Setuju Pak, ortu tidak boleh memaksakan kehendaknya ke anak. 


Kak Seto bilang: Masing-masing anak memiliki bakat. Seperti bunga, ada yang
bunga mawar, bunga melati, bunga matahari dan sebagainya. Tugas pendidikan,
kata Kak Seto yang sesungguhnya adalah menyirami, memupuk, dan memelihara bakat
itu; bukan kemudian menyamaratakan "semua harus jadi bunga melati". 



Pendidikan, kata Dawna Markova adalah mengembangkan bakat anak (belajar dari
dalam), sekaligus memberi knowledge; tidak hanya "memberi"
(memasukkan dari luar).  Pendidikan, saat
ini, dulu juga ya, lebih "memberi sesuatu dari luar". Inilah yang
merupakan "pemaksaan" atau eksploitasi otak.  "Standar
belajar UNESCO 800 jam per tahun untuk anak SD, sedangkan anak SD di Indonesia
belajarnya mencapai 1.400 jam. Kejamnya luar biasa," ujar Kak Seto, Ketua
Komisi Nasional Perlindungan Anak.



Anak saya SD, di sekolah jam 08.00-14.00, masih diberi PR. Saya tanya ke
gurunya,"Bu, apa kurang jam belajar dari jam 08.00-16.00?, kok masih
diberi PR?" Gurunya, diam, bingung,..kebiasaan..mungkin. Untuk menyiasati
mengembangkan bakatnya, anak saya, saya belikan permainan seperti puzle. Di
waktu-waktu longgar, dia mengerjakan proyeknya itu. Ya, dia tetap nonton TV dan
main game komputer. Tapi waktu nonton TV dan game, sudah sangat berkurang
dengan asyik mengerjakan proyeknya itu. Mudah-mudahan nanti SMP, sudah bisa
ngotak-atik hardware atau ngrakit komputer. Sekali lagi, ini bukan
eksploitasi.  Saat ngerjakan proyeknya, saya perhatikan betul face anak
saya, tidak tertekan, justru nampak semangat...



Ada banyak
contoh, yang fokus ke bakat sejak dini :

H. Nuzli Arismal, pengusaha, menerima
     Eramuslim Award 2006, mencoba berbisnis sejak usia 5 tahun, berjualan kue
     serabi.Indra Lesmana sejak kecil hanya sekolah
     musik, tak pernah sekolah umum.Qurrota Aini, menulis sejak usia 5
     tahun, pengarang, meraih anugerah penulis termuda oleh MURI. Basoeki 
Abdullah, pelukis,
     sejak umur 4 tahun gemar melukis. Devira mahir main jetski,
     belajar jetski sejak umur 4 tahun. Ruri Maruti (31), menari sejak umur 4 
tahun,
     ia koreografer.Ello (penyanyi), ikut les piano sejak umur 4
     tahun. Niha, juara I Da’i Cilik, mulai belajar agama
     secara intens umur 4 tahun.Norick Abe, salah satu
     pembalap motor terbaik Jepang (sudah meninggal dunia), sudah ikut-ikutan
     mengendarai motor sejak usia 5 tahun. Sejak bisa berbicara di usia 11 
bulan, Nilam
     ceriwis. Masih kelas 3 SD, jadi reporter, sudah mewawancarai 130 tokoh. Di 
Eropa, semua klub profesional punya
     sekolah bola (akademi) dari jenjang usia yang paling kecil sekitar 5
     tahun. Muhamad Ibnu Rafi, 10 tahun jadi drummer
     ulung. Susi Susanti, maestro bulu tangkis, sejak
     SMP, berlatih bulu tangkis 6 hari seminggu, per hari 6 jam, 
bertahun-tahun!Ahmad Dani, pemusik, mulai belajar musik pada
     usia 13 tahun. Romi Rafael, ahli
     hipnotif,  sejak kecil sudah terfokus pada bidang hipnotis. James E Casey, 
pendiri UPS
     (United Purcel Service), usia 15 tahun bergerak di usaha jasa kurir. Mulai
     dari bersepeda “onthel”, mobil, kapal, pesawat. Elon Graham usia 7 tahun 
meramu salad, 
     Usia 7 tahun, ia penulis buku memasak untuk anak-anak. Ia memasak,
     neneknya menulis resep yang dia masak. R.G Collingwood, filsuf
     Inggeris, usia 8 tahun sudah membaca buku Immanuel Kant. Meski ia tidak
     paham apa yang dia baca.Barbara Shipman,
     matematikawan, sejak kecil suka lebah. Dewasa, ia penemu : tarian lebah = 
level matematika dimensi 6.Bill Gates fokus ke komputer saat usia 13
     tahun, usia 19 tahun mendirikan Microsoft Corporation bersama Berry Gordy.
     Oprah Winfrey, pembawa acara terkemuka, mulai
     mendapatkan penghasilan dari bakat bicaranya, sejak usia 12 tahun. Edison, 
sejak usia 10 tahun, sudah mulai
     berpikir tentang berbagai penemuan. 



Salam,



Musrofi TI 86 

[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [indonesia] Re: Bakat Anak
To: [email protected]
Date: Wednesday, 9 July, 2008, 7:06 AM

Ini hal bagus tapi sebetulnya bukan barang baru. Di Cina dan Eropa Timur
anak2 berbakat olaraga sejak kecil diambil negara digembleng jadi atlit
nasional.

Di AS, Eropa Barat, Jepang dll beda. Anak2 berbakat olaraga
didorong/dirangsang utk mendalami olaraga biar senang lantas jadi atlit
besar.

Kedua cara tsb baik kalau melihat dari perolehan medali mas di Olimpiade.
Tapi hanya dari segi medali mas. Soal bahagia si anak, lain lagi. Tentu
lebih bahagia cara AS + Eropa Barat.

Di Indonesia sepertinya kita seperti AS dan Eropa Barat. Berusaha kenal
bakat anak2 sejak kecil lantas anak2 tsb dirangsang kembangkan bakat.
Mungkin yang kurang tepat ialah sbb. Ortu yang pintar menyanyi cenderung
memaksa anaknya jadi penyanyi. Ortu yang ahli mesin, memaksa si anak jadi
ahli mesin juga. Alamiah tapi keliru.

Mudah2an ortu yang ahli korupsi tidak mengembangkan anak2nya jadi
koruptor. Bahaya ...........

HS.

> Bukankah "pemaksaan" anak2 usia dini untuk mengeksploitasi
potensi otaknya
> itu kurang baik?? Atau ada analogi lain??
>
>  ---------------------
> Teuku Reiza Yuanda
> http://freepdfhosting.com/uploads/66c03c14c1.pdf
>
>
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Muhammad Musrofi <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, July 8, 2008 10:44:26 AM
> Subject: [indonesia] Bakat Anak
>
>
> Rekan-rekan,
>
>
> Adarumus Timothy Gallway bahwa  k = p - i; dimana k = kinerja / prestasi;
> p = potensi (bakat/talenta  alami) dan i = interferensi (gangguan). Agar
> prestasi melesat, menurut  rumus itu :
>
> 1. Fokus ke p =  talenta alami (tingkatkan talenta alami dengan melatihnya
> dan menambah  knowledge dan skill sesuai talenta alami)
>
> 2. Kurangi i =  interferensi. Interferensi ada 4 : 1) penyeragaman (semua
> orang belajar  dengan cara  dan obyek yang sama, padahal tiap orang itu
> unik); 2)  Persepsi keliru thp kesalahan, kegagalan (belajar yang terbaik
> adalah  dengan mencoba. konsekuensi mencoba adalah gagal salah. Sayang
> dunia  pendidikan kurang toleran thd kita.); 3) Belajar "dari luar
> mengarah ke dalam" (otak itu api -yang akan optimal jika
> disulut-didorong- dibangkitkan, bukan wadah-dicekoki) , belajar  =
"dari
> luar sekaligus dari dalam". 4). Fokus pada keterbatasan (kalau  nilai
anak
> matematika = 5, nilai olah raga = 9, perlakuan yang umum  adalah
> tingkatkan matematika, biarkan olah raganya. Jika dari SD sampai  SMA
> perlakuan ini terus-menerus yang diambil, mungkin nilai  matematikanya
> tidak melejit, bakat olah raganya terkubur = "kagol" = 
setengah-setengah.
> Jutaan kayaknya orang 'kagol' di  Indonesia ini.
>

> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
>
>


-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke