Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen
Oleh Cardiyan HIS
Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur!
Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina; timnas
Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. Puncak
kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode kepengurusan
Nurdin Halid.
Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia gagal
masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. Di SEA
Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak penyisihan
grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di penyisihan Piala
Asia, timnas Indonesia senior jadi juru kunci setelah dipastikan nasibnya oleh
Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl.
Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan seorang
penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan ketat polisi
untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan menggiringnya
sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang berhasil
membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia menyamakan
skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil mempermalukan
pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan demi kegagalan
mengelola persepakbolaan di Indonesia.
Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan
sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. Mismanajemen
di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana prestasi timnas
Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas Indonesia Senior. Nah,
kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21.
Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena ternyata tidak semua dari 18 anggota
klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan kompetisi di bawahnya U-19, U-17, PSSI
gagal memutar roda kompetisinya. Maklum tidak semua klub anggota memiliki tim
yuniornya. Padahal dalam aturan ISL, hal ini sudah menjadi keharusan. Hanya
ada kompetisi U-15 karena kebaikan konglomerat migas Indonesia, Ir. Arifin
Panigoro melalui perusahaannya Medco menjadi sponsor tunggal.
Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas
Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang hebat?
Coba perhatikan data berikut ini:
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3.
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1.
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1
(Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena
situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya dan
Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia).
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2
Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1
Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1
Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1
Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1
Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut:
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1960: Indonesia Juara 1
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1961: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1
Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1962: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1
Turnamen King’s Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2
Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3
Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1
Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1971: Indonesia Juara 2
Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta, 1972: Indonesia Juara 1
Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2
Pesta Sukan, Singapura, 1972: All Indonesian Final (Indonesia & B)
Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan antara
prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. Mengapa
hal itu bisa terjadi?
Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar biasa
yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih asal
Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh para
pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga daya juang
pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium selama pelatnas dan
tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming heroik:
“Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika berhasil
menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya mengandalkan
hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan kesebelasan asing kelas
dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah sedikit saja dari para donatur
gila bola. Sementara pada sisi lain, di hampir semua negara Asia belum ada
kompetisi sepakbola profesional. Sehingga pertumbuhan kualitas sepakbola Asia
tidak berkembang sepesat seperti sekarang ini yang sudah merupakan era
kompetisi profesional.
Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh Presiden
FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia
bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa
seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan
Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia. Taiwan bahkan
pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1969.
Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka nggak level
dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab (Timur Tengah) bahkan ”belum bisa
bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka belum punya . Seperti
diketahui di negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut
pelatih kelas dunia asal Brazil ketika negara mereka mendapat anugerah minyak
bumi dan gas mulai pertengahan tahun 1970-an).
Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari Indonesia
yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), Jacob Sihasale,
Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati sama negara-negara
lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan Yudo Hadiyanto pun
sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football Confederation) untuk mengisi
skuad bintang-bintang Asia tersebut.
JEPANG PUN BELAJAR KE INDONESIA
Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari
Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun
1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama
yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin. Fandi Ahmad dan David Lee
(Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos (Brazil) memperkuat
Pardedetex, Medan.
Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang
dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang “diajarin bagaimana bermain
sepakbola” oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper
timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. Timnas
Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan itu. Pada
pertandingan itu Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) memimpin
pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry Kiswanto, Budi
Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper).
Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau klub
Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) dan
Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad dkk)
atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan kapasitas
110.000 pun penuh sesak.
Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” Presiden
Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela merasuki
pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya nasib
sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- Kuala
Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. Bahkan tim Perserikatan
Persib, Bandung pernah menghancurkan tim Galatama Arema Malang di stadion
Gajayana Malang, dengan skor telak 4-0 pada tahun 1984.
Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super
League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak .
Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa
atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi
sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku
profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi.
Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang bagus
pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada jaman
keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi lawan timnas
Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia bersama Korsel ke
Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum
bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain top di La Liga
Spanyol).
PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN
Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias
Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen sangat
buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia bangkit dari
keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia sangat luar biasa.
Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 penonton kalau Persib
bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion Kanjuruhan di Malang
kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 penonton pula. Rata-rata
perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main bisa didulang Rp. 700 juta.
Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema pada tanggal 10 Januari 2010 ybl
bisa meraih angka Rp. 1,39 miliar ! Angka ini pasti akan bertambah kalau
perolehan dari iklan outdoor dan penjualan siaran langsung TV juga dihitung!
Dan kalau saja pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di
stadion Senayan, maka 88.000 penonton (kapasitas
maksimal Senayan sekarang pasca Piala Asia) pasti akan menonton “super big
match” ini. Dan ujung-ujungnya duit pun akan lebih banyak didulang kalau
dilihat harga tiket dan kapasitas stadion Senayan lebih besar dari stadion di
Malang.
Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah
menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah
jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur
sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut
terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara
lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila
ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di depan
mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala Komisi Disiplin
dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada para pelaku, eh malah
dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid!!!! Bagaimana
para pelaku kerusuhan akan menjadi jera.
Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main dalam
satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain lokal.
Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal bahkan yang
sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak berkembang
kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah jadwal
kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu terkendala.
Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain adalah kondisi
fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena jadwal kompetisi yang
amburadul tadi.
Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih
hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi
tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih mengandalkan biaya
APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan
masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya
perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persib Bandung
sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada musim kompetisi
2008-2009 ybl. (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib Bandung Bermartabat
memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi ISL 2009-2010 ini).
Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni Rp. 42 miliar. Tetapi
hasilnya? Persib hanya urutan ketiga dan Persija lebih tragis lagi yakni hanya
urutan ketujuh.
Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila ditambah
dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni sedikitnya Rp. 50
miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 juta/tahun. Belum ditambah
lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 150 siaran langsung dan tunda
liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di sekitar stadion Senayan dan
stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak ketahuan berapa jumlahnya. Plus
transfer fee yang diperoleh dari jual beli pemain. Plus hasil penjualan tiket
kepada penonton. Plus perolehan bila ada pertandingan internasional resmi
agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi pribadi-pribadi gila bola yang juga
gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila belanja pada kompetisi Divisi Utama
PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua PSSI ditambahkan ke dalam perputaran uang
disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda yakni Copa Dji Sam Soe untuk
Piala Indonesia yang diikuti oleh
klub ISL dan Divisi Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini.
Maka perputaran uang sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun
!!!
Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang
mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan manajemen.
Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari hal-hal yang
tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia ini.
Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com