Apakah beliau masih Jadi ketua Dewan Koperasi ? atau mantan ketua ? apa nggak 
salah ? oh bangsa Indonesia di,ana malumu ????




________________________________
From: joefrizal joefrizal <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, January 12, 2010 1:50:25 AM
Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen


Sebenarnya ini cuma cara Nurdin aja supaya dilihat punya kerjaan. Lha... 
kesebelasannya aja tidak mampu bermain....kok  mau jadi tuan rumah piala dunia. 
Maluuuuuuuuuu....

--- On Mon, 1/11/10, lukman zaaidi <[email protected]> wrote:


>From: lukman zaaidi <[email protected]>
>Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen
>To: [email protected]
>Date: Monday, January 11, 2010, 10:51 AM
>
>
> >
>"Mimpi di siang hari Bolong"
>
>
>
>
________________________________
 From: CHPStar <[email protected]>
>To: [email protected]
>Sent: Mon, January 11, 2010 9:58:06 AM
>Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen
>
>
>
>
>Nurdin: Indonesia Tetap Mendaftar Jadi Tuan Rumah PD
>Inilah.com - ‎Jan 7, 2010‎
>Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu juga mengungkapkan jika Indonesia 
>terpilih sebagai tuan rumah pesta sepak bola dunia tersebut, maka pemerintah 
>...
>http://ap2i.blogspot.com/
>
>--- On Sun, 1/10/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote:
>
>
>>From: Cardiyan HIS <[email protected]>
>>Subject: [indonesia] Manajemen Sepakbola Indonesia adalah Mismanajemen
>>To: [email protected]
>>Date: Sunday, January 10, 2010, 9:53 PM
>>
>>
>>Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen 
>>Oleh Cardiyan HIS
>>
>>
>>Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur!  
>>Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina;   timnas 
>>Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. Puncak 
>>kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode 
>>kepengurusan Nurdin Halid.  
>>Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia gagal 
>>masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. Di SEA 
>>Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak penyisihan 
>>grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di penyisihan 
>>Piala Asia, timnas Indonesia senior  jadi juru kunci setelah dipastikan 
>>nasibnya oleh Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl.  
>>Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan 
>>seorang penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan 
>>ketat polisi untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan 
>>menggiringnya sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang 
>>berhasil membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia 
>>menyamakan skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil 
>>mempermalukan pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan 
>>demi kegagalan  mengelola persepakbolaan di Indonesia.    
>>Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan 
>>sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. 
>>Mismanajemen di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana 
>>prestasi timnas Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas Indonesia 
>>Senior.  Nah, kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi Indonesia Super 
>>League (ISL) U-21. Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena ternyata tidak 
>>semua dari 18 anggota klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan kompetisi di 
>>bawahnya U-19, U-17, PSSI gagal memutar roda kompetisinya. Maklum tidak semua 
>>klub anggota memiliki tim yuniornya. Padahal dalam aturan ISL, hal ini sudah 
>>menjadi keharusan.  Hanya ada kompetisi U-15 karena kebaikan konglomerat 
>>migas Indonesia, Ir. Arifin Panigoro melalui
>> perusahaannya Medco  menjadi sponsor tunggal.  
>>Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas 
>>Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang 
>>hebat? Coba perhatikan data berikut ini:  
>>Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3. 
>>Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1. 
>>Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1 
>>(Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena 
>>situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya 
>>dan Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia). 
>>Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2 
>>Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2 
>>Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1 
>>Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1 
>>Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1 
>>Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1 
>>
>> 
>>Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut: 
>>Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1960: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1961: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1 
>>Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2 
>>Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1962: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen King’s
>> Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2 
>>Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2 
>>Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3 
>>Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2 
>>Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1971: Indonesia Juara 2 
>>Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta,  1972: Indonesia Juara 1 
>>Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2 
>>Pesta Sukan, Singapura,  1972: All Indonesian Final (Indonesia & B) 
>>Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan antara 
>>prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. Mengapa 
>>hal itu bisa terjadi? 
>>Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar biasa 
>>yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih asal 
>>Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh para 
>>pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga daya 
>>juang pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium selama 
>>pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming heroik:   
>>“Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika berhasil 
>>menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya mengandalkan 
>>hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan kesebelasan asing kelas 
>>dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah sedikit saja dari para 
>>donatur gila bola. Sementara pada sisi lain, di hampir semua negara Asia 
>>belum ada kompetisi sepakbola profesional. Sehingga pertumbuhan kualitas 
>>sepakbola Asia tidak berkembang sepesat seperti sekarang ini yang sudah 
>>merupakan era kompetisi profesional.  
>>Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh Presiden 
>>FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia 
>>bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa 
>>seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan 
>>Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia. Taiwan bahkan 
>>pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor 11-1 di Merdeka Games 
>>1969. Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka nggak 
>>level dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab (Timur Tengah) bahkan ”belum 
>>bisa bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka belum punya . 
>>Seperti diketahui di negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan 
>>merekrut pelatih kelas dunia asal Brazil ketika negara mereka
>> mendapat anugerah minyak bumi dan gas mulai pertengahan tahun 1970-an).  
>>Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari 
>>Indonesia yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), 
>>Jacob Sihasale, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati 
>>sama negara-negara lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan 
>>Yudo Hadiyanto pun sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football 
>>Confederation) untuk mengisi skuad bintang-bintang Asia tersebut. 
>>
>>JEPANG  PUN BELAJAR KE INDONESIA 
>>Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari 
>>Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun 
>>1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama 
>>yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin. Fandi Ahmad dan David Lee 
>>(Singapura) memperkuat Niac Mitra dan
>> Jairo Matos (Brazil) memperkuat Pardedetex, Medan.  
>>Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang  
>>dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang “diajarin bagaimana bermain 
>>sepakbola” oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper 
>>timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. Timnas 
>>Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan itu. Pada 
>>pertandingan itu  Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) memimpin 
>>pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry Kiswanto, Budi 
>>Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper). 
>>Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau 
>>klub Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) dan 
>>Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad dkk) 
>>atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan kapasitas 
>>110.000 pun penuh sesak.  
>>Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” 
>>Presiden Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela 
>>merasuki pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya 
>>nasib sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- 
>>Kuala Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. Bahkan tim 
>>Perserikatan Persib, Bandung pernah menghancurkan tim Galatama Arema Malang 
>>di stadion Gajayana Malang, dengan skor telak 4-0 pada tahun 1984.  
>>Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super 
>>League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak . 
>>Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa 
>>atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi 
>>sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku 
>>profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi.  
>>Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang 
>>bagus pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada jaman 
>>keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi lawan 
>>timnas Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia bersama 
>>Korsel ke Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah kalah 
>>sebelum bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain top di 
>>La Liga Spanyol). 
>>
>>
>> 
>>PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN
>>Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias 
>>Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen 
>>sangat buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia 
>>bangkit dari keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia 
>>sangat luar biasa. Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 penonton 
>>kalau Persib bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion 
>>Kanjuruhan di Malang kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 penonton 
>>pula. Rata-rata perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main bisa 
>>didulang Rp. 700 juta. Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema pada 
>>tanggal 10 Januari 2010 ybl bisa meraih angka Rp. 1,39
>>  miliar !  Angka ini pasti akan bertambah kalau perolehan dari  iklan 
>> outdoor dan penjualan siaran langsung TV juga dihitung! Dan kalau saja 
>> pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di stadion 
>> Senayan, maka 88.000 penonton (kapasitas maksimal Senayan sekarang pasca 
>> Piala Asia) pasti akan menonton “super big match” ini. Dan ujung-ujungnya 
>> duit pun akan lebih banyak didulang kalau dilihat harga tiket dan kapasitas 
>> stadion Senayan lebih besar dari stadion di Malang. 
>>Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah 
>>menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah 
>>jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur 
>>sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut 
>>terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara 
>>lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila 
>>ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di 
>>depan mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala Komisi 
>>Disiplin dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada para 
>>pelaku, eh malah dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, Nurdin 
>>Halid!!!! Bagaimana para pelaku kerusuhan akan menjadi jera. 
>>  
>>Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main 
>>dalam satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain 
>>lokal. Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal 
>>bahkan yang sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak 
>>berkembang kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah 
>>jadwal kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu 
>>terkendala. Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain 
>>adalah kondisi fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena 
>>jadwal kompetisi yang amburadul tadi.  
>>Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih 
>>hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi 
>>tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih mengandalkan biaya 
>>APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan 
>>masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya 
>>perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persib Bandung 
>>sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada musim kompetisi 
>>2008-2009 ybl.  (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib Bandung Bermartabat 
>>memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi ISL 2009-2010 ini). 
>>Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni Rp. 42 miliar. 
>>Tetapi hasilnya? Persib hanya urutan ketiga dan Persija lebih
>> tragis lagi yakni hanya urutan ketujuh. 
>>Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila 
>>ditambah dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni 
>>sedikitnya Rp. 50 miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 
>>juta/tahun. Belum ditambah lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 
>>150 siaran langsung dan tunda liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di 
>>sekitar stadion Senayan dan stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak 
>>ketahuan berapa jumlahnya. Plus transfer fee yang diperoleh dari jual beli 
>>pemain. Plus hasil penjualan tiket kepada penonton. Plus perolehan bila ada 
>>pertandingan internasional resmi agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi 
>>pribadi-pribadi gila bola yang juga gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila 
>>belanja pada kompetisi Divisi Utama PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua 
>>PSSI ditambahkan ke
>> dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda 
>> yakni Copa Dji Sam Soe untuk Piala Indonesia yang diikuti oleh klub ISL dan 
>> Divisi Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. Maka 
>> perputaran uang sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun !!!  
>>Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang 
>>mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan 
>>manajemen. Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari 
>>hal-hal yang tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia 
>>ini. 
>>________________________________
 >>Lebih aman saat online. 
>>Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
>>Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! 
>
> 



      

Kirim email ke