At 14:46 31/05/99 +1000, you wrote:
>amat:
>pertanyaan 'anda nanti nyoblos apa?', pada hemat saya, jelas pertanyaan
>orang terdidik. paling tidak pertanyaan orang yang suka baca koran atau
>mbm yang hampir setiap terbit selalu menyertakan 'hasil polling pemilu'.
-->wow... anda telah judge diri saya, :-)
apa saya harus menerangkan dari A sampai Z, segala introductionnya,
tentu tidak bukan, semua intro tentunya sudah dilakukan,
The point here is: bahwa ternyata orang yang kurang well informated itu
masih banyak!, alias nanti banyak orang pusing begitu masuk kamar coblosan
kok gambarnya saja ada 48 biji, doeloe cuma 3 biji, wal hasilnya siapa tahu
dengan mata terpejam, tangan diayunkan entah kena nomer berapa :-)
Dan begitulah, nature saya di tanah air adalah masyarakat desa, NGO's juga
di desa, di kota pun di tempat-tempat sampah.
(kalau sempat saya akan posting pengolahan sampah pasar induk menjadi pelet
ikan vegetarian, peternakan cacing, dll.)
bung amat mau dekat-dekatan dengan orang desa ayo gabung.
>pertanyaan orang yang kurang terdidik barangkali mulai dengan apakah
>pekerja perkebunan tahu akan ada pemilu atau tidak, kapan, berapa parte
>yang ikut, dst. dsb., sebelum sampai ke pertanyaan 'nyoblos apa?'. jelas
>pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan jenis pertanyaan kaum terdidik
>yang suka taken for granted common sense/knowledge bahwa something [dalam
>hal ini all things about pemilu] has been known dan tinggal tanya 'nyoblos
>apa?' kalau pekerja perkebunan tidak tahu common knowledge seputar pemilu
>karena mereka lebih terpaku pada kerja membersihkan daun-daun kering dan
>ketika ditanya oleh orang terdidik 'mau nyoblos apa?' dan jawabannya
>adalah 'no 2 golkar', dan ternyata si penanya 'kecewa' karena si pekerja
>tidak paham mengenai pengetahuan elementer pemilu, maka wajarlah kalau si
>terdidik me-'label' buruh ini tidak terdidik. tapi si buruh jangan coba-
>coba me-label si terdidik 'tidak terdidik' hanya karena dia tidak paham
>cara yang terbaik dan terfesien membersihkan daun kering di perkebunan
>sehingga tidak saja perkebunannya bersih tapi tanamannya juga sehat kepada
>si terdidik.
>
-->anda terjebak dengan topik 'terdidik'
kita kira yang paling tepat adalah pendidikan politik, melek politik
di negara maju, sopir taxipun pinter debat politik, apa sopir angkot kita
sudah demikian jernih menentukan pilihannya?
kita kira contoh satu masyarakat arisan di Gunung Kidul, juga satu hanya
sample
arisan jelas lain dengan masalah politik,
sedang topik diskusi pgrad, jelas sarat dengan politik atau dekat sekali
dengan 'minoritas-mayoritas'
coba mereka diskusi film atau arisan, bakal nggak akan macet, malah gayeng.
anda bisa bayangkan bukan
yang para pgrad saja ketika menyinggung minoritas-mayoritas saja macet,
apalagi yang bukan pgrad.
apa lagi yang berbau agama,
Ada joke kawan saya di BNE:
Kalau mau melakukan demokrasi 100% di Indonesia, pertama yang harus
dimatikan adalah pemikiran agama,
agama telah membuat start pemikiran berbeda dulu.
Kalau pemikirannya agama hilang, baru pembicaraan demokrasi one person one
vote akan mendekati kemurnian,
kalau agama masih ada tentu akan ada rasa: kok satu suara Kyai, satu suara
Pastor, sama dengan satu suara pelacur;
satu suara profesor sama dengan suara lulusan SD.
>>
>> Nah, bagaimana membawa maju bersama, bangsa kita yang beragam ini?
>
>amat:
>bagaimana hayo........? jadi menteri dulu? jadi presiden dulu?
>
>jadi telinga yang setia mendengarkan.
>jadi hati yang penuh empati.
>jadi tangan yang rela berjabat tangan bekerjasama.
>
---nggak perlu jadi menteri,
ubah mengusulan caleg benar-benar muncul dari bawah,
bukan DPP yang nge-drop, thus segala background sang caleg diketahui dari
awal.
Sekali lagi kalau benar ?(saya bertanya lho), inikan bisa salah,
Caleg PDI-P itu, kalau benar >60% non-muslim, dan PDI-P menang,
maka masalah internal itu lebih ruwet drpd masalah eksternal negara.
Tolong simak ya, kalau benar ? jadi bukan suatu judgement
karena saya sendiri belum tahu secara benar apakah caleg PDI-P itu
komposisinya bagaimana, ada yang punya data ?
my ten cents kemawon
Pudjo Rahardjo
-------------------------------
Department of Civil Engineering
The University of Queensland
St. Lucia, Brisbane, QLD 4072
Australia
-------------------------------