Mas Bas ...
Kalau anda mau mencontoh Slovakia ... anda mulai dgn produk Content
Filtering saja deh ... . Kan sempat dapat dana Riset 3 tahun? (atau
lebih?).
Itu diperlukan lho oleh Indonesia ... . Saya juga mau beli kok ...
Mana barangnya? ;-)
salam,
-ai-
2010/12/20 Basuki Suhardiman <[email protected] <mailto:[email protected]>>
Pak Mitro yth,
Itu benar-benar operasional atau hanya uji coba ? :-)
Masih banyak peluang untuk mengembangkan produk , termasuk 802.20
, dimana LTE dan 16e juga adopsi dari standard tersebut.
APalagi yang mengembangkan produku tersebut hanya satu perusahaan
di dunia , tapi features nya sangat lengkap dan bandwdith/hz/cell
nya paling tinggi diantara semua nya.
Sekarang di Indonesia siapa yang manufaktur nya pak ? :-)
apa benar opportunity cost nya sebesar itu ? hehehe
saya tidak yakin pak , sama dengan tidak yakin soal Palapa Ring
yang tidak menggunakan satelit
sekarang produk2 Slovakia merajai pasaran wireless di Indonesia
dengan mikrotiknya
seharusnya kita belajar dari model Slovakia ini , dan itu yang
terjangkau juga oleh kocek orang Indonesia..
terima kasih
=bsd-
Sumitro Roestam wrote:
Pak Basuki dan Kawan2 Yth,
Saya ingin mengupdate status WiMAX Indonesia saat ini:
1. WiMAX 16d pada pita 3.3GHz sudah dipakai oleh Telkom,
Lintas Arta, dan beberapa lainnya untuk point-to-point
corporate users sebagai pengganti kabel atau ADSL.
2. WiMAX 16d pada pita 2.3GHz akan mulai dipasarkan oleh
FirstMedia, dimana Mastel siang ini akan menyaksikan demo
layanannya di Lippo Karawaci, Tengerang. Saya akan berikan
laporan lengkapnya...
3. WiMAX 16e juga sudah diproduksi di Indonesia, yaitu Chipset
Design-nya oleh Xirka di Bandung, produksi-nya masih di LN,
sedangkan komponen2 lainnya seperti antena, casing, dll sudah
bisa di DN oleh Group Xirka. Penjualan produknya masih ke
Malaysia, dll karena belum dikeluarkannya Peraturan Standar
16e di Indonesia.
Tentang usul Bapak untuk pakai Mesh Network IEEE 802.11n,
sebenarnya produk ini sudah banyak terpasang di Indonesia,
antara lain di Binus, dan kampus2 lainnya. Juga sekarang di
Smartphones yg baru seperti BB Torch dan Laptop2 baru,
perangkat WiFi 11n ini sudah embedded (built-in) dan dipakai
untuk sharing Internet dalam satu lingkungan kecil.
Kalau dulu tiap Laptop ada WiFi a/b/g maka sekarang tiap
Laptop sudah akan ada WiFi b/g/n.
Jadi Indonesia tidak akan dapat manfaat apa2 kalau mau masuk
ke industri manufaktur WiFi 11n, karena produk ini sudah
mass-produced dan harga komponen-nya mendekati US$0 (Nol).
Paling banter Indonesia akan kebagian ongkos instalasi
jaringan 11n, sedangkan yg di Laptop dan Smartphones sudah
built-in.
Jadi satu-satunya kesempatan Industri Manufaktur Indonesia
adalah di WiMAX 16d+16e karena teknologi manufakturnya sudah
kita kuasai dgn baik, tinggal mass-productionnya (kalau ada
demand-nya).
Kesempatan ini mungkin hanya akan terjadi lagi 100-tahun atau
bahkan 1000-tahun lagi, dan windows of opportunity-nya
menyempit sangat cepat.... Menunggu produk substitusi baru...
Tiap tahun menunda, kita akan kehilangan opportunity economic
growth sebesar 1,38% (dengan asumsi terjadi penetrasi
Broadband 10% per tahun) atau sebesar Rp138 Trilyun.
Kalau mau tunggu LTE, maka perlu waktu 2-3 tahun lagi, dan
produk itu adalah produk Proprietary, kita harus bayar lisensi
ke negara2 lain. Sehingga nilai tambahnya akan sangat kecil
bagi bangsa ini, dibandingkan dengan WiMAX.
Kesimpulannya, kita harus membuat keputusan yg cepat, kalau
tidak, kesempatan emas ini akan hilang untuk selamanya....
Kasihanilah anak cucu kita....
Waiting Game is a Losing Game....
Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
http://wartaduniamaya.blogspot.com
http://dagang.com
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL,
Nyambung Teruuusss...!
------------------------------------------------------------------------
*From: * Basuki Suhardiman <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
*Sender: * [email protected]
<mailto:[email protected]>
*Date: *Mon, 20 Dec 2010 08:38:59 +0700
*To: *<[email protected] <mailto:[email protected]>>
*ReplyTo: * [email protected]
<mailto:[email protected]>
*Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan
Anak-Cucu Kita: "Waiting Game is a Losing Game"
Pak Mitro Dkk ,
saya realistis saja ,
dimana sekarang keberadaan WIMAX ? baiki itu 16D atau 16E ?
sampai sekarang tidak jelas ,
kalau memang tidak jelas , ya sudah sebaiknya kembangkan saja
802.11n
On 12/19/2010 5:51 PM, S Roestam wrote:
Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2
Milis Yth,
Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah
mau menagggapi tulisan saya dengan topik tersebut diatas,
yang tujuan utamanya adalah meluruskan kalau ada hal-hal
yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan untuk
mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia.
Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d
diperuntukkan sebagai substitusi jaringan ADSL* yang
jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL memang kurang kompetitif
dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun diatas
jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah
20-tahunan atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi
cuaca, hujan dan banjir.
Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat
kompetitif, yaitu jaringan *Serat Optik dan kabel coax
dari First Media (Fast Net)* yang sangat murah tarifnya
dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun dengan
biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil
sebesar 512 kbps.
Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak
puas, plus *pelanggan corporate* yang belum terlayani
FasNet First Media dan pesaing lainnya seperti Bitnet, dll
yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi jumlah
pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup
besar untuk membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX
seperti diharapkan oleh Pak Adi Indrayanto?
Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau
segera meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka
mengkhawatirkan akan tidak lakunya produk ini?
*Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis
berdasarkan kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia
saat ini, sebab pesaing dari 16d bukan saja fixed wired
Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband yang saat
ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim
kecepatan transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau
HSPA+.*
Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis
kompetitif Michael Porter, dimana akan ada 5-Competitive
Forces:*
*
1. Rivalry diantara industri yg sdejenis
2. Kompetisi dari Layana Substitusi
3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE)
4. Bargaining Power Suppliers, Vendors
5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.*
Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk
pakai layanan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka,
misalnya mereka ingin layanan yang bisa untuk fixed maupun
mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, apalagi kalau
tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal.
Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada?
Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau
lkawan2 lain, sehingga *secara teknis dan realistis* kita
bisa membuat kesimpulan yang benar dan bermanfaat bagi
kemajuan Industri Manufaktur Broadband di Indonesia.
Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang
kita cintai.
Wassalam,
S Roestam
http://wirelesstekno.blogspot.com
http://wartaduniamaya.blogspot.com
http://mastel2020.blogspot.com
http:/kampus-maya.com <http://kampus-maya.com>
=====================
----Original Message----
From: [email protected] <mailto:[email protected]>
Date: 19/12/2010 10:43
To:
Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan
Anak-Cucu Kita: "Waiting Game is a Losing Game"
Pak Chamdani,
Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus
di bandwith dan
TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi
industri dalam negeri
agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan
perangkatnya.
Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg
mengikuti standard 16d,
sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg
mengatakan siap,
mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan
sendiri di lapangan.
Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan
masuk adalah produk
import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar,
dan teknologi2
sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai
konsumen produk import
saja? Lalu bagaimana dgn industrinya?
Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa
waktu yg lalu
menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada
ketidakcocokan antara
operator yg menang dgn industrinya.
Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka
adalah yg utk standar
16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer
teknologi ADSL ...
khususnya di daerah yg belum tergelar kable
telekomunikasi. Alokasi ini
(kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk
fixed BWA, dan
bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di
alokasi lain,
2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya
mungkin nanti 5
MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz.
Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk
standar yg
berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak
berbeda. 16d dgn
OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi
frekuensi yg
sama.
Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau
mendapatkan informasi
yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi
utk Fixed BWA,
dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini
untuk Mobile BWA
juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn
teknologi 16d, tapi
berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e.
Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas
... menunggu
industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e
dalam negeri sudah
siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan
sekedar mengakali
aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri.
Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-(
Maunya gampang ... .
Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ...
tidak perlu
proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam
negeri ... dan
tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya
berguna untuk
pilih barang import dan instal barang import ...
Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali,
bahkan di milis ini
juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same
question. Mungkin pak
Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg
sebenarnya terjadi
...
Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ...
untuk memberikan
kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi
utk bisa
berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini
dianggap kurang
tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg
cocok untuk
membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ...
salam,
-ai-
2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P.
> Pak Roestam,
>
> Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak
Roestam adalah
> Chairman
> Mastel.
>
> Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax
kenapa pemerintah
> masih enggan
> dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan
pita frekuensinya
> saja
> (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca
gagal mendapatkan
> persetujuan untuk
> menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang
digunakan. Apakah
> ada masalah
> politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan
masalah ini.
>
> Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita
berjalan di
> lorong, tanpa pernah melihat
> setitik cahaya jalan keluar.
>
>
> Salam.
> Ach. Chamdani Eka
>
>
> S Roestam wrote:
>
> Kawan2 Anggota Milis Yth,
>
> 1. "Waiting Game is a Losing Game"
>
> Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan
Broadband Wireless
> Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan
jaringan Broadband
> sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk
tiap 10% penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris
diperoleh pertumbuhan
> GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010
diperkirakan sebesar US$1.000
> milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband
itu tumbuh sebesar
> 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh
sebagai dampak Broadband
> Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar
atau Rp414
> Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa
Indonesia.
>
> 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
>
> Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile
Wireless. jadi untuk
> menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia,
maka "The Next
> Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah
Mobile Broadband
> Wireless users.
>
> Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015
didunia akan ada 750-juta
> Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta
Serat Optik. Pada
> tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users
sudah akan mencapai
> 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed
Broadband lines.
>
> 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband
WiMAX di Pita 2,3 GHZ
>
> Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia
memiliki kemampuan untuk
> menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX
atau Chipset
> WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah
produk WiMAX 16e telah
> berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri.
Bila berhasil
> dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0
(Generasi ke-2),
> yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True
4G" (Teknologi
> Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced,
dimana akan dapat
> dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka
akan dapat turut
> dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri,
seperti antena,
> casing, content dan aplikasi-aplikasinya,
after-sales-service, training dan
> education, dll.
>
> Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun
industri manfaktur
> dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini
dilewatkan, maka
> mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam
jangka waktu 100
> atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman
3-tahun y.l., "Waiting
> Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
>
> 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE,
perlu waktu minimum
> 3-tahun lagi.
>
> Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan,
Kekayaan
> Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh
negara-negara lain, yaitu
> Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin
mengembangkan Core
> Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari
3-tahun. Kalau beli
> lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan
teknologi milik orang
> lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat
minimal.
>
> Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu
"Waiting Game is a
> Losing Game....."
>
> 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga
CPE-nya sekitar $30,
> sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga
CPE-nya diatas ribuan
> Dollar.
>
> Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang
sudah sangat
> matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun,
merupakan
> teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas,
harga CPE-nya sekitar
> $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust
(kuat), sudah ada
> lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan
pada 500 jaringan
> telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi
sebanyak 800 jutaorang.
>
> Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja
dikembangkan(masih bayi,
> infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi
WiMAX diatas,
> maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga
pengalaman pada
> butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing
Game..."
>
> 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE
yg akan menjadi
> keputusan yang aneh.
>
> Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah
dialokasikan untuk Teknologi
> Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada
pita 2,3GHz menjadi
> sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE
Indonesia menjadi
> terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel
LTE, PDA LTE atau
> Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab
menggunakan pita
> frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin
membuat CPE Indonesia
> bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band
dengan menambah
> biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani
keuangan mereka dengan
> biaya yang tidak seperlunya.
>
> Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi
Netral untuk
> WiMAX (16d dan 16e).
>
> Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada
pita 2,3GHz tidak
> bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE
ini sulit untuk
> berkembang.
>
> Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah
menempatkannya pada pita 3Gkarena LTE adalah kelanjutan
dari teknologi itu, atau pada pita hasil Digital
> Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita
2,6MHz seperti yang
> telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.
>
> 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang
berevolusi ke LTE tidak akan
> dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
>
> Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat
keuntungan penghematan
> CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF
Equipment di BTS yang
> dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para
operator Non-3G,
> seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang
baru, tidak
> mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
>
> 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
>
> Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga
tahun yang lalu
> perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran
yang mahal namun
> juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp
414 Trilyun, jangan
> ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua
mengambil keputusan yang
> tepat dan cepat....
>
> Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau
didukung, sehingga kita
> bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang
terbaik, demi kemajuan
> bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
>
> Wassalam,
> S Roestam
> http://wirelesstekno.blogspot.com
> http://wartaduniamaya.blogspot.com
> http://mastel.wordpress.com
>
>
>
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt