Bung Roestam yth,..

saya selalu  membaca tulisannya,.
muatannya selalu menuju Indonesia Bangkit,..
masa depan anak bangsa selalu menjadi orientasinya,.
sisi manapun dibahas arahnya berpihak pada kemajuan bangsa,..
Pencerahan menjadi sumber inspirasinya,..

Sinergi dengan Bung Hengki, nampaknya akan melahirkan kekuatan baru untuk sang 
merah putih.

Terimakasih 
Salam perjuangan,
.




________________________________
Dari: S Roestam <[email protected]>
Kepada: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Terkirim: Jum, 3 Desember, 2010 06:59:32
Judul: [indonesia] Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita: "Waiting 
Game is a Losing Game"

Kawan2 Anggota Milis Yth,

1. "Waiting Game is a Losing Game"

Kita sudah tertinggal selama3-tahun dalam menerapkan Broadband Wireless Access 
sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband sebagai enabler 
pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10% penetrasi jaringan Broadband, 
maka secara empiris diperoleh pertumbuhan GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada 
tahun 2010 diperkirakan sebesar US$1.000 milyar. Bila kita angap tiap tahun 
jaringan broadband itu tumbuh sebesar 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP 
itu 
tumbuh sebagai dampak Broadband Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = 
US$41,4 milyar atau Rp414 Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari 
bangsa 
Indonesia.

2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"

Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi untuk 
menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next 
Billion" 
adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband Wireless users.

Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada 750-juta 
Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada tahun 
yang 
sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan mencapai 3,2-milyar 
orang 
atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband lines.

3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 GHZ

Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan untuk 
menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset WiMAX, 
baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e telah berhasil 
di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil dikembangkan lebih 
lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi ke-2), yaituWiMAX 16m yang telah 
diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi Seluler Generasi ke-4) yang setara 
dengan LTE-Advanced, dimana akan dapat dicapai kecepatan transmisi puncak 
sampai 
340 Mbps, maka akan dapat turut dikembangkan industri pendukungnya di dalam 
negeri, seperti antena, casing, content dan aplikasi-aplikasinya, 
after-sales-service, training dan education, dll.

Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur dalam 
negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, maka mungkin 
kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100 atau 1000-tahun 
lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., "Waiting Game is a Losing 
Game", 
melihat ke butir 1 diatas.

4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu minimum 
3-tahun lagi.

Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan 
Intelektual-nya 
(IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu Eropa, Cina, Korea dan 
USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core Technology LTE sendiri, maka akan 
perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau beli lisensi, maka akan mahal, lagipula 
mengembangkan teknologi milik orang lain hanya akan menghasilkan nilai tambah 
yang sangat minimal.

Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game is a 
Losing Game....."

5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30, 
sedangkan 
Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas ribuan Dollar.

Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat matang, 
sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan teknologi yang 
hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya sekitar $30 tahun depan, 
memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah ada lebih dari 300-jenis 
perangkat yang terkait, digunakan pada 500 jaringan telekomunikasidiseluruh 
dunia yang mencakup populasi sebanyak800 juta orang.

Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja dikembangkan (masih 
bayi, infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas, 
maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada butir 1 
diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..."

6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan menjadi 
keputusan yang aneh.

Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk Teknologi 
Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz menjadi 
sebuah 
keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi terkucilkan, tidak 
bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE atau Laptop LTE ke luar 
negeri 
saat kita bepergian, sebab menggunakan pita frekwensi diluar standar 
Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE Indonesia bisa roaming, maka perlu 
ditambahkan fitur multi-band dengan menambah biaya bagi masyarakat penggunanya, 
dan membebani keuangan mereka dengan biaya yang tidak seperlunya.

Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk WiMAX 
(16d 
dan 16e).

Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz tidak bisa 
di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk berkembang.

Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita 3G 
karena 
LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil Digital Dividend 
siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti yang telah 
dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.

7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak akan 
dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.

Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan CAPEX 
ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS yang dapat 
di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator Non-3G, seperti 
para 
ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak mendapatkan keutungan 
itu 
ketika menerapkan Teknologi LTE.

8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.

Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu perlu 
kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal namun juga 
berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun, jangan ditambah 
lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan yang tepat dan 
cepat....

Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita bisa 
yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi kemajuan bangsa 
dan 
negara Indonesia yang kita cintai.

Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
http://wartaduniamaya.blogspot.com
http://mastel.wordpress.com


Kirim email ke