Nga ada caranya membenahi struktur sosial kecuali jika pemimpinnya Anda sendiri... Berilmu atau berkarakter pemimpin saja juga tidak cukup, jika tidak ada yang mengikuti (dipimpin)... Jadi, permasalahannya bukan sekedar berani atau tidak... Orang tidak akan mengikuti jika Anda sendiri tidak berbuat (amal)... Jika ada yang ketipu mengikuti. menyanjung-nyanjung atau sampai menjilat, itu hanya event sementara saja... Tidak sustain... dan tidak solid... Barangkali karena itu Muhammad SAW menolak diangkat jadi raja Mekkah dan ditawarkan harta berlimpah oleh kaum Quraisj di masa awal dakwahnya... Mungkin agaknya karena dia tahu bahwa gelar itu cuma gelar "raja poco-poco" saja... Padahal misinya adalah mengubah karakter "kebodohan" (jahilliyah) manusia di masa itu menjadi berILMu (musLIM)... Jika kebodohan tuntas, segala macam harta dan gelar akan menyusul BUAT SEMUA...
Saya pribadi tidak pas ... (Khusus untuk daerah & pertanian, barangkali yang memimpin adalah putra daerahnya sendiri...) Wong ngusulin homepage pengganti IEEE untuk ITB dan Univ lain saja tidak ada orang ITB yang berminat... Padahal effortnya rasanya cuma butuh waktu paling lama 1 mingguan untuk menjadikan homepage tersebut... Mental kita masih kelas "ngge ndoro", kecuali kalau sudah ditunjuk oleh "ndoro lain" untuk ikut jadi "ndoro" juga... Atau kelas nipu-nipu dengan atribut-atribut palsu (itu "sajak palsu", isinya rasanya banyak yang tidak palsu)... Karena itu banyak yang nga bisa melakukan apa-apa setelah jadi "ndoro"... Strategi perbaikan sosial bukan seperti yang dibuku-buku text-book itu... Atau yang banyak diajarkan kulit-kulitnya di bangku sekolah sosial dan politik atau bahkan kursus leadership... Jika pengrusakan terjadi berangsur-angsur, kenapa perbaikan tidak bisa terjadi berangsur-angsur...? Bagi yang jeli, tentunya dia harus mengamati bagaimana real "social changer" mengubahnya... Terlalu banyak contohnya di dunia ini... Saya pribadi prefer mempelajari yang "the greatest one" mengubah sejarah dunia... Basis semua kejadian adalah LOGIC... Dunia ini di create Yang Maha Kuasa dengan "change reaction" dalam hubungan "sebab hakibat" yang *sangat presisi*... Jika tidak presisi, tentunya Dia tidak bisa mengontrolnya... Seperti yang mungkin pernah selintas disinggung disini, ada yang namanya ILMU PASTI SOSIAL... Kalau mau tahu detilnya, sila baca Al Quran dan kitab-kitab Allah lainnya (Perjanjian lama & Perjanjian Baru)... Bukankah Anda sendiri sudah di set sebagai "kalifatullah" (pemimpin) di muka bumi? Kenapa tidak iseng-iseng mencoba dalam konteks ITB (atau institusi apa saja) membuat "petani" atau "penjual sayur" jadi "doktor" seperti yang pernah diusulkan...? Atau meng-encourage" ibu rumah tangga di Dago Atas jadi peneliti atau bikin thesis tentang "curah/contents hujan", "sinar matahari" atau "angin" dsb? Semua mengerti dan tahu kan batasannya ilmu "doktor"? Kenapa kok malu-malu kucing untuk mengungkapkannya agar dapat bermanfaat sebagai pencerahan buat semua? Bukankah tidak semua yang kuliah di ITB dapat menerima gelar doktor ITB? Salam Z 2010/4/21 Basuki Suhardiman <[email protected]> > > Ya itu gunanya pemimpin mas , > masalahnya ada 70.000 desa > ada 5117 an kecamatan > dan 470 kab kota , > persoalan nya pemimpin daerah nya juga tidak mengerti daerah nya sendiri ? > > pada kenyataan nya , struktur kelompok-kelompok tani sdh tidak ada /hancur > koperasi yang diharapkan menjadi soko guru perekonomian juga sdh hancur , > (tdk lebih dari tengkulak/makelar biasa) > yang paling menderita adalah petani itu sendiri , > nah sekarang siapa yang memimpin para petani ini ? > > Jadi kalau mau membenahi , > harus membenahi struktur sosial , > > bagaimana ? berani mas ? heheheh .. > > On Wed, 21 Apr 2010, Harlizon MBAu wrote: > > Setiap daerah sebenarnya mampu mandiri (self sufficient), tanpa perlu >> tergantung pada daerah atau negara lain... >> Kuncinya ada pada pemimpin daerah itu... >> Jika yang ngatur kemampuannya baru sekelas *tukang-pajak* dan >> *broker-proyek >> * yang membelanjakan hasil pajak itu untuk projek-proyek yang tidak atau >> kurang bermanfaat langsung untuk *pencerdasan*, *pemberdayaan *dan >> *kesejahteraan >> masyarakat*; ada baiknya ada putra daerah yang berperan secara informal >> mengarahkan daerah tersebut ke arah pertumbuhan dan distribusi rezeki yang >> lebih adil. >> Yang terpenting bukan de jure, tapi *de facto*. >> Perlu ada yang memulai, meski mulainya untuk taraf desa. >> *Tidak mungkin bisa berharap banyak kepada pemimpin yang belum sampai >> akalnya.* >> > > 2010/4/20 Basuki Suhardiman <[email protected]> - Hide quoted text - saya setuju , sekarang bagaimana baiknya ? sebagai contoh , saya ketemu teman yang punya pabrik pupuk NPK, nah stock dia kelebihan 2000 ton per bulan tapi tidak ada yang beli , disisi lain , petani terbebani terus menerus ... Kalau bicara pertanian , bisa sangat panjang , tapi ide nya yang selalu saya sampaikan , petani butuh kepastian harga-harga , kami sdh coba utk gerakkan namanya lawangtani , tapi belum optimum , nah sistem kolektif harga ini yang sedang kami usahakan kembangkan dan bisa di akses oleh petani , broker , dan juga distributor sehingga rantai dari hulu hilir bisa terjalin ... so ? 2010/4/20 menik sumasroh <[email protected]> Lebih enak kita berpikir selanjutnya bagaimana ? apa yang harus kita lakukan sekarang ? --- Pada Sen, 19/4/10, [email protected] <[email protected]> menulis: > Dari: [email protected] <[email protected]> > Judul: [indonesia] Re: Rejinm neolib di pertanian > Kepada: "IA ITB for INDONESIA" <[email protected]>, [email protected], [email protected], "Dwi Astuti" <[email protected]>, "Hira Jhamtani" <[email protected]>, "IA ITB" < [email protected]> > > , [email protected], "Hanim TWN" <[email protected]>, "lidya > inawati" <[email protected]>, "Sri Nuryati" < > [email protected]>, "Sri Widiastuti" <[email protected]>, > "Bina Desa" <[email protected]>, "IKA Bindes" <[email protected]>, > "Nuruddin" <[email protected]>, "Agro Indonesia" <[email protected]>, > "agung biocert" <[email protected]>, "Betti Alisjahbana" < > [email protected]>, "Baskara PUSdEP" <[email protected]>, > [email protected], "C.Dwihastarini" <[email protected]>, "catur PPLH" < > [email protected]>, "chalid muhammad" <[email protected]>, "Bung > Faiz" <[email protected]> > > Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 5:13 AM > > > > Sebenarnya kalo sejak awal, begitu detik2 proklamasi > > kemerdekaan dikumandangkan, seluruh rakyat didevelop > > agar menjadi SDM yg tangguh, hal ini sebagai realisasi > > segala apa yg tlh dikumandangkan di pidato2 dan > > ditulis di buku2 Bung Karno, kemudian ada tongkat estafet > > kepimimpinan yang tepat, yaitu yg tdk hanya pertimbangkan > > keuntungan sesaat. Bener2 bagaimana mendevelop rakyat > > tangguh, tidak ada petani ijon dsb. Kemudian didukung > > dgn R&D serta industri yg sdh ada waktu itu. > > Penyaluran pupuk dengan benar dsb yg serba benar. Tentu, > > sekarang para petani sudah pada pintar2 semua... Kaya2 > > lagi... Mereka pun siap mengarungi > > gelombang globalisasi, bersama produk pertanian mereka siap > > bersaing di pasaran dunia.... > > > > tapi kenyataan apa sekarang ?.... > > > > > > Salam, > > > > Paijo > > > > -----Original Message----- > > From: Ipung <[email protected]> > > Date: Sun, 18 Apr 2010 20:13:02 > > To: <[email protected]>; > > <[email protected]>; > > Dwi Astuti<[email protected]>; > > Hira Jhamtani<[email protected]>; > > IA ITB<[email protected]>; > > <[email protected]>; > > Hanim TWN<[email protected]>; > > lidya inawati<[email protected]>; > > Sri Nuryati<[email protected]>; > > Sri Widiastuti<[email protected]>; > > Bina Desa<[email protected]>; > > IKA Bindes<[email protected]>; > > Nuruddin<[email protected]>; > > <[email protected]>; > > Agro Indonesia<[email protected]>; > > agung biocert<[email protected]>; > > Betti Alisjahbana<[email protected]>; > > Baskara PUSdEP<[email protected]>; > > <[email protected]>; > > C.Dwihastarini<[email protected]>; > > catur PPLH<[email protected]>; > > chalid muhammad<[email protected]>; > > Bina Desa<[email protected]>; > > Bung Faiz<[email protected]> > > Subject: [indonesia] Rejinm neolib di pertanian > > > > > > Satu lagi peraturan yang memperlihatkan watak Neolib dari > > rejim SBY. > > > > Tuntas sudah transformasi rejim pertanian kita menjadi > > rejim neolib, tak ada lagi institusi negara yang melindungi > > kepentingan petani kita. Setelah sebelumnya beberapa petani > > jagung terjerat oleh UU Sistem Budidaya Tanaman dan UU > > Perlindungan Varietas Tanamam, kali ini muncul PerMen yang > > mendorng petani ke dalam jurang keterpurukan......pupus > > sudah mimpi kita untuk menjadi negara agraris yang mandiri > > atas pangan bagi bangsanya sendiri....tuntas sudah > > kedaulatan petani kita diserahkan ke pasar bebas untuk > > dimangsa demi kepintangan kapitalisme global... > > > > > http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/19/03484878/menanam.komoditas.harus.izin.bupati > > > -- > > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah > > ilmu/teknologi serta > > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan > > dunia dan akhirat. > > > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >
