sudah ada
dana kurang dari sejak awal
dan itu sebagian besar dana , saya yang cari sendiri pak , hehehe ...
rusnas khan cuma pendamping , awalnya juga kagak mau saya di ikut2 in rusnas



Adi Indrayanto wrote:

Mas Bas ...

Kalau anda mau mencontoh Slovakia ... anda mulai dgn produk Content Filtering saja deh ... . Kan sempat dapat dana Riset 3 tahun? (atau lebih?).

Itu diperlukan lho oleh Indonesia ... . Saya juga mau beli kok ...

Mana barangnya? ;-)

salam,

-ai-


2010/12/20 Basuki Suhardiman <[email protected] <mailto:[email protected]>>





    Pak Mitro yth,
    Itu benar-benar operasional atau hanya uji coba ?  :-)

    Masih banyak peluang untuk mengembangkan produk , termasuk 802.20
    , dimana LTE dan 16e juga adopsi dari standard tersebut.
    APalagi yang mengembangkan produku tersebut hanya satu perusahaan
    di dunia , tapi features nya sangat lengkap dan bandwdith/hz/cell
    nya paling tinggi diantara semua nya.

    Sekarang di Indonesia siapa yang manufaktur nya pak ? :-)

    apa benar opportunity cost nya sebesar itu ? hehehe
    saya tidak yakin pak , sama dengan tidak yakin soal Palapa Ring
    yang tidak menggunakan satelit

    sekarang produk2 Slovakia merajai pasaran wireless di Indonesia
    dengan mikrotiknya
    seharusnya kita belajar dari model Slovakia ini , dan itu yang
    terjangkau juga oleh kocek orang Indonesia..


    terima kasih
    =bsd-




    Sumitro Roestam wrote:

        Pak Basuki dan Kawan2 Yth,

        Saya ingin mengupdate status WiMAX Indonesia saat ini:

        1. WiMAX 16d pada pita 3.3GHz sudah dipakai oleh Telkom,
        Lintas Arta, dan beberapa lainnya untuk point-to-point
        corporate users sebagai pengganti kabel atau ADSL.
        2. WiMAX 16d pada pita 2.3GHz akan mulai dipasarkan oleh
        FirstMedia, dimana Mastel siang ini akan menyaksikan demo
        layanannya di Lippo Karawaci, Tengerang. Saya akan berikan
        laporan lengkapnya...
        3. WiMAX 16e juga sudah diproduksi di Indonesia, yaitu Chipset
        Design-nya oleh Xirka di Bandung, produksi-nya masih di LN,
        sedangkan komponen2 lainnya seperti antena, casing, dll sudah
        bisa di DN oleh Group Xirka. Penjualan produknya masih ke
        Malaysia, dll karena belum dikeluarkannya Peraturan Standar
        16e di Indonesia.

        Tentang usul Bapak untuk pakai Mesh Network IEEE 802.11n,
        sebenarnya produk ini sudah banyak terpasang di Indonesia,
        antara lain di Binus, dan kampus2 lainnya. Juga sekarang di
        Smartphones yg baru seperti BB Torch dan Laptop2 baru,
        perangkat WiFi 11n ini sudah embedded (built-in) dan dipakai
        untuk sharing Internet dalam satu lingkungan kecil.

        Kalau dulu tiap Laptop ada WiFi a/b/g maka sekarang tiap
        Laptop sudah akan ada WiFi b/g/n.

        Jadi Indonesia tidak akan dapat manfaat apa2 kalau mau masuk
        ke industri manufaktur WiFi 11n, karena produk ini sudah
        mass-produced dan harga komponen-nya mendekati US$0 (Nol).

        Paling banter Indonesia akan kebagian ongkos instalasi
        jaringan 11n, sedangkan yg di Laptop dan Smartphones sudah
        built-in.

        Jadi satu-satunya kesempatan Industri Manufaktur Indonesia
        adalah di WiMAX 16d+16e karena teknologi manufakturnya sudah
        kita kuasai dgn baik, tinggal mass-productionnya (kalau ada
        demand-nya).

        Kesempatan ini mungkin hanya akan terjadi lagi 100-tahun atau
        bahkan 1000-tahun lagi, dan windows of opportunity-nya
        menyempit sangat cepat.... Menunggu produk substitusi baru...

        Tiap tahun menunda, kita akan kehilangan opportunity economic
        growth sebesar 1,38% (dengan asumsi terjadi penetrasi
        Broadband 10% per tahun) atau sebesar Rp138 Trilyun.

        Kalau mau tunggu LTE, maka perlu waktu 2-3 tahun lagi, dan
        produk itu adalah produk Proprietary, kita harus bayar lisensi
        ke negara2 lain. Sehingga nilai tambahnya akan sangat kecil
        bagi bangsa ini, dibandingkan dengan WiMAX.

        Kesimpulannya, kita harus membuat keputusan yg cepat, kalau
        tidak, kesempatan emas ini akan hilang untuk selamanya....
        Kasihanilah anak cucu kita....

        Waiting Game is a Losing Game....
        Wassalam,
        S Roestam
        http://wirelesstekno.blogspot.com
        http://wartaduniamaya.blogspot.com
        http://dagang.com

        Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL,
        Nyambung Teruuusss...!

        ------------------------------------------------------------------------
        *From: * Basuki Suhardiman <[email protected]
        <mailto:[email protected]>>
        *Sender: * [email protected]
        <mailto:[email protected]>
        *Date: *Mon, 20 Dec 2010 08:38:59 +0700
        *To: *<[email protected] <mailto:[email protected]>>
        *ReplyTo: * [email protected]
        <mailto:[email protected]>
        *Subject: *[indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan
        Anak-Cucu Kita: "Waiting Game is a Losing Game"



        Pak Mitro Dkk ,
        saya realistis saja ,
        dimana sekarang keberadaan WIMAX ? baiki itu 16D atau 16E ?

        sampai sekarang tidak jelas ,
        kalau memang tidak jelas , ya sudah sebaiknya kembangkan saja
        802.11n




        On 12/19/2010 5:51 PM, S Roestam wrote:

            Bapak Adi Indrayanto dan Bapak Chamdani, serta kawan2
            Milis Yth,

            Saya berterimakasih kepada bapak2 sekalian karena telah
            mau menagggapi tulisan saya dengan topik tersebut diatas,
            yang tujuan utamanya adalah meluruskan kalau ada hal-hal
            yang kurang tepat dalam strategi dan kebijakan untuk
            mengembangkan Industri Manufaktur BWA di Indonesia.

            Jelas dari posting pak Adi, market untuk *BWA WiMAX 16d
            diperuntukkan sebagai substitusi jaringan ADSL* yang
            jumlahnya terbatas. Jaringan ADSL memang kurang kompetitif
            dari segi tarif, mutu layanan, karena dibangun diatas
            jaringan PSTN yang sudah sangat tua umurnya, mungkin sudah
            20-tahunan atau lebih, sehingga rawan terhadap kondisi
            cuaca, hujan dan banjir.

            Saat ini ada kompetitor jaringan ADSL yang sangat
            kompetitif, yaitu jaringan *Serat Optik dan kabel coax
            dari First Media (Fast Net)* yang sangat murah tarifnya
            dan mutunya sangat bagus, saya sudah pakai 1-tahun dengan
            biaya Rp 200.000/bulan dan kecepatan transmisi yang stabil
            sebesar 512 kbps.

            Jadi WiMAX 16d hanya cocok buat pelanggan ADSL yang tidak
            puas, plus *pelanggan corporate* yang belum terlayani
            FasNet First Media dan pesaing lainnya seperti Bitnet, dll
            yang layananny sangat bagus. Berapakah proyeksi jumlah
            pelanggan itu yang mau memakainya? Apakah jumlah itu cukup
            besar untuk membangun sebuah Industri Manufaktur WiMAX
            seperti diharapkan oleh Pak Adi Indrayanto?

            Mengapa para Operator yang memenagkan Tender !6d tidak mau
            segera meluncurkan layanan itu? Bukankah mereka
            mengkhawatirkan akan tidak lakunya produk ini?

            *Saya mengharapkan Pak Adi untuk bisa bersikap realistis
            berdasarkan kondisi pasar layanan Broadband di Indonesia
            saat ini, sebab pesaing dari 16d bukan saja fixed wired
            Broadband, tetapi juga layanan2 Mobile Broadband yang saat
            ini bisa diberikan oleh operator 3.xxG yang meng-klaim
            kecepatan transmisi puncak sampai 42 Mbps untuk 3,9G atau
            HSPA+.*

            Kita tidak bisa mengikari *Teori Persaingan Bisnis
            kompetitif Michael Porter, dimana akan ada 5-Competitive
            Forces:*
            *
            1. Rivalry diantara industri yg sdejenis
            2. Kompetisi dari Layana Substitusi
            3. Kompetisi dari New Entrance (Layanan Baru, 16e, LTE)
            4. Bargaining Power Suppliers, Vendors
            5. Bargaining Power dari Buyers, Pelanggan.*

            Terutama para pelangan, mereka tidak bisa dipaksa untuk
            pakai layanan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka,
            misalnya mereka ingin layanan yang bisa untuk fixed maupun
            mobile, tidak terpaku di satu tempat saja, apalagi kalau
            tarif langganannya dan harga modem/antennanya sangat mahal.

            Belum lagi masalah Roadmap teknologi dan layaan, apa ada?

            Saya ingin mendengar jawaban/tanggapan pak Adi atau
            lkawan2 lain, sehingga *secara teknis dan realistis* kita
            bisa membuat kesimpulan yang benar dan bermanfaat bagi
            kemajuan Industri Manufaktur Broadband di Indonesia.

            Semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara yang
            kita cintai.
            Wassalam,
            S Roestam
            http://wirelesstekno.blogspot.com
            http://wartaduniamaya.blogspot.com
            http://mastel2020.blogspot.com
            http:/kampus-maya.com <http://kampus-maya.com>
            =====================


            ----Original Message----
            From: [email protected] <mailto:[email protected]>
            Date: 19/12/2010 10:43
            To:
            Subj: [indonesia] Re: Sebuah Pemikiran buat Masa Depan
            Anak-Cucu Kita: &quot;Waiting Game is a Losing Game&quot;

            Pak Chamdani,

            Aturan yg dibuat utk BWA dgn menentukan spesifikasi khusus
            di bandwith dan
            TKDN itu tujuannya untuk memberikan "proteksi" bagi
            industri dalam negeri
            agar punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam pengadaan
            perangkatnya.

            Industri yg saat ini siap utk memproduksi adalah yg
            mengikuti standard 16d,
            sementara yg 16e belum ada yg siap. Kalau pun ada yg
            mengatakan siap,
            mungkin baru sebagian komponennya saja. Bisa dibuktikan
            sendiri di lapangan.

            Tanpa "proteksi" sudah bisa dipastikan produk yg akan
            masuk adalah produk
            import semua, sama seperti saat teknologi GSM di gelar,
            dan teknologi2
            sebelumnya. Apakah kita cukup senang hanya sebagai
            konsumen produk import
            saja? Lalu bagaimana dgn industrinya?

            Sy pernah tulis panjang lebar di milis ini juga. Beberapa
            waktu yg lalu
            menjawab email yg dikirim p Soemitro juga. Kenapa ada
            ketidakcocokan antara
            operator yg menang dgn industrinya.

            Saat lelang BWA dibuka beberapa tahun lalu, yg dibuka
            adalah yg utk standar
            16d (fixed BWA). Tujuannya adalah utk komplementer
            teknologi ADSL ...
            khususnya di daerah yg belum tergelar kable
            telekomunikasi. Alokasi ini
            (kalau tidak salah 2.360-2.390 GHz) memang ditujukan utk
            fixed BWA, dan
            bukan untuk mobile BWA. Mobile BWA direncanakan berada di
            alokasi lain,
            2.300 - 2.360 GHz, lebih besar sebenarnya dan bandwith nya
            mungkin nanti 5
            MHz dan 10 MHz, berbeda dgn yg fixed yaitu 3.5 MHz dan 7 MHz.

            Jadi "roadmap" nya adalah alokasi frekuensi yg berbeda utk
            standar yg
            berbeda, karena 16d dan 16e menggunakan teknologi yg agak
            berbeda. 16d dgn
            OFDM, 16e dgn OFDMA. Ini tidak bisa digunakan pada alokasi
            frekuensi yg
            sama.

            Tapi ... operator berencana beda. Entah sengaja atau
            mendapatkan informasi
            yg tidak lengkap. Operator saat mengambil lelang alokasi
            utk Fixed BWA,
            dalam planning nya sepertinya mau menggunakan alokasi ini
            untuk Mobile BWA
            juga. Di sini masalahnya. Ikut lelang utk Fixed BWA dgn
            teknologi 16d, tapi
            berharap bisa menggelar Mobile BWA dgn teknologi 16e.

            Lalu kenapa yg 16e belum dibuka? Ya seperti alasan di atas
            ... menunggu
            industri dalam negeri nya siap. Nah, apakah industri 16e
            dalam negeri sudah
            siap? Itu yg musti dipastikan. Siap dalam arti bukan
            sekedar mengakali
            aturan TKDN ... import barang lalu mengaku buatan sendiri.

            Jadi ... memang mental bangsa ini yg "parah" ... :-(
            Maunya gampang ... .
            Kalau memang maunya begitu ... buka saja aturannya ...
            tidak perlu
            proteksi-proteksian ... Lupakan membangunan industri dalam
            negeri ... dan
            tutup saja jurusan Teknik Elektro ... toh lulusannya hanya
            berguna untuk
            pilih barang import dan instal barang import ...

            Begitu pak Chamdani. Saya sudah tulis beberapa kali,
            bahkan di milis ini
            juga. Tapi kok selalu ada yg bertanya lagi ya? Same
            question. Mungkin pak
            Soemitro berkewajiban untuk menulis secara LENGKAP apa yg
            sebenarnya terjadi
            ...

            Apakah ada politis? Ya ada ... politisnya itu tadi ...
            untuk memberikan
            kesempatan industri dalam negeri perangkat telekomunikasi
            utk bisa
            berkembang ... dgn mekanisme proteksi. Kalau politis ini
            dianggap kurang
            tepat ... lha mari kita debatkan ... model seperti apa yg
            cocok untuk
            membangun industri ini ... itu kalau masih mau dibangun ...


            salam,

            -ai-


            2010/12/17 Achmad Chamdani Eka P.

            > Pak Roestam,
            >
            > Tulisan dibawah sangat menarik. Saya baru tahu kalau pak
            Roestam adalah
            > Chairman
            > Mastel.
            >
            > Mungkin Pak Roestam bisa memberikan gambaran untuk Wimax
            kenapa pemerintah
            > masih enggan
            > dalam membuat kebijakan yang sifatnya hanya menetapkan
            pita frekuensinya
            > saja
            > (bukan teknologi 16d atau 16e). Saya pernah baca Berca
            gagal mendapatkan
            > persetujuan untuk
            > menggelar layanan hanya karena perbedaan teknologi yang
            digunakan. Apakah
            > ada masalah
            > politis disini ? Terus terang saya jadi blank dengan
            masalah ini.
            >
            > Kebetulan saya bekerja dari sisi perakatnya. Ibarat kita
            berjalan di
            > lorong, tanpa pernah melihat
            > setitik cahaya jalan keluar.
            >
            >
            > Salam.
            > Ach. Chamdani Eka
            >
            >
            > S Roestam wrote:
            >
            > Kawan2 Anggota Milis Yth,
            >
            > 1. "Waiting Game is a Losing Game"
            >
            > Kita sudah tertinggal selama 3-tahun dalam menerapkan
            Broadband Wireless
            > Access sebagai infrastruktur utama untuk menjadikan
            jaringan Broadband
            > sebagai enabler pertumbuhan perekonomian bangsa. Untuk
            tiap 10% penetrasijaringan Broadband, maka secara empiris
            diperoleh pertumbuhan
            > GDP sebesar 1,38%. GDP Indonesia pada tahun 2010
            diperkirakan sebesar US$1.000
            > milyar. Bila kita angap tiap tahun jaringan broadband
            itu tumbuh sebesar
            > 10%, maka dalam 3-tahun seharusnya GDP itu tumbuh
            sebagai dampak Broadband
            > Economy sebesar 3x1,38%xUS41.000 milyar = US$41,4 milyar
            atau Rp414
            > Trilyun. Ini merupakan lost of opportunity dari bangsa
            Indonesia.
            >
            > 2. "The Future is on Mobile Broadband Technology"
            >
            > Saat ini di Dunia sudah ada 5-milyar perangkat Mobile
            Wireless. jadi untuk
            > menggenapkan jumlah itu menjadi 6-milyar penduduk Dunia,
            maka "The Next
            > Billion" adalah Mobile Wireless users, utamanya adalah
            Mobile Broadband
            > Wireless users.
            >
            > Peniliti OVUM memperkirakan bahwa pada tahun 2015
            didunia akan ada 750-juta
            > Fixed Broadband lines, termasuk didalamnya 150-juta
            Serat Optik. Pada
            > tahun yang sama jumlah Mobile Wireless Broadband Users
            sudah akan mencapai
            > 3,2-milyar orang atau lebih dari 4-kali lipat dari Fixed
            Broadband lines.
            >
            > 3. Indonesia sudah siap mengembangkan IDN Broadband
            WiMAX di Pita 2,3 GHZ
            >
            > Setelah berjuang selama 3-tahun akhirnya Indonesia
            memiliki kemampuan untuk
            > menguasai Core Teknologi Broadband Wireless Access WiMAX
            atau Chipset
            > WiMAX, baik itu WiMAX 16d maupun 16e, dimana malah
            produk WiMAX 16e telah
            > berhasil di-expor ke berbagai negara di luar negeri.
            Bila berhasil
            > dikembangkan lebih lanjut menuju ke teknologi WiMAX 2.0
            (Generasi ke-2),
            > yaitu WiMAX 16m yang telah diakui oleh ITU sebagai "True
            4G" (Teknologi
            > Seluler Generasi ke-4) yang setara dengan LTE-Advanced,
            dimana akan dapat
            > dicapai kecepatan transmisi puncak sampai 340 Mbps, maka
            akan dapat turut
            > dikembangkan industri pendukungnya di dalam negeri,
            seperti antena,
            > casing, content dan aplikasi-aplikasinya,
            after-sales-service, training dan
            > education, dll.
            >
            > Ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk membangun
            industri manfaktur
            > dalam negeri Indonesia, dimana bila kesempatan emas ini
            dilewatkan, maka
            > mungkin kesempatan emas serupa tidak akan hadir dalam
            jangka waktu 100
            > atau 1000-tahun lagi. Kita harus ingat pengalaman
            3-tahun y.l., "Waiting
            > Game is a Losing Game", melihat ke butir 1 diatas.
            >
            > 4. Indonesia belum siap membangun Core Technology LTE,
            perlu waktu minimum
            > 3-tahun lagi.
            >
            > Teknologi LTE adalah teknologi yang sudah dipatent-kan,
            Kekayaan
            > Intelektual-nya (IPR-nya) sudah dimiliki oleh
            negara-negara lain, yaitu
            > Eropa, Cina, Korea dan USA. Kalaupun kita ingin
            mengembangkan Core
            > Technology LTE sendiri, maka akan perlu waktu lebih dari
            3-tahun. Kalau beli
            > lisensi, maka akan mahal, lagipula mengembangkan
            teknologi milik orang
            > lain hanya akan menghasilkan nilai tambah yang sangat
            minimal.
            >
            > Maka berlaku lagi pengalaman pada butir 1 diatas, yaitu
            "Waiting Game is a
            > Losing Game....."
            >
            > 5. Teknologi WiMAX 16e sudah sangat matang, harga
            CPE-nya sekitar $30,
            > sedangkan Teknologi LTE masih pada tahap awal, harga
            CPE-nya diatas ribuan
            > Dollar.
            >
            > Teknologi WiMAX adalah teknologi Broadband Wireless yang
            sudah sangat
            > matang, sebab sudah berjalan selama lebih dari 3-tahun,
            merupakan
            > teknologi yang hasilnya terjangkau masyarakat luas,
            harga CPE-nya sekitar
            > $30 tahun depan, memiliki ecosystem industri yang robust
            (kuat), sudah ada
            > lebih dari 300-jenis perangkat yang terkait, digunakan
            pada 500 jaringan
            > telekomunikasi diseluruh dunia yang mencakup populasi
            sebanyak 800 jutaorang.
            >
            > Sedangkan Teknologi LTE adalah teknologi yang baru saja
            dikembangkan(masih bayi,
            > infant). Untuk mencapai tahap kesiapan seperti Teknologi
            WiMAX diatas,
            > maka akan butuh waktu sekitar 2-3 tahun lagi, sehingga
            pengalaman pada
            > butir 1 diatas berlaku lagi: "Wating Game is a Losing
            Game..."
            >
            > 6. Pita 2,3GHZ paling cocok untuk WiMAX, bukan untuk LTE
            yg akan menjadi
            > keputusan yang aneh.
            >
            > Sejak awal memang pita frekwensi 2,3GHz sudah
            dialokasikan untuk Teknologi
            > Broadband Wireless Access WiMAX. Menempatkan LTE pada
            pita 2,3GHz menjadi
            > sebuah keputusan yang aneh, membuat pelanggan LTE
            Indonesia menjadi
            > terkucilkan, tidak bisa membawa keluar perangkat ponsel
            LTE, PDA LTE atau
            > Laptop LTE ke luar negeri saat kita bepergian, sebab
            menggunakan pita
            > frekwensi diluar standar Internasional. Kalaupun ingin
            membuat CPE Indonesia
            > bisa roaming, maka perlu ditambahkan fitur multi-band
            dengan menambah
            > biaya bagi masyarakat penggunanya, dan membebani
            keuangan mereka dengan
            > biaya yang tidak seperlunya.
            >
            > Regulator perlu menetapkan pita 2,3GHz sebagai Teknologi
            Netral untuk
            > WiMAX (16d dan 16e).
            >
            > Kerugian lainnya, perangkat LTE produksi Indonesia pada
            pita 2,3GHz tidak
            > bisa di ekspor ke LN, sehingga membuat industri DN LTE
            ini sulit untuk
            > berkembang.
            >
            > Solusi yang terbaik bagi LTE Indonesia adalah
            menempatkannya pada pita 3Gkarena LTE adalah kelanjutan
            dari teknologi itu, atau pada pita hasil Digital
            > Dividend siaran Broadcast TV di 700 MHz, dan pada pita
            2,6MHz seperti yang
            > telah dirancang oleh mayoritas negara-negara lain di Dunia.
            >
            > 7. Keuntungan Masa Depan dari Operator 3G yang
            berevolusi ke LTE tidak akan
            > dinikmati oleh Operator Non-3G dan Operator Baru.
            >
            > Para operator telekomunikasi 3G memang mendapat
            keuntungan penghematan
            > CAPEX ketika ber-evolusi ke LTE, sebab ada common RF
            Equipment di BTS yang
            > dapat di-share oleh kedua teknologi itu. Namun bagi para
            operator Non-3G,
            > seperti para ISP, Cable-TV, dan para operator pendatang
            baru, tidak
            > mendapatkan keutungan itu ketika menerapkan Teknologi LTE.
            >
            > 8. Perlu ada keputusan yang tepat dan cepat.
            >
            > Semua pengalaman dan penderitaan bangsa ini selama tiga
            tahun yang lalu
            > perlu kita ambil sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran
            yang mahal namun
            > juga berharga, cukup sudah lost opportunity sebesar Rp
            414 Trilyun, jangan
            > ditambah lagi. Maka kini tiba saatnya kita semua
            mengambil keputusan yang
            > tepat dan cepat....
            >
            > Silahkan ditanggapi, disanggah, dibenarkan atau
            didukung, sehingga kita
            > bisa yakin bahwa keputusan yang diambil adalah yang
            terbaik, demi kemajuan
            > bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai.
            >
            > Wassalam,
            > S Roestam
            > http://wirelesstekno.blogspot.com
            > http://wartaduniamaya.blogspot.com
            > http://mastel.wordpress.com
            >
            >
            >





-- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah
    ilmu/teknologi serta
    kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia
    dan akhirat.

    Info pengelolaan milis Indonesia next better :
    http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt




--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke