Pak Roestam,
Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah
Chairman
Mastel.
Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa
pemerintah masih enggan
dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya
saja
(bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan
persetujuan untuk
menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan.
Apakah ada masalah
politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini.
Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di
lorong, tanpa pernah melihat
setitik cahaya jalan keluar.
Salam.
Ach. Chamdani Eka
S Roestam wrote:
Kawan2 Anggota Milis Yth,
1. "Waiting Game is a Losing Game"
Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband
Wireless Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan
Broadband sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap
10% penetrasi jaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh
pertumbuhan GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010
diperkirakan sebesar US$1.000 milyar. Bila kita angap tiap tahun
jaringan broadband itu tumbuh sebesar 10%, maka dalam 3-tahun
seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak Broadband Economy sebesar
3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414 Trilyun. Ini
merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia.
2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi
untuk menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka
"The Next Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah
Mobile Broadband Wireless users.
Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada
750-juta Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat
Optik. Pada tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users
sudah akan mencapai 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari
Fixed Broadband lines.
3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 GHZ
Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan
untuk menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau
Chipset WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk
WiMAX 16e telah berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri.
Bila berhasil dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0
(Generasi ke-2), yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai
"True 4G" (Teknologi Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan
LTE-Advanced, dimana akan dapat dicapai kecepatan transmisi puncak
sampai 340 Mbps, maka akan dapat turut dikembangkan industri
pendukungnya di dalam negeri, seperti antena, casing, content dan
aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training dan education, dll.
Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri
manfaktur dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini
dilewatkan, maka mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam
jangka waktu 100 atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman
3-tahun y.l., "Waiting Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu
minimum 3-tahun lagi.
Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan
Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain,
yaitu Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan
Core Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun.
Kalau beli lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi
milik orang lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal.
Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game
is a Losing Game....."
5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30,
sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas
ribuan Dollar.
Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat
matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan
teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya
sekitar $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust
(kuat), sudah ada lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait,
digunakan pada 500 jaringan telekomunikasi diseluruh dunia yang
mencakup populasi sebanyak 800 juta orang.
Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja dikembangkan
(masih bayi, infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi
WiMAX diatas, maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga
pengalaman pada butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing
Game..."
6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan
menjadi keputusan yang aneh.
Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk
Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita
2,3GHz menjadi sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE
Indonesia menjadi terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat
ponsel LTE, PDA LTE atau Laptop LTE ke luar negeri saat kita
bepergian, sebab menggunakan pita frekwensi diluar standar
Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE Indonesia bisa roaming, maka
perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah biaya bagi
masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan biaya
yang tidak seperlunya.
Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk
WiMAX (16d dan 16e).
Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz
tidak bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit
untuk berkembang.
Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita
3G karena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita
hasil Digital Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita
2,6MHz seperti yang telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain
di Dunia.
7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak
akan dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan
CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS
yang dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator
Non-3G, seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru,
tidak mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang
lalu perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang
mahal namun juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414
Trilyun, jangan ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua
mengambil keputusan yang tepat dan cepat....
Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga
kita bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi
kemajuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
http://wartaduniamaya.blogspot.com
http://mastel.wordpress.com