"Bakat" adalah sesuatu yg given......dari YMK....jadi, orang tua wajib 
memberikan pengarahan, pencerahan selaras dgn bakat yg sdh
terlihat dari anak itu sendiri.....tentunya pengarahannya sesuai dgn tuntunan 
agama. Yg menjadi keprihatinan bangsa kita skrg ini 
banyak anak yg tidak bisa mewujudkan bakatnya krn terkendala sarana, fasilitas, 
kemampuan keuangan sehingga mrk layu sblm berkem
bang...menyedihkan sekali. Bagaimana mrk bs mewujudkan bakatnya mau jd pesepak 
bola lapangannya ngga ada (sdh jd mall)...mau jd tkg insinyur msk universitas 
aja hrs byr sekian puluh juta....mau jd dokter... lbh mahal lagi.....kasian 
anak petani yg pintar mau jd apa ya ?    



Date: Wed, 9 Jul 2008 00:35:41 -0700From: [EMAIL PROTECTED]: [indonesia] Re: 
Bakat AnakTo: [email protected]




Setuju Pak, ortu tidak boleh memaksakan kehendaknya ke anak. Kak Seto bilang: 
Masing-masing anak memiliki bakat. Seperti bunga, ada yang bunga mawar, bunga 
melati, bunga matahari dan sebagainya. Tugas pendidikan, kata Kak Seto yang 
sesungguhnya adalah menyirami, memupuk, dan memelihara bakat itu; bukan 
kemudian menyamaratakan "semua harus jadi bunga melati". Pendidikan, kata Dawna 
Markova adalah mengembangkan bakat anak (belajar dari dalam), sekaligus memberi 
knowledge; tidak hanya "memberi" (memasukkan dari luar).  Pendidikan, saat ini, 
dulu juga ya, lebih "memberi sesuatu dari luar". Inilah yang merupakan 
"pemaksaan" atau eksploitasi otak.  "Standar belajar UNESCO 800 jam per tahun 
untuk anak SD, sedangkan anak SD di Indonesia belajarnya mencapai 1.400 jam. 
Kejamnya luar biasa," ujar Kak Seto, Ketua Komisi Nasional Perlindungan 
Anak.Anak saya SD, di sekolah jam 08.00-14.00, masih diberi PR. Saya tanya ke 
gurunya,"Bu, apa kurang jam belajar dari jam 08.00-16.00?, kok masih diberi 
PR?" Gurunya, diam, bingung,..kebiasaan..mungkin. Untuk menyiasati 
mengembangkan bakatnya, anak saya, saya belikan permainan seperti puzle. Di 
waktu-waktu longgar, dia mengerjakan proyeknya itu. Ya, dia tetap nonton TV dan 
main game komputer. Tapi waktu nonton TV dan game, sudah sangat berkurang 
dengan asyik mengerjakan proyeknya itu. Mudah-mudahan nanti SMP, sudah bisa 
ngotak-atik hardware atau ngrakit komputer. Sekali lagi, ini bukan eksploitasi. 
 Saat ngerjakan proyeknya, saya perhatikan betul face anak saya, tidak 
tertekan, justru nampak semangat...Ada banyak contoh, yang fokus ke bakat sejak 
dini :

H. Nuzli Arismal, pengusaha, menerima Eramuslim Award 2006, mencoba berbisnis 
sejak usia 5 tahun, berjualan kue serabi.
Indra Lesmana sejak kecil hanya sekolah musik, tak pernah sekolah umum.
Qurrota Aini, menulis sejak usia 5 tahun, pengarang, meraih anugerah penulis 
termuda oleh MURI. 
Basoeki Abdullah, pelukis, sejak umur 4 tahun gemar melukis. 
Devira mahir main jetski, belajar jetski sejak umur 4 tahun. 
Ruri Maruti (31), menari sejak umur 4 tahun, ia koreografer.
Ello (penyanyi), ikut les piano sejak umur 4 tahun. 
Niha, juara I Da’i Cilik, mulai belajar agama secara intens umur 4 tahun.
Norick Abe, salah satu pembalap motor terbaik Jepang (sudah meninggal dunia), 
sudah ikut-ikutan mengendarai motor sejak usia 5 tahun. 
Sejak bisa berbicara di usia 11 bulan, Nilam ceriwis. Masih kelas 3 SD, jadi 
reporter, sudah mewawancarai 130 tokoh. 
Di Eropa, semua klub profesional punya sekolah bola (akademi) dari jenjang usia 
yang paling kecil sekitar 5 tahun. 
Muhamad Ibnu Rafi, 10 tahun jadi drummer ulung. 
Susi Susanti, maestro bulu tangkis, sejak SMP, berlatih bulu tangkis 6 hari 
seminggu, per hari 6 jam, bertahun-tahun!
Ahmad Dani, pemusik, mulai belajar musik pada usia 13 tahun. 
Romi Rafael, ahli hipnotif,  sejak kecil sudah terfokus pada bidang hipnotis. 
James E Casey, pendiri UPS (United Purcel Service), usia 15 tahun bergerak di 
usaha jasa kurir. Mulai dari bersepeda “onthel”, mobil, kapal, pesawat. 
Elon Graham usia 7 tahun meramu salad,  Usia 7 tahun, ia penulis buku memasak 
untuk anak-anak. Ia memasak, neneknya menulis resep yang dia masak. 
R.G Collingwood, filsuf Inggeris, usia 8 tahun sudah membaca buku Immanuel 
Kant. Meski ia tidak paham apa yang dia baca.
Barbara Shipman, matematikawan, sejak kecil suka lebah. Dewasa, ia penemu : 
tarian lebah = level matematika dimensi 6.
Bill Gates fokus ke komputer saat usia 13 tahun, usia 19 tahun mendirikan 
Microsoft Corporation bersama Berry Gordy. 
Oprah Winfrey, pembawa acara terkemuka, mulai mendapatkan penghasilan dari 
bakat bicaranya, sejak usia 12 tahun. 
Edison, sejak usia 10 tahun, sudah mulai berpikir tentang berbagai penemuan. 
Salam,Musrofi TI 86 [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>Subject: [indonesia] Re: Bakat 
AnakTo: [EMAIL PROTECTED]: Wednesday, 9 July, 2008, 7:06 AMIni hal bagus tapi 
sebetulnya bukan barang baru. Di Cina dan Eropa Timuranak2 berbakat olaraga 
sejak kecil diambil negara digembleng jadi atlitnasional.Di AS, Eropa Barat, 
Jepang dll beda. Anak2 berbakat olaragadidorong/dirangsang utk mendalami 
olaraga biar senang lantas jadi atlitbesar.Kedua cara tsb baik kalau melihat 
dari perolehan medali mas di Olimpiade.Tapi hanya dari segi medali mas. Soal 
bahagia si anak, lain lagi. Tentulebih bahagia cara AS + Eropa Barat.Di 
Indonesia sepertinya kita seperti AS dan Eropa Barat. Berusaha
 kenalbakat anak2 sejak kecil lantas anak2 tsb dirangsang kembangkan 
bakat.Mungkin yang kurang tepat ialah sbb. Ortu yang pintar menyanyi 
cenderungmemaksa anaknya jadi penyanyi. Ortu yang ahli mesin, memaksa si anak 
jadiahli mesin juga. Alamiah tapi keliru.Mudah2an ortu yang ahli korupsi tidak 
mengembangkan anak2nya jadikoruptor. Bahaya ...........HS.> Bukankah 
"pemaksaan" anak2 usia dini untuk mengeksploitasipotensi otaknya> itu kurang 
baik?? Atau ada analogi lain??>>  ---------------------> Teuku Reiza Yuanda> 
http://freepdfhosting.com/uploads/66c03c14c1.pdf>>>>>> ----- Original Message 
----> From: Muhammad Musrofi <[EMAIL PROTECTED]>> To: [email protected]> 
Sent: Tuesday, July 8, 2008 10:44:26 AM> Subject: [indonesia] Bakat Anak>>>
 Rekan-rekan,>>> Adarumus Timothy Gallway bahwa  k = p - i; dimana k = kinerja 
/ prestasi;> p = potensi (bakat/talenta  alami) dan i = interferensi 
(gangguan). Agar> prestasi melesat, menurut  rumus itu :>> 1. Fokus ke p =  
talenta alami (tingkatkan talenta alami dengan melatihnya> dan menambah  
knowledge dan skill sesuai talenta alami)>> 2. Kurangi i =  interferensi. 
Interferensi ada 4 : 1) penyeragaman (semua> orang belajar  dengan cara  dan 
obyek yang sama, padahal tiap orang itu> unik); 2)  Persepsi keliru thp 
kesalahan, kegagalan (belajar yang terbaik> adalah  dengan mencoba. konsekuensi 
mencoba adalah gagal salah. Sayang> dunia  pendidikan kurang toleran thd 
kita.); 3) Belajar "dari luar> mengarah ke dalam" (otak itu api -yang akan 
optimal jika> disulut-didorong- dibangkitkan, bukan wadah-dicekoki) , belajar  
="dari> luar
 sekaligus dari dalam". 4). Fokus pada keterbatasan (kalau  nilaianak> 
matematika = 5, nilai olah raga = 9, perlakuan yang umum  adalah> tingkatkan 
matematika, biarkan olah raganya. Jika dari SD sampai  SMA> perlakuan ini 
terus-menerus yang diambil, mungkin nilai  matematikanya> tidak melejit, bakat 
olah raganya terkubur = "kagol" = setengah-setengah.> Jutaan kayaknya orang 
'kagol' di  Indonesia ini.>> Send instant messages to your online friends 
http://uk.messenger.yahoo.com>>>-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, 
terapkan kaidah ilmu/teknologi sertakasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, 
demi kebahagiaan dunia dan akhirat.Info pengelolaan milis Indonesia next better 
:http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txtSend instant messages 
to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke