Kalau demografi buruh kita memang berpendidikan rendah, satu2nya cara yg pragmatis tahap awal ya ... sebagai tempat relokasi upah buruh murah dulu :-(
Kalau investor RRC mau pindahkan manufakturnya, Indonesia bisa menawarkan tempatnya. Nanti kan ada pergerakan ekonomi dgn relokasi industri ini. Tentu tidak akan lama, dan suatu ketika buruh menjadi mahal akan pindah lagi. Ini memang tipikal "footloose industries". Negara berkembang tidak banyak pilihannya kalau mau industrialisasi sementara SDM nya mayoritas di level buruh. Indonesia memiliki lulusan SMK yg akan makin menjadi banyak (dgn pergerseran pola rasio SMU:SMK menjadi 30:70), yg sebenarnya merupakan intake dari industri manufaktur. Sementara ini entrepreneur Indonesia dan lembaga financialnya kurang "mampu" membangun lapangan kerja yg bisa menyerap mereka. Apa solusinya? Menunggu jumlah S3 bertambah? Tidak ada jaminan. Yg terjadi malah brain drain lulusan S3 pindah ke Malaysia atau negara lain :-( Industri mana di Indonesia yg menyerap lulusan S3 kecuali industri pendidikan dan penelitian ;-) BKPM harus kerjasama dgn Deprin dan DikNas dan TenagaKerja agar bisa mensinkronkankan programnya. Penyakit di Indonesia, koordinasi antar departemennya buruk. salam, -ai- 2010/9/21 Joko Julianto <[email protected]>: > Kenapa mengacu ke China? > Apakah 20ribu doktor di sana mayoritas bekerja di Industri? > > Seharusnya BKPM melihat tidak semata-mata ke angka yang 20ribu. > Namun berapa banyak s3 yang diserap industri dari total s3 yang ada. > > Menurut saya China gagal menjadi negara industri yang membawa kemakmuran > bagi rakyatnya. > Karena yang diobral China selama ini adalah negara industri dengan upah > buruh murah. > > Kalau melihat program Nat Geo Australia (bukan Nat Geo yang disiarkan di > Indonesia atau Malaysia), kelihatan nyata ketimpangan sosial di China. > Dan investor di China sekarang harus ancang-ancang memindahkan investasi > karena buruh di China menuntut perbaikkan kesejahteraan. > > Apakah kita juga akan mengobral SDM kita yang murah? > Sementara biaya hidup tidak makin murah. > > Salam, > Joko > > > >> Subject: [indonesia] Re: 100 Ribu Orang Harus Lulus S3, Jika Tidak? >> To: [email protected] >> From: [email protected] >> Date: Mon, 20 Sep 2010 22:26:34 +0000 >> >> Tetapi jangan cuma punya2an ijazah S3 tetapi mutu pemikiran tetap cuma D3 >> ya ... >> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung >> Teruuusss...! >> >> -----Original Message----- >> From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> >> Sender: [email protected]: Mon, 20 Sep 2010 17:32:58 >> To: <[email protected]> >> Reply-To: [email protected] >> Subject: [indonesia] 100 Ribu Orang Harus Lulus S3, Jika Tidak? >> >> Rekan-rekan yth., >> >> Judul berita di atas memang menarik, namun saya ingin menggarisbawahi >> pernyataan Kepala BKPM yang berikut ini saja: >> >> "Ini kan sosialisasi kepentingan investasi, karena 80 persen penanaman >> modal masih di Pulau Jawa." >> >> Melihat angka "Pareto-alike" di atas tentu saja membuat miris hati -- >> kecuali bagi segelintir pihak yang masih tidak menyadari pentingnya >> pemindahan ibukota ke luar Jawa. >> >> Salam, >> CA >> >> Source: http://bit.ly/cx3oUe >> >> --begins-- >> 100 Ribu Orang Harus Lulus S3, Jika Tidak? >> >> Senin, 20 September 2010 - 16:44 wib >> >> BANDUNG - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan sebanyak >> 75 ribu hingga 100 ribu orang dapat lulus dan mendapatkan ijazah studi >> S3 dalam jangka waktu selama 25 tahun ke depan. Pasalnya, apabila hal >> ini tidak bisa terealisasikan maka Indonesia tidak akan bisa bersaing >> dengan negara lain karena tidak mempunyai sumber daya manusia (SDM) >> yang berkualitas. >> >> “Karena kalau kita lihat investment roadmap kita, fase pertama early >> quick wins, fase kedua infrastruktur, fase ketiga industrialisasi >> skala besar,yang bisa ditopang apabila produksi lulusan S3 kita besar, >> sementara pada saat ini lulusan S3 kita baru 5.000 orang, sedangkan >> China 20.000 orang,” kata Kepala BKPM Gita Wirjawan di Bandung, >> kemarin. >> >> Menurutnya, keterlibatan kaum intelektual seperti mahasiswa sangat >> penting, terutama dalam mensosialisasikan investasi di luar Pulau >> Jawa. >> >> “Ini kan sosialisasi kepentingan investasi, karena 80 persen penanaman >> modal masih di Pulau Jawa. Mahasiswa harus berperanlah untuk >> kepentingan kita dalam mendistribusikan penanaman modal keluar Jawa. >> Kedua, tentunya kita ada basic interest untuk merekrut murid-murid >> yang berbakat supaya bisa masuk ke pemerintah,” ujarnya. >> >> Gita menuturkan, para mahasiswa tersebut harus bisa meratakan >> investasi di dalam dan luar Pulau jawa. “Hal tersebut tidak disadari >> bahwa kurva sangat Jawa sentrik. Kita mulai dari awareness. Semakin >> banyak kaum intelektual seperti mahasiswa yang tahu untuk >> mendistribusikan penanaman modal. Mulai dari kesadaran mereka bahwa >> ini timpang. Dan mungkin di tahap keduanya, kita bisa berdiskusi >> bagaimana caranya meratakan investasi,” paparnya. >> (Sandra Karina/Koran SI) (rhs) >> --ends-- >> >> -- >> Sent from my mobile device >> >> -- >> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta >> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan >> akhirat. >> >> Info pengelolaan milis Indonesia next better : >> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >> z¹h™¶¥j Z•©¤j¼šmêìŠw«‚+^ªdjy ‰Ö¡ŠY®þפž‰h‚+ ®Ö¤jÈ¡±¬šž >> Zžf§}¦º{n’Ç¢²&¥jg^š) m¨Z‚&š�Û§‰§Z�©!ж"wè¥éàzZ%i©æŠX¬"wh�ë"jw±µ·µêá¶Ú >> þ››�ìmmëmz¹Þ·÷â•ë?š)b²Ø§v‰Þ²&¢�ú-Æ > -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
