Ini hal bagus tapi sebetulnya bukan barang baru. Di Cina dan Eropa Timur anak2 berbakat olaraga sejak kecil diambil negara digembleng jadi atlit nasional.
Di AS, Eropa Barat, Jepang dll beda. Anak2 berbakat olaraga didorong/dirangsang utk mendalami olaraga biar senang lantas jadi atlit besar. Kedua cara tsb baik kalau melihat dari perolehan medali mas di Olimpiade. Tapi hanya dari segi medali mas. Soal bahagia si anak, lain lagi. Tentu lebih bahagia cara AS + Eropa Barat. Di Indonesia sepertinya kita seperti AS dan Eropa Barat. Berusaha kenal bakat anak2 sejak kecil lantas anak2 tsb dirangsang kembangkan bakat. Mungkin yang kurang tepat ialah sbb. Ortu yang pintar menyanyi cenderung memaksa anaknya jadi penyanyi. Ortu yang ahli mesin, memaksa si anak jadi ahli mesin juga. Alamiah tapi keliru. Mudah2an ortu yang ahli korupsi tidak mengembangkan anak2nya jadi koruptor. Bahaya ........... HS. > Bukankah "pemaksaan" anak2 usia dini untuk mengeksploitasi potensi otaknya > itu kurang baik?? Atau ada analogi lain?? > > --------------------- > Teuku Reiza Yuanda > http://freepdfhosting.com/uploads/66c03c14c1.pdf > > > > > > ----- Original Message ---- > From: Muhammad Musrofi <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, July 8, 2008 10:44:26 AM > Subject: [indonesia] Bakat Anak > > > Rekan-rekan, > > > Adarumus Timothy Gallway bahwa k = p - i; dimana k = kinerja / prestasi; > p = potensi (bakat/talenta alami) dan i = interferensi (gangguan). Agar > prestasi melesat, menurut rumus itu : > > 1. Fokus ke p = talenta alami (tingkatkan talenta alami dengan melatihnya > dan menambah knowledge dan skill sesuai talenta alami) > > 2. Kurangi i = interferensi. Interferensi ada 4 : 1) penyeragaman (semua > orang belajar dengan cara dan obyek yang sama, padahal tiap orang itu > unik); 2) Persepsi keliru thp kesalahan, kegagalan (belajar yang terbaik > adalah dengan mencoba. konsekuensi mencoba adalah gagal salah. Sayang > dunia pendidikan kurang toleran thd kita.); 3) Belajar "dari luar > mengarah ke dalam" (otak itu api -yang akan optimal jika > disulut-didorong- dibangkitkan, bukan wadah-dicekoki) , belajar = "dari > luar sekaligus dari dalam". 4). Fokus pada keterbatasan (kalau nilai anak > matematika = 5, nilai olah raga = 9, perlakuan yang umum adalah > tingkatkan matematika, biarkan olah raganya. Jika dari SD sampai SMA > perlakuan ini terus-menerus yang diambil, mungkin nilai matematikanya > tidak melejit, bakat olah raganya terkubur = "kagol" = setengah-setengah. > Jutaan kayaknya orang 'kagol' di Indonesia ini. > > Saya coba ke anak saya (saat ini kelas 2, naik ke kelas 3 SD). Dia otak > kirinya jalan, suka merakit sesuatu. Saya belikan UNIVERSAL II (seperti > puzzle, kalau dirakit bisa jadi berbagai bentuk benda = mesin jahit > kecil, ayunan, mobil derek, dan lain-lain). Dia begitu asyik dengan obyek > itu. Melalui pendekatan yang amat hati-hati, saya bilang ke anak saya : > sehari target 1 produk. Benar, sehari dapat 1 produk. Saya juga terus > mencari apa obyek yang sesuai dengan dia. Kebetulan ada rekan alumni juga > yang canggih buat peralatan otomatik, robotik. Dia ini calon "coach" > (pendamping- pelatih) anak saya. Dia menikmati aktivitas ini, dia asyik, > dia ada pada kondisi "mengalir" ketika melakukan aktivitas ini, dia bisa > lupa makan, lupa waktu...ini menurut Leider Shapiro adalah ciri-ciri > ketika orang tengah menggeluti bakatnya..tapi hati-hati : minat bisa > menunjukkan bakat, bisa tidak.. > > Saya coba ke anak rekan alumni, kelas 6 SD. Beberapa waktu lalu, setelah > kita "ngobrol" panjang lebar, saya coba kasih masukan : fokuskan dia ke > nulis cerpen. Saat ini anak itu sudah menghasilkan 15 cerpen, dalam waktu > sebulan setengah. Cerpen-cerpen itu mau dikirim ke berbagai koran dan > majalah. Saya bilang, kalau sampai 45 cerpen, bisa diterbitkan, jadi > kumpulan cerpen. Saya juga kasih masukan ke dia, cari penulis cerpen yang > benar-benar sudah melahirkan cerpen-cerpen yan relatif monumental, untuk > jadi "coach" (pendamping- pelatih dia). > > Kami mengembangkan "talent coaching" (penelurusan dan aktualisasi bakat) > untuk keluarga. Bukunya sudah ada (60% materinya dari buku ini : "5 > Langkah Melahirkan Mahakarya", penerbit Hikmah (Mizan Publika)). Agustus, > sekolah-sekolah di bawah salah satu BUMN mulai mengembangkan "Program > Pusat Kreasi" (pusat penelusuran dan aktualisasi bakat secara kongkrit), > pengganti ekstra kurikuler (tidak mengubah intra kurikulum). Kami fokus ke > penelurusan dan pengembangan bakat ini. > > > Dari berbagai literatur, kami telah temukan 13 metode mengenali bakat; > juga cara-cara mengaktualisasikan bakat ini, sehingga sistematik dan > terukur. > > > Adabanyak contoh, yang fokus ke bakat sejak usia dini. Yang tertarik > silakan komunikasi via japri. > > Salam, > Musrofi TI 86 > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > > > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
