Salah satunya Ruhut..bagian teriak2 kalau ada anggota DPR macam2:).

Salam,

-Irsal
The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination.
#Albert Einstein

-----Original Message-----
From: Rachmad M <[email protected]>
Date: Sat, 8 May 2010 17:59:56 
To: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan 
OrientasiEkonomi Kita (fwd)

Kalau digabung akan memperlihatkan bahwa seorang SMI butuh gabungan 3 atau 4 
orang :-)

RM

--- On Sun, 5/9/10, Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]> wrote:

From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan 
OrientasiEkonomi Kita (fwd)
To: [email protected]
Date: Sunday, May 9, 2010, 8:03 AM


Udahlah...

Digabung aja jd 1 kayak adhoc.
Gaji 1 dibagi rame2
Saling mengawasi jd gk bs korup

Mantab khan??
Inpartnership with Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Basuki Suhardiman <[email protected]>
Date: Sun, 9 May 2010 07:43:00 
To: Indonesianext<[email protected]>
Subject: [indonesia] [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan 
Orientasi
 Ekonomi Kita (fwd)




Coba , bahas ini saja ...
karena ini menarik dari sisi teknologi
yang urusan nya dengan ekonomi

tahun 2003 ,
saya pernah nulis di kompas soal 'Internet economy'
Internet utk mengangkat ekonomi
mulai dari trend kebutuhan hingga apa yg akan men drive riset

---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 20 Apr 2010 21:35:39 -0700 (PDT)
From: rahardjo mustadjab <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
To: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan Orientasi
     Ekonomi Kita

 
Tulisan Dr. Ninok Leksono ini menghentak kita. Beliau bertanya: Bagaimana 
kelanjutannya Lembah Silikon di Bandung? Bagaimana tindak lanjut kunjungan Bill 
Gates kesana?
 
Kuncinya menurut hemat saya adalah membentuk critical mass dengan 
mengkonsolidasikan ITB-Lembaga Elektronika LIPI-BPPT yang semuanya unsur 
akademik didanai APBN. Dan triple helix terjadi dengan menggandeng industri 
terkait misalnya PT Gobel.
 
RM
 
 
 

KOMPAS
 
LAPORAN IPTEK
Tampaksiring dan Orientasi Ekonomi Kita


Rabu, 21 April 2010 | 04:27 WIB
 
Oleh NINOK LEKSONO
 
Itulah direktif ke-9 dari 10 direktif (atau arahan) Presiden yang disampaikan 
di depan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, para gubernur, dan sejumlah 
kalangan dalam rapat kerja (yang juga disebut retreat) di Istana Tampaksiring 
yang asri.
 
Di Istana yang dibangun Bung Karno tahun 1957 (selesai tiga tahun kemudian), 
para peserta rapat dapat mendengar uraian tentang kemajuan perekonomian negara, 
khususnya selama lima setengah tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden 
SBY.
Uraian lebih rinci disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. 
Dari berbagai indikator yang membesarkan hati, disinggung pula bahwa 
keberhasilan ekonomi antara lain sudah ditopang inovasi teknologi. Kinerja 
ekspor yang meningkat juga mencakup kontribusi produk manufaktur.
 
Boleh jadi di butir ini perlu disertakan lampiran karena belum lama ini justru 
muncul berita yang mengabarkan bahwa sektor manufaktur terakhir ini terpuruk.
 
Namun, yang lebih menggelitik lagi adalah tentang tekad untuk memberi tidak 
saja warna, tetapi kontribusi konkret dari iptek terhadap perekonomian 
nasional. Bila Komite Inovasi Nasional jadi terbentuk, kemudian juga ada Komite 
Ekonomi Nasional, bisa diperkiraan akan ada versi baru dari Habibienomics dan 
Widjojonomics.
 
Sementara masih ada skeptisisme terhadap ide pembentukan komite, ada elemen 
lain yang dapat dikemukakan di sini.
 
Proses nilai tambah
Dari pembicaraan panjang hari pertama, selain tekad Presiden dan uraian Menko 
Perekonomian, hanya ada satu ungkapan yang menyiratkan �upaya penguasaan 
kemampuan�, yakni �nilai tambah� yang dikemukakan Menteri Perindustrian 
MS Hidayat. Ini ungkapan sederhana, tetapi mengandung pesan yang amat mendalam.
 
Pada Era Orde Baru, industri strategis mencoba menerapkan falsafah ini. 
Hasilnya, secara teknologi upaya itu bisa dikatakan berhasil, tetapi pesawat, 
kapal, atau industri yang dimaksudkan menerapkan proses nilai tambah lainnya 
tidak tumbuh menjadi penggerak perekonomian.
 
Meski upaya tiga dekade silam itu gagal, kita harus mengakui kebenaran 
konsepnya. Mencoba menemukan sebab kegagalan tersebut ketika bertemu dengan Tim 
Inovasi Nasional, September silam, Presiden SBY mengutip uraian Michael Schuman 
dalam bukunya The Miracle (2009) bahwa ada permainan kroni yang merugikan dalam 
proses Indonesia mencapai keberhasilan ekonomi.
 
Kini, dalam upaya baru mendinamisasi perekonomian, kegiatan proses nilai 
tambah—yang ditandai dengan kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk 
teknologi bernilai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bahan 
bakunya—mestinya jadi bagian integral perekonomian.
 
Semakin urgen
Satu pertanyaan lain, �Mengapa tidak ada penyebutan program atau prakarsa 
mencari ceruk dari pasar otomotif yang gemuk?� Banyak sebetulnya yang dapat 
disuarakan senada. Misalnya, mengapa kontribusi kita nol dalam gegap gempita 
industri seluler? Mengapa ketika industri penerbangan nasional berbondong 
membeli jet dari Boeing dan Airbus kita tidak menyertakan permintaan agar 
mereka memberi bantuan untuk menghidupkan industri kedirgantaraan nasional 
dalam membuat pesawat perintis?
Mengapa tidak ada program pembuatan 200 kapal patroli ketika kita banyak 
mengeluh bahwa penangkapan ikan ilegal merugikan kita 5 miliar dollar AS per 
tahunnya? Mengapa ketika jalanan kita di berbagai kota disesaki sepeda motor 
tidak ada merek nasional satu pun yang muncul?
 
Dulu Korea (Selatan) menjawab tantangan inovasi itu ketika Jepang mendominasi. 
Lalu Taiwan, lalu China. Mereka punya tekad dan kepercayaan diri meski diawali 
dengan produk yang jauh dari standar.
 
Kini, ketika perekonomian juga semakin ditandai bisnis dan inovasi TIK 
(Teknologi Informasi Komunikasi), mengapa tidak ada lagi gaung untuk 
mengembangkan Lembah Silikon di Bandung? Apa kelanjutan kunjungan Bill Gates ke 
Indonesia?
 
Mengapa General Electric mau menanamkan 80 juta dollar AS untuk membangun pusat 
litbang di Bangalore dan mempekerjakan 1.600 tenaga kerja yang sebagian besar 
warga India?
 
Sebagaimana disinggung Prof Zuhal dalam buku terbarunya Knowledge & Innovation 
– Platform Kekuatan Daya Saing (2010), India telah mendapat kearifan bahwa 
pada TIK ada masa depan dan karena itu negara ini ibaratnya membuka kesempatan 
luas bagi warganya untuk menguasai TIK. Hasilnya, muncul SDM TIK paling banyak 
di dunia, 150.000 di antaranya ada di Bangalore. Ini melebihi jumlah di Lembah 
Silikon asli di California yang hanya diperkuat 120.000 profesional TIK. Kota 
ini pun menjadi lokasi favorit bagi perusahaan multinasional yang 
mensubkontrakkan pekerjaan.
 
Indonesia yang di Tampaksiring masih mendambakan konektivitas (fisik ataupun 
TIK) jelas membutuhkan massa kritis untuk lepas landas di perekonomian modern. 
Dengan penetrasi internet baru sekitar 15 persen (35 juta dari 240 juta 
penduduk), Indonesia masih dilanda kesenjangan digital yang termasuk akut 
dibandingkan negara maju.
 
Pesannya yang ada adalah daripada mengumumkan kebijakan bernada 
melarang-larang, lebih baik fokus merancang kebijakan yang bisa 
meliberalisasikan tarif bandwidth internet yang dirasa masih mahal. Dengan itu, 
peran G (government) dalam skema Triple Helix (dua lainnya akademisi dan 
bisnis), lebih banyak manfaat daripada mudarat.
 
Kita berkeyakinan, industri kreatif yang kini sedang dipromosikan pemerintah, 
dan memang berpotensi besar, hanya akan berkembang sepenuhnya jika didukung 
konektivitas yang andal dan terjangkau.
 
Kita tak mengecilkan kinerja pemerintah di bidang ekonomi. Kolom ini hanya 
untuk memberi warna kemandirian dan nasionalis dalam program ke depan. Relakah 
seumur-umur jalanan kita didominasi merek asing tanpa kita merespons 
sedikitpun? Relakah kekayaan laut dijarah pukat asing tanpa kita mampu 
mengeremnya sedikitpun?
 
Padahal, seiring upaya mengerem illegal fishing melalui penggalakan patroli 
dengan kapal buatan sendiri, ada manfaat ganda yang kita peroleh, yakni 
menggentarkan pencuri ikan dan meningkatkan kepintaran membuat kapal melalui 
proses nilai tambah.







         function fbs_click() 
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
 
false;}

  html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px; 
background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981)
 
no-repeat top left; font:normal 11px arial; }
Share on Facebook




[Non-text portions of this message have been removed]
êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·



Kirim email ke