Setahu saya, tidak ada satu negarapun di dunia ini yang Industri-nya bisa
tanpa dukungan dari pemerintahnya...
Dukungan ini tidak hanya pada saat awal dimulainya industri tersebut, tapi
juga pada tahap-tahap selanjutnya...
Bentuk dukungan ini tidak hanya di pada negara-negara industri baru saja,
namun juga pada negara-negara maju...
Pemerintah Jepang tetap membeli peralatan swicth-switch elektronik dsb
produksi dalam negeri yang masih "kurang baik mutunya" agar industri
elektroniknya bisa memulai pertumbuhannya pasca PD II & Restorasi Meiji...
Negara-negara maju lain seperti US, Jerman dan Eropa lainnya, bahkan Korea
Selatan dan China juga begitu...
Jargon-jargon "perdagangan bebas" untuk pihak dari negara lain itu cuma
tipuan-tipuan saja...
Berlaku bagi negara lain, tapi tidak untuk di negara mereka sendiri...

Nga tahu kenapa disini jadi agak lain (terutama sekarang...)
Pemerintahnya merasa lebih keren jika bisa ngomong, "mempermudah investasi
asing"
Pengusaha kelas kampungpun ikut latah ngomong sama, bukannya malah nyomong,
"mempermudah investasi di kami / dalam negeri" (sukur-sukur bisa untuk
investasi rakayat banyak)

Apa barangkali ini karena pemimpin-2nya berasal dari asing atau khayangan?
Atau apa negara ini sebenarnya milik asing?
Wallahualam bisawab...

Salam Z

2010/5/9 Adi Indrayanto <[email protected]>

> Agar industri di Indonesia tumbuh, dibutuhkan mega lokomotif penariknya.
>
> Contoh, misal kebutuhan pembangkitan listrik 10.000 MW atau yg lebih
> besar, seharusnya bisa untuk menarik industri lokal terkait dgn
> pembangkitan listrik tersebut. Yaitu dgn membuat kebijakan yg
> mengharuskan adanya keterlibatan industri lokal dalam proses tersebut,
> disemua lini. Bukan hanya di level pemasok atau importer, tapi juga di
> sisi industri perangkatnya.
>
> Hal ini sulit dilakukan, tanpa adanya "proteksi" keberpihakan
> pemerintah pada industri lokal. Misal dgn menerapkan TKDN (Tingkat
> Kandungan Dalam Negeri) dalam kebutuhan proyek tersebut.
>
> Agar kebijakan tersebut terjawab dgn baik oleh industri, ekosistem
> industri pendukungnya perlu siap dalam menunjang kebutuhan tersebut.
> Itu termasuk SDM, infrastruktur industrinya. Permasalahannya adalah,
> untuk membangun sebuah industri tertentu diperlukan waktu yg cukup.
> Sementara, polanya proyek mega pemerintah Indonesia sering sifatnya
> short time, karena sistem perencanaannya yg buruk.
>
> Seharusnya, untuk membangun proyek mega yg membutuhkan waktu 5-7
> tahun, sebelumnya perlu dibuatkan kebijakan untuk mempersiapkan
> industri pendukungnya 3-5 tahun sebelum proyek itu dimulai.
>
> Hal yg sama untuk industri2 lain, seperti TIK.
>
> Dalam industri TIK, terdapat beberapa lapis industri, yaitu (dari
> hilir ke hulu):
>
> - Industri Konten dan Aplikasi
> - Industri Service Provider
> - Industri Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi
> - Industri Perangkat Telekomunikasi dan Komputer
> - Industri Komponen Perangkat Telekomunikasi dan Komputer
> - Industri Material Komponen
>
> Pemerintah harus punya strategi, industri di lapis mana yg akan
> diperkuat? Dan kapan?
>
> Menginginkan harga bandwith turun secara tidak langsung bisa saja
> membunuh industri perangkat dalam negeri, kalau tidak diimbangi dgn
> kebijakan yg kondusif. Karena bisa saja, solusinya adalah membuka
> keran sebesar mungkin atas masuknya perangkat murah import dari RRC
> misalnya, agar CAPEX menjadi rendah.
>
> Sementara, dgn harga bandwith yg mahal, bisa jadi industri konten dan
> aplikasi sulit tumbuh.
>
> Agar industri perangkat bisa bersaing dgn produk import (khususnya
> RRC, yg saat ini adalah produsen perangkat elektronika yg paling
> kompetitif di dunia), perlu dibuatkan berbagai paket insentif. Tanpa
> itu, akan sulit bersaing.
>
> Nah, adakah pemerintah memikirkan strategi yg komprehensif untuk
> masing2 topik tersebut?  Siapa yg melakukan?
>
>
> salam,
>
> -ai-
>
>
>
>
> 2010/5/9 Basuki Suhardiman <[email protected]>:
> >
> >
> >
> > Coba , bahas ini saja ...
> > karena ini menarik dari sisi teknologi
> > yang urusan nya dengan ekonomi
> >
> > tahun 2003 ,
> > saya pernah nulis di kompas soal 'Internet economy'
> > Internet utk mengangkat ekonomi
> > mulai dari trend kebutuhan hingga apa yg akan men drive riset
> >
> > ---------- Forwarded message ----------
> > Date: Tue, 20 Apr 2010 21:35:39 -0700 (PDT)
> > From: rahardjo mustadjab <[email protected]>
> > Reply-To: [email protected]
> > To: Agus Hamonangan <[email protected]>
> > Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Ninok Leksono: Tampaksiring dan Orientasi
> >    Ekonomi Kita
> >
> >
> > Tulisan Dr. Ninok Leksono ini menghentak kita. Beliau bertanya: Bagaimana
> > kelanjutannya Lembah Silikon di Bandung? Bagaimana tindak lanjut
> kunjungan
> > Bill Gates kesana?
> >
> > Kuncinya menurut hemat saya adalah membentuk critical mass dengan
> > mengkonsolidasikan ITB-Lembaga Elektronika LIPI-BPPT yang semuanya unsur
> > akademik didanai APBN. Dan triple helix terjadi dengan menggandeng
> industri
> > terkait misalnya PT Gobel.
> >
> > RM
> >
> >
> >
> >
> > KOMPAS
> >
> > LAPORAN IPTEK
> > Tampaksiring dan Orientasi Ekonomi Kita
> >
> >
> > Rabu, 21 April 2010 | 04:27 WIB
> >
> > Oleh NINOK LEKSONO
> >
> > Itulah direktif ke-9 dari 10 direktif (atau arahan) Presiden yang
> > disampaikan di depan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, para gubernur,
> > dan sejumlah kalangan dalam rapat kerja (yang juga disebut retreat) di
> > Istana Tampaksiring yang asri.
> >
> > Di Istana yang dibangun Bung Karno tahun 1957 (selesai tiga tahun
> kemudian),
> > para peserta rapat dapat mendengar uraian tentang kemajuan perekonomian
> > negara, khususnya selama lima setengah tahun terakhir di bawah
> kepemimpinan
> > Presiden SBY.
> > Uraian lebih rinci disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta
> > Rajasa. Dari berbagai indikator yang membesarkan hati, disinggung pula
> bahwa
> > keberhasilan ekonomi antara lain sudah ditopang inovasi teknologi.
> Kinerja
> > ekspor yang meningkat juga mencakup kontribusi produk manufaktur.
> >
> > Boleh jadi di butir ini perlu disertakan lampiran karena belum lama ini
> > justru muncul berita yang mengabarkan bahwa sektor manufaktur terakhir
> ini
> > terpuruk.
> >
> > Namun, yang lebih menggelitik lagi adalah tentang tekad untuk memberi
> tidak
> > saja warna, tetapi kontribusi konkret dari iptek terhadap perekonomian
> > nasional. Bila Komite Inovasi Nasional jadi terbentuk, kemudian juga ada
> > Komite Ekonomi Nasional, bisa diperkiraan akan ada versi baru dari
> > Habibienomics dan Widjojonomics.
> >
> > Sementara masih ada skeptisisme terhadap ide pembentukan komite, ada
> elemen
> > lain yang dapat dikemukakan di sini.
> >
> > Proses nilai tambah
> > Dari pembicaraan panjang hari pertama, selain tekad Presiden dan uraian
> > Menko Perekonomian, hanya ada satu ungkapan yang menyiratkan ”upaya
> > penguasaan kemampuan”, yakni ”nilai tambah” yang dikemukakan Menteri
> > Perindustrian MS Hidayat. Ini ungkapan sederhana, tetapi mengandung pesan
> > yang amat mendalam.
> >
> > Pada Era Orde Baru, industri strategis mencoba menerapkan falsafah ini.
> > Hasilnya, secara teknologi upaya itu bisa dikatakan berhasil, tetapi
> > pesawat, kapal, atau industri yang dimaksudkan menerapkan proses nilai
> > tambah lainnya tidak tumbuh menjadi penggerak perekonomian.
> >
> > Meski upaya tiga dekade silam itu gagal, kita harus mengakui kebenaran
> > konsepnya. Mencoba menemukan sebab kegagalan tersebut ketika bertemu
> dengan
> > Tim Inovasi Nasional, September silam, Presiden SBY mengutip uraian
> Michael
> > Schuman dalam bukunya The Miracle (2009) bahwa ada permainan kroni yang
> > merugikan dalam proses Indonesia mencapai keberhasilan ekonomi.
> >
> > Kini, dalam upaya baru mendinamisasi perekonomian, kegiatan proses nilai
> > tambah—yang ditandai dengan kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk
> > teknologi bernilai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bahan
> > bakunya—mestinya jadi bagian integral perekonomian.
> >
> > Semakin urgen
> > Satu pertanyaan lain, ”Mengapa tidak ada penyebutan program atau prakarsa
> > mencari ceruk dari pasar otomotif yang gemuk?” Banyak sebetulnya yang
> dapat
> > disuarakan senada. Misalnya, mengapa kontribusi kita nol dalam gegap
> gempita
> > industri seluler? Mengapa ketika industri penerbangan nasional berbondong
> > membeli jet dari Boeing dan Airbus kita tidak menyertakan permintaan agar
> > mereka memberi bantuan untuk menghidupkan industri kedirgantaraan
> nasional
> > dalam membuat pesawat perintis?
> > Mengapa tidak ada program pembuatan 200 kapal patroli ketika kita banyak
> > mengeluh bahwa penangkapan ikan ilegal merugikan kita 5 miliar dollar AS
> per
> > tahunnya? Mengapa ketika jalanan kita di berbagai kota disesaki sepeda
> motor
> > tidak ada merek nasional satu pun yang muncul?
> >
> > Dulu Korea (Selatan) menjawab tantangan inovasi itu ketika Jepang
> > mendominasi. Lalu Taiwan, lalu China. Mereka punya tekad dan kepercayaan
> > diri meski diawali dengan produk yang jauh dari standar.
> >
> > Kini, ketika perekonomian juga semakin ditandai bisnis dan inovasi TIK
> > (Teknologi Informasi Komunikasi), mengapa tidak ada lagi gaung untuk
> > mengembangkan Lembah Silikon di Bandung? Apa kelanjutan kunjungan Bill
> Gates
> > ke Indonesia?
> >
> > Mengapa General Electric mau menanamkan 80 juta dollar AS untuk membangun
> > pusat litbang di Bangalore dan mempekerjakan 1.600 tenaga kerja yang
> > sebagian besar warga India?
> >
> > Sebagaimana disinggung Prof Zuhal dalam buku terbarunya Knowledge &
> > Innovation – Platform Kekuatan Daya Saing (2010), India telah mendapat
> > kearifan bahwa pada TIK ada masa depan dan karena itu negara ini
> ibaratnya
> > membuka kesempatan luas bagi warganya untuk menguasai TIK. Hasilnya,
> muncul
> > SDM TIK paling banyak di dunia, 150.000 di antaranya ada di Bangalore.
> Ini
> > melebihi jumlah di Lembah Silikon asli di California yang hanya diperkuat
> > 120.000 profesional TIK. Kota ini pun menjadi lokasi favorit bagi
> perusahaan
> > multinasional yang mensubkontrakkan pekerjaan.
> >
> > Indonesia yang di Tampaksiring masih mendambakan konektivitas (fisik
> ataupun
> > TIK) jelas membutuhkan massa kritis untuk lepas landas di perekonomian
> > modern. Dengan penetrasi internet baru sekitar 15 persen (35 juta dari
> 240
> > juta penduduk), Indonesia masih dilanda kesenjangan digital yang termasuk
> > akut dibandingkan negara maju.
> >
> > Pesannya yang ada adalah daripada mengumumkan kebijakan bernada
> > melarang-larang, lebih baik fokus merancang kebijakan yang bisa
> > meliberalisasikan tarif bandwidth internet yang dirasa masih mahal.
> Dengan
> > itu, peran G (government) dalam skema Triple Helix (dua lainnya akademisi
> > dan bisnis), lebih banyak manfaat daripada mudarat.
> >
> > Kita berkeyakinan, industri kreatif yang kini sedang dipromosikan
> > pemerintah, dan memang berpotensi besar, hanya akan berkembang sepenuhnya
> > jika didukung konektivitas yang andal dan terjangkau.
> >
> > Kita tak mengecilkan kinerja pemerintah di bidang ekonomi. Kolom ini
> hanya
> > untuk memberi warna kemandirian dan nasionalis dalam program ke depan.
> > Relakah seumur-umur jalanan kita didominasi merek asing tanpa kita
> merespons
> > sedikitpun? Relakah kekayaan laut dijarah pukat asing tanpa kita mampu
> > mengeremnya sedikitpun?
> >
> > Padahal, seiring upaya mengerem illegal fishing melalui penggalakan
> patroli
> > dengan kapal buatan sendiri, ada manfaat ganda yang kita peroleh, yakni
> > menggentarkan pencuri ikan dan meningkatkan kepintaran membuat kapal
> melalui
> > proses nilai tambah.
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >        function fbs_click()
> > {u=location.href;t=document.title;window.open('
> http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer<http://www.facebook.com/sharer.php?u=%27+encodeURIComponent%28u%29+%27&t=%27+encodeURIComponent%28t%29,%27sharer>
> ','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
> > false;}
> >
> >  html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px;
> > background:url(
> http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981)
> > no-repeat top left; font:normal 11px arial; }
> > Share on Facebook
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>

Kirim email ke