Pak Chamdani, Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith dan TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya.
Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard 16d, sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap, mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di lapangan. Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2 sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import saja? Lalu bagaimana dgn industrinya? Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan antara operator yg menang dgn industrinya. Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk standar 16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ... khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain, 2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti 5 MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz. Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d dgn OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg sama. Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan informasi yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA, dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile BWA juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d, tapi berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e. Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri sudah siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri. Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... . Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk pilih barang import dan instal barang import ... Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya terjadi ... Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ... salam, -ai- 2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P. <[email protected]> > Pak Roestam, > > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah > Chairman > Mastel. > > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa pemerintah > masih enggan > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita frekuensinya > saja > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal mendapatkan > persetujuan untuk > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan. Apakah > ada masalah > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini. > > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di > lorong, tanpa pernah melihat > setitik cahaya jalan keluar. > > > Salam. > Ach. Chamdani Eka > > > S Roestam wrote: > > Kawan2 Anggota Milis Yth, > > 1. "Waiting Game is a Losing Game" > > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband Wireless > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10% > penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar US$1.000 > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh sebesar > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak Broadband > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414 > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia. > > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology" > > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi untuk > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband > Wireless users. > > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada 750-juta > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan mencapai > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband lines. > > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 GHZ > > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan untuk > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e telah > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi ke-2), > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan dapat > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat turut > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena, > casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training dan > education, dll. > > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, maka > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100 > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., "Waiting > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas. > > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu minimum > 3-tahun lagi. > > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau beli > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal. > > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game is a > Losing Game....." > > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30, > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas ribuan > Dollar. > > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya sekitar > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah ada > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500 jaringan > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800 jutaorang. > > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja dikembangkan(masih > bayi, > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas, > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..." > > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan menjadi > keputusan yang aneh. > > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk Teknologi > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz menjadi > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE atau > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE Indonesia > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan > biaya yang tidak seperlunya. > > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk > WiMAX (16d dan 16e). > > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz tidak > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk > berkembang. > > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita > 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil > Digital > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti yang > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia. > > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak akan > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru. > > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS yang > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator Non-3G, > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE. > > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat. > > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal namun > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun, jangan > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan yang > tepat dan cepat.... > > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi kemajuan > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai. > > Wassalam, > S Roestam > http://wirelesstekno.blogspot.com > http://wartaduniamaya.blogspot.com > http://mastel.wordpress.com > > >
