Di negara jiran (Singapura), untuk menikmati akses broadband 6MBps unlimited, kita cukup keluar kocek tidak sampai Rp 200rb. Sedangkan kalau pakai speedy telkom, dengan tarif yang sama kita hanya mendapatkan 120KBps sampai 3GB saja. Perbandingan ini memberikan ilustrasi bagaimana dengan captive market yang besar, negara kita jauh tertinggal dari sebuah negara kecil
seperti Singapura yang berpenduduk tidak sampai separo jakarta.


*Faktor utama ketertinggalan*

Terlalu kompleks untuk mengupas ketertinggalan kita dalam mengembangkan industri yang memanfaatkan teknologi. Tetapi saya lihat faktor paling dominan adalah pada kultur birokrat pengelola negara dan peraturan perundang undangan. Kultur disini melahirkan birokrat yang pungli dan korup, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Yang pada gilirannya akan menghambat tumbuhnya inovator dan investasi.
Sedangkan dari sisi perundang undangannya sendiri banyak yang tumpang tindih
seperti fenomena telur dan ayam, serta sifatnya abu abu multi tafsir. Dua hal pokok ini yang lebih dahulu harus dibenahi. Dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif, pertumbuhan akan dengan sendirinya terjadi.


*Harus ada kebijakan yang berorientasi kepada industri manufactur seperti TKDN*

Saya sependapat dengan Kang Adi, bahwa salah satu cara mendorong pertumbuhan industri adalah dengan memanfaat mega proyek (baik pemerintah maupun BUMN) dengan topik peningkatan TKDN. Tetapi, TKDN disini bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan, yang bisa menghambat jalannya proyek itu sendiri.

Menurut saya, fokus utama yang harus diberikan pemerintah adalah pada industri manufakturnya dahulu.

1) Membangun industri manufactur memerlukan proses yang panjang.
Industri manufaktur hanya bisa dibangun melalui sebuah proses yang panjang, tidak bisa secara instan. Dia memerlukan investasi yang tidak kecil dan akumulasi knowledge dan knowhow. Sifat ini membedakan
   industri manufaktur dengan industri software.

2) Kandungan komponen lokal yang rendah.
Mau tahu, berapa persen kandungan lokal untuk industri telematika kita misalnya ? Kalau kita mangacu kepada definisi Deperindag, maka akan kita dapatkan maksimal 10% saja (dari sisi hardwarenya). Kalau kita lakukan secara teliti part analysis pada PCB peralatan telematika yang kita pakai, akan sulit dijumpai komponen produk dalam negeri. Ini gambaran bagaimana rendahnya kandungan lokal. Kondisi ini tidak berpihak terhadap set manufakturr, khususnya PMA, yang dibangun di Indonesia.

3) Industri manufaktur adalah persyaratan menjadi negara maju.
Hampir tidak pernah ada contoh sebuah negara menjadi maju tanpa dukungan kekuatan industri manufaktur. Kita lihat contoh USA, Eropa, Jepang sampai Taiwan, Korea, China dan India. Hal ini karena industri
    manufaktur adalah lokomotif pertumbuhan sekaligus mesin uang.

Kita hanya bisa mengharapkan pertumbuhan ekonomi dan ekspor yang tinggi dengan memiliki industri manufaktur yang kuat. Selama ini, sektor pertumbuhan sektor ini tidak sampai 10%. Bahkan di tahun 2009, pertumbuhan hanya berhenti di angka 3% saja. Kita bandingkan dengan negara Malaysia atau Singapore yang menikmati pertumbuhan ekonomi kuat di kuartal I 2010 (sampai diatas 10%)
    atas kontribusi pertumbuhan di sektor ini yang sampai mencapai 45%.

4) Penyerap tenaga kerja terbesar
Kalau kita mendirikan sebuah industri manufaktur dengan 1000 orang pegawai, maka tenaga kerja yang diserap berlipat dari jumlah tsb. Ini karena industri ini memerlukan ekosistem industri pendukung. Mulai dari industri bahan baku, logistik sampai industri kecil seperti catering untuk makanan pegawainya dan security.


*Solusi alternatif membangun industri manufaktur *

Membangun industri manufaktur ibarat proses menanam dari bibit. Dia memerlukan proses yang panjang, kesungguhan
dan kesabaran sampai buah dituai.
Mengingat pentingnya peran sektor infrastruktur dalam membangun ekonomi negara seperti yang saya paparkan diatas,
berikut ini beberapa alternatif solusinya :

1) Menggairahkan pembangunan set maker
Set maker menjadi salah satu keyword penting dalam membangun industri manufaktur. Tidak saja dari tenaga kerja yang akan diserap dan nilai produk yang dihasilkan. Mendirikan sebuah set maker berarti membangun ekosistim industri pendukung di berbagai bidang. Yang pada gilirannya akan membuka lebar lebar pintu kesempatan bisnis baru dan transfer
   teknologi.

2) Insentif fiskal
Memberikan insentif fiskal bagi investor yang telah mencapai level TKDN dan memiliki R&D. Penghargaan seperti ini harus diberikan kepada industri yang secara serius melakukan lokalisasi dan pengembangan, baik terhadap PMA atau PMDN. Dengan adanya insentif fiskal ini kita berharap adanya gairah swasta dalam meningkatkan
    kandungan lokal dan membangun pusat R&D di negara kita.

3) Membuka sedikit celah pada industri di Kawasan Berikat (KB)
Kawasan berikat adalah salah satu surga bagi investor asing khususnya. Mereka memanfaatkan fasilitas bebas pajak ini dengan membuat pusat manufaktur yang sebagian besar untuk kebutuhan ekspor. Beberapa tahun terakhir, perusahaan manufaktur kelas dunia banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Disamping keuntungan dari sisi fiskal, akses terhadap tenaga kerja yang murah menjadi alasan mereka. Kita bisa memanfaatkan KB untuk mengundang perusahaan manufaktur kelas
    dunia ke Indonesia.

Selama ini KB memang di design untuk kebutuhan ekspor. Industri yang berada di dalam KB, apabila akan menjual produknya ke pasar domestik, tetap akan dikenakan tarif sebagaimana bea import pada umumnya. Untuk meningkatkan investasi manufaktur di KB, seharusnya pemerintah memberikan insentif bea impor kepada pengusaha yang telah mencapai nilai/kandungan lokal tertentu ketika mereka melempar produknya ke pasar domestik. Skema ini sangat menarik mengingat potensi pasar domestik yang besar dan terus berkembang.
4) Perbaikan Infrastrutur pendukung.
Saya tidak akan menjelaskan hal ini secara panjang lebar, karena permasalahan ini sudah menjadi masalah umum.
Salam.
Ach. Chamdani Eka

Adi Indrayanto wrote:
Agar industri di Indonesia tumbuh, dibutuhkan mega lokomotif penariknya.

Contoh, misal kebutuhan pembangkitan listrik 10.000 MW atau yg lebih
besar, seharusnya bisa untuk menarik industri lokal terkait dgn
pembangkitan listrik tersebut. Yaitu dgn membuat kebijakan yg
mengharuskan adanya keterlibatan industri lokal dalam proses tersebut,
disemua lini. Bukan hanya di level pemasok atau importer, tapi juga di
sisi industri perangkatnya.

Hal ini sulit dilakukan, tanpa adanya "proteksi" keberpihakan
pemerintah pada industri lokal. Misal dgn menerapkan TKDN (Tingkat
Kandungan Dalam Negeri) dalam kebutuhan proyek tersebut.

Agar kebijakan tersebut terjawab dgn baik oleh industri, ekosistem
industri pendukungnya perlu siap dalam menunjang kebutuhan tersebut.
Itu termasuk SDM, infrastruktur industrinya. Permasalahannya adalah,
untuk membangun sebuah industri tertentu diperlukan waktu yg cukup.
Sementara, polanya proyek mega pemerintah Indonesia sering sifatnya
short time, karena sistem perencanaannya yg buruk.

Seharusnya, untuk membangun proyek mega yg membutuhkan waktu 5-7
tahun, sebelumnya perlu dibuatkan kebijakan untuk mempersiapkan
industri pendukungnya 3-5 tahun sebelum proyek itu dimulai.

Hal yg sama untuk industri2 lain, seperti TIK.

Dalam industri TIK, terdapat beberapa lapis industri, yaitu (dari
hilir ke hulu):

- Industri Konten dan Aplikasi
- Industri Service Provider
- Industri Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi
- Industri Perangkat Telekomunikasi dan Komputer
- Industri Komponen Perangkat Telekomunikasi dan Komputer
- Industri Material Komponen

Pemerintah harus punya strategi, industri di lapis mana yg akan
diperkuat? Dan kapan?

Menginginkan harga bandwith turun secara tidak langsung bisa saja
membunuh industri perangkat dalam negeri, kalau tidak diimbangi dgn
kebijakan yg kondusif. Karena bisa saja, solusinya adalah membuka
keran sebesar mungkin atas masuknya perangkat murah import dari RRC
misalnya, agar CAPEX menjadi rendah.

Sementara, dgn harga bandwith yg mahal, bisa jadi industri konten dan
aplikasi sulit tumbuh.

Agar industri perangkat bisa bersaing dgn produk import (khususnya
RRC, yg saat ini adalah produsen perangkat elektronika yg paling
kompetitif di dunia), perlu dibuatkan berbagai paket insentif. Tanpa
itu, akan sulit bersaing.

Nah, adakah pemerintah memikirkan strategi yg komprehensif untuk
masing2 topik tersebut?  Siapa yg melakukan?


salam,

-ai-


Kirim email ke