At 11:26 31/05/99 +1000, you wrote:
>
>> Situasi politik yang ramai dibicarakan saat ini di masyarakat bawah
>> adalah: apakah benar caleg PDI-P itu 60% non-Muslim? ini memang
>> permasalahan yang mendadak sangat sensitif, begitu daftar caleg
>> diresmikan. betapa tidak, banyak orang kaget, lho apa benar itu caleg
>> PDI-P >60% non Muslim?, selagi mayoritas penduduk RI adalah Muslim, ini
>> logikanya menyangkut ketahanan internal negara yang sering shaking. Kalau
>> benar PDI-P menang, maka konspirasi internal justru lebih ruwet daripada
>> konspirasi asing pasca pemilu nanti.
>
>issue proporsi muslim vs. non-muslim semacam ini juga pernah dilontarkan
>amien rais sebelum dua tahun yang lalu dalam wawancara dengan majalah
>matra [feb. atau maret 1997]. ini dua tahun sebelum amien rais
>mengadvokasi meritokrasi dalam pluralitas bangsa indonesia lewat pan-nya.
>pada hemat saya, [antara lain] hal semacam ini lah yang disebut oleh arief
>budiman sebagai 'rapor amien rais yang kurang baik' itu. dengan semangat
>yang 'agak berbeda', ahmad sumargono dalam kompas [saya lupa tanggalnya,
>tapi sekitar waktu peristiwa bbq ambon] juga menulis tentang 'perubahan'
>yang terjadi dalam 'amien rais' ini.
>
>bagi saya, agama lebih merupakan perkara pribadi daripada perkara sosial.
>ketika agama menjadi atribut sosial politik, maka agama berhenti menjadi
>agama, berubah menjadi 'kurungan' [kata kang sobary]. beny murdani adalah
>beny murdani. bagi saya, adalah naif mengidentikkan beny murdani dengan
>katholik, misalnya. sama naifnya mengidentikkan soeharto yang haji itu
>dengan islam.
--pudjo:
Saya setuju dengan bung amat, bahwa agama lebih merupakan urusan pribadi,
catatannya: bila itu terjadi bagi masyarakat terdidik.
Bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri, maka benar kita
bisa menerima bahwa pendidikan agama bisa dikeluarkan dari kurikulum
pendidikan formal, tetapi apakah ini bisa terjadi bisa diterapkan di tanah
air?
Ini memang realita masyarakat yang kita hadapi.
Saya mempertanyakan muslim vs non-mulsim pada posting lalu:
Copy: "apa benar itu caleg PDI-P >60% non Muslim?, selagi mayoritas
penduduk RI adalah Muslim, ini logikanya menyangkut ketahanan internal
negara yang sering shaking".
Realita yang kita hadapi adalah masyarakat kita yang mudah terguncang, yang
barangkali belum menerima pendidikan politik yang sewajarnya, dan berapa %
kah, manusia Indonesia yang melek dan arief informasi seperti bung amat,
misalnya.
Sedangkan para provokator nyata telah berhasil menghembuskan isu SARA untuk
saling bertubrukan.
Itulah makanya saya katakan: bahwa justru ketahanan internal inilah yang
saat ini lebih berbahaya drpd faktor eksternal.
Setuju apa tidak, itu realita masyarakat kita.
Mau bukti lain kalau sebagian masyarakat kita ternyata not well informated:
Suatu saat ketika saya melakukan inspeksi ke perkebunan-perkebunan, saya
tanya kepada para pekerja kasar yang sangat jarang ke kota: anda nanti mau
coblos apa? Jawabnya: lho pak, bagi pekerja perkebunan masih tetap
diharuskan mencoblos Golkar yang no: 2 itu bukan !, padahal Golkar sekarang
sudah bukan nomer 2, lagi, padahal bagi kita gema pemilu dan reformasi
begitu pedas ditelinga kita, tapi toh, masih ada yang nggak tahu kalau no:2
di pemilu nanti sudah bukan Golkar lagi.
Nah, bagaimana membawa maju bersama, bangsa kita yang beragam ini?
merupakan pekerjaan rumah yang berat bagi siapapun pemenang pemilu nanti.
Tanggapan please,
Cheers,
Pudjo Rahardjo
-------------------------------
Department of Civil Engineering
The University of Queensland
St. Lucia, Brisbane, QLD 4072
Australia
-------------------------------