Anda benar, gejala itulah yang sangat kuat di
Indonesia" sukuisme and agamaisme", bahkan dalam
berpolitik untuk menjatuhkan lawan politik isu itu
yang sering digunakan... nah lo....

Mejuah-juah,

/Eds

--- shalman poerba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mejuah juah, 
>    
>   Ada sebuah buku tulisan Tan Malaka, yang
> mengatakan begini, "kebanyakan iman itu pecah pada
> tempat dimana seharusnya dia tidak terpecah"   (maaf
> saya lupa Kutipan itu di tulis dalam buku tan malaka
> yang mana ). 
>    
>   Masalah agama dan ketuhanan adalah masalah
> kepercayaan pribadi seseorang. Oleh karenanya
> standart  moral dan kemunafikan -- sesuatu yang di
> anggap munafik-, tidak bisa dipakai ajaran agama,
> melainkan standart yang di akui dan kita gunakan
> dalam kehidupan bermasyarakat, Ya kalau kita cerita
> Karo, Apa yang menjadi filosofi masyarakat Karo itu
> yang kita gunakan demikian juga dalam konteks yang
> lain, berbangsa dan bernegara. Sehingga kita hanya
> mendapatkan satu isme yang sudah kita akui bersama.
> Kalau tidak akan bermuncula isme isme yang berbeda
> satu dengan yang lain yang hanya akan memperlemah
> kita.
>    
>   sentabi aku adi lit si la tepat,  Maklum masih
> Pemula.   
>   bujur,
>    
>    
>    
>    
>    edison sembiring <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Mejuah-juah,
> 
> Saya kutip dari tulisan Saudara Bode:
> "Yang dipersoalkan adalah orang2 yang mengaku
> bertuhan/taat beragama bahkan memiliki pendidikan
> tinggi, tetapi toh tidak ada bedanya/bahkan mungkin
> lebih buruk dari mereka yang tidak mengenal Tuhan" 
> 
> Begitulah realita kehidupan berbangsa kita
> sekarang,kebanyakan yang lebih pintar
> (berpendidikan)
> malah melakukan pembodohan terhadap masyarakat yang
> tidak berpendidikan, korupsi dan lain sebagainya,
> Yang
> kelihatan taat bergama tapi terkadang tak bermoral
> dan
> tak punya rasa malu (tentu saja tidak semuanya),jika
> kita lihat presentase yang membuat negara ini hancur
> yang berpendidikan dan yang taat beragama tadi. 
> 
> Bagaimana dengan kita Orang Karo????....
> 
> Happy weekend,
> 
> /Edison Sembiring
> Angola-Africa
> --- haryanto bode <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > MJJ,
> > Saya setuju dengan istilah bertransformasi. Tidak
> > ada formula khusus yang dapat dilakukan untuk
> > melakukan transformasi selain PATUH TERHADAP APA
> > YANG TELAH DIKOMITMENKAN BERSAMA OLEH BANGSA DAN
> > NEGARA INI.
> > 
> > Komitmen itu seperti patuh kepada Undang-Undang,
> > Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. 
> > Kembali kepada Pancasila yang memiliki nilai
> > kearifan luhur bangsa kita yang sopan dan santun
> dan
> > sifat saling menolong dan bekerja sama.
> > 
> > Kakek saya alm pernah cerita kepada saya dahulu
> > ketika dia muda, bukan agama yang dipermaslahkan
> > tetapi, kamu apa, Marhaen, PNI, NU dll. Belakangan
> > ini malah agama yang dijadikan isu politik, dan
> itu
> > benar adanya membuat negara kita ini lemah.
> > 
> > Disini jika saya berdiskusi dengan kawan2 Muslim,
> > saya selalu katakan, kita jangan terlalu
> > membawa-bawa urusan agama dalam berbangsa dan
> > bernegara ini, malu kita nanti dengan negara
> seperti
> > taiwan ini yang 80% tidak percaya kepada Tuhan
> yang
> > maha esa, tapi mereka semua patuh dan taat pada
> UU,
> > hukum berjalan dan suka bekerja keras. Dimana-mana
> > tempat semua bersih, semua sampah dibuang pada
> > tempatnya, plastik ke tempat plastik, makanan ke
> > tempat makanan, dst. Teknologi terbaik dunia
> > berkembang dengan pesat disini. 
> > 
> > Walaupun memang banyak mereka juga berani
> > mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri, ya
> > itu juga resiko tidak memiliki keyakinan. Dan
> > tentunya keyakinan (IMAN) itu adalah sangat
> penting.
> > 
> > Saya malah berpikir Indonesia yang mengaku negara
> > percaya kepada Tuhan kok malah cendrung tidak
> > memiliki hati nurani lagi. Contoh saja kasus IPDN,
> > contonya Mr Inu Kencana itu, kalau saya bilang dia
> > tidak memiliki nurani lagi belakangan ini, dia itu
> > malah jadi aji mumpung, dia baik dalam membuka
> > permasalahan, tetapi selanjutnya dia telah
> > terkontaminasi oleh kenikamtan popularitas dengan
> > menyudutkan banyak orang, apa itu baik?
> > 
> > Contoh kasus DPR RI dan SBY sekarang masalah
> > Interplasi Iran itu, menurut saya itu SBY bingung,
> > Kalau didatangi salah kalau tidak didatangi salah.
> > Yang mau di jumpai juga setan semua, cobalah habis
> > interpelasi iran, kecewa nyambung lagi ke Lapindo?
> > kemapa ndak dari dulu? apa ndak setan yang kurang
> > kerjaan itu namanya. Sementara negara memerlukan
> > energi untuk memikirkan hal-hal yang lain. Dan
> > banyak contoh2 lain yang menunjukkan yang mengurus
> > bangsa ini tidak memiliki kearifan dan
> kebijaksanaan
> > lagi.
> > 
> > Untuk saudara Zunaidy Hary, dalam sebuah buku yang
> > ditulis oelh seorang bernama Paulus mengatakan,
> > bahwa selama nafas masih melekat pada daging
> > (manusia hidup) keinginan berbuat dosa (contohnya
> > munafik) itu selalu ada. Tidak terlepas dia
> pendeta,
> > Kiai, pejabat pemerintah, siapa saja, termasuk
> saya
> > dan anda.
> > 
> > Yang dipersoalkan adalah orang2 yang mengaku
> > bertuhan/taat beragama bahkan memiliki pendidikan
> > tinggi, tetapi toh tidak ada bedanya/bahkan
> mungkin
> > lebih buruk dari mereka yang tidak mengenal Tuhan.
> > Dan itu terjadi di kampung kita Indonesia.
> > 
> > Itulah mengapa saya katakan negara yang MUNAK, dan
> > resikonya adalah kita tidak diberkati/dirahmati
> > contohnya, bencana dimana2, penyakit, kalau hujan
> > kebanjiran, kalau panas kekeringan, seperti tidak
> > memiliki planing atau istilah saya spt orang
> bodoh.
> > 
> > Selamat akhir pekan,
> > Bode H. Tarigan, TW
> > 
> > 
> > 
> > NUAH TARIGAN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Mejuah juah juga,
> > 
> > Yang penting apakah bangsa ini sudah
> > bertransformasi dan bukan saja berreformasi,
> > transformasi adalah suatu keadaan dimana kita
> semua
> > saling membebaskan, dalam artian kita berubah dari
> > suatu keadaan dimana kita saling menghormati
> antara
> > satu dengan yang lain, dari situasi seperti ulat
> > kemudian kepompong dan akhirnya menjadi kupu kupu.
> > Dan yang akhirnya memberikan warna dalam TAMAN
> > INDONESIA yang penuh dengan aneka ragam ini.
> Melting
> > Pot yang begitu ragam dan bukan menjadi UNIFORM
> yang
> > pada akhirnya tidak membawa pembebasan dalam jiwa
> > dan nurani. Karena memang kita pada hakikatnya
> > diciptakan dengan kebebasan untuk menghirup udara
> > dunia ini, tidak ada satupun yang dapat
> menyetopnya
> > selain Tuhan Allah.
> > Akan tetapi hal inikan belum terjadi secara
> > menyuluruh dikita sehingga tidak terjadi suatu
> > transformasi yang meyeluruh dan holistik. Mari
> kita
> > wujudkan ini dalam hidup yang penuh warna ini,
> > jangan sekali kali terjebak dengan TP atau tebar
> > pesona yang penting bagaimana kita melakukan yang
> > dikehendaki oleh Tuhan Allah, bukan saja di hari
> > Minggu atau Jumat, akan tetapi disetiap hari
> > kehidupan kita, menjadi orang orang yang
> > transformatif di masyarakat yang galau ini.
> > Norwegia dan Korsel adalah contoh negara
> > transformatif yang patut kita banggakan dan mereka
> > memulainya dari sekelompok petani yang takut pada
> > Tuhan Allah dan mau bekerja keras guna mewujudkan
> > masyarakat yang begitu dibanggakan di dunia ini,
> > Amen. 
> > 
> > Nuah Tarigan
> > 
> > zunaidi harry <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Mejuah-juah.
> > 
> > Yakin kah anda jika manusia yg tinggal di bumi ini
> > 100% tanpa dosa dan tidak pernah berbuat salah?
> > Tentu tidak
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search 
that gives answers, not web links. 
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC

Kirim email ke