Sebenarnya bukan pemerintah saja, tapi juga pelaku usaha kita di Indonesia ini mentalnya sama saja. Contohnya ya dalam operator telekomunikasi. Apalagi kalau dibandingkan dgn produk2 dari RRC yg menawarkan harga yg bukan main kompetitifnya. Malah nggak perlu bayar cash ... siapa yg tidak tergiur? :-(
Pemerintah sendiri dalam aturan pembelian barang ada disebut prioritas utk produk dgn lokal konten tinggi. Tapi, perbedaan harganya juga tidak boleh terlalu jauh. Mereka skrng takut KPK. Daya saing produk dalam negeri sangat rendah. Jaman krismon mungkin ada peluang bisa bersaing karena barang import tiba2 jadi mahal karena perbedaan kurs. Tapi kalau kondisi sudah normal, produk dalam negeri sulit berkompetisi. Apalagi dgn produk RRC, yg didukung sangat kuat oleh pemerintahnya. Ibaratnya, produk dalam negeri itu menjadi anak tiri di rumah sendiri .... :-( Kalau begini terus ... tunggu saja sampai nanti tidak ada satupun lulusan engineering yg punya kemampuan memproduksi barang. Beberapa bidang ilmu yg diajarkan di Indonesia (cq ITB) sejak awal lulusannya memang hanya disiapkan menjadi sekedar operator dan tukang instal. Jadi jangan heran kalau kemampuan membuat produknya lemah .... Thanks to our alumni juga ... yg ikut membuat kondisi kurang kondusif utk industri produk dalam negeri .... salam, -ai- 2010/12/23 Aristo Y. Suratman <[email protected]> > Betul, karena saat ini yang duduk di pemerintahan sangat pro sekali dan > memanjakan pegawai negeri dimana mereka sangat suka produk import. Juga anak > bangsa di negeri ini semuanya maunya jadi pegawai negeri karena sangat > dimanjakan. Hal ini sangat mematikan kreativitas juga jiwa wiraswasta. > Pemerintah juga tak mendukung produk dalam negeri. Sehingga membuat takut > dan ragu para wiraswastawan Indonesia. Juga di Indonesia yang namanya > wiraswasta adalah sebenarnya kebanyakan hanyalah importir. Dalam setiap > tender juga tak mementingkan local content. Dan masih banyak lagi. Jadi tak > membuat para anak bangsa kita berani mandiri. Anak bangsa kita juga > kebanyakan hidup jadi calo. > > ----- Original Message ----- > *From:* Adi Indrayanto <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, December 23, 2010 7:55 PM > *Subject:* [indonesia] Inovasi dan Industri Harus Sejalan > > > > Inovasi dan Industri Harus Sejalan > > > http://cetak.kompas.com/read/2010/12/23/04123680/inovasi.dan.industri.harus.sejalan > > Kamis, 23 Desember 2010 | 04:12 WIB Jakarta, Kompas - Salah satu syarat > agar inovasi bisa terus berkembang adalah kuatnya industri manufaktur yang > digerakkan pasar dalam negeri. Karena itu, industri manufaktur Tanah Air > perlu segera mendapat perhatian pemerintah, tanpa membedakan skala industri > atau pemiliknya. Mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie saat memberikan > pidato utama dalam penganugerahan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Award > 2010 di Jakarta, Rabu (22/12), mengatakan, hampir semua pusat perbelanjaan > di Indonesia dipenuhi barang-barang luar negeri. Hal itu berarti rakyat > Indonesia harus membayar ongkos pekerja luar negeri untuk memenuhi kebutuhan > mereka sehari-hari...cut... Insinyur Indonesia Peningkatan daya saing > industri manufaktur harus ditopang oleh kualitas sumber daya manusia yang > memadai. Namun, hal ini masih sulit karena hanya ada > 16.435 insinyur per Mei 2010 dari 237 juta rakyat Indonesia atau 0,006 > persen. ...dst > > >
