Soal Bandwidth,
sebagai contoh ,
Idle Capacity nya Telkom atau provider lain nya lebih dari 40 Gbps utk local link di Indonesia , sementara link local ke IIX (Indonesia Internet eXchange) kebutuhan nya lebih dari 50 Gbps ....mengapa model macam telkom tidak jual murah link ke IIX ?


Kalau pemerintah gak mau melakukan pemikiran pemikiran strategis ,
ya mari lah kita coba pikirkan bagaimana supaya rencana tersebut tetap bisa jalan walaupun tidak ada dukungan dari pemerintah .


On Sun, 9 May 2010, Adi Indrayanto wrote:

Agar industri di Indonesia tumbuh, dibutuhkan mega lokomotif penariknya.

Contoh, misal kebutuhan pembangkitan listrik 10.000 MW atau yg lebih
besar, seharusnya bisa untuk menarik industri lokal terkait dgn
pembangkitan listrik tersebut. Yaitu dgn membuat kebijakan yg
mengharuskan adanya keterlibatan industri lokal dalam proses tersebut,
disemua lini. Bukan hanya di level pemasok atau importer, tapi juga di
sisi industri perangkatnya.

Menginginkan harga bandwith turun secara tidak langsung bisa saja
membunuh industri perangkat dalam negeri, kalau tidak diimbangi dgn
kebijakan yg kondusif. Karena bisa saja, solusinya adalah membuka
keran sebesar mungkin atas masuknya perangkat murah import dari RRC
misalnya, agar CAPEX menjadi rendah.

Sementara, dgn harga bandwith yg mahal, bisa jadi industri konten dan
aplikasi sulit tumbuh.

Agar industri perangkat bisa bersaing dgn produk import (khususnya
RRC, yg saat ini adalah produsen perangkat elektronika yg paling
kompetitif di dunia), perlu dibuatkan berbagai paket insentif. Tanpa
itu, akan sulit bersaing.

Nah, adakah pemerintah memikirkan strategi yg komprehensif untuk
masing2 topik tersebut?  Siapa yg melakukan?


salam,

-ai-




2010/5/9 Basuki Suhardiman <[email protected]>:



Coba , bahas ini saja ...
karena ini menarik dari sisi teknologi
yang urusan nya dengan ekonomi

tahun 2003 ,
saya pernah nulis di kompas soal 'Internet economy'
Internet utk mengangkat ekonomi
mulai dari trend kebutuhan hingga apa yg akan men drive riset

---------- Forwarded message ----------
Date: Tue, 20 Apr 2010 21:35:39 -0700 (PDT)
From: rahardjo mustadjab <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
To: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan Orientasi
   Ekonomi Kita


Tulisan Dr. Ninok Leksono ini menghentak kita. Beliau bertanya: Bagaimana
kelanjutannya Lembah Silikon di Bandung? Bagaimana tindak lanjut kunjungan
Bill Gates kesana?

Kuncinya menurut hemat saya adalah membentuk critical mass dengan
mengkonsolidasikan ITB-Lembaga Elektronika LIPI-BPPT yang semuanya unsur
akademik didanai APBN. Dan triple helix terjadi dengan menggandeng industri
terkait misalnya PT Gobel.

RM




KOMPAS

LAPORAN IPTEK
Tampaksiring dan Orientasi Ekonomi Kita


Rabu, 21 April 2010 | 04:27 WIB

Oleh NINOK LEKSONO

Itulah direktif ke-9 dari 10 direktif (atau arahan) Presiden yang
disampaikan di depan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, para gubernur,
dan sejumlah kalangan dalam rapat kerja (yang juga disebut retreat) di
Istana Tampaksiring yang asri.

Di Istana yang dibangun Bung Karno tahun 1957 (selesai tiga tahun kemudian),
para peserta rapat dapat mendengar uraian tentang kemajuan perekonomian
negara, khususnya selama lima setengah tahun terakhir di bawah kepemimpinan
Presiden SBY.
Uraian lebih rinci disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta
Rajasa. Dari berbagai indikator yang membesarkan hati, disinggung pula bahwa
keberhasilan ekonomi antara lain sudah ditopang inovasi teknologi. Kinerja
ekspor yang meningkat juga mencakup kontribusi produk manufaktur.

Boleh jadi di butir ini perlu disertakan lampiran karena belum lama ini
justru muncul berita yang mengabarkan bahwa sektor manufaktur terakhir ini
terpuruk.

Namun, yang lebih menggelitik lagi adalah tentang tekad untuk memberi tidak
saja warna, tetapi kontribusi konkret dari iptek terhadap perekonomian
nasional. Bila Komite Inovasi Nasional jadi terbentuk, kemudian juga ada
Komite Ekonomi Nasional, bisa diperkiraan akan ada versi baru dari
Habibienomics dan Widjojonomics.

Sementara masih ada skeptisisme terhadap ide pembentukan komite, ada elemen
lain yang dapat dikemukakan di sini.

Proses nilai tambah
Dari pembicaraan panjang hari pertama, selain tekad Presiden dan uraian
Menko Perekonomian, hanya ada satu ungkapan yang menyiratkan ”upaya
penguasaan kemampuan”, yakni ”nilai tambah” yang dikemukakan Menteri
Perindustrian MS Hidayat. Ini ungkapan sederhana, tetapi mengandung pesan
yang amat mendalam.

Pada Era Orde Baru, industri strategis mencoba menerapkan falsafah ini.
Hasilnya, secara teknologi upaya itu bisa dikatakan berhasil, tetapi
pesawat, kapal, atau industri yang dimaksudkan menerapkan proses nilai
tambah lainnya tidak tumbuh menjadi penggerak perekonomian.

Meski upaya tiga dekade silam itu gagal, kita harus mengakui kebenaran
konsepnya. Mencoba menemukan sebab kegagalan tersebut ketika bertemu dengan
Tim Inovasi Nasional, September silam, Presiden SBY mengutip uraian Michael
Schuman dalam bukunya The Miracle (2009) bahwa ada permainan kroni yang
merugikan dalam proses Indonesia mencapai keberhasilan ekonomi.

Kini, dalam upaya baru mendinamisasi perekonomian, kegiatan proses nilai
tambah—yang ditandai dengan kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk
teknologi bernilai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bahan
bakunya—mestinya jadi bagian integral perekonomian.

Semakin urgen
Satu pertanyaan lain, ”Mengapa tidak ada penyebutan program atau prakarsa
mencari ceruk dari pasar otomotif yang gemuk?” Banyak sebetulnya yang dapat
disuarakan senada. Misalnya, mengapa kontribusi kita nol dalam gegap gempita
industri seluler? Mengapa ketika industri penerbangan nasional berbondong
membeli jet dari Boeing dan Airbus kita tidak menyertakan permintaan agar
mereka memberi bantuan untuk menghidupkan industri kedirgantaraan nasional
dalam membuat pesawat perintis?
Mengapa tidak ada program pembuatan 200 kapal patroli ketika kita banyak
mengeluh bahwa penangkapan ikan ilegal merugikan kita 5 miliar dollar AS per
tahunnya? Mengapa ketika jalanan kita di berbagai kota disesaki sepeda motor
tidak ada merek nasional satu pun yang muncul?

Dulu Korea (Selatan) menjawab tantangan inovasi itu ketika Jepang
mendominasi. Lalu Taiwan, lalu China. Mereka punya tekad dan kepercayaan
diri meski diawali dengan produk yang jauh dari standar.

Kini, ketika perekonomian juga semakin ditandai bisnis dan inovasi TIK
(Teknologi Informasi Komunikasi), mengapa tidak ada lagi gaung untuk
mengembangkan Lembah Silikon di Bandung? Apa kelanjutan kunjungan Bill Gates
ke Indonesia?

Mengapa General Electric mau menanamkan 80 juta dollar AS untuk membangun
pusat litbang di Bangalore dan mempekerjakan 1.600 tenaga kerja yang
sebagian besar warga India?

Sebagaimana disinggung Prof Zuhal dalam buku terbarunya Knowledge &
Innovation – Platform Kekuatan Daya Saing (2010), India telah mendapat
kearifan bahwa pada TIK ada masa depan dan karena itu negara ini ibaratnya
membuka kesempatan luas bagi warganya untuk menguasai TIK. Hasilnya, muncul
SDM TIK paling banyak di dunia, 150.000 di antaranya ada di Bangalore. Ini
melebihi jumlah di Lembah Silikon asli di California yang hanya diperkuat
120.000 profesional TIK. Kota ini pun menjadi lokasi favorit bagi perusahaan
multinasional yang mensubkontrakkan pekerjaan.

Indonesia yang di Tampaksiring masih mendambakan konektivitas (fisik ataupun
TIK) jelas membutuhkan massa kritis untuk lepas landas di perekonomian
modern. Dengan penetrasi internet baru sekitar 15 persen (35 juta dari 240
juta penduduk), Indonesia masih dilanda kesenjangan digital yang termasuk
akut dibandingkan negara maju.

Pesannya yang ada adalah daripada mengumumkan kebijakan bernada
melarang-larang, lebih baik fokus merancang kebijakan yang bisa
meliberalisasikan tarif bandwidth internet yang dirasa masih mahal. Dengan
itu, peran G (government) dalam skema Triple Helix (dua lainnya akademisi
dan bisnis), lebih banyak manfaat daripada mudarat.

Kita berkeyakinan, industri kreatif yang kini sedang dipromosikan
pemerintah, dan memang berpotensi besar, hanya akan berkembang sepenuhnya
jika didukung konektivitas yang andal dan terjangkau.

Kita tak mengecilkan kinerja pemerintah di bidang ekonomi. Kolom ini hanya
untuk memberi warna kemandirian dan nasionalis dalam program ke depan.
Relakah seumur-umur jalanan kita didominasi merek asing tanpa kita merespons
sedikitpun? Relakah kekayaan laut dijarah pukat asing tanpa kita mampu
mengeremnya sedikitpun?

Padahal, seiring upaya mengerem illegal fishing melalui penggalakan patroli
dengan kapal buatan sendiri, ada manfaat ganda yang kita peroleh, yakni
menggentarkan pencuri ikan dan meningkatkan kepintaran membuat kapal melalui
proses nilai tambah.







       function fbs_click()
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
false;}

 html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px;
background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981)
no-repeat top left; font:normal 11px arial; }
Share on Facebook




[Non-text portions of this message have been removed]

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke