Mas Bas ... Kalau anda mau mencontoh Slovakia ... anda mulai dgn produk Content Filtering saja deh ... . Kan sempat dapat dana Riset 3 tahun? (atau lebih?).
Itu diperlukan lho oleh Indonesia ... . Saya juga mau beli kok ... Mana barangnya? ;-) salam, -ai- 2010/12/20 Basuki Suhardiman <[email protected]> > > > > > Pak Mitro yth, > Itu benar-benar operasional atau hanya uji coba ? :-) > > Masih banyak peluang untuk mengembangkan produk , termasuk 802.20 , dimana > LTE dan 16e juga adopsi dari standard tersebut. > APalagi yang mengembangkan produku tersebut hanya satu perusahaan di dunia > , tapi features nya sangat lengkap dan bandwdith/hz/cell nya paling tinggi > diantara semua nya. > > Sekarang di Indonesia siapa yang manufaktur nya pak ? :-) > > apa benar opportunity cost nya sebesar itu ? hehehe > saya tidak yakin pak , sama dengan tidak yakin soal Palapa Ring yang tidak > menggunakan satelit > > sekarang produk2 Slovakia merajai pasaran wireless di Indonesia dengan > mikrotiknya > seharusnya kita belajar dari model Slovakia ini , dan itu yang terjangkau > juga oleh kocek orang Indonesia.. > > > terima kasih > =bsd- > > > > > Sumitro Roestam wrote: > >> Pak Basuki dan Kawan2 Yth, >> >> Saya ingin mengupdate status WiMAX Indonesia saat ini: >> >> 1. WiMAX 16d pada pita 3.3GHz sudah dipakai oleh Telkom, Lintas Arta, dan >> beberapa lainnya untuk point-to-point corporate users sebagai pengganti >> kabel atau ADSL. >> 2. WiMAX 16d pada pita 2.3GHz akan mulai dipasarkan oleh FirstMedia, >> dimana Mastel siang ini akan menyaksikan demo layanannya di Lippo Karawaci, >> Tengerang. Saya akan berikan laporan lengkapnya... >> 3. WiMAX 16e juga sudah diproduksi di Indonesia, yaitu Chipset Design-nya >> oleh Xirka di Bandung, produksi-nya masih di LN, sedangkan komponen2 lainnya >> seperti antena, casing, dll sudah bisa di DN oleh Group Xirka. Penjualan >> produknya masih ke Malaysia, dll karena belum dikeluarkannya Peraturan >> Standar 16e di Indonesia. >> >> Tentang usul Bapak untuk pakai Mesh Network IEEE 802.11n, sebenarnya >> produk ini sudah banyak terpasang di Indonesia, antara lain di Binus, dan >> kampus2 lainnya. Juga sekarang di Smartphones yg baru seperti BB Torch dan >> Laptop2 baru, perangkat WiFi 11n ini sudah embedded (built-in) dan dipakai >> untuk sharing Internet dalam satu lingkungan kecil. >> >> Kalau dulu tiap Laptop ada WiFi a/b/g maka sekarang tiap Laptop sudah akan >> ada WiFi b/g/n. >> >> Jadi Indonesia tidak akan dapat manfaat apa2 kalau mau masuk ke industri >> manufaktur WiFi 11n, karena produk ini sudah mass-produced dan harga >> komponen-nya mendekati US$0 (Nol). >> >> Paling banter Indonesia akan kebagian ongkos instalasi jaringan 11n, >> sedangkan yg di Laptop dan Smartphones sudah built-in. >> >> Jadi satu-satunya kesempatan Industri Manufaktur Indonesia adalah di WiMAX >> 16d+16e karena teknologi manufakturnya sudah kita kuasai dgn baik, tinggal >> mass-productionnya (kalau ada demand-nya). >> >> Kesempatan ini mungkin hanya akan terjadi lagi 100-tahun atau bahkan >> 1000-tahun lagi, dan windows of opportunity-nya menyempit sangat cepat.... >> Menunggu produk substitusi baru... >> >> Tiap tahun menunda, kita akan kehilangan opportunity economic growth >> sebesar 1,38% (dengan asumsi terjadi penetrasi Broadband 10% per tahun) atau >> sebesar Rp138 Trilyun. >> >> Kalau mau tunggu LTE, maka perlu waktu 2-3 tahun lagi, dan produk itu >> adalah produk Proprietary, kita harus bayar lisensi ke negara2 lain. >> Sehingga nilai tambahnya akan sangat kecil bagi bangsa ini, dibandingkan >> dengan WiMAX. >> >> Kesimpulannya, kita harus membuat keputusan yg cepat, kalau tidak, >> kesempatan emas ini akan hilang untuk selamanya.... Kasihanilah anak cucu >> kita.... >> >> Waiting Game is a Losing Game.... >> Wassalam, >> S Roestam >> http://wirelesstekno.blogspot.com >> http://wartaduniamaya.blogspot.com >> http://dagang.com >> >> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung >> Teruuusss...! >> >> ------------------------------------------------------------------------ >> *From: * Basuki Suhardiman <[email protected]> >> *Sender: * [email protected] >> *Date: *Mon, 20 Dec 2010 08:38:59 +0700 >> *To: *<[email protected]> >> *ReplyTo: * [email protected] >> *Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu >> Kita: "Waiting Game is a Losing Game" >> >> >> >> Pak Mitro Dkk , >> saya realistis saja , >> dimana sekarang keberadaan WIMAX ? baiki itu 16D atau 16E ? >> >> sampai sekarang tidak jelas , >> kalau memang tidak jelas , ya sudah sebaiknya kembangkan saja 802.11n >> >> >> >> >> On 12/19/2010 5:51 PM, S Roestam wrote: >> >>> Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2 Milis Yth, >>> >>> Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah mau menagggapi >>> tulisan saya dengan topik tersebut diatas, yang tujuan utamanya adalah >>> meluruskan kalau ada hal-hal yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan >>> untuk mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia. >>> >>> Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d diperuntukkan >>> sebagai substitusi jaringan ADSL* yang jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL >>> memang kurang kompetitif dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun >>> diatas jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah 20-tahunan >>> atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi cuaca, hujan dan banjir. >>> >>> Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat kompetitif, yaitu >>> jaringan *Serat Optik dan kabel coax dari First Media (Fast Net)* yang >>> sangat murah tarifnya dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun >>> dengan biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil sebesar >>> 512 kbps. >>> >>> Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak puas, plus >>> *pelanggan corporate* yang belum terlayani FasNet First Media dan pesaing >>> lainnya seperti Bitnet, dll yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi >>> jumlah pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup besar >>> untuk membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX seperti diharapkan oleh Pak >>> Adi Indrayanto? >>> >>> Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau segera >>> meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka mengkhawatirkan akan tidak lakunya >>> produk ini? >>> >>> *Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis berdasarkan >>> kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia saat ini, sebab pesaing dari >>> 16d bukan saja fixed wired Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband >>> yang saat ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim kecepatan >>> transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau HSPA+.* >>> >>> Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis kompetitif Michael >>> Porter, dimana akan ada 5-Competitive Forces:* >>> * >>> 1. Rivalry diantara industri yg sdejenis >>> 2. Kompetisi dari Layana Substitusi >>> 3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE) >>> 4. Bargaining Power Suppliers, Vendors >>> 5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.* >>> >>> Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk pakai layanan >>> yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, misalnya mereka ingin layanan >>> yang bisa untuk fixed maupun mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, >>> apalagi kalau tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal. >>> >>> Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada? >>> >>> Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau lkawan2 lain, >>> sehingga *secara teknis dan realistis* kita bisa membuat kesimpulan yang >>> benar dan bermanfaat bagi kemajuan Industri Manufaktur Broadband di >>> Indonesia. >>> >>> Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai. >>> Wassalam, >>> S Roestam >>> http://wirelesstekno.blogspot.com >>> http://wartaduniamaya.blogspot.com >>> http://mastel2020.blogspot.com >>> http:/kampus-maya.com >>> ===================== >>> >>> >>> ----Original Message---- >>> From: [email protected] >>> Date: 19/12/2010 10:43 >>> To: >>> Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita: >>> "Waiting Game is a Losing Game" >>> >>> Pak Chamdani, >>> >>> Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith >>> dan >>> TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri >>> agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya. >>> >>> Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard >>> 16d, >>> sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap, >>> mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di >>> lapangan. >>> >>> Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk >>> import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2 >>> sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import >>> saja? Lalu bagaimana dgn industrinya? >>> >>> Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu >>> menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan >>> antara >>> operator yg menang dgn industrinya. >>> >>> Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk >>> standar >>> 16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ... >>> khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini >>> (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan >>> bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain, >>> 2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti >>> 5 >>> MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz. >>> >>> Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg >>> berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d >>> dgn >>> OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg >>> sama. >>> >>> Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan >>> informasi >>> yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA, >>> dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile >>> BWA >>> juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d, >>> tapi >>> berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e. >>> >>> Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu >>> industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri >>> sudah >>> siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali >>> aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri. >>> >>> Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... . >>> Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu >>> proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan >>> tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk >>> pilih barang import dan instal barang import ... >>> >>> Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini >>> juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak >>> Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya >>> terjadi >>> ... >>> >>> Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan >>> kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa >>> berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang >>> tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk >>> membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ... >>> >>> >>> salam, >>> >>> -ai- >>> >>> >>> 2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P. >>> >>> > Pak Roestam, >>> > >>> > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah >>> > Chairman >>> > Mastel. >>> > >>> > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa >>> pemerintah >>> > masih enggan >>> > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita >>> frekuensinya >>> > saja >>> > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal >>> mendapatkan >>> > persetujuan untuk >>> > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan. >>> Apakah >>> > ada masalah >>> > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini. >>> > >>> > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di >>> > lorong, tanpa pernah melihat >>> > setitik cahaya jalan keluar. >>> > >>> > >>> > Salam. >>> > Ach. Chamdani Eka >>> > >>> > >>> > S Roestam wrote: >>> > >>> > Kawan2 Anggota Milis Yth, >>> > >>> > 1. "Waiting Game is a Losing Game" >>> > >>> > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband >>> Wireless >>> > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband >>> > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10% >>> penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan >>> > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar >>> US$1.000 >>> > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh >>> sebesar >>> > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak >>> Broadband >>> > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414 >>> > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia. >>> > >>> > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology" >>> > >>> > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi >>> untuk >>> > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next >>> > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband >>> > Wireless users. >>> > >>> > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada >>> 750-juta >>> > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada >>> > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan >>> mencapai >>> > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband >>> lines. >>> > >>> > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3 >>> GHZ >>> > >>> > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan >>> untuk >>> > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset >>> > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e >>> telah >>> > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil >>> > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi >>> ke-2), >>> > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi >>> > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan >>> dapat >>> > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat >>> turut >>> > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena, >>> > casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training >>> dan >>> > education, dll. >>> > >>> > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur >>> > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan, >>> maka >>> > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100 >>> > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l., >>> "Waiting >>> > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas. >>> > >>> > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu >>> minimum >>> > 3-tahun lagi. >>> > >>> > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan >>> > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu >>> > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core >>> > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau >>> beli >>> > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang >>> > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal. >>> > >>> > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game >>> is a >>> > Losing Game....." >>> > >>> > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30, >>> > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas >>> ribuan >>> > Dollar. >>> > >>> > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat >>> > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan >>> > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya >>> sekitar >>> > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah >>> ada >>> > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500 >>> jaringan >>> > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800 >>> jutaorang. >>> > >>> > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja >>> dikembangkan(masih bayi, >>> > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas, >>> > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada >>> > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..." >>> > >>> > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan >>> menjadi >>> > keputusan yang aneh. >>> > >>> > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk >>> Teknologi >>> > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz >>> menjadi >>> > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi >>> > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE >>> atau >>> > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita >>> > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE >>> Indonesia >>> > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah >>> > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan >>> > biaya yang tidak seperlunya. >>> > >>> > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk >>> > WiMAX (16d dan 16e). >>> > >>> > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz >>> tidak >>> > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk >>> > berkembang. >>> > >>> > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita >>> 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil >>> Digital >>> > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti >>> yang >>> > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia. >>> > >>> > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak >>> akan >>> > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru. >>> > >>> > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan >>> > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS >>> yang >>> > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator >>> Non-3G, >>> > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak >>> > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE. >>> > >>> > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat. >>> > >>> > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu >>> > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal >>> namun >>> > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun, >>> jangan >>> > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan >>> yang >>> > tepat dan cepat.... >>> > >>> > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita >>> > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi >>> kemajuan >>> > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai. >>> > >>> > Wassalam, >>> > S Roestam >>> > http://wirelesstekno.blogspot.com >>> > http://wartaduniamaya.blogspot.com >>> > http://mastel.wordpress.com >>> > >>> > >>> > >>> >>> >>> >> > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt >
