
> kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam
> AKKBB yang melakukan
> aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah
> disepakati sesat oleh
> Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di
> bawah Kabinet
> SBY?
>
> Jadi kesan yang muncul, istilah "negara hukum" itu
> hanya dipakai untuk
> mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok
> lain, konsep
> ketegasan
> hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan
> Buyung Nasution, dia
> bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas
> Islam dalam
> kasus
> Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai
> "profesional hukum" ketika
> membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya
> hanya sekedar
> "kuda tunggangan" belaka.
>
> Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual,
> emosi, mengutuk,
> dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli
> peserta aksi AKKBB.
> "Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris
> sembilu," begitulah
> kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati
> kekerasan ini.
>
> Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam
> ketika
> Ahmadiyyah
> terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita
> terketuk hati ketika
> ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia
> mendakwakan diri
> sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan
> kitab At Tadzkirah
> sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika
> ajaran-ajaran Islam
> dilecehkan oleh orang-orang itu?
>
> Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah,
> atau sedih, apalah
> artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan
> yang menimpa
> Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan
> Islam? Dan
> sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu,
> demikian mudahnya
> dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah).
> Sebagai seorang
> Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan
> Rasulullah dan
> Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban,
> sehingga atas hidayah
> Allah saat ini kita menjadi Muslim?
>
> Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan
> oleh kaum
> Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah
> 'alaih. Bukan
> berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa
> dibenarkan, sebab
> bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada
> tindakan rakyatnya
> sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan
> kepada kaum Ahmadiy
> membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat
> ketika mulai
> mendakwahkan Islam di masa lalu.
>
> Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun
> pelakunya. Tetapi
> dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat
> secara jernih dan
> adil. Jangan karena sentimen, atau sudah "kadung
> kesal" dengan FPI,
> lalu
> kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta'ala tetap
> memerintahkan agar
> kita
> selalu berbuat adil. "Janganlah kebencian kalian
> kepada suatu kaum,
> membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah,
> sebab adil itu
> lebih dekat kepada taqwa." (Al Maa'idah: 8).
>
> Wallahu a'lam bisshawaab.
>
> ----------------------------------------------------------
> --------
> Note: Mohon dibantu menyebarkan, dalam rangka menolong
> FPI menghadapi
> tekanan pembubaran dari berbagai pihak. Minimal,
> tulisan ini bisa
> menjadi referensi pribadi. Wahana diskusi tentang
> masalah terkait,
> silakan menulis ke: [EMAIL PROTECTED]
> < mailto:langitbiru1000%40gmail.com>
> < mailto:langitbiru1000%40gmail.com> . Syukran
> jazakumullah khair atas
> kontribusinya demi kebajikan Ummat Islam.
>
>

-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke