Kebetulan saya baru memperbaiki salah satu dari rangkaian proses di bisnis saya, yaitu proses rekrutmen.
Menurut saya Hukum ini berlaku universal: "Proses yang benar, hasilnya baik" Untuk menilai mana proses yang benar, dan mana yang tidak, ya lihat dari hasilnya. Jika hasilnya tidak baik, maka tentu prosesnya memang tidak benar. Jika hasilnya baik, berarti prosesnya benar. Masalah timbul karena penekanan pada satu sisi saja. Penekanan pada proses tanpa melihat hasilnya, akan melahirkan sistem prosedural yang detil. Penekanan pada hasil tanpa melihat prosesnya, akan melahirkan sistem "tembak di tempat" yang praktis. Catatan saya: Detil dan akurat belum tentu baik. Di sisilain, praktis dan sederhana rawan kesalahan. Penilaian mana proses yang benar harusnya bukan dilihat dari metodenya. Tapi dari karakteristik sistemnya. Salam 2009/2/25 Hendra Darmawan <[email protected]>: > gara-gara tersentil kalimat penutup, jadi bernostalgia masa-masa di unit > kegiatan mahasiswa. Dalam pelaksanaan kegiatan selalu ada tarik-menarik > antara "PROSES" dengan "HASIL". > Semua setuju, bahwa HASIL yang baik harus melalui PROSES yang baik. Tapi > dalam praktisnya, terkadang PROSES yang baik tidak sampai pada HASIL yang > baik. Bahkan juga, HASIL bisa tampak baik walaupun tidak melalui PROSES yang > baik. > Apakah pada saat itu kami masih terkotakkan dalam suatu frame, bahwa PROSES > itu lebih penting daripada HASIL, atau memang belum mampu mendefinisikan > PROSES dan HASIL dengan baik. Yang jelas, senior kepada yuniornya selalu > menekankan pentingnya mengikuti apa yang dipikirkan senior. > > Hendra > -- nenek moyangku bukan pelaut, tapi seorang rocker... http://www.ebonk.org/blog/ -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
