Dua kubu Dekopin gelar rekonsiliasiBisnis Indonesia - ‎Dec 19, 2009‎JAKARTA 
(bisnis.com): Hari ini, 19 Desember 2009, dua kubu Dekopin yang berseteru 
secara bersama - sama menggelar rapat anggota di Hotel Mercure Ancol, ...
http://ap2i.blogspot.com/

--- On Mon, 1/11/10, lukman zaaidi <[email protected]> wrote:

From: lukman zaaidi <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen
To: [email protected]
Date: Monday, January 11, 2010, 11:51 AM

"Mimpi di siang hari Bolong"

From: CHPStar <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, January 11, 2010 9:58:06 AM
Subject: [indonesia] Re: Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen


Nurdin: Indonesia Tetap Mendaftar Jadi Tuan Rumah
 PDInilah.com - ‎Jan 7, 2010‎Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu juga 
mengungkapkan jika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah pesta sepak bola dunia 
tersebut, maka
 pemerintah ...
http://ap2i.blogspot.com/

--- On Sun, 1/10/10, Cardiyan HIS <[email protected]> wrote:

From: Cardiyan HIS <[email protected]>
Subject: [indonesia] Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen
To: [email protected]
Date: Sunday, January 10, 2010, 9:53 PM

Manajemen Sepakbola Indonesia adalah  Mismanajemen 
Oleh Cardiyan HIS 


Tim nasional Indonesia babak belur. Benar-benar babak belur. Hancur-hancur!  
Bayangkan saja, sejak menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina;   timnas 
Indonesia tak pernah juara lagi hanya untuk di kawasan Asean saja. Puncak 
kehancuran sepakbola Indonesia memang terjadi di masa dua periode kepengurusan 
Nurdin Halid.  
Di kompetisi penyisihan U-19 Asia sebagai tuan rumah, timnas Indonesia gagal 
masuk dua besar grup Asia karena tersisih oleh Jepang dan Australia. Di SEA 
Games Laos, timnas Indonesia U-23 bahkan menjadi juru kunci babak penyisihan 
grup di bawah Laos, Singapura dan Myanmar! Dan paling akhir di penyisihan Piala 
Asia, timnas Indonesia senior  jadi juru kunci setelah dipastikan nasibnya oleh 
Oman 1-2 di stadion Senayan, 6 Januari 2010 ybl.  
Padahal hampir 60 ribu penonton ikut memberikan dukungan penuh. Bahkan seorang 
penonton fanatik Hendry Mulyadi sampai nekad menerobos penjagaan ketat polisi 
untuk kemudian merebut bola dari pemain kedua kesebelasan dan menggiringnya 
sampai berhadapan langsung dengan penjaga gawang Oman yang berhasil 
membendungnya. Hendry tentu saja gagal “membantu” timnas Indonesia menyamakan 
skor di menit-menit akhir pertandingan. Tetapi dia telah berhasil mempermalukan 
pengurus PSSI yang tetap saja tak tahu malu dengan kegagalan demi kegagalan  
mengelola persepakbolaan di Indonesia.    
Menurut penulis, jelas ada mata rantai yang terputus untuk kebangkitan 
sepakbola Indonesia. Biang utama penyebabnya adalah mismanajemen. Mismanajemen 
di kepengurusan Nurdin Halid begitu terang benderang. Bagaimana prestasi timnas 
Indonesia Yunior tidak berlanjut ke prestasi timnas Indonesia Senior.  Nah, 
kalau pun mulai tahun 2009 ini ada kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21. 
Tetapi gregetnya belum meyakinkan. Karena ternyata tidak semua dari 18 anggota 
klub ISL mengikuti kompetisi. Bahkan kompetisi di bawahnya U-19, U-17, PSSI 
gagal memutar roda kompetisinya. Maklum tidak semua klub anggota memiliki tim 
yuniornya. Padahal dalam aturan ISL, hal ini sudah menjadi keharusan.  Hanya 
ada kompetisi U-15 karena kebaikan konglomerat
 migas Indonesia, Ir. Arifin Panigoro melalui perusahaannya Medco  menjadi 
sponsor tunggal.  
Tetapi mengapa di tahun 1972 dan tahun-tahun sebelumnya prestasi timnas 
Indonesia Yunior selalu bisa berlanjut ke prestasi timnas Indonesia yang hebat? 
Coba perhatikan data berikut ini:  
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1960: Indonesia juara 3. 
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1961: Indonesia juara 1. 
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1962: Indonesia juara 1 
(Tahun 1963-1966: Indonesia tak mengikuti kejuaraan internasional karena 
situasi Tanah Air yakni ada perjuangan Trikora untuk pembebasan Irian Jaya dan 
Dwikora, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia). 
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1967: Indonesia juara 2 
Kejuaraan Piala Asia Yunior 1970: Indonesia juara 2 
Kejuaraan Pelajar Asia 1984: Indonesia juara 1 
Kejuaraan Pelajar Asia 1985: Indonesia juara 1 
Kejuaraan Pelajar Asia 1986: Indonesia juara 1 
Coca Cola Cup Group VII Zone Asia 1986: Indonesia juara 1 

 
Coba bandingkan dengan prestasi timnas Indonesia Senior berikut: 
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1960: Indonesia Juara 1 
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1961: Indonesia Juara 1 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1961: Indonesia Juara 1 
Sepakbola Asian Games IV, Jakarta, 1962: Indonesia Juara 2 
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1962: Indonesia Juara 1 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1966: Indonesia Juara 1 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1967: Indonesia Juara 1 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1 
Turnamen King’s Cup I, Bangkok, 1968: Indonesia Juara 1 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1968: Indonesia Juara 1
 
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur, 1969: Indonesia Juara 1 
Turnamen King’s Cup II, Bangkok, 1969: Indonesia Juara 2 
Turnamen Agha Khan Gold Cup, Dhaka, 1970: Indonesia Juara 2 
Turnamen Jakarta Anniversary Cup I, Jakarta, 1970: Indonesia Juara 3 
Turnamen Queen’s Cup, Bangkok, 1971: Indonesia Juara 1 
Turnamen President’s Cup, Seoul, 1971: Indonesia Juara 2 
Turnamen Merdeka Games, Kuala Lumpur,  1971: Indonesia Juara 2 
Turnamen Jakarta Anniversary Cup II, Jakarta,  1972: Indonesia Juara 1 
Turnamen President’s Cup, Seoul , 1972: Indonesia Juara 2 
Pesta Sukan, Singapura,  1972: All Indonesian Final (Indonesia & B) 
Kalau melihat data di atas secara gamblang terlihat ada keterlanjutan antara 
prestasi timnas Indonesia Yunior ke prestasi timnas Indonesia Senior. Mengapa 
hal itu bisa terjadi? 
Karena pada jaman itu Indonesia cukup dengan mengandalkan talenta luar biasa 
yang dimiliki para pemainnya yang dilatih secara baik oleh pelatih asal 
Yugoslavia, Tony Pogacknik. Plus “manajemen dari hati ke hati” oleh para 
pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain sehingga daya juang 
pemain meningkat, meskipun mereka hanya menerima honorarium selama pelatnas dan 
tidak menerima gaji tetap. Yang ada adalah iming-iming heroik:   
“Akan diterima oleh Presiden RI, Bung Karno, di Istana Merdeka jika berhasil 
menjadi juara”. Maklum saja, soal dana PSSI semata-mata hanya mengandalkan 
hasil jualan karcis manakala timnas Indonesia melawan kesebelasan asing kelas 
dunia main di stadion Senayan, Jakarta. Ditambah sedikit saja dari para donatur 
gila bola. Sementara pada sisi lain, di hampir semua negara Asia belum ada 
kompetisi sepakbola profesional. Sehingga pertumbuhan kualitas sepakbola Asia 
tidak berkembang sepesat seperti sekarang ini yang sudah merupakan era 
kompetisi profesional.  
Maka adalah sangat membanggakan, ketika Indonesia yang dijuluki oleh Presiden 
FIFA sebagai “Brazil Asia” berhasil menduduki posisi elite sepakbola Asia 
bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia, belum masuk ke zona Eropa 
seperti sekarang), Burma (Myanmar sekarang) dan Iran. Kesebelasan Jepang dan 
Korea Selatan itu dulu dipermak rata-rata 4-0 oleh Indonesia. Taiwan bahkan 
pernah dicukur oleh Soetjipto Soentoro dengan skor 11-1 di Merdeka Games 1969. 
Jangan ceritera soal Thailand, Malaysia dan Singapura, mereka nggak level 
dengan Indonesia. Sedangkan jazirah Arab (Timur Tengah) bahkan ”belum bisa 
bermain sepakbola” karena federasi sepakbola pun mereka belum punya . Seperti 
diketahui di negara-negara Arab berkembang pesat sepakbolanya dengan merekrut 
pelatih kelas dunia
 asal Brazil ketika negara mereka mendapat anugerah minyak bumi dan gas mulai 
pertengahan tahun 1970-an).  
Bayangkan. Tim Asian All Stars 1966-1970 itu 4 pemainnya berasal dari Indonesia 
yakni Soetjipto Soentoro (sekaligus bertindak sebagai kapten), Jacob Sihasale, 
Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Bahkan kalau nggak malu hati sama negara-negara 
lain, Basri, Aliandu, Anwar Ujang , Sunarto, Yuswardi dan Yudo Hadiyanto pun 
sebenarnya mau ditarik oleh AFC (Asian Football Confederation) untuk mengisi 
skuad bintang-bintang Asia tersebut. 

JEPANG  PUN BELAJAR KE INDONESIA 
Bahkan untuk masalah manajemen sepakbola, Jepang benar-benar belajar dari 
Indonesia manakala mereka mempersiapkan J-League yang diluncurkan pada tahun 
1982. Mengapa? Karena Indonesia sudah memiliki liga sepakbola utama Galatama 
yang dimulai tahun 1979 di era Ali Sadikin.
 Fandi Ahmad dan David Lee (Singapura) memperkuat Niac Mitra dan Jairo Matos 
(Brazil) memperkuat Pardedetex, Medan.  
Seiring dengan persiapan J-League, pada tahun 1981 itu pula timnas Jepang  
dikirim ke Indonesia. Namun timnas Jepang “diajarin bagaimana bermain 
sepakbola” oleh timnas Indonesia yang dikapteni Ronny Pattinasarani . Kiper 
timnas Jepang, Taguchi harus memungut bola dari jalanya sampai 4 kali. Timnas 
Indonesia memang menang telak 4-0 pada uji coba di stadion Senayan itu. Pada 
pertandingan itu  Ronny Patti (libero) bersama Risdianto (striker) memimpin 
pemain-pemain muda berbakat seperti Mettu Duaramuri, Herry Kiswanto, Budi 
Juhanis, Didik Dharmadi, Purwono (kiper). 
Dan atmosfir pertandingan Galatama ketika itu juga sangat mendukung. Kalau klub 
Warna Agung (Ronny Patti dkk), Indonesia Muda (Djunaedi Abdilah dkk) dan 
Jayakarta (Iswadi Idris dkk) bertanding melawan Niac Mitra (Fandi Ahmad dkk) 
atau Pardedetex (Jairo Matos dkk), maka stadion Senayan dengan kapasitas 
110.000 pun penuh sesak.  
Namun dalam perkembangan kemudian, setelah Ali Sadikin “dilengserkan” Presiden 
Soeharto, kompetisi PSSI pun ikut-ikutan melorot. Suap merajalela merasuki 
pemain, wasit dan juga pengurus. Judi sepakbola menambah runyamnya nasib 
sepakbola Indonesia karena konon mafianya berporos Semarang-Jakarta- Kuala 
Lumpur-Hong Kong-Makao. Maka Galatama hancur lebur. Bahkan tim Perserikatan 
Persib, Bandung pernah menghancurkan tim Galatama Arema Malang di stadion 
Gajayana Malang, dengan skor telak 4-0 pada tahun 1984.  
Nah mengapa J-League sekarang jauh lebih bersinar dibanding Indonesia Super 
League? Karena Jepang memiliki manajemen bagus ditopang dana yang banyak . 
Sehingga setiap klub mampu merekrut sedikitnya tiga pemain berstandar Eropa 
atau dunia. Ditambah industri negaranya yang sangat maju dan mau menjadi 
sponsor J-League. Semua stake holder kompetisi J-League sangat berperilaku 
profesional dan sangat kondusif bagi tumbuh kembangnya kompetisi.  
Tak mengherankan bila kompetisi yang bagus bermuara ke timnas Jepang yang bagus 
pula. Jepang sekarang adalah mirip bahkan melebihi Indonesia pada jaman 
keemasan dulu. Sekarang timnas Indonesia belum pernah menang lagi lawan timnas 
Jepang. Timnas Jepang sudah menjadi pelanggan wakil Asia bersama Korsel ke 
Piala Dunia. Bahkan sekarang pemain-pemain Indonesia sudah kalah sebelum 
bertanding bila mendengar nama besar Sunshuge Nakamura (pemain top di La Liga 
Spanyol). 


 
PERPUTARAN UANG RP. 1 TRILIUN 
Kompetisi sepakbola Indonesia sih namanya paling keren yakni ISL alias 
Indonesia Super League. Nama internasional tetapi mutu lokal. Manajemen sangat 
buruk pada PSSI, menjadi biang keladi kegagalan timnas Indonesia bangkit dari 
keterpurukan. Padahal potensi penonton sepakbola Indonesia sangat luar biasa. 
Stadion Jalak Harupat, di Bandung disesaki 50.000 penonton kalau Persib 
bermain. Begitu pula stadion di Gajayana dan atau stadion Kanjuruhan di Malang 
kalau Arema Malang bermain akan disesaki 40.000 penonton pula. Rata-rata 
perolehan dari penjualan karcis kalau Persib main bisa didulang Rp. 700 juta. 
Kasus derby Malang antara Arema lawan Persema pada tanggal 10 Januari 2010 ybl 
bisa
 meraih angka Rp. 1,39  miliar !  Angka ini pasti akan bertambah kalau 
perolehan dari  iklan outdoor dan penjualan siaran langsung TV juga dihitung! 
Dan kalau saja pertandingan Persija lawan Persib dibolehkan dilangsungkan di 
stadion Senayan, maka 88.000 penonton (kapasitas maksimal Senayan sekarang 
pasca Piala Asia) pasti akan menonton “super big match” ini. Dan ujung-ujungnya 
duit pun akan lebih banyak didulang kalau dilihat harga tiket dan kapasitas 
stadion Senayan lebih besar dari stadion di Malang. 
Jadwal kompetisi amburadul. Padahal pengurus PSSI melalui liga ISL telah 
menggembar-gemborkan; “hanya gempa bumi dan tsunami yang akan bisa mengubah 
jadwal kompetisi”. Akibatnya kondisi fisik dan mental pemain menjadi hancur 
sehingga rawan cedera dan mudah keluar emosi. Akibatnya mudah menyulut 
terjadinya tawuran sesama pemain bahkan pemain memukul wasit. Ini juga antara 
lain karena integritas wasit pun belum bisa dipercaya. Komplit sudah bila 
ditambah penonton mengamuk dan membakar dan merusak apa saja yang ada di depan 
mata, di stadion bahkan sampai ke luar stadion. Namun manakala Komisi Disiplin 
dan Komisi Banding telah menjatuhkan sanksi keras kepada para pelaku, eh malah 
dianulir oleh “hak prerogratif” Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid!!!! Bagaimana 
para pelaku kerusuhan akan menjadi jera.   
Kemudian konsep dibolehkannya 5 pemain asing (3 Non Asia dan 2 Asia) main dalam 
satu pertandingan ISL, telah mengawali penghambatan potensi maju pemain lokal. 
Karena terlalu sering duduk di bangku cadangan, para pemain lokal bahkan yang 
sudah berstatus pemain nasional sekalipun menjadi tidak berkembang 
kemampuannya. Yang rugi ujung-ujungnya tim nasional juga. Ditambah jadwal 
kompetisi molor berakibat setiap persiapan pelatnas timnas selalu terkendala. 
Kalau tidak lengkap semua pemain terkumpul; kendala yang lain adalah kondisi 
fisik dan mental pemain sudah kelelahan dan jenuh karena jadwal kompetisi yang 
amburadul tadi.  
Karena jadwal kompetisi yang amduradul ini pula. Maka belanja klub lebih 
hancur-hancuran lagi. Karena dengan mengembangnya waktu, maka belanja menjadi 
tambah tidak terkendali. Padahal sebagian besar klub masih mengandalkan biaya 
APBD. Kalau rata-rata setiap klub dari 18 klub ISL yang ada membelanjakan 
masing-masing Rp 15 miliar per musim kompetisi saja. Maka ada sedikitnya 
perputaran uang Rp. 270 miliar. Padahal klub besar seperti Persib Bandung 
sampai menyedot dana APBD Kodya Bandung Rp. 30,57 miliar pada musim kompetisi 
2008-2009 ybl.  (Kini Persib setelah memiliki PT. Persib Bandung Bermartabat 
memiliki dana Rp. 30 milyar untuk mengarungi kompetisi ISL 2009-2010 ini). 
Tahun lalu Persija Jakarta bahkan lebih besar lagi yakni Rp. 42 miliar. Tetapi 
hasilnya? Persib hanya urutan
 ketiga dan Persija lebih tragis lagi yakni hanya urutan ketujuh. 
Perputaran uang di sepakbola Indonesia ini akan semakin menggila bila ditambah 
dana yang diserap oleh PSSI dari pabrik rokok Djarum yakni sedikitnya Rp. 50 
miliar. Ditambah sumbangan tetap FIFA sebesar US$ 1 juta/tahun. Belum ditambah 
lagi penjualan hak siar televisi ke Anteve untuk 150 siaran langsung dan tunda 
liga ISL. Plus hasil jualan iklan outdoor di sekitar stadion Senayan dan 
stadion-stadion di seluruh Indonesia yang tak ketahuan berapa jumlahnya. Plus 
transfer fee yang diperoleh dari jual beli pemain. Plus hasil penjualan tiket 
kepada penonton. Plus perolehan bila ada pertandingan internasional resmi 
agenda FIFA maupun bukan resmi. Plus donasi pribadi-pribadi gila bola yang juga 
gelap gulita berapa jumlahnya. Plus bila belanja pada kompetisi Divisi Utama 
PSSI, Divisi Satu PSSI dan Divisi Dua PSSI
 ditambahkan
 ke
 dalam perputaran uang disini. Plus dan plus bila kejuaraan yang berbeda yakni 
Copa Dji Sam Soe untuk Piala Indonesia yang diikuti oleh klub ISL dan Divisi 
Utama juga turut dijumlahkan dalam perputaran uang ini. Maka perputaran uang 
sepakbola Indonesia bisa mencapai sebesar Rp. 1 triliun !!!  
Karena sepakbola Indonesia adalah sudah merupakan persoalan manajemen yang 
mismanajemen. Maka untuk memecahkannya pun adalah melalui pendekatan manajemen. 
Nah para ahli manajemen tinggal melihat dan mengelolanya dari hal-hal yang 
tangible dan intangible pada peta profil sepakbola Indonesia ini.

       Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!


      






      


      

Kirim email ke