Pak Achmad Chamdani Yth,

Terimakasih atas perhatian dan tanggapan Bapak.

Rincian tentang masalah teknologi WiMAX dan Broadband pada umumnya dapat di 
baca di Blog http://wirelesstekno.blogspot.com

Alhamdulilla, sepertinya sekarang sudah ada kemajuan, sehingga pita 2.3 Ghz 
akan dialokasikan bagi teknologi netral WIMAX (16d dan 16e).

Mudah2 dapat dicapai solusi yg dapat diterima oleh pihak2 yg bersaing (dlm 
bisnis).

Wassalam,
S Roestam

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Achmad Chamdani Eka P." <[email protected]>
Sender: [email protected]: Fri, 17 Dec 2010 09:25:14 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita:
 "Waiting Game is a Losing Game"

Pak Roestam,

Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah 
Chairman
Mastel.

Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa 
pemerintah masih enggan
dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya 
saja
(bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan 
persetujuan untuk
menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan. 
Apakah ada masalah
politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini.

Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di 
lorong, tanpa pernah melihat
setitik cahaya jalan keluar.


Salam.
Ach. Chamdani Eka

S Roestam wrote:
> Kawan2 Anggota Milis Yth,
>
> 1. "Waiting Game is a Losing Game"
>
> Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband 
> Wireless Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan 
> Broadband sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 
> 10% penetrasi jaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh 
> pertumbuhan GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 
> diperkirakan sebesar US$1.000 milyar. Bila kita angap tiap tahun 
> jaringan broadband itu tumbuh sebesar 10%, maka dalam 3-tahun 
> seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak Broadband Economy sebesar 
> 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414 Trilyun. Ini 
> merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia.
>
> 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
>
> Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi 
> untuk menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka 
> "The Next Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah 
> Mobile Broadband Wireless users.
>
> Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada 
> 750-juta Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat 
> Optik. Pada tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users 
> sudah akan mencapai 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari 
> Fixed Broadband lines.
>
> 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 GHZ
>
> Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan 
> untuk menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau 
> Chipset WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk 
> WiMAX 16e telah berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. 
> Bila berhasil dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 
> (Generasi ke-2), yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai 
> "True 4G" (Teknologi Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan 
> LTE-Advanced, dimana akan dapat dicapai kecepatan transmisi puncak 
> sampai 340 Mbps, maka akan dapat turut dikembangkan industri 
> pendukungnya di dalam negeri, seperti antena, casing, content dan 
> aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training dan education, dll.
>
> Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri 
> manfaktur dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini 
> dilewatkan, maka mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam 
> jangka waktu 100 atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 
> 3-tahun y.l., "Waiting Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
>
> 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu 
> minimum 3-tahun lagi.
>
> Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan 
> Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, 
> yaitu Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan 
> Core Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. 
> Kalau beli lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi 
> milik orang lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal.
>
> Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game 
> is a Losing Game....."
>
> 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30, 
> sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas 
> ribuan Dollar.
>
> Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat 
> matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan 
> teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya 
> sekitar $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust 
> (kuat), sudah ada lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, 
> digunakan pada 500 jaringan telekomunikasi diseluruh dunia yang 
> mencakup populasi sebanyak 800 juta orang.
>
> Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja dikembangkan 
> (masih bayi, infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi 
> WiMAX diatas, maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga 
> pengalaman pada butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing 
> Game..."
>
> 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan 
> menjadi keputusan yang aneh.
>
> Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk 
> Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 
> 2,3GHz menjadi sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE 
> Indonesia menjadi terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat 
> ponsel LTE, PDA LTE atau Laptop LTE ke luar negeri saat kita 
> bepergian, sebab menggunakan pita frekwensi diluar standar 
> Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE Indonesia bisa roaming, maka 
> perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah biaya bagi 
> masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan biaya 
> yang tidak seperlunya.
>
> Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk 
> WiMAX (16d dan 16e).
>
> Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz 
> tidak bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit 
> untuk berkembang.
>
> Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita 
> 3G karena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita 
> hasil Digital Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 
> 2,6MHz seperti yang telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain 
> di Dunia.
>
> 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak 
> akan dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
>
> Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan 
> CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS 
> yang dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator 
> Non-3G, seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, 
> tidak mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
>
> 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
>
> Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang 
> lalu perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang 
> mahal namun juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 
> Trilyun, jangan ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua 
> mengambil keputusan yang tepat dan cepat....
>
> Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga 
> kita bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi 
> kemajuan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
>
> Wassalam,
> S Roestam
> http://wirelesstekno.blogspot.com
> http://wartaduniamaya.blogspot.com
> http://mastel.wordpress.com


Kirim email ke