Saya tidak bertendensi menjawab langsung, tapi cuma ingin share satu pengalaman saja:
Saya muslim yang tinggal di Tokyo selama 6 tahun. Saya tidak pernah diganggu dalam beribadah. Tidak pula dikafir2kan. Saya tidak terbayang jika mayoritas penduduk Jepang bersikap memonopoli kebenaran (versi mereka) sehingga kaum minoritas seperti saya akan mengalami marjinalisasi atau penindasan. Mengutip imel Mas Adi Indrayanto, kalau kita merasa bahwa hanya kita yang berhak memberi stempel ini benar itu sesat, maka jadilah seperti sekarang ini. Hobi berantem, karena memaksakan kebenaran versi golongan saya. Sayangnya nama Islam itu biasanya *dipatenkan* oleh golongan yang memegang kekuasaan. Susahnya kita tidak bisa bertanya langsung pada Allah siapa yang berhak atau tidak berhak mengklaim Islam. Adanya juga adalah tafsir yang bisa jadi multi. Lagi2 berantem di tataran tafsir. Zaman Saddam berkuasa, Islam syiah ditindas di Irak. Sekarang, pertempuran antara sunni dan syiah memakan korban lebih banyak daripada saat invasi Amerika. Seandainya kita tinggal di negara yang mayoritas penganut Ahmadiyyah (seandainya), apakah kita akan menerima kalau kita dibilang kafir dan disuruh keluar dari Islam? Menurut saya, Islam itu mulia dan tidak akan ternoda oleh "sekte2" apapun. Pun oleh penghinaan yang keluar dari mulut manusia. Islam, as it is. Just my two-yen. salam, fau 2008/6/8 herman rachman <[EMAIL PROTECTED]>: > Rekans, > > Saya menerima 2 pernyataan seperti dibawah, > > barangkali ada yg bisa membantu berkomentar terhadap pernyataan berikut ; > > 1. " *Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim yg besar akan > tetapi tdk" Islami".* > > 2. *Jepang adalah negara bukan Muslim akan tetapi lebih Islami.* > Salam > >
