"Mimpi di siang hari Bolong"
________________________________ From: CHPStar <[email protected]> To: [email protected] Sent: Mon, January 11, 2010 9:58:06 AM Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen Nurdin: Indonesia Tetap Mendaftar Jadi Tuan Rumah PD Inilah.com - Jan 7, 2010 Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu juga mengungkapkan jika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah pesta sepak bola dunia tersebut, maka pemerintah ... http://ap2i.blogspot.com/ --- On Sun, 1/10/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote: >From: Cardiyan HIS <[email protected]> >Subject: [indonesia] Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen >To: [email protected] >Date: Sunday, January 10, 2010, 9:53 PM > > >Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen >Oleh Cardiyan HIS > > >Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur! >Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina; timnas >Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. Puncak >kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode kepengurusan >Nurdin Halid. >Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia gagal >masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. Di SEA >Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak penyisihan >grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di penyisihan >Piala Asia, timnas Indonesia senior jadi juru kunci setelah dipastikan >nasibnya oleh Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl. >Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan seorang >penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan ketat polisi >untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan menggiringnya >sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang berhasil >membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia menyamakan >skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil >mempermalukan pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan >demi kegagalan mengelola persepakbolaan di Indonesia. >Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan >sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. Mismanajemen >di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana prestasi >timnas Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas Indonesia Senior. >Nah, kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi Indonesia Super League (ISL) >U-21. Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena ternyata tidak semua dari 18 >anggota klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan kompetisi di bawahnya U-19, U-17, >PSSI gagal memutar roda kompetisinya. Maklum tidak semua klub anggota memiliki >tim yuniornya. Padahal dalam aturan ISL, hal ini sudah menjadi keharusan. >Hanya ada kompetisi U-15 karena kebaikan konglomerat > migas Indonesia, Ir. Arifin Panigoro melalui perusahaannya Medco menjadi > sponsor tunggal. >Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas >Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang >hebat? Coba perhatikan data berikut ini: >Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3. >Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1. >Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1 >(Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena >situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya dan >Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia). >Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2 >Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2 >Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1 >Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1 >Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1 >Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1 > > >Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut: >Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1960: Indonesia Juara 1 >Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1961: Indonesia Juara 1 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1 >Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2 >Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1962: Indonesia Juara 1 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 >Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 > >Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1 >Turnamen King’s Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2 >Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2 >Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3 >Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1 >Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2 >Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1971: Indonesia Juara 2 >Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta, 1972: Indonesia Juara 1 >Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2 >Pesta Sukan, Singapura, 1972: All Indonesian Final (Indonesia & B) >Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan antara >prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. Mengapa >hal itu bisa terjadi? >Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar biasa >yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih asal >Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh para >pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga daya juang >pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium selama pelatnas >dan tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming heroik: >“Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika berhasil >menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya mengandalkan >hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan kesebelasan asing kelas >dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah sedikit saja dari para >donatur gila bola. Sementara pada sisi lain, di hampir semua negara Asia belum >ada kompetisi sepakbola profesional. Sehingga pertumbuhan kualitas sepakbola >Asia tidak berkembang sepesat seperti sekarang ini yang sudah merupakan era >kompetisi profesional. >Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh Presiden >FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia >bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa >seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan >Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia. Taiwan bahkan >pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1969. >Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka nggak level >dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab (Timur Tengah) bahkan ”belum bisa >bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka belum punya . Seperti >diketahui di negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut >pelatih kelas dunia > asal Brazil ketika negara mereka mendapat anugerah minyak bumi dan gas mulai > pertengahan tahun 1970-an). >Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari >Indonesia yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), Jacob >Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati sama >negara-negara lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan Yudo >Hadiyanto pun sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football Confederation) >untuk mengisi skuad bintang-bintang Asia tersebut. > >JEPANG PUN BELAJAR KE INDONESIA >Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari >Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun >1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama >yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin. > Fandi Ahmad dan David Lee (Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos > (Brazil) memperkuat Pardedetex, Medan. >Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang >dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang “diajarin bagaimana bermain >sepakbola” oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper >timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. Timnas >Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan itu. Pada >pertandingan itu Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) memimpin >pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry Kiswanto, Budi >Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper). >Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau >klub Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) dan >Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad dkk) >atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan kapasitas >110.000 pun penuh sesak. >Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” Presiden >Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela merasuki >pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya nasib >sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- Kuala >Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. Bahkan tim Perserikatan >Persib, Bandung pernah menghancurkan tim Galatama Arema Malang di stadion >Gajayana Malang, dengan skor telak 4-0 pada tahun 1984. >Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super >League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak . >Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa >atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi >sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku >profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi. >Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang >bagus pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada jaman >keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi lawan timnas >Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia bersama Korsel ke >Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum >bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain top di La Liga >Spanyol). > > > >PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN >Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias >Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen sangat >buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia bangkit dari >keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia sangat luar biasa. >Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 penonton kalau Persib >bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion Kanjuruhan di Malang >kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 penonton pula. Rata-rata >perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main bisa didulang Rp. 700 juta. >Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema pada tanggal 10 Januari 2010 ybl >bisa > meraih angka Rp. 1,39 miliar ! Angka ini pasti akan bertambah kalau > perolehan dari iklan outdoor dan penjualan siaran langsung TV juga dihitung! > Dan kalau saja pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di > stadion Senayan, maka 88.000 penonton (kapasitas maksimal Senayan sekarang > pasca Piala Asia) pasti akan menonton “super big match” ini. Dan > ujung-ujungnya duit pun akan lebih banyak didulang kalau dilihat harga tiket > dan kapasitas stadion Senayan lebih besar dari stadion di Malang. >Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah >menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah >jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur >sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut >terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara >lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila >ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di depan >mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala Komisi Disiplin >dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada para pelaku, eh malah >dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid!!!! Bagaimana >para pelaku kerusuhan akan menjadi jera. >Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main >dalam satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain >lokal. Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal >bahkan yang sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak berkembang >kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah jadwal >kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu terkendala. >Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain adalah kondisi >fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena jadwal kompetisi yang >amburadul tadi. >Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih >hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi >tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih mengandalkan biaya >APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan >masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya >perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persib Bandung >sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada musim kompetisi >2008-2009 ybl. (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib Bandung Bermartabat >memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi ISL 2009-2010 ini). >Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni Rp. 42 miliar. Tetapi >hasilnya? Persib hanya urutan > ketiga dan Persija lebih tragis lagi yakni hanya urutan ketujuh. >Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila ditambah >dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni sedikitnya Rp. 50 >miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 juta/tahun. Belum ditambah >lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 150 siaran langsung dan tunda >liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di sekitar stadion Senayan dan >stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak ketahuan berapa jumlahnya. Plus >transfer fee yang diperoleh dari jual beli pemain. Plus hasil penjualan tiket >kepada penonton. Plus perolehan bila ada pertandingan internasional resmi >agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi pribadi-pribadi gila bola yang >juga gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila belanja pada kompetisi Divisi >Utama PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua PSSI ditambahkan > ke > dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda yakni > Copa Dji Sam Soe untuk Piala Indonesia yang diikuti oleh klub ISL dan Divisi > Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. Maka perputaran uang > sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun !!! >Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang >mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan >manajemen. Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari >hal-hal yang tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia ini. >________________________________ Lebih aman saat online. >Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk >Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
