Bukankah "pemaksaan" anak2 usia dini untuk mengeksploitasi potensi otaknya itu 
kurang baik?? Atau ada analogi lain??

 ---------------------
Teuku Reiza Yuanda
http://freepdfhosting.com/uploads/66c03c14c1.pdf
 




----- Original Message ----
From: Muhammad Musrofi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, July 8, 2008 10:44:26 AM
Subject: [indonesia] Bakat Anak


Rekan-rekan, 


Adarumus Timothy Gallway bahwa  k = p - i; dimana k = kinerja / prestasi; p = 
potensi (bakat/talenta  alami) dan i = interferensi (gangguan). Agar prestasi 
melesat, menurut  rumus itu : 

1. Fokus ke p =  talenta alami (tingkatkan talenta alami dengan melatihnya dan 
menambah  knowledge dan skill sesuai talenta alami)

2. Kurangi i =  interferensi. Interferensi ada 4 : 1) penyeragaman (semua orang 
belajar  dengan cara  dan obyek yang sama, padahal tiap orang itu unik); 2)  
Persepsi keliru thp kesalahan, kegagalan (belajar yang terbaik adalah  dengan 
mencoba. konsekuensi mencoba adalah gagal salah. Sayang dunia  pendidikan 
kurang toleran thd kita.); 3) Belajar "dari luar  mengarah ke dalam" (otak itu 
api -yang akan optimal jika  disulut-didorong- dibangkitkan, bukan 
wadah-dicekoki) , belajar  = "dari luar sekaligus dari dalam". 4). Fokus pada 
keterbatasan (kalau  nilai anak matematika = 5, nilai olah raga = 9, perlakuan 
yang umum  adalah tingkatkan matematika, biarkan olah raganya. Jika dari SD 
sampai  SMA perlakuan ini terus-menerus yang diambil, mungkin nilai  
matematikanya tidak melejit, bakat olah raganya terkubur = "kagol" =  
setengah-setengah. Jutaan kayaknya orang 'kagol' di  Indonesia ini.

Saya coba ke anak  saya (saat ini kelas 2, naik ke kelas 3 SD).  Dia otak 
kirinya  jalan, suka merakit sesuatu. Saya belikan  UNIVERSAL II (seperti  
puzzle, kalau dirakit bisa jadi berbagai bentuk benda = mesin jahit  kecil, 
ayunan, mobil derek, dan lain-lain). Dia begitu asyik dengan  obyek itu. 
Melalui pendekatan yang amat hati-hati, saya bilang ke anak  saya : sehari 
target 1 produk. Benar, sehari dapat 1  produk. Saya juga terus mencari apa 
obyek yang sesuai dengan dia.  Kebetulan ada rekan alumni juga yang canggih 
buat peralatan otomatik,  robotik. Dia ini calon "coach" (pendamping- pelatih) 
anak saya.  Dia menikmati aktivitas ini, dia asyik, dia ada pada kondisi 
"mengalir"  ketika melakukan aktivitas ini, dia bisa lupa makan, lupa 
waktu...ini  menurut Leider Shapiro adalah ciri-ciri ketika orang tengah 
menggeluti  bakatnya..tapi hati-hati : minat bisa menunjukkan bakat, bisa  
tidak..

Saya coba ke anak  rekan alumni, kelas 6 SD. Beberapa waktu lalu, setelah kita  
"ngobrol" panjang lebar, saya coba kasih masukan : fokuskan dia ke  nulis 
cerpen. Saat ini anak itu sudah menghasilkan 15 cerpen, dalam  waktu sebulan 
setengah. Cerpen-cerpen itu mau dikirim ke berbagai  koran dan majalah. Saya 
bilang, kalau sampai 45 cerpen, bisa  diterbitkan, jadi kumpulan cerpen. Saya 
juga kasih masukan ke dia,  cari penulis cerpen yang benar-benar sudah 
melahirkan cerpen-cerpen yan  relatif monumental, untuk jadi "coach" 
(pendamping- pelatih  dia).

Kami  mengembangkan "talent coaching" (penelurusan dan aktualisasi bakat)  
untuk keluarga. Bukunya sudah ada (60% materinya dari buku ini : "5  Langkah 
Melahirkan Mahakarya", penerbit Hikmah (Mizan Publika)).  Agustus, 
sekolah-sekolah di bawah salah satu BUMN mulai mengembangkan  "Program Pusat 
Kreasi" (pusat penelusuran dan aktualisasi bakat secara  kongkrit), pengganti 
ekstra kurikuler (tidak mengubah intra kurikulum). Kami fokus ke penelurusan 
dan pengembangan bakat ini.


Dari berbagai literatur, kami telah temukan 13 metode mengenali bakat; juga 
cara-cara mengaktualisasikan bakat ini, sehingga sistematik dan terukur. 


Adabanyak contoh, yang fokus  ke bakat sejak usia dini. Yang tertarik silakan 
komunikasi  via japri.

Salam,
Musrofi TI  86 
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


      

Kirim email ke