MJJ,
Saya setuju dengan istilah bertransformasi. Tidak ada formula khusus yang
dapat dilakukan untuk melakukan transformasi selain PATUH TERHADAP APA YANG
TELAH DIKOMITMENKAN BERSAMA OLEH BANGSA DAN NEGARA INI.
Komitmen itu seperti patuh kepada Undang-Undang, Hukum harus ditegakkan tanpa
pandang bulu.
Kembali kepada Pancasila yang memiliki nilai kearifan luhur bangsa kita yang
sopan dan santun dan sifat saling menolong dan bekerja sama.
Kakek saya alm pernah cerita kepada saya dahulu ketika dia muda, bukan agama
yang dipermaslahkan tetapi, kamu apa, Marhaen, PNI, NU dll. Belakangan ini
malah agama yang dijadikan isu politik, dan itu benar adanya membuat negara
kita ini lemah.
Disini jika saya berdiskusi dengan kawan2 Muslim, saya selalu katakan, kita
jangan terlalu membawa-bawa urusan agama dalam berbangsa dan bernegara ini,
malu kita nanti dengan negara seperti taiwan ini yang 80% tidak percaya kepada
Tuhan yang maha esa, tapi mereka semua patuh dan taat pada UU, hukum berjalan
dan suka bekerja keras. Dimana-mana tempat semua bersih, semua sampah dibuang
pada tempatnya, plastik ke tempat plastik, makanan ke tempat makanan, dst.
Teknologi terbaik dunia berkembang dengan pesat disini.
Walaupun memang banyak mereka juga berani mengambil jalan pintas dengan jalan
bunuh diri, ya itu juga resiko tidak memiliki keyakinan. Dan tentunya keyakinan
(IMAN) itu adalah sangat penting.
Saya malah berpikir Indonesia yang mengaku negara percaya kepada Tuhan kok
malah cendrung tidak memiliki hati nurani lagi. Contoh saja kasus IPDN,
contonya Mr Inu Kencana itu, kalau saya bilang dia tidak memiliki nurani lagi
belakangan ini, dia itu malah jadi aji mumpung, dia baik dalam membuka
permasalahan, tetapi selanjutnya dia telah terkontaminasi oleh kenikamtan
popularitas dengan menyudutkan banyak orang, apa itu baik?
Contoh kasus DPR RI dan SBY sekarang masalah Interplasi Iran itu, menurut
saya itu SBY bingung, Kalau didatangi salah kalau tidak didatangi salah. Yang
mau di jumpai juga setan semua, cobalah habis interpelasi iran, kecewa nyambung
lagi ke Lapindo? kemapa ndak dari dulu? apa ndak setan yang kurang kerjaan itu
namanya. Sementara negara memerlukan energi untuk memikirkan hal-hal yang lain.
Dan banyak contoh2 lain yang menunjukkan yang mengurus bangsa ini tidak
memiliki kearifan dan kebijaksanaan lagi.
Untuk saudara Zunaidy Hary, dalam sebuah buku yang ditulis oelh seorang
bernama Paulus mengatakan, bahwa selama nafas masih melekat pada daging
(manusia hidup) keinginan berbuat dosa (contohnya munafik) itu selalu ada.
Tidak terlepas dia pendeta, Kiai, pejabat pemerintah, siapa saja, termasuk saya
dan anda.
Yang dipersoalkan adalah orang2 yang mengaku bertuhan/taat beragama bahkan
memiliki pendidikan tinggi, tetapi toh tidak ada bedanya/bahkan mungkin lebih
buruk dari mereka yang tidak mengenal Tuhan. Dan itu terjadi di kampung kita
Indonesia.
Itulah mengapa saya katakan negara yang MUNAK, dan resikonya adalah kita
tidak diberkati/dirahmati contohnya, bencana dimana2, penyakit, kalau hujan
kebanjiran, kalau panas kekeringan, seperti tidak memiliki planing atau istilah
saya spt orang bodoh.
Selamat akhir pekan,
Bode H. Tarigan, TW
NUAH TARIGAN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mejuah juah juga,
Yang penting apakah bangsa ini sudah bertransformasi dan bukan saja
berreformasi, transformasi adalah suatu keadaan dimana kita semua saling
membebaskan, dalam artian kita berubah dari suatu keadaan dimana kita saling
menghormati antara satu dengan yang lain, dari situasi seperti ulat kemudian
kepompong dan akhirnya menjadi kupu kupu. Dan yang akhirnya memberikan warna
dalam TAMAN INDONESIA yang penuh dengan aneka ragam ini. Melting Pot yang
begitu ragam dan bukan menjadi UNIFORM yang pada akhirnya tidak membawa
pembebasan dalam jiwa dan nurani. Karena memang kita pada hakikatnya diciptakan
dengan kebebasan untuk menghirup udara dunia ini, tidak ada satupun yang dapat
menyetopnya selain Tuhan Allah.
Akan tetapi hal inikan belum terjadi secara menyuluruh dikita sehingga tidak
terjadi suatu transformasi yang meyeluruh dan holistik. Mari kita wujudkan ini
dalam hidup yang penuh warna ini, jangan sekali kali terjebak dengan TP atau
tebar pesona yang penting bagaimana kita melakukan yang dikehendaki oleh Tuhan
Allah, bukan saja di hari Minggu atau Jumat, akan tetapi disetiap hari
kehidupan kita, menjadi orang orang yang transformatif di masyarakat yang galau
ini.
Norwegia dan Korsel adalah contoh negara transformatif yang patut kita
banggakan dan mereka memulainya dari sekelompok petani yang takut pada Tuhan
Allah dan mau bekerja keras guna mewujudkan masyarakat yang begitu dibanggakan
di dunia ini, Amen.
Nuah Tarigan
zunaidi harry <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mejuah-juah.
Yakin kah anda jika manusia yg tinggal di bumi ini 100% tanpa dosa dan tidak
pernah berbuat salah?
Tentu tidak
Jika tidak, percayakah anda jika manusia yg tinggal di bumi ini terdiri dari
50% org baik tanpa pernah melakukan dosa dan 50% org yg melakukan dosa.
Tentu tidak
Jika tidak berarti persentase jumlah org baik akan semakin kecil di bawah 50%
dan jumlah org berdosa diatas 50%
Orang baik pun belum tentu tdk berdosa.
Sadarkah kita kalau kita sebagai ciptaan dari Yang Maha Pencipta cenderung
dan sangat suka melakukan pelanggaran aturan, hukum atau aturan agama kita
masing-masing.?
Semua para pemimpin negara (negara maju atau negara miskin) di bumi ini
pernah melakukan kebohongan dan kejahatan. Juga kita.
Kebohongan = munafik
Apakah kita harus menerima kemunafikan yang kita miliki menjadi penghambat
dan penghalang bagi diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu yang lebih baik ,
menolong orang misalnya, bertobat, membangun komunitas, masyarakat, negara dgn
lebih mementingkan kepentingan hajat hidup org banyak dari pada keserakahan
kita ?
Sang pencita manusia ini lebih tahu segala urusan dari pada kita.
Jangan pernah mau berhenti untuk melakukan sesuatu yang LEBIH BAIK dari pada
TENGGELAM sebagai pemilik SEJATI kemunafikan. Hanya karena kita pernah
melakukan kesalahan atau dosa.
Yakinlah Sang pencipta kita akan mengampuni dosa/kesalahan kita karena kita
masih mau melakukan kebaikan.
Wajar kan kalo hampir semua agama yg percaya dgn Tuhan memiliki konsep
pengampunan DOSA.
So
?
Marilah kita berbuat baik walaupun kita pernah munafik.
Bujur
haryanto bode <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MJJ,
Hem mungkin permasalahannya bukan itu, yang jadi masalah adalah seorang alim
ulama, pendeta kah, Kiayi, Ustaz, Biksu jika terjun kedunia politik malah bukan
mengubah cara berpolitik yang cendrung kotor, tetapi ikut terlarut kedalam
kekotoran tersebut yang cendrung menghalalkan segala cara misalnya dengan JP
(janji palsu) , ini tidak dapat dipungkiri.
Walaupun demikian, saya rasa tidak semua begitu, PKS termasuk the best lah,
slah satu contoh di Tw sini hampir 60% Student yang asli indonesia itu masuk
jaringan PKS. Setiap semester ada utusan PKS keliling2 taiwan berceramah untuk
mereka. Dan saya selalu di ikutkan karena saya kompak dengan mereka dan saya
pingin tahu cara mereka. Meraka disini cukup menghormati saya, karena saya
orang karo dan mereka tahu saya Kristen dan itu tidak menjadi masalah hingga
saat ini walaupun dalam berdiskusi saya membawa apa yang saya dapat dari bible,
tentunya dengan cara yang baik. Namun satu hal mungkin karena mereka memiliki
pendidikan S2-S3 disini.
Menurut saya hanya dua cara membuat Indonesia ini dapat berubah, 1. BerTuhan
yang benar. 2 Berpendidikan yang cukup. Dengan harapan bahwa dengan takut akan
Tuhan mereka akan patuh pada undang-undang, dan dengan berpendidikan mereka
memiliki wawasan yang luas, sehingga mereka selalu berpikir dahulu sebelum
melakukan tindakan.
Tetapi ternyata, teori itu tidak berlaku di Indonesia, toh KORUPTOR DAN
PELAKU KKN semuanya adalah memiliki kedua kriteria di atas. Anda bisa
perhatikan hampir semua orang yang terlibat dalam masalah kejahatan bernegara
saat ini adalah kelompok itu.
Jadi menurut saya Indonesia selama ini adalah bangsa yang MUNAFIG, sehingga
sulit diterka dan cendrung sulit untuk dipercaya. Dan jika bangsa bersifat
MUNAFIG, maka Tuhan yang mana yang mau dekat dengan kelompok bangsa seperti
ini. Artinya jika Tuhan menjauh dari Indonesia, maka bangsa kita dan negara
kita tidak mendapat RAHMAT dan BERKAT dan NYA, sehingga jangan heran kalau
bangsa kita terlihat senantiasa BODOH dan Terjebak dengan BLUNDER yang
mereka/negara buat sendiri.
Contoh saja, minyak Goreng, negara penghasil Palm Oil terbesar dunia, tidak
dapat mengendalikan minyak untuk rakyatnya sendiri. Bagaimana itu?
Kebijakan yang paling buruk adalah kebijakan yang dilakukan dengan metoda
trial and error. dan di Indonesia masih melakukan itu.
Tifatul Sembiring, patut kita sukuri dan kita doakan, agar beliau dapat
menjadi teladan bagi pemimpin-pemimpin lainnya di Indonesia, dan kita banggkan.
Salam dari negeri orang-orang rajin
Bode Haryanto Tarigan
(kalau beradat saja sih agak repot, kerna adat sumatera dan sulawesi sudah
banyak bedanya).
Maksudnya
Sembiring Sadiah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Agak sulit melepaskan keterkaitan antara agama dan
politik di negeri ini, karena pada dasarnya negara
kita ini mau bentuknya apa sekulerkah, agamakah ,
demokrasi pancasila (benarkah???) atau apa
masing-masing pihak yang ditanya punya pemikiran dan
tafsir sendiri tentang itu.
Untuk saat ini, saya pikir individunyalah yang harus
benar-benar bisa menentukan, kalau dia punya tanggung
jawab moral, jujur, punya karakter yang kuat biarpun
jadi capcay mudah-mudahan capcay yang enak, disukai
semua orang dan halal.
__________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books?
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.