Mas Bas ...

Kalau anda mau mencontoh Slovakia ... anda mulai dgn produk Content
Filtering saja deh ... . Kan sempat dapat dana Riset 3 tahun? (atau lebih?).

Itu diperlukan lho oleh Indonesia ... . Saya juga mau beli kok ...

Mana barangnya? ;-)

salam,

-ai-


2010/12/20 Basuki Suhardiman <[email protected]>

>
>
>
>
> Pak Mitro yth,
> Itu benar-benar operasional atau hanya uji coba ?  :-)
>
> Masih banyak peluang untuk mengembangkan produk , termasuk 802.20 , dimana
> LTE dan 16e juga adopsi dari standard tersebut.
> APalagi yang mengembangkan produku tersebut hanya satu perusahaan di dunia
> , tapi features nya sangat lengkap dan bandwdith/hz/cell nya paling tinggi
> diantara semua nya.
>
> Sekarang di Indonesia siapa yang manufaktur nya pak ? :-)
>
> apa benar opportunity cost nya sebesar itu ? hehehe
> saya tidak yakin pak , sama dengan tidak yakin soal Palapa Ring yang tidak
> menggunakan satelit
>
> sekarang produk2 Slovakia merajai pasaran wireless di Indonesia dengan
> mikrotiknya
> seharusnya kita belajar dari model Slovakia ini , dan itu yang terjangkau
> juga oleh kocek orang Indonesia..
>
>
> terima kasih
> =bsd-
>
>
>
>
> Sumitro Roestam wrote:
>
>> Pak Basuki dan Kawan2 Yth,
>>
>> Saya ingin mengupdate status WiMAX Indonesia saat ini:
>>
>> 1. WiMAX 16d pada pita 3.3GHz sudah dipakai oleh Telkom, Lintas Arta, dan
>> beberapa lainnya untuk point-to-point corporate users sebagai pengganti
>> kabel atau ADSL.
>> 2. WiMAX 16d pada pita 2.3GHz akan mulai dipasarkan oleh FirstMedia,
>> dimana Mastel siang ini akan menyaksikan demo layanannya di Lippo Karawaci,
>> Tengerang. Saya akan berikan laporan lengkapnya...
>> 3. WiMAX 16e juga sudah diproduksi di Indonesia, yaitu Chipset Design-nya
>> oleh Xirka di Bandung, produksi-nya masih di LN, sedangkan komponen2 lainnya
>> seperti antena, casing, dll sudah bisa di DN oleh Group Xirka. Penjualan
>> produknya masih ke Malaysia, dll karena belum dikeluarkannya Peraturan
>> Standar 16e di Indonesia.
>>
>> Tentang usul Bapak untuk pakai Mesh Network IEEE 802.11n, sebenarnya
>> produk ini sudah banyak terpasang di Indonesia, antara lain di Binus, dan
>> kampus2 lainnya. Juga sekarang di Smartphones yg baru seperti BB Torch dan
>> Laptop2 baru, perangkat WiFi 11n ini sudah embedded (built-in) dan dipakai
>> untuk sharing Internet dalam satu lingkungan kecil.
>>
>> Kalau dulu tiap Laptop ada WiFi a/b/g maka sekarang tiap Laptop sudah akan
>> ada WiFi b/g/n.
>>
>> Jadi Indonesia tidak akan dapat manfaat apa2 kalau mau masuk ke industri
>> manufaktur WiFi 11n, karena produk ini sudah mass-produced dan harga
>> komponen-nya mendekati US$0 (Nol).
>>
>> Paling banter Indonesia akan kebagian ongkos instalasi jaringan 11n,
>> sedangkan yg di Laptop dan Smartphones sudah built-in.
>>
>> Jadi satu-satunya kesempatan Industri Manufaktur Indonesia adalah di WiMAX
>> 16d+16e karena teknologi manufakturnya sudah kita kuasai dgn baik, tinggal
>> mass-productionnya (kalau ada demand-nya).
>>
>> Kesempatan ini mungkin hanya akan terjadi lagi 100-tahun atau bahkan
>> 1000-tahun lagi, dan windows of opportunity-nya menyempit sangat cepat....
>> Menunggu produk substitusi baru...
>>
>> Tiap tahun menunda, kita akan kehilangan opportunity economic growth
>> sebesar 1,38% (dengan asumsi terjadi penetrasi Broadband 10% per tahun) atau
>> sebesar Rp138 Trilyun.
>>
>> Kalau mau tunggu LTE, maka perlu waktu 2-3 tahun lagi, dan produk itu
>> adalah produk Proprietary, kita harus bayar lisensi ke negara2 lain.
>> Sehingga nilai tambahnya akan sangat kecil bagi bangsa ini, dibandingkan
>> dengan WiMAX.
>>
>> Kesimpulannya, kita harus membuat keputusan yg cepat, kalau tidak,
>> kesempatan emas ini akan hilang untuk selamanya.... Kasihanilah anak cucu
>> kita....
>>
>> Waiting Game is a Losing Game....
>> Wassalam,
>> S Roestam
>> http://wirelesstekno.blogspot.com
>> http://wartaduniamaya.blogspot.com
>> http://dagang.com
>>
>> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
>> Teruuusss...!
>>
>> ------------------------------------------------------------------------
>> *From: * Basuki Suhardiman <[email protected]>
>> *Sender: * [email protected]
>> *Date: *Mon, 20 Dec 2010 08:38:59 +0700
>> *To: *<[email protected]>
>> *ReplyTo: * [email protected]
>> *Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu
>> Kita: "Waiting Game is a Losing Game"
>>
>>
>>
>> Pak Mitro Dkk ,
>> saya realistis saja ,
>> dimana sekarang keberadaan WIMAX ? baiki itu 16D atau 16E ?
>>
>> sampai sekarang tidak jelas ,
>> kalau memang tidak jelas , ya sudah sebaiknya kembangkan saja 802.11n
>>
>>
>>
>>
>> On 12/19/2010 5:51 PM, S Roestam wrote:
>>
>>> Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2 Milis Yth,
>>>
>>> Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah mau menagggapi
>>> tulisan saya dengan topik tersebut diatas, yang tujuan utamanya adalah
>>> meluruskan kalau ada hal-hal yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan
>>> untuk mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia.
>>>
>>> Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d diperuntukkan
>>> sebagai substitusi jaringan ADSL* yang jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL
>>> memang kurang kompetitif dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun
>>> diatas jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah 20-tahunan
>>> atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi cuaca, hujan dan banjir.
>>>
>>> Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat kompetitif, yaitu
>>> jaringan *Serat Optik dan kabel coax dari First Media (Fast Net)* yang
>>> sangat murah tarifnya dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun
>>> dengan biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil sebesar
>>> 512 kbps.
>>>
>>> Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak puas, plus
>>> *pelanggan corporate* yang belum terlayani FasNet First Media dan pesaing
>>> lainnya seperti Bitnet, dll yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi
>>> jumlah pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup besar
>>> untuk membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX seperti diharapkan oleh Pak
>>> Adi Indrayanto?
>>>
>>> Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau segera
>>> meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka mengkhawatirkan akan tidak lakunya
>>> produk ini?
>>>
>>> *Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis berdasarkan
>>> kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia saat ini, sebab pesaing dari
>>> 16d bukan saja fixed wired Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband
>>> yang saat ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim kecepatan
>>> transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau HSPA+.*
>>>
>>> Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis kompetitif Michael
>>> Porter, dimana akan ada 5-Competitive Forces:*
>>> *
>>> 1. Rivalry diantara industri yg sdejenis
>>> 2. Kompetisi dari Layana Substitusi
>>> 3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE)
>>> 4. Bargaining Power Suppliers, Vendors
>>> 5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.*
>>>
>>> Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk pakai layanan
>>> yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, misalnya mereka ingin layanan
>>> yang bisa untuk fixed maupun mobile, tidak terpaku di satu tempat saja,
>>> apalagi kalau tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal.
>>>
>>> Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada?
>>>
>>> Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau lkawan2 lain,
>>> sehingga *secara teknis dan realistis* kita bisa membuat kesimpulan yang
>>> benar dan bermanfaat bagi kemajuan Industri Manufaktur Broadband di
>>> Indonesia.
>>>
>>> Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang kita cintai.
>>> Wassalam,
>>> S Roestam
>>> http://wirelesstekno.blogspot.com
>>> http://wartaduniamaya.blogspot.com
>>> http://mastel2020.blogspot.com
>>> http:/kampus-maya.com
>>> =====================
>>>
>>>
>>> ----Original Message----
>>> From: [email protected]
>>> Date: 19/12/2010 10:43
>>> To:
>>> Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan Anak-Cucu Kita:
>>> &quot;Waiting Game is a Losing Game&quot;
>>>
>>> Pak Chamdani,
>>>
>>> Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus di bandwith
>>> dan
>>> TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi industri dalam negeri
>>> agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan perangkatnya.
>>>
>>> Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg mengikuti standard
>>> 16d,
>>> sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg mengatakan siap,
>>> mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan sendiri di
>>> lapangan.
>>>
>>> Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan masuk adalah produk
>>> import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar, dan teknologi2
>>> sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai konsumen produk import
>>> saja? Lalu bagaimana dgn industrinya?
>>>
>>> Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa waktu yg lalu
>>> menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada ketidakcocokan
>>> antara
>>> operator yg menang dgn industrinya.
>>>
>>> Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka adalah yg utk
>>> standar
>>> 16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer teknologi ADSL ...
>>> khususnya di daerah yg belum tergelar kable telekomunikasi. Alokasi ini
>>> (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk fixed BWA, dan
>>> bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di alokasi lain,
>>> 2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya mungkin nanti
>>> 5
>>> MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz.
>>>
>>> Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk standar yg
>>> berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak berbeda. 16d
>>> dgn
>>> OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi frekuensi yg
>>> sama.
>>>
>>> Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau mendapatkan
>>> informasi
>>> yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi utk Fixed BWA,
>>> dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini untuk Mobile
>>> BWA
>>> juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn teknologi 16d,
>>> tapi
>>> berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e.
>>>
>>> Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas ... menunggu
>>> industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e dalam negeri
>>> sudah
>>> siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan sekedar mengakali
>>> aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri.
>>>
>>> Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-( Maunya gampang ... .
>>> Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ... tidak perlu
>>> proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam negeri ... dan
>>> tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya berguna untuk
>>> pilih barang import dan instal barang import ...
>>>
>>> Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali, bahkan di milis ini
>>> juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same question. Mungkin pak
>>> Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg sebenarnya
>>> terjadi
>>> ...
>>>
>>> Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ... untuk memberikan
>>> kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi utk bisa
>>> berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini dianggap kurang
>>> tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg cocok untuk
>>> membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ...
>>>
>>>
>>> salam,
>>>
>>> -ai-
>>>
>>>
>>> 2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P.
>>>
>>> > Pak Roestam,
>>> >
>>> > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak Roestam adalah
>>> > Chairman
>>> > Mastel.
>>> >
>>> > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax kenapa
>>> pemerintah
>>> > masih enggan
>>> > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan pita
>>> frekuensinya
>>> > saja
>>> > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca gagal
>>> mendapatkan
>>> > persetujuan untuk
>>> > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang digunakan.
>>> Apakah
>>> > ada masalah
>>> > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan masalah ini.
>>> >
>>> > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita berjalan di
>>> > lorong, tanpa pernah melihat
>>> > setitik cahaya jalan keluar.
>>> >
>>> >
>>> > Salam.
>>> > Ach. Chamdani Eka
>>> >
>>> >
>>> > S Roestam wrote:
>>> >
>>> > Kawan2 Anggota Milis Yth,
>>> >
>>> > 1. "Waiting Game is a Losing Game"
>>> >
>>> > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan Broadband
>>> Wireless
>>> > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan jaringan Broadband
>>> > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk tiap 10%
>>> penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris diperoleh pertumbuhan
>>> > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan sebesar
>>> US$1.000
>>> > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband itu tumbuh
>>> sebesar
>>> > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh sebagai dampak
>>> Broadband
>>> > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar atau Rp414
>>> > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa Indonesia.
>>> >
>>> > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
>>> >
>>> > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile Wireless. jadi
>>> untuk
>>> > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia, maka "The Next
>>> > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah Mobile Broadband
>>> > Wireless users.
>>> >
>>> > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015 didunia akan ada
>>> 750-juta
>>> > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta Serat Optik. Pada
>>> > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users sudah akan
>>> mencapai
>>> > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed Broadband
>>> lines.
>>> >
>>> > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband WiMAX di Pita 2,3
>>> GHZ
>>> >
>>> > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia memiliki kemampuan
>>> untuk
>>> > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX atau Chipset
>>> > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah produk WiMAX 16e
>>> telah
>>> > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri. Bila berhasil
>>> > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0 (Generasi
>>> ke-2),
>>> > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True 4G" (Teknologi
>>> > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced, dimana akan
>>> dapat
>>> > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka akan dapat
>>> turut
>>> > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri, seperti antena,
>>> > casing, content dan aplikasi-aplikasinya, after-sales-service, training
>>> dan
>>> > education, dll.
>>> >
>>> > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun industri manfaktur
>>> > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini dilewatkan,
>>> maka
>>> > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam jangka waktu 100
>>> > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman 3-tahun y.l.,
>>> "Waiting
>>> > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
>>> >
>>> > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE, perlu waktu
>>> minimum
>>> > 3-tahun lagi.
>>> >
>>> > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan, Kekayaan
>>> > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh negara-negara lain, yaitu
>>> > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin mengembangkan Core
>>> > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari 3-tahun. Kalau
>>> beli
>>> > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan teknologi milik orang
>>> > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat minimal.
>>> >
>>> > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu "Waiting Game
>>> is a
>>> > Losing Game....."
>>> >
>>> > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga CPE-nya sekitar $30,
>>> > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga CPE-nya diatas
>>> ribuan
>>> > Dollar.
>>> >
>>> > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang sudah sangat
>>> > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun, merupakan
>>> > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas, harga CPE-nya
>>> sekitar
>>> > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust (kuat), sudah
>>> ada
>>> > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan pada 500
>>> jaringan
>>> > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi sebanyak 800
>>> jutaorang.
>>> >
>>> > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja
>>> dikembangkan(masih bayi,
>>> > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi WiMAX diatas,
>>> > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga pengalaman pada
>>> > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing Game..."
>>> >
>>> > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE yg akan
>>> menjadi
>>> > keputusan yang aneh.
>>> >
>>> > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah dialokasikan untuk
>>> Teknologi
>>> > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada pita 2,3GHz
>>> menjadi
>>> > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE Indonesia menjadi
>>> > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel LTE, PDA LTE
>>> atau
>>> > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab menggunakan pita
>>> > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin membuat CPE
>>> Indonesia
>>> > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band dengan menambah
>>> > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani keuangan mereka dengan
>>> > biaya yang tidak seperlunya.
>>> >
>>> > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi Netral untuk
>>> > WiMAX (16d dan 16e).
>>> >
>>> > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada pita 2,3GHz
>>> tidak
>>> > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE ini sulit untuk
>>> > berkembang.
>>> >
>>> > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah menempatkannya pada pita
>>> 3Gkarena LTE adalah kelanjutan dari teknologi itu, atau pada pita hasil
>>> Digital
>>> > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita 2,6MHz seperti
>>> yang
>>> > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.
>>> >
>>> > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang berevolusi ke LTE tidak
>>> akan
>>> > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
>>> >
>>> > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat keuntungan penghematan
>>> > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF Equipment di BTS
>>> yang
>>> > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para operator
>>> Non-3G,
>>> > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang baru, tidak
>>> > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
>>> >
>>> > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
>>> >
>>> > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga tahun yang lalu
>>> > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang mahal
>>> namun
>>> > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp 414 Trilyun,
>>> jangan
>>> > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua mengambil keputusan
>>> yang
>>> > tepat dan cepat....
>>> >
>>> > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau didukung, sehingga kita
>>> > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik, demi
>>> kemajuan
>>> > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
>>> >
>>> > Wassalam,
>>> > S Roestam
>>> > http://wirelesstekno.blogspot.com
>>> > http://wartaduniamaya.blogspot.com
>>> > http://mastel.wordpress.com
>>> >
>>> >
>>> >
>>>
>>>
>>>
>>
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>

Kirim email ke