From: muhammad arif <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Dualisme yang paradox jd jangan saling menyalahkan
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, June 11, 2008, 4:17 PM
Dear all,
Dari hampir semua milis semua membicarakan hal yang gak ada
pemecahan nya dan berakhir dengan saling menyalahkan dan
akhirnya malah EGP meski semestinya dua pihak tersebut
salah atau dua pihak tersebut benar adanya.
"Dan yang ber ilmu lah (berpengetahuan dan mengerti)
yang akan diangkat derajatnya"
urun rembuk milis dibawah bisa menjadi penyejuk..
br/ma
From: rusdi taufik
<[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Interdisiplin] Imam Syafii; was:Jawaban yang
bijak; Dualisme yg paradok
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, June 3, 2008, 2:58 PM
Sebagai urun rembuk,
Sejak kita di SMA sudah mengerti apa itu hukum snellius
juga teori dualisme yang paradok - yang pada intinya hukum
tersebut dapat ngetrap/pener = benar tergantung pada
tempatnya/kondisi syarat batas.
Sayangnya ilmu2 sosial sangat terlambat berkembang hingga
saat ini, sehingga timbul banyak permasalahan jika kondisi
tersebut sebenarnya dualisme yang paradok, pada saat mana
kondisi itu benar kita semua tidak mengetahui, masalah ini
akan menjadi sangat krusial bila permasalahan bangsa sampai
agama dibawa bawa....alhasil yang terjadi adalah gontok2 an
pengakuan terhadap kebenaran yang diakui masing masing
pihak.
Sejarah panjang tentang agama2 besar pun telah terjadi hal
hal tersebut, sejak masa awal khalifah pun sudah terjadi
sampai timbulnya aliran besar ahlulsunnah disatu pihak dan
syiah dilain pihak selalu berhadap hadapan sampai sekarang.
Kembali ke dualisme yang paradok, kalau kita ngak ngerti
pasti akan gontok2 an mengaku yang benar, namun bila kita
mengerti benar dualisme yang paradok maka hal tersebut akan
terselesaikan.
Ahmadiyah yang saya ketahui teramat mirip dengan syiah
(CMIIW) tentang keyakinan datangnya Imam Mahdi yang adalah
keturunan orang persia (Salman alfarizi) dimana juga para
imam dan imam yang terakhir yang akan membawa kebenaran dan
membenahi serta membawa keadilan
Namun, apakah kita mesti percayai serta harus menunggunya?
??
Bila kita kembali pada akhir abad yang besar ini khususnya
di akhir dekade ini, dimana sebahagian dari kita dihampir
belahan benua mengalami bencana dan multi krisis. namun
sayang hanya ditemukan manusia-manusia kerdil; “kleine
Geschlecht” - yaitu orang yang bodoh & dholim
karena krisis pemahamannya .......perselisihan yang
menyakitkan hati merupakan ciri pembeda peradaban sejak
dahulu hingga sekarang ......... secara menyeluruh
masyarakat kita menemukan jati dirinya dalam krisis yang
juga sama. Kita dapat membaca tentang bermacam kenyataan
setiap hari di surat kabar. Kita mengalami inflasi yang
tinngi dan pengangguran, kita mengalami krisis energi, satu
krisis dalam kepedulian kesehatan, polusi dan bermacam-macam
gangguan lingkungan, gejolak melonjaknya keganasan dan
kriminologi serta teror dan juga lainnya ....... Sungguh
gejolak stres kritis terjadi mengglobal;
Pengerusakan WTC dalam jurang yang dalam dan teror bom di
Bali ........
penyerangan ke Afghanistan , Iraq , Palestina tanpa lasan
yang jelas...
# Kita telah belajar dari pengalaman yang pahit, bahwa
pikiran rasional tidaklah cukup untuk memecah masalah
masalah kehidupan kita. Penyelidikan yang mendalam dan
pekerjaan ilmiah yang hebat sudah seringkali menimbulkan
akibat yang sedih bagi umat manusia, menghasilkan pada satu
pihak pendapatan-pendapat an yang membebaskan manusia dari
kerja badani yang berat; tetapi sebaliknya
pendapatan-pendapat an itu membuat hidupnya sangat gelisah,
menjadikan dia budak dari lingkungan teknologinya, dan [yang
paling celaka lagi dari segala-galanya] memperbuat alat
untuk menghancurkan sesama manusia secara besar-besaran.
Sesungguhnya ini adalah satu tragedi yang menyedihkan
sekali!
# Betapa pun sedihnya tragedi itu, barangkali lebih tragis
lagi, bahwa selagi manusia menghasilkan banyak sarjana yang
mencapai hasil yang luar biasa besarnya dalam lapangan ilmu
dan teknologi, kita sudah lama sekali tidak berhasil
menemukan penyelesaian yang layak bagi pertikaian politik
dan ketegangan ekonomi yang sedemikian banyak melingkungi
kita....
# Tak sangsi lagi, bahwa pertentangan kepentingan ekonomi
didalam dan diantara bangsa-bangsa sebagian besar menjadi
sebab timbulnya keadaan yang berbahaya dan mengancam dunia
pada masa sekarang. Orang tak berhasil melaksanakan
bentuk-bentuk organisasi politik dan ekonomi yang menjamin
hidup berdamai antara bangsa-bangsa di dunia ini. Ia tak
berhasil membangun satu sistem yang dapat melenyapkan
kemungkinan berperang dan meghapuskan untuk selama-lamanya
alat-alat pembunuh manusia yang mengerikan itu.
(Einstein’s)
# "Yang lebih penting dalam pengembangan sains ;
Yaitu, orang membutuhkan melihat tak lebih jauh ketimbang
Copernicus dan penanggalan untuk menemukan bahwa kondisi
luar bisa menolong untuk mengubah anomali yang sederhana
menjadi sumber krisis malapetaka. Contoh yang sama
menggambarkan cara yang mana keadaan diluar sain bisa
merangsang dan membimbing kemungkinan yang tersedia pada
seseorang yang mencarikan jalan untuk mengakhiri suatu
krisis dengan satu usulan atau reformasi revolusioner yang
lain.“ 3) (® Thomas S.Kuhn ;1962)
# Boleh jadi bahwa kita juga sedang secara bersama bersiap
sedia untuk berevolusi kesatu lonjakan? Ahli
fisika John Platt mengusulkan bahwa kemanusiaan sekarang
sedang mengarungi suatu perubahan medan yang berat dan
barangkali mencuat keatas dengan sangat cepat menjadi
bentuk-bentuk terkoordinasikan, menjadi sesuatu yang belum
pernah dikenal sebelumnya ....
"Tak hanya para pakar & ILMUWAN harus mau
menggapai pengetahuan & ilmu sosial, namun- inilah
yang tersulit dari semuanya; Mereka harus menyebarluaskan
ke segenap penjuru dunia atas milik temuannya itu; kalau
mereka tak berhasil dalam enterprise- usaha bersama yang
sulit ini, orang akan menghancurkan dirinya sendiridengan
kepandaiannya yang separuh-separuh. Saya terilhami kalau ia
melincur-keluar jalur ®kedepan, masyarakat hanya akan
berswama tikus-tikus. Tapi saya senang, saya tak
mengalaminya. " (Bertrand Russell) 1)
# Toynbee: " ... Dan sungguh akan datang dan tinggal
bersama kita dalam proses selama, dalam ukuran waktunya,
yaitu begitu ditemukannya matematik permesinan begitu
terjadi revolusi industri (di Inggris pada zaman Newton);
hal itu berkat kesungguhan yang serta merta menjadikan
kemampuan orang untuk membuat “alam yang tak manusiawi”
(DA, sain modern, dan teknologi komputer) menghasilkan
apa-apa yang dibutuhkan manusia dari properti non human
nature tadi (= TOE/ HDA, untuk implementasi RLA) untuk
pertama kalinya dalam sejarah, membuat ideal Dunia Damai/
Kesejahteraan bersama menjadi satu kenyataan praktis bukan
impian utopia saja ...”
Beranalogi pada kita, orang yang terlahir pada abad XX ini
adalah pewaris TOE (= pewaris seluruh ilmu &
pengetahuan dan menguasai segenap pengetahuan guna
pengetrapan Dunia Damai - RLA - RahmatanLil `Alamiin)
Maka dari itu memperpokok masalahkan implementasi
DuniaDamai haruslah orang menguasai TOE.
Taufik Rusdi / World Islah Enterprise
taufikrusdi_ [EMAIL PROTECTED] com
http://world- islah-enterprise .tripod.com
http://world- islah-enterprise -indonesia. tripod.com
--- In Interdisiplin@ yahoogroups. com, sudarmono sasmono
> <udharslytherin@ > wrote:
> >
> > Well, yah beda kasus dong. Hukum fikh
mati bagi yang murtad
> dijatuhkan pada mereka yang sebelumnya
bersyahadat, bersaksi tidak ada
> Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan
Allah yang terakhir.
> Kemudian membatalkan kesaksian tersebut dan
berpindah bersaksi
> mengakui yang lain.
> >
> > Ahmadiyah, dari awalnya memiliki
kesaksian yang berbeda.
> Kesaksiannya menambahkan Mirza Ghulam Ahmad
sebagai nabi. Jadi dari
> sisi teologi aqidahnya, Ahmadiyah dari awalnya
tidak bisa disebut
> Muslim atau Islam. Sekte atau mahzab pun tidak.
> >
> > Mungkin lebih tepat jika disebut
Ahmadiyah adalah sebuah bentuk
> religuisitas baru yang dikembangkan oleh manusia
modern. Bentuk
> religuisitas ini memiliki beberapa kemiripan idiom
dengan Islam.
> >
> > Bagaimana bisa kita menghukum mati mereka
yang bukan Islam dengan
> alasan murtad, kan aneh. Di negara teokrasi Islam
murni seperti
> kekhalifahan Islam pun itu statusnya dhalim.
> >
> > Menyuruh mereka mendeklarasikan Ahmadiyah
sebagai bentuk agama
> baru sebenarnya hanya sebuah penegasan publik
status religiusitas
> mereka, karena ada kalangan yang terganggu dengan
berbagai kemiripan
> idiom tersebut.
> >
> > Jabat Erat,
> > Udar,-
> >
> >
> > handhika ramadhan <isaacnewtonid@
> wrote:
> > Kang Udhar,
> >
> > >>Tapi ini bukan jaman
Khilafah dan Indonesia adalah sebuah negera
> demokrasi yang >>tidak sekuler 100%
tapi bukan juga teokrasi 100%.
> Jadi solusinya bagaimana ?. Yah
>>tidak jauh dari yg selama ini
> diwacanakan :
> > >>
> > >>Pengikut Ahmadiyah
menyatakan diri keluar dari Islam dan
> menyebut Ahmadiyah >>agama baru.
Keputusan ini akan menjauhkan
> Ahmadiyah dari konflik dengan umat Islam
>>yang memposisikan diri
> sebagai penjaga aqidah. Urusan berikutnya tinggal
apakah >>Ahmadiyah
> diakui negara sebagai sebuah agama. Karena sampai
saat ini Indonesia
> >>hanya mengakui Islam, Katolik,
Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu.
> >
> > Saya tertarik untuk membahas kutipan
respon kang Udhar di atas.
> Sesungguhnya jawaban inilah yg saya tunggu2 untuk
dibahas.
> >
> > Menurut kang Udhar, apakah dengan
menyuruh penganut Ahmadiyah keluar
> dari Islam, persoalannya akan selesai begitu saja?
> > Saya pikir, justru "solusi"
seperti ini adalah rancu, dan sama saja
> menggiring para Ahmadiyyin (pemeluk Ahmadiyah) ke
tempat penjagalan
> (baca: kematian).
> >
> > Mengapa?
> >
> > Dalam fiqh Islam, dikenal konsep
ridda'. Hukum Islam bagi seorang yg
> murtad adalah hukum mati. Apakah kang Udhar setuju
dengan interpretasi
> hukuman bagi orang murtad ini? Saya pribadi tidak,
dan saya yakin akan
> re-interpretasi hukum ini, mengingat hukuman mati
bagi orang yg murtad
> dengan sukarela adalah bertentangan dengan
kemanusiaan. Jika seseorang
> berhak untuk memeluk Islam dengan merdeka dan
sukarela, mengapa pula
> orang tersebut tidak diperbolehkan murtad dengan
sukarela (tentu lain
> ceritanya jika kemurtadannya dipaksa, atau jika
dengan kemurtadannya
> ia memerangi Islam).
> >
> > But anyway, saya tidak akan berpanjang
lebar membahas konsep hukum
> Islam yg kontroversial itu. Point yang ingin saya
ajukan di sini
> adalah, jika hukuman bagi orang murtad adalah
hukuman mati, maka
> dengan menyuruh pemeluk Ahmadiyyah "bedol
desa" murtad dari Islam
> adalah sama dengan menggiring mereka ke liang
lahat mereka, karena
> dengan murtadnya mereka para ulama menjadi punya
alibi untuk
> menjatuhkan hukuman mati kepada mereka.
> >
> > Well, solusi akang bukan solusi yg baik
rupanya..... .melainkan
> solusi yg "menjebak".
> >
> > Jabat lebih erat,
> > Handhika
> >
> >
> >
> > ============ ========= ========= ======
> > Where the mind is without fear and the
head is held high....
> > Where the knowledge is free...
> > Where the world has not been broken up
into fragments by narrow
> domestic walls...
> > Where words come out from the depth of
truth...
> > Where tireless striving stretches its
arms toward perfection.. ..
> > Where the clear stream of reason has not
lost its way into the
> dreary sand of dead habit....
> > Where the mind is led forward by Thee
into ever-widening thought and
> action....
> > Into that Heaven of Freedom, My God, let
my country awake.
> >
> > - Rabindranath Tagore in
"Gitanjali" -
> >
> > --- On Tue, 6/3/08, sudarmono sasmono
<udharslytherin@ > wrote:
> > From: sudarmono sasmono
<udharslytherin@ >
> > Subject: Re: [Interdisiplin] Jawaban yang
bijak; was: Re: Sendyakala
> ing Indonesia
> > To: Interdisiplin@ yahoogroups. com
> > Date: Tuesday, June 3, 2008, 9:19 AM
> >
> >
> > Dear All,
> >
> > Sekitar 2-3 tahun yang lalu, saya
mengajar materi kewirausahaan di
> Al Biruni, sebuah sekolah binaan Pesantren
Ikhwanul Muslimin, salah
> satu dari sekian puluh pesantren salaf di kawasan
Babakan Ciwaringin
> Kab Cirebon. Disanalah saya berkenalan dan sering
berdiskusi dengan KH
> Maman Imanul Haq Al Faqih, pimpinan pontren Al
Mizan Jatiwangi
> Majalengka yang menjadi salah satu korban FPI
kemarin. Kang Maman,
> demikian beliau disapa adalah salah satu dari
sekian banyak kyai muda
> nahdhiyin yang menjadi aktivis Fahmina Institute,
sebuah LSM yang giat
> mempromosikan kesetaraan gender dan kebebasan
beragama. Idiom mereka
> yang paling terkenal adalah "Agama, karunia
terbesar kemanusiaan" .
> Misi besarnya menarik yaitu menghentikan konflik
antar agama karena
> agama adalah pilihan, agama didorong untuk
berbicara mengenai sebuah
> gagasan besar bagaimana agama membawa
kesejahteraan. Teman-teman
> disini berkeyakinan semua agama pada dasarnya
mengajarkan kebaikan.
> >
> > Kalimat terakhir ini adalah kalimat yang
menarik di kaji untuk
> kasus Ahmadiyah. Sebagai sebuah kepercayaan dalam
pandangan internal
> pengikutnya Ahmadiyah pasti mengajarkan
nilai-nilai kebaikan.
> Persoalannya apakah nilai yang diyakini baik oleh
Ahmadiyah adalah
> nilai yang juga diyakini baik oleh orang diluar
mereka. Tidak jadi
> persoalan sebenarnya kalau Ahmadiyah menenmpatkan
diri bukan sebagai
> subset mainstream besar Islam dan nilai yang
dipersoalkan adalah
> sistem nilai yang dalam Islam masuk kedalam
persoalan aqidah.
> >
> > Seperti yang sudah diketahui 3 lingkaran
sistem nilai Islam adalah
> aqidah, syariah dan muamalah. Aqidah adalah
lingkaran inti, syariah
> adalah lingkaran berikutnya dan muamalah adalah
lingkaran selanjutnya.
> Pada lingkaran syariah yg lazim disebut juga
lingkar fikh, demikian
> pula muamalah, wilayahnya sangat toleran dan
sangat demokratis.
> Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa ada
kaidah yg mengatakan "
> fatwa jumhur ulama tidak membatalkan fatwa ulama
yg mayoritas".
> Kebebasan berpendapat dalam urusan fikh sedemikian
rupa.
> >
> > Tetapi tidak dalam persoalan aqidah.
Tidak ada perbedaan untuk
> aqidah yang sangat fundamental. Meskipun dalam
persoalan aqidah yang
> sifatnya cabang, masih dibolehkan beda
interpretasi.
> >
> > Sekali lagi persoalan Ahmadiyah adalah
persoalan aqidah
> fundamental. Karena kesaksian keislaman seseorang
disebut sah jika dia
> mengakui Muhammad adalah utusan Allah yang
terakhir.
> >
> > Penyimpangan aqidah dalam tarikh Islam
harus diluruskan kalau
> perlu dengan kekerasan senjata. Pada titik inilah
langkah FPI dapat
> dibenarkan, karena memang ada contohnya dalam
pengambilan keputusan
> hukum di jaman Khulafaur Rasyidin.
> >
> > Tapi ini bukan jaman Khilafah dan
Indonesia adalah sebuah negera
> demokrasi yang tidak sekuler 100% tapi bukan juga
teokrasi 100%. Jadi
> solusinya bagaimana ?. Yah tidak jauh dari yg
selama ini diwacanakan :
> >
> > Pengikut Ahmadiyah menyatakan diri keluar
dari Islam dan menyebut
> Ahmadiyah agama baru. Keputusan ini akan
menjauhkan Ahmadiyah dari
> konflik dengan umat Islam yang memposisikan diri
sebagai penjaga
> aqidah. Urusan berikutnya tinggal apakah Ahmadiyah
diakui negara
> sebagai sebuah agama. Karena sampai saat ini
Indonesia hanya mengakui
> Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong
Hu Cu.
> >
> > Bila negara tidak mengakui Ahmadiyah
sebagai agama baru, maka
> mereka harus memilih berinduk sebagai salah satu
sekte dari 6 agama
> yang diakui negara tersebut. Karena persoalannya
sudah menyangku
> hak-hak sipil sebagai warganegara yg mengharuskan
penyebutan agama.
> >
> > Kalau Islam menolak, mereka mau menginduk
kemana. Biasanya yang
> selalu terbuka adalah Katolik. Salah satu yg
terkenal adalah bagaimana
> Katolik menerima Ajaran Madrais yang ditolak Islam
sebagai salah satu
> sektenya yang kemudian mendorong kawasan Cigugur
Kuningan sebagai
> enclave Katolik di Jawa Barat.
> >
> > Disinilah cara pandang Kyai-kyai besar
nahdhiyin semisal Gus Dur
> atau Kang Maman yang melakukan pendekatan
merangkul, sehingga
> komunitas Ahmadiyah tetap menginduk kepada Islam,
sambil
> perlahan-lahan diajak menempatkan Mirza Ghulam
Ahmad bukan lagi
> sebagai Nabi tetapi cukup sebagai Wali. Merangkul
yah harus dengan
> membela dong.
> > Pada sisi ini kelompok pembela Ahmadiyah
dapat dibenarkan.
> >
> > Biar aksesorisnya makin okey, beberapa
tokoh non muslim pun
> diajak. Itu khas banget lho, pendekatannya. Yang
bikin kesal sih,
> kalau memang niatnya dakwah kenapa harus frontal.
tetapi teman-teman
> nahdhiyin memang senang menjadi objek pemberitaan
media.
> >
> > Jadi, lagi-lagi issue Ahmadiyah menjadi
komoditas ekonomi kelompok
> penganjur pembubaran dan kelompok pembela.
Ujung-ujungnya funding dari
> LSM-LSM yang mempromosikan demokrasi.
> >
> > Terus Ahmadiyah mau digimanain, yah
terserah, Anda mau masuk
> kelompok mana. Kalau anda nanya saya. Saya akan
jawab, biarkan aja
> Ahmadiyah ada. Biar teman-teman nahdhiyin dan FPI
punya bahan buat
> dapat dana yang bisa buat menghidupi anggotanya.
Sekarang jaman susah,
> pak. Harga-harga naik. Jangan salah lho, kalau FPI
dari issue-issue
> seperti ini akan dapat dana bantuan dari
negara-negara timur tengah
> seperti Saudi Arabia dan Qatar.
> >
> > Boleh percaya, boleh tidak, issue itu
selalu ada ongkosnya.
> Realita. Saya adalah orang yang haqqul yakin 100 %
Indonesia akan
> berusia seribu tahun lagi mengalahkan usia Amerika
Serikat si kampiun
> demokrasi.
> >
> > Don't Worry, Be Happy !
> >
> > Jabat Erat,
> > Udar,-
> >
> >
> >
> >
> >
> > handhika ramadhan <isaacnewtonid@
yahoo.com> wrote:
> >
> > Mas Agung,
> >
> > Kita tunggu respon kang Udhar tentang
solusi kasus Ahmadiyah ini.
> Apakah setuju untuk disuruh membentuk agama
sendiri, atau dibubarkan
> (lalu follow up nya apa?), atau diterima dengan
lapang dada sebagai
> bagian dari dinamika dan realitas keberagaman
umat. Ataua mungkin mas
> Agung punya opini pribadi tentang ini? Monggo
komentarnya. ....
> >
> > Btw, mengenai link tentang presiden2
Amerika tadi, saya pribadi
> tidak terlalu tertarik untuk hanyut dalam
"logika" teori konspirasi:
> freemasonry, grand lodge, illuminati, new wolrd
order,etc... ..
> > Sekadar mas Agung ketahui, dengan tegas
saya nyatakan bahwa saya
> adalah pengagum pemikiran-pemikiran jenius Thomas
Jefferson. Bila
> dengan begitu saya lalu dituduh bersimpati (atau
bahkan menjadi
> anggota) Freemasonry, well I don't care. Kalau
kata Imam Syafi'i,
> "jika mencintai ahlul bait itu dikatakan
rafidhah (syiah), maka
> biarlah saya menjadi seorang rafidhah".
Meminjam ucapan sang imam
> besar, saya pun berkata "jika mengagumi
Jefferson dicap freemason,
> maka biarlah saya menjadi freemason".
> > Btw, saya juga punya argumentasi bahwa
teori-teori konspirasi macam
> itu adalah hoax. Kalau mas Agung percaya bahwa
protocol of zion itu
> benar ada, maka saya juga boleh menyanggah bahwa
itu hanyalah hoax
belaka
> > <http://en.wikipedia .org/wiki/
Protocol_ of_Zion>.
> > Tentu sumber dari wikipedia punya nilai
orisinalitas dan pertanggung
> jawaban akademis yang kecil, tetapi paling tidak
sama lah (atau
> mungkin bahkan lebih ilmiah) dengan reputasi
informasi dari youtube,
> bukan begitu?
> >
> > --- On Mon, 6/2/08, Agung
<trisetyarso@ gmail.com> wrote:
> > From: Agung <trisetyarso@
gmail.com>
> > Subject: [Interdisiplin] Jawaban yang
bijak; was: Re: Sendyakala ing
> Indonesia
> > To: Interdisiplin@ yahoogroups. com
> > Date: Monday, June 2, 2008, 11:32 PM
> >
> > Handhika, seperti saya katakan
sebelumnya, kamu ndak bisa
katakan
> > bahwa sikap seperti Kang Udhar adalah
"mendukung FPI" (100 %) dan
> > bahwa "hati nurani di Indonesia
sudah mati".
> >
> > Konflik di lapangan tersebut, seperti
kata Kang Udhar, adalah puncak
> > dari konflik antara dua pihak, yaitu FPI
dan AKKBB. Seharusnya, pihak
> > pemerintah jauh-jauh hari dapat
mengakomodir kepentingan kedua pihak,
> > yaitu dalam kasus ini adalah permasalahan
Ahmadiyah. Disebabkan
> > masalah tersebut berlarut-larut, akhirnya
menjadi meledak seperti
itu.
> >
> > Pemecahan permasalahan seperti ini adalah
di pengadilan, sebagaimana
> > yang telah mulai diusahakan Pemerintah
(sehingga anggapan kamu bahwa
> > hukum di Indonesia telah mati, itu
salah).
> >
> > Yang perlu diperhatikan, hendaknya solusi
yang dibuat jangan
> > melahirkan masalah-masalah baru. Seperti
pembubaran FPI atau AKKBB,
> > dapat melahirkan permasalahan baru.
> >
> > Btw, saya justru melihat ada dinamika
yang bagus dalam kasus ini.
> >
> > Salam,
> >
> > Agung
> >
> > NB: Bagi yang kagum dengan Amrik:
> > http://trisetyarso. wordpress. com/2008/
06/02/sehebat- apa-para-
> presiden- di-amerika/
> >
> > --- In Interdisiplin@ yahoogroups. com,
handhika ramadhan
> > <isaacnewtonid@ ...> wrote:
> > >
> > > Kang Udhar,
> > >
> > > Salam kenal! Terima kasih atas
tanggapan berbobotnya (karena
> > kebanyakan tanggapan justru tidak
berbobot).
> > >
> > > Pertama-tama, saya ucapkan
istighfar atas dukungan kang Udhar kepada
> > FPI....dukungan kekerasan dan penyerangan
terhadap wanita dan anak2.
> > Semakin saya yakin bahwa hati nurani di
Indonesia semakin mati.
> > Innalillahi wa innailaihi raajiuun.... .
> > >
> > > Anyway, kembali ke pokok
permasalahan. Menurut kang Udhar, bagaimana
> > sebaiknya permasalahan Ahmadiyah ini
diselesaikan. Saya tunggu
> responnya.
> > >
> > > Handhika
> > >
> > > ============ ========= =========
======
> > > Where the mind is without fear
and the head is held high....
> > > Where the knowledge is free...
> > > Where the world has not been
broken up into fragments by narrow
> > domestic walls...
> > > Where words come out from the
depth of truth...
> > > Where tireless striving
stretches its arms toward perfection.. ..
> > > Where the clear stream of reason
has not lost its way into the
> > dreary sand of dead habit....
> > > Where the mind is led forward by
Thee into ever-widening thought and
> > action....
> > > Into that Heaven of Freedom, My
God, let my country awake.
> > >
> > > - Rabindranath Tagore in
"Gitanjali" -
> > >
> > > --- On Mon, 6/2/08, sudarmono
sasmono udharslytherin@ ... wrote:
> > > From: sudarmono sasmono
udharslytherin@ ...
> > > Subject: Re: [Interdisiplin]
Jawaban yang bijak; was: Re: Sendyakala
> > ing Indonesia
> > > To: Interdisiplin@ yahoogroups.
com
> > > Date: Monday, June 2, 2008, 6:00
AM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Mas Handhika, ada perbedaan yang
sangat fundamental
> > dari bagaimana interpretasi sebagian
besar umat Islam terhadap Islam
> > sebagai sistem nilai bila dibandingkan
dengan interpretasi atau
> > mungkin lebih tepatnya bagaimana agama
lain diposisikan atau
> > memposisikan dirinya. Sekularisasi dari
jaman renaissance memisahkan
> > secara tegas negara dan agama. Sementara
dalam Islam tidak ada
> > pemisahan antara negara dan agama, karena
Islam adalah sebuah
> > ideologi, sebuah way of life.
&nbsp; Ahmadiyah, dipandang sebagai
> > sebuah doktrin aqidah yang menyimpang
dari doktrin aqidah Islam dengan
> > menempatkan Mirza Ghulam Ahmad sebagai
nabi. Aqidah adalah persoalan
> > esensi dalam Islam. Dalam tarikh Islam
diceritakan bahwa Abubakar As
> > Shidiq, Khalifah pertama memerintahkan
memerangi nabi-nabi palsu
> > sampai mereka kembali ke Islam dengan
kekerasan senjata. Hal ini
> > menunjukkan bahwa aqidah adalah persoalan
yang sangat fundamental
> > > dalam Islam. Banyak kisah dalam
tarikh Islam bagaimana aqidah itu
> > dijaga sedemikian ketat. &nbsp;
Berbeda dengan fikh yang derajat
> > kebebasannya jauh lebih tinggi. Bahkan
ada dalil yg mengatakan bahwa
> > fatwa jumhur ulama dalam masalah fikh
tidak membatalkan fatwa ulama yg
> > minoritas. &nbsp; Ahmadiyah
bukanlah perkara fikh, tetapi perkara
> > aqidah. Menurut saya wajar jika ada
sekelompok orang Islam yang
> > memposisikan dirinya sebagai penjaga
aqidah bahkan dengan kekuatan
> > senjata. &nbsp; Dalam sebuah
negara seperti Indonesia,
> > pilihan-pilihan seperti itu adalah hal
yang wajar. Pada sisi lain ada
> > sekelompok umat Islam yg atas nama
kebebasan beragama dengan "centil"
> > memposisikan diri sebagai penjaga
ahmadiyah, yg lebih ironi lagi
> > kedalam kelompok ini terdapat pula
kelompok non muslim yang tidak
> > paham betul posisi Ahmadiyah dalam
konstelasi Islam. Kalau orang-orang
> > Ahmadiyah itu berani mengatakan bahwa
mereka bukan
> > > Islam, tempat ibadah mereka
bukan masjid, saya kira masalah
> > selesai. &nbsp; Nah kalau dua
kelompok berseberangan saling
> > berhadapan seperti itu, memang tinggal
menunggu waktu terjadinya
> > benturan seperti kejadian kemarin.
Negara, dalam konteks Indonesia
> > tidak bisa berdiam diri dengan hal
tersebut. Pilihan penyelesaian
> > masalah diserahkan ke umat, seperti
keinginan Gus Dur, adalah pilihan
> > yg menurut pendapat saya hanya akan
menyebabkan perkelahian massal
> > antar anak bangsa. &nbsp; Jadi
dalam kejadian itu saya membenarkah
> > langkah yg ditempuh FPI 100 %, karena
aqidah adalah doktrin yang dalam
> > Islam harus dijaga dengan taruhan nyawa.
Itu yg membuat aqidah Islam
> > tidak pernah bergeser dari sejak
disampaikan oleh Muhammad SAW 14 abad
> > yg lalu. &nbsp; Menurut saya
kelompok yg mendukung Ahmadiyah tidak
> > perlulah secara demonstratif menunjukkan
sikap. Hal itu sama sekali
> > tidak menunjukkan empati pada
> > > keyakinan orang yg meletakkan
Ahmadiyah sebagai permasalahan
> > aqidah. Kalau mau dukung sih dukung aja
tapi dengan media yg lebih
> > smooth. Bukan dengan berdiri menantang,
memprovokasi untuk berkelahi.
> > Harusnya ada yang mati biar lebih seru.
&nbsp; Jabat erat,- Udar
> > &nbsp; &nbsp;
> > >
> > > handhika ramadhan
&lt;isaacnewtonid@ yahoo.com&gt; wrote:
> > Mas Agung,
> > >
> > > Terima kasih atas info
tambahannya yang sangat berguna bagi saya yg
> > berada nun jauh di sana untuk
menganalisis peristiwa-peristiwa yang
> > terjadi di tanah air kita.
> > >
> > > Mengenai kasus Ahmadiyah itu
sendiri, saya juga menyayangkan
> > terjadinya "unholy trinity"
antara pemerintah, para teolog2 dengan
> > "otoritas" teokrasinya (baca:
MUI), dan gerombolan preman berjubah
> > (baca: FPI) yang mencoba memaksakan
keyakinan kepada sekelompok orang.
> > >
> > > Hampir 400 tahun lalu, tokoh
pendiri Rhode Island state, Roger
> > Williams, pernah mencetuskan
"liberty of conscience", dimana ia dengan
> > tegas menyatakan bahwa iman yang
dipaksakan bukan sejatinya iman. Ia
> > terkenal dengan slogannya: "a forced
faith stinks in the nose of
God".
> > >
> > > Hampir di kurun waktu yang sama
di daratan Belanda, John Locke, sang
> > filsuf Inggris yang hidup di pengasingan
> > > di Belanda, menulis sebuah
risalah terkenal, "A Letter Concerning
> > Toleration". Di dalamnya, ia
menegaskan bahwa faith must come as a
> > product of pure conscience, and can't
be forced by the state. The
> > state can't rule the piety of its
people, but instead to regulate
> > external interests, relating to life,
liberty, and common welfare.
> > >
> > > Semoga kelak lahir Locke2 dan
Williams2 Indonesia yang kelak bisa
> > kembali menegakkan kemerdekaan hakiki di
Indonesia, baik kemerdekaan
> > beragama, maupun kemerdekaan untuk hidup,
untuk bebas berpendapat, dan
> > mengejar kebahagiaan (life, liberty, and
the pursuit of happiness).
> > Semoga kelak Indonesia memiliki
negarawan2 besar macam Thomas
> > Jefferson, Thomas Paine, atau James
Madison sehinga Indonesia mampu
> > menjadi "empire of liberty and
conscience", dimana hak2 dasar setiap
> > warga negara dijamin penuh, termasuk hak
beragama; dimana negara
> > dilindungi dari teokrasi
"otoritas-otoritas yang mengaku sebagai wakil
> > Tuhan di bumi" macam MUI (there is
no monkery in Islam), dan
> > sebaliknya pula agama dilindungi dari
legal coercion by state.
> > >
> > > Freedom of Religion, and even
Freedom FROM Religion.
> > >
> > > Amiiinn..... ....
> > >
> > > --- On Sun, 6/1/08, Agung
&lt;trisetyarso@ gmail.com&gt; wrote:
> > > From: Agung
&lt;trisetyarso@ gmail.com&gt;
> > > Subject: [Interdisiplin] Jawaban
yang bijak; was: Re: Sendyakala ing
> > Indonesia
> > > To: Interdisiplin@ yahoogroups.
com
> > > Date: Sunday, June 1, 2008,
10:17 PM
> > >
> > > Handhika, jika melihat berita,
ada
> > > baiknya dari kedua belah pihak,
> > > sehingga dapat menilai dengan
jernih.