Mas Bambang,

Coba kita baca dari kronologi peristiwa, niat, penyebab maupun akibat, apakah terjadinya secara institusi atau oknumnya :

Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko, beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga," kata Kombes Heru Winarko (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan Akibat Pemerintah
Lamban," hal. 1).

Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu terjadi.

Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di GlobalTV siang hari, disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa Allah".

Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai timbul masalah ketika AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI.

Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.

Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus mawas diri, menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga dengan FPI, tidak usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3 Juni 2008).

Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana terlihat dengan jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah
secara keseluruhan.

Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut, menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi individu yang terlanjur terjadi.

Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi bisa khilaf, melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus para pemuda FPI itu.

Secara komando tidak ada instruksi kekerasan, tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.

Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum, tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya. Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri.

Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah -misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi "bola liar" untuk membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.

Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih untuk membubarkan kabinetnya.

Jadi ada 2 pertanyaan utama :
1. Mengapa AKKBB pindah dan atau berada di MONAS juga ? padahal izin demonya di BUndaran HI. 2. Mengapa AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi lain mereka melakukan aksi
    di dekat para pemuda FPI

Apakah tidak ada maksud "sengaja membenturkan AKKBB dengan FPI ?" siapa "otak" yang melakukan ini ?

Salam,
Zaenal

At 16:32 07/06/2008, [EMAIL PROTECTED] wrote:
Lho di Monas itu kan bukan tawuran tapi penyerangan oleh LPI. Tak ada
perlawanan dari AKKBB.

bhm


> Jelas sekali ada skenario besar yang mungkin tidak disadari oleh oleh
> pimpinan nasional , sebagian rakyat indonesia maupun sebagian besar umat
> Islam. Sebagai negara besar dengan luas wilayah, sumber daya alam, jumlah
> penduduk muslim yang tertinggi di dunia maka Indonesia bersama-sama dengan
> Iran, Irak,Pakistan,Afghanistan,Arab Saudi dan Sudan menjadi target 
> Amerika +Yahudi  dan antek-anteknya Inggris , Australia dan
> Singapura. Kalau tidak hati-hati dan waspada kita pun sedang berada pada
> tahap untuk di Irakkan, yang tujuan akhirnya adalah menjajah dan menguasai
> sumber daya alam.   
> Iran dengan kasus nuklir (padahal Israel sudah memiliki 150 bom nuklir
> seperti disampaikan oleh Jimmy Carter), Irak dengan isu senjata pemusnah
> massal yang tidak terbukti,Pakistan dan Afghanistan dengan isue teroris,
> Arab Saudi dengan isu demokrasi serta diserang dengan pornografi serta
> Sudan dengan isu darfur. FPI, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis
> Mujahidin Indonesia (MMI) di mata Amerika +Israel dan antek-anteknya sama
> dengan Hamas, Hezbollah, Al Qedah karena menjadi penghalang besar bagi
> ambisinya.
> Amerika dan yahudi serta antek-anteknya tahu betul , bukan tentara yang
> kuat yang menjadi penghalang ambisinya tetapi  Islam garis keras yang
> berjihad seperti dicontohkan oleh Rasulullah saw di mana kematian bukanlah
> sesuatu yang ditakutkan. Tidaklah mengherankan kalau Israel sangat gerah
> dengan Hamas, ihwanul Muslimin dan Hezbollah serta Amerika sangat takut
> dengan Iran yang revolosioner, Taliban, Al Qaedah dan LaskarMahdi.
> Sejarah membuktikan Israel bisa mengalahkan koalisi negara-negara Arab
> pada perang 1948 dan 1967 dalam beberapa hari tetapi sulit mengalahkan
> Hezbolah yang jumlah tentaranya kurang dari lima ribu saja. Israel juga
> sangat ketakutan dengan hamas dengan aksi intifadhahnya. Betapa kecewanya
> kita ketika aparat polisi dan TNI sangat lamban menangani kasus kerusuhan
> maluku yang meluas dengan ribuan korban, tetapi dengan adanya Laskar Jihad
> kerusuhan tidak meluas.
> Kalau kita teliti dan waspada kelihatan sekali skenario melemahkan bangsa
> kita :
> 1.       Bisnis hiburan : bisnis hiburan
> yang menjamur baik di TV maupun tempat hiburan yang mengobral pornografi.
> Antek-antek asing ngotot sekali mempertahankan majalah Play Boy.
> Sementara mereka menentang keras undang-undang anti pornografi dan
> pornoaksi. Generasi muda diarahkan lebih memilih cita-cita di jalur
> hiburan dibandingkan dengan sekolah yang tinggi. 
> 2.       Sekolah di buat mahal dari SD
> sampai perguruan tinggi untuk merperbodoh masyarakat
> 3.       Isu Flue burung supaya masyarakat
> kekurangan gizi karena takut makan telur dan daging ayam
> 4.       Tawuran antar pelajar
> 5.       Narkoba dll
> Kembali ke kasus Monas terlihat sekali keberhasilan skenario antek-antek
> Amerika sampai Presiden SBY pun perlu bersuara lantang untuk menindak FPI.
> Sekitar 2000 aparat polisi dengan senjata lengkap mengepung markas FPI
> yang jumlahnya sedikit yang mestinya cukup ditangani polsek atau paling
> banter Polres. Apa yang dilakukan FPI di Monas skala kekerasannya masih
> kalah jauh dengan kerusuhan pada pertandingan sepak bola bahkan masih
> kalah dengan kekerasan yang dilakukan pada perkelahian antar pelajar
> maupun mahasiswa dan bahkan masih kalah dengan kekerasan yang dilakukan
> aparat polisi pada kasus Unas.
> Mestinya presiden SBY lebih berhati-hati dalam berpihak yang secara kasat
> mata tampak sekali beliau berpihak ke mana, terutama menjelang pemilu
> 2009. Isu-isu negatip tentang SBY pada pemilu 2004 lalu bisa menjadi bahan
> kampanye negatip bagi lawan-lawan politiknya. Betapa lantangnya sebagian
> dari masa NU-Gusdur (Ketua NU Hasyim Muzadi tidak setuju dengan pembubaran
> FPI)serta masa Banteng Muda PDIP untuk membubarkan FPI. Apakah mereka
> sudah lupa dengan kerusuhan TUBAN pasca kekalahan jagonya, kerusuhan Solo
> saat Megawati kalah dalam pemilihan presiden serta demo anarkis anti Amin
> Rais saat pemilu 1999 yang merka buat. 
>        
> Demo anarkis yang dilakukan oleh elemen-elemen anti FPI juga perlu
> ditindak sesuai dengan hukum,Itu kalau pemerintah dan aparat mau bertindak
> adil. Mestinya kita bisa berpikir positip dengan organisasi seperti FPI
> dan yang sehaluan. Kalau seandainya kita berperang dengan Amerika
> kira-kira siapa yang paling berani pada barisan terdepan padahal kita
> sedang menunggu giliran setelah Irak, Afghanistan, Iran, Sudan,Pakistan
> dan Suriah. Banyak-banyaklah membaca maupun menonton film tentang
> spionase. Kita diberi anugerah sebagai orang yang terdidik yang diharapkan
> dapat berfikir jernih, obyektip dan proporsional.
>
> --- On Sat, 6/7/08, Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
>
> From: Achmad Zaenal Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [indonesia] Renungan : Sikap Adil kepada FPI, AKKBB dan Ahmadiyah
> To: [email protected], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED]
> Date: Saturday, June 7, 2008, 11:59 AM
>
>
> ----- Forwarded Message ----
> From: Hafid Baradja <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Friday, June 6, 2008 1:43:26 PM
> Subject: Sikap Adil kepada FPI
>
> Sikap Adil Kepada FPI
> (Pasca Kasus Kekerasan di Monas)
> Oleh Abu Muhammad Waskito *)
>
> Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh
> sebagian aktivis Front
> Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang
> menamakan diri
> sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama
> dan Berkeyakinan
> (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para
> aktivis FPI terhadap
> massa AKKBB yang sedang menggelar aksi mendukung
> Ahmadiyyah. Disana ada
> aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas
> sound system,
> kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat
> prihatin melihatnya.
>
> Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon.
> Melalui jubir
> kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi
> anarkhis aktifis FPI
> di Monas. Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung,
> disiarkan TV-TV, bahwa
> dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku
> kekerasan ditindak
> secara hukum. SBY juga menekankan, "Negara kita negara
> hukum." Gayung
> bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku
> kekerasan di Monas.
>
> MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas
> itu (Republika, 2
> Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum
> Muhammadiyyah, setelah
> pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din
> tidak menuntut FPI
> dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika
> Pemerintah ingin
> membubarkan FPI ( www.jawapos.co.id, 2 Juni 2008). Arbi
> Sanit, pakar
> politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan
> karena mengancam
> kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP
> Anshor, Malik
> Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, kalau
> pemerintah tidak tegas.
> Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan
> sempat terjadi
> keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh
> pemuda-pemuda
> tersebut
> (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).
>
> Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan.
> Sebelumnya juga
> bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan
> aksi-aksi nahi
> munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah
> kita menghukum FPI
> sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan)
> pasca kasus
> kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani
> melihat masalahnya
> secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi.
>
> Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan
> dalam kasus di
> atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara
> cermat, sehingga kita
> bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau
> tidak?
>
> Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris
> Besar Heru Winarko,
> beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka
> mulanya hanya
> berencana
> berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB
> beraksi sampai ke
> Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga," kata
> Kombes Heru Winarko
> (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan
> Akibat Pemerintah
> Lamban," hal. 1).
>
> Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar
> hukum. Mereka
> melampaui batas ijin aksi yang diajukan ke pihak
> kepolisian. Jika
> mereka
> beraksi sesuai ijin semula, bisa jadi kasus tersebut
> tidak perlu
> terjadi.
>
> Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas di
> GlobalTV siang hari,
> disana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di
> Monas tersebut. Pada
> mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah
> satu lokasi Monas
> sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa
> TOA. Mereka kadang
> bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa
> Allah".
>
> Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang
> siapapun. Aksi
> mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis. Mulai
> timbul masalah ketika
> AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system
> kuat, tidak jauh
> dari
> lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung
> Ahmadiyyah, di sisi
> lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI.
> Anda bisa
> bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk
> Ahmadiyyah di dekat
> telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka
> sebagai nantangin
> perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat
> disebut terprovokasi
> oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak
> awal untuk berbuat
> kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.
>
> Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus
> mawas diri,
> menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU,
> Muhammadiyyah, sampai
> ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga
> dengan FPI, tidak
> usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3
> Juni 2008).
>
> Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, disana
> terlihat dengan
> jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras
> menertibkan para
> aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan,
> tendangan, menenangkan
> aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian
> pemuda aktivis FPI
> mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak
> mampu mencegah
> secara keseluruhan.
>
> Jika disana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan,
> cacian, atau
> perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk
> melihat bahwa
> disana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para
> pemuda yang sudah
> terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya
> mendamaikan, saya yakin
> akan
> jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam
> kasus tersebut,
> menunjukkan disana ada kontrol, meskipun tidak mampu
> mencegah aksi-aksi
> individu yang terlanjur terjadi.
>
> Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita
> harus jujur
> mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha
> mencegah kekerasan
> itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak
> kepolisian sering
> berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi
> bisa khilaf,
> melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu
> pula dengan kasus
> para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada
> instruksi kekerasan,
> tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.
>
> Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas
> ditindak secara hukum,
> tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu
> berbeda konteksnya.
> Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh -sebut
> saja- oknum aktivis
> FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah
> untuk
> menghancurkan sistem sebuah organisasi. Contoh, kasus
> kekerasan oleh
> oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta.
> Ia dianggap kasus
> kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada
> tuntutan untuk
> membubarkan lembaga Polri.
>
> Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian
> warga
> Muhammadiyyah
> -misalnya-, hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi
> "bola liar" untuk
> membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan
> oleh oknum tetap
> dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.
>
> Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari
> lima tersangka
> kasus
> di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan
> sebagai lembaga FPI
> secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah
> individual case, bukan
> organization case. Kalau setiap kasus individu bisa
> menjadi dalih untuk
> membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji
> SBY yang katanya
> tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa
> dijadikan dalih
> untuk membubarkan kabinetnya.
>
> Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme
> di Monas atas
> nama
> "negara hukum", dia telah menggunakan dalil yang
> benar. Tetapi
> seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah.
> Bukankah penanganan
> kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur
> hukum? Disana ada
> Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi
> Depertemen Agama RI,
> rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi
> kepala-kepala daerah
> tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat "negara
> hukum"? Mengapa
> SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah
> hukum berlaku bagi
> FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi
> tentang kesesatan
> Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan
> Buyung Nasution,
> selaku anggota Watimpres, apakah hal itu juga memenuhi
> keadilan hukum?
> Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Watimpres
> bisa
> mengintervensi
> kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam
> AKKBB yang melakukan
> aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah
> disepakati sesat oleh
> Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di
> bawah Kabinet
> SBY?
>
> Jadi kesan yang muncul, istilah "negara hukum" itu
> hanya dipakai untuk
> mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok
> lain, konsep
> ketegasan
> hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan
> Buyung Nasution, dia
> bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas
> Islam dalam
> kasus
> Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai
> "profesional hukum" ketika
> membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya
> hanya sekedar
> "kuda tunggangan" belaka.
>
> Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual,
> emosi, mengutuk,
> dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli
> peserta aksi AKKBB.
> "Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris
> sembilu," begitulah
> kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati
> kekerasan ini.
>
> Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam
> ketika
> Ahmadiyyah
> terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita
> terketuk hati ketika
> ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia
> mendakwakan diri
> sebagai Al Masih, sebagai Al Mahdi, dan mengajarkan
> kitab At Tadzkirah
> sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika
> ajaran-ajaran Islam
> dilecehkan oleh orang-orang itu?
>
> Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah,
> atau sedih, apalah
> artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan
> yang menimpa
> Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan
> Islam? Dan
> sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu,
> demikian mudahnya
> dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah).
> Sebagai seorang
> Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan
> Rasulullah dan
> Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban,
> sehingga atas hidayah
> Allah saat ini kita menjadi Muslim?
>
> Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan
> oleh kaum
> Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah
> 'alaih. Bukan
> berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa
> dibenarkan, sebab
> bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada
> tindakan rakyatnya
> sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan
> kepada kaum Ahmadiy
> membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat
> ketika mulai
> mendakwahkan Islam di masa lalu.
>
> Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun
> pelakunya. Tetapi
> dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat
> secara jernih dan
> adil. Jangan karena sentimen, atau sudah "kadung
> kesal" dengan FPI,
> lalu
> kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta'ala tetap
> memerintahkan agar
> kita
> selalu berbuat adil. "Janganlah kebencian kalian
> kepada suatu kaum,
> membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah,
> sebab adil itu
> lebih dekat kepada taqwa." (Al Maa'idah: 8).
>
> Wallahu a'lam bisshawaab.
>
> ----------------------------------------------------------
> --------
> Note: Mohon dibantu menyebarkan, dalam rangka menolong
> FPI menghadapi
> tekanan pembubaran dari berbagai pihak. Minimal,
> tulisan ini bisa
> menjadi referensi pribadi. Wahana diskusi tentang
> masalah terkait,
> silakan menulis ke: [EMAIL PROTECTED]
> < mailto:langitbiru1000%40gmail.com>
> < mailto:langitbiru1000%40gmail.com> . Syukran
> jazakumullah khair atas
> kontribusinya demi kebajikan Ummat Islam.
>
>
>
>
>



--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke