Pak Sumitro Roestam Ysh,

Saya bukan orang vulkanologi, tetapi saya yakin prediksi kapan erupsi (jangka 
pendek) akan terjadi sudah ada 'science'nya. Diantara faktor-faktornya adalah : 
Seismic Exploration & Monitoring , Perubahan Medan Magnet, Perubahan Tahanan 
Listrik, Deformasi bumi, perubahan sistem Air tanah, Perubahan Arus Panas, 
Perubahan Komposisi Gas. Tidak mungkin memprediksi secara akurat berdasar hanya 
kepada data salah satu faktor saja; setiap prediksi ilmiah (yaitu secara 
statistik dari sebuah proses stokhastik) akan selalu ada error yang bisa 
diperkecil dengan memperbanyak informasi (monitor). Semakin banyak monitoring 
yang dilakukan akan semakin akurat prediksi suatu erupsi. Disamping itu 
masing-masing gunung mempunyai ciri khas yang harus pula dikenali.
Pertanyaannya: 1) apakah dalam kasus Merapi atau gunung2 berapi lainnya yang 
sedang aktif dilengkapi dengan alat2 monitoring tsb diatas dan apakah masih 
operasional,  2) apakah dilengkapi software yang mengarah kepada prediksi 
erupsi 
dan apakah software tsb juga  operasional. Kalau software tidak ada, adalah 
suatu tantangan bagi kita untuk bisa menyumbangkan software semacam itu. 

Namun saya yakin bapak/ibu dari Direktorat Vulkanologi sudah sangat menguasai 
hal-hal tsb diatas.


Wassalam,

Arifin Nugroho


________________________________
From: S Roestam <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Sat, November 6, 2010 9:56:15 PM
Subject: [indonesia] Dapatkah Gunung Berapi dijinakkan? Sebuah pemikiran.

Kawan2 Anggota Milis Yth,

Melihat makin banyaknya korban-korban yang berjatuhan dari bencana meletusnya 
gunung Merapi, yang terutama disebabkan oleh sulitnya meramalkan kapan gunung 
itu akan meletus, sehingga membuat banyak korban-korban berjatuhan karena tidak 
tahu hari apa, jam berapa dan detik keberapa gunung itu akan meletus, maka kami 
ingin menyampaikan sebuah pemikiran atau solusi.

Para korban itu tewas karena ketidak-tahuan mereka saat meletusnya gunung 
Merapi 
itu, mereka tetap berada di lokasi yang berbahaya itu dan perkiraan mereka itu 
meleset. Seperti sudah diakui oleh Bapak Surono, Ketua Pusat Vulkanologi dan 
Mitigasi Bencana, secara ilmiah tidak mungkin untuk meramalkan secara tepat 
kapan sebuah gunung berapi akan meletus. Jadi ini merupakan faktor utama yang 
menyebabkan banyaknya korban-korban yang berjatuhan.

Gunung Berapi yang akan meletus adalah ibarat bisul yang siap akan pecah. Untuk 
mempercepatnya, kita bisa memencet bisul itu hingga keluarlah nanah kotor yang 
menyebabkan kita sakit. Penderita sakit bisul itu akan segera sembuh setelah 
dikeluarkannya nanah dari bisulnya.

Lalu bagaimanakah caranya untuk "memencet" gunung berapi yang siap meletus itu 
agar saatnya dapat kita tetapkan sesuai rencana, dan sebelumnya seluruh 
penduduk 
disekitarnya sudah terlebih dahulu kita ungsikan untuk satu hari saja, pada 
hari 
dimana gunung itu kita upayakan meletus.

Ini akan sangat mengurangi penderitaan penduduk disekitar gunung berapi itu, 
karena hanya diperlukan untuk mengungsi cukup satu hari saja. Selain itu mereka 
tidak harus was-was terus selama satu bulan penuh karena tidak tahu kapan 
waktunya gunung akan meletus.

Usul kami untuk meledakkan gunung yang siap meletus pada saat yang kita 
tentukan 
adalah dengan menjatuhkan ratusan ton bom dari pesawat tempur secara cepat dan 
akurat ke kawah gunung berapi itu. Hasil yang diharapkan adalah terbukanya 
sumbatan batu-batuan dan pasir gunung itu, sehingga tidak terjadi ledakan yang 
terlalu hebat akibat sumbatan yang terlalu lama yang dapat meningkatkan energi 
ledakan gunung itu, Bagaikan bisul yang dikempeskan, tekanan dari dalam perut 
bumi dapat diturunkan ketingkat yang tidak terlalu membahayakan.

Kalau Angkatan Udara R.I. belum mempunyai cukup banyak pesawat-pesawat tempur 
dengan jumlah bom-bom yang cukup, mungkin ini adalah sebuah kesempatan baik 
untuk dibicarakan dengan Presiden AS Barack Obama yang akan datang ke Jakarta 
pada hari Selasa 9 November 2010. Ini akan lebih baik dan bermanfaat bagi ummat 
manusia dari pada menjatuhkan bom-bom di tempat-tempat yang berpenduduk tak 
berdosa di Iraq dan Afghanistan.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat sebagai solusi yang baik untuk 
menghindarkan korban-korban letusan gunung berapi yang tidak dapat diramalkan.

Wassalam,
S Roestam


      

Kirim email ke