At 17:23 08/07/2008, muhamad koeswadi wrote:
Asw, Rekans
Banyak menanam pohon Nyamplung setuju banget............ Saya baru
menanamkan lebih dari 150 pohon nyamplung (2m) dari hibahnya para
dermawan lingkungan. Nyamplung adalah tanaman habitat pantai, jika
ditanam di lahan lain, umumnya bisa hidup juga. Mudah ngurusnya,
tumbuhnya cepat, dan tahan sedikit air.
Perakarannya memang ke mana-mana, tetapi asal nanemnya dalem, yah
tidak akan njebol macem-macem. Apapun spesies pohon jika ditanam
dangkal ya akan bermasalah.
Contoh, jalan-jalan aspal warisan Belanda yang saya kunjungi di
Jatim -Jabar, banyak ditanami pohon bercabang dan berakar ke
mana-mana. Jalannya tetap bagus, pohonnya pun tumbuh sehat. (Lihat
jalan di Jalur Madura- Ambunten Sumenep, dihiasi pohon Asem. Juga di
jalur Ponorogo dihiasi pohon Mahoni. Juga di jl Raden Patah Bandung
dihiasi Mahoni dan Damar ataupun di jl Pajajaran Bogor, semuanya
dihiasi pohon berumur lebih 25 th dan jalannya OK semua......)
Soal pohon di kota (Jakarta misalnya), usahakan tidak ditebang, baik
yang di pinggir jalan maupun di taman. KALAU BISA.....
Tetapi kenyataannya lain, pohon pohon yang telah tua dan banyak
cabang/rantingnya ditebangi/digunduli lalu kayunya dipotong rapi dan
dimasukkan kedalam bak kendaraan2 seperti dihatsu/suzuki carry.
Pertanyaannya :
1. Apakah hal tersebut resmi perintah dari Pemda ?
2. Jika akan dibuang, mengapa dipotongi rapi2 ? apakah akan dijual
sebagai kayu bakar ? atau keperluan industri kayu ?
Yang boleh diusulkan kepada SIAPAPUN DI KOTA MANAPUN adalah, jangan
menanam pohon buah di tepi atau tengah (median) jalan raya, sebab
mengundang bahaya.
Bahayanya dimana ? apakah hanya takut/rawan ada kecelakaan ketika
ambil buahnya ? apakah dalam hal ini termasuk buah yang menghasilkan
biji seperti nyamplung?
Jika bahaya karena rawan kecelakaan, bagaimana jika khusus
pemetikannya dilakukan diwaktu malam dengan koordinasi polisi dimana
semua kendaraan sementara distop dulu seperti pengamanan ketika akan
memasang jembatan penyeberangan ? :-)
Jakarta adalah contoh yang jelek urusan menanam pohon ini. Lihat
kasus pohon Manilkara kauki (sawo kecik / sawo kraton ?) sekitar
MPR - Semanggi - Gatsu - Casablanca dll.
Apa kasusnya ? maaf belum tahu atau belum pernah baca kasusnya apa ? :-(
Salam,
Zaenal
Ayo tanam pohon dengan benar, sesuai manfaat, dan tepat...........wassalam.
Aksi-Hijau Indonesia
----- Original Message -----
From: "Achmad Zaenal Abidin"
To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Bagaimana jika kita gencarkan pohon
nyamplung sebagai tanaman Biodiesel dikota kota dan penahan abrasi pantai
Date: Tue, 08 Jul 2008 10:08:53 +0700
At 09:23 08/07/2008, Moko Darjatmoko wrote:
At 7/5/08, Achmad Zaenal Abidin wrote:
4. Bagaimana jika dari pada pohon pohon di setiap pinggir/tengah
jalan di Jakarta maupun kota kota lain/terutama pesisir tidak ada
gunanya selain hanya kayu dan konservasi air saja, untuk
dibongkar/ditebang dan diganti dengan pohon pohon nyamplung ?
termasuk di pesisir pesisir pantai yang rawan abrasi/tsunami untuk
ditanami pohon nyamplung,karena telah kita telah siapkan pembibitannya.
Aku bisa memahami urgensi mendapatkan alternative fuel, tetapi
menebangi pohon pohon peneduh jalan di Jakarta maupun kota kota
lain untuk diganti dengan pohon pohon nyamplung adalah usulan
paling "gendheng" yang pernah aku dengar.
Kalau tahu tidak ada manfaatnya ya pasti tidak akan diusulkan mas. :-)
Pertama, ada alasan tertentu satu jenis pohon tidak dipakai
sebegai peneduh jalan, dan nyamplung adalah salah satunya --
karena akarnya tumbuh "liar" kemana-mana dan dalam waktu singkat
akan menjebol pavement.
Informasi akarnya liar ini dari mana ? apakah akar2nya akan bergerak
keatas ? :-(
Berdasarkan kesaksian dari yang mengirim minyak nyamplung, di
sepanjang jalan pangandaran Pohon nyamplung telah digunakan sebagai
pohon peneduh jalan tanpa menimbulkan kerusakan alan karena
akar2nya, karena akarnya dalam.
Siang ini saya telah terima kiriman sample/contoh minyak nyamplung
2 botol sebagai bahan baku Biodiesel/solar dan beberapa biji buah nyamplung.
(harga biji nyamplung adalah + Rp. 2.000,-/kg, dimana persentasi
untuk menjadi biodiesel diatas 50% per kg= > 0,5 liter biodiesel/kg).
Kedua, siapa bilang nyamplung ini bisa jadi "solusi" yang ideal
untuk sumber bio-fuel (bio-diesel)? Entah dari mana ZA dapat angka
fantastik "persentasi untuk menjadi biodiesel diatas 50% per kg= >
0,5 liter biodiesel/kg" ... aku yakin ini bukan dari pengalaman
nge-press sendiri (seperti layaknya para nyur-senyur, the doers not
the talkers). FYI, angka yang lebih mendekati untuk "yield" biji
nyamplung ini adalah sekitar 5 persen, jelas merupakan angka yang
jauh lebih rendah ketimbang klaim AZA yang 50 (limapuluh) persen
itu! Tadinya kupikir salah ketik atau mark-up nggak sengaja, tetapi
dari email yang lain "'60% lebih tinggi dari pada jarak pagar
(Jatropha Curcas) yang berkisar 30%" ... wah, sampiyan ini musti
kembali buka-buka textbook botani.
Mas Moko dan rekans bisa melihat kembali dari daftar yang diberikan
Pak Tatang sesuai terlampir.
Dan barusan saya tanya kepada yang ngepres langsung dari biji
nyamplung menjadi minyaknya diperoleh keterangan dari 2.5kg biji
nyamplung diperoleh minyak 1 sd 1.5 liter.
Berarti perolehan minyak adalah 40% sd 60% dari setiap biji
nyamplung ke minyak atau 0,4 sd 0,6 liter/kg.
Salam,
Zaenal
Tabik,
Moko/
-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam,
demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis
Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
<< biodiesel_tree.ppsx >>
--
Be Yourself @ mail.com!
Choose From 200+ Email Addresses
Get a Free Account at <http://www.mail.com/Product.aspx>www.mail.com!