mjj... menarik... sangat - sangat menarik apa yang kita bicarakan ini.. suku, agama, politik..dan sedikit aspek humanis dan humoris dan di bumbui dengan emosional wah... luar biasa..dan file project nya adalah TIFAFUL SEMBIRING ... maka pertanyaan nya pertama adalah..: 1. mengapa dia..? 2. mengapa suku ? 3. mengapa agama ? 4. mengapa politik ?
sebagai seorang yang berpikir dan mempunyai kemampuan tuk mengolah dan mengabil jarak realitas dengan pribadinya, seharusnya kita jangan lagi berdebat dengan masalah tersebut. karna itu adalah realita yang realistis yang harus ada dan nyata.. nah sekarang kita hanya dapat mengolah dan mengabil jarak dengan realita tersebut yang akan kita olah dalam sebuah konsep yang konstruktif yang akan kita rajut dalam sebuah untaian budaya yang yang berkarakter pribadi tapi bekerja secara kolektif. nyambung gak ya...... he..he... kalo gak nyambung sory yaaa... maklum baru baru belajar nulis......... sentabi aku man bandu kerina adi lit akapndu kurang lebih na tulisen ku enda bage pe lepak ras payona, ibas lebih na e enda ngelebihi rejeki ras kesangapen nta kerina ibas kurang na e enda ngurangi si la mehuli ras ngurangi pinakit man banta, ibas lepak na e ras ras kita pepayosa ibas payona e... ras ras kita ndahi kensa.. sibar bagem bujur ras mejuah- juah kita kerina... "KARO ERSADA KARO ERSINAL SAL " edison sembiring <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Anda benar, gejala itulah yang sangat kuat di Indonesia" sukuisme and agamaisme", bahkan dalam berpolitik untuk menjatuhkan lawan politik isu itu yang sering digunakan... nah lo.... Mejuah-juah, /Eds --- shalman poerba <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mejuah juah, > > Ada sebuah buku tulisan Tan Malaka, yang > mengatakan begini, "kebanyakan iman itu pecah pada > tempat dimana seharusnya dia tidak terpecah" (maaf > saya lupa Kutipan itu di tulis dalam buku tan malaka > yang mana ). > > Masalah agama dan ketuhanan adalah masalah > kepercayaan pribadi seseorang. Oleh karenanya > standart moral dan kemunafikan -- sesuatu yang di > anggap munafik-, tidak bisa dipakai ajaran agama, > melainkan standart yang di akui dan kita gunakan > dalam kehidupan bermasyarakat, Ya kalau kita cerita > Karo, Apa yang menjadi filosofi masyarakat Karo itu > yang kita gunakan demikian juga dalam konteks yang > lain, berbangsa dan bernegara. Sehingga kita hanya > mendapatkan satu isme yang sudah kita akui bersama. > Kalau tidak akan bermuncula isme isme yang berbeda > satu dengan yang lain yang hanya akan memperlemah > kita. > > sentabi aku adi lit si la tepat, Maklum masih > Pemula. > bujur, > > > > > edison sembiring <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mejuah-juah, > > Saya kutip dari tulisan Saudara Bode: > "Yang dipersoalkan adalah orang2 yang mengaku > bertuhan/taat beragama bahkan memiliki pendidikan > tinggi, tetapi toh tidak ada bedanya/bahkan mungkin > lebih buruk dari mereka yang tidak mengenal Tuhan" > > Begitulah realita kehidupan berbangsa kita > sekarang,kebanyakan yang lebih pintar > (berpendidikan) > malah melakukan pembodohan terhadap masyarakat yang > tidak berpendidikan, korupsi dan lain sebagainya, > Yang > kelihatan taat bergama tapi terkadang tak bermoral > dan > tak punya rasa malu (tentu saja tidak semuanya),jika > kita lihat presentase yang membuat negara ini hancur > yang berpendidikan dan yang taat beragama tadi. > > Bagaimana dengan kita Orang Karo????.... > > Happy weekend, > > /Edison Sembiring > Angola-Africa > --- haryanto bode <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > MJJ, > > Saya setuju dengan istilah bertransformasi. Tidak > > ada formula khusus yang dapat dilakukan untuk > > melakukan transformasi selain PATUH TERHADAP APA > > YANG TELAH DIKOMITMENKAN BERSAMA OLEH BANGSA DAN > > NEGARA INI. > > > > Komitmen itu seperti patuh kepada Undang-Undang, > > Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. > > Kembali kepada Pancasila yang memiliki nilai > > kearifan luhur bangsa kita yang sopan dan santun > dan > > sifat saling menolong dan bekerja sama. > > > > Kakek saya alm pernah cerita kepada saya dahulu > > ketika dia muda, bukan agama yang dipermaslahkan > > tetapi, kamu apa, Marhaen, PNI, NU dll. Belakangan > > ini malah agama yang dijadikan isu politik, dan > itu > > benar adanya membuat negara kita ini lemah. > > > > Disini jika saya berdiskusi dengan kawan2 Muslim, > > saya selalu katakan, kita jangan terlalu > > membawa-bawa urusan agama dalam berbangsa dan > > bernegara ini, malu kita nanti dengan negara > seperti > > taiwan ini yang 80% tidak percaya kepada Tuhan > yang > > maha esa, tapi mereka semua patuh dan taat pada > UU, > > hukum berjalan dan suka bekerja keras. Dimana-mana > > tempat semua bersih, semua sampah dibuang pada > > tempatnya, plastik ke tempat plastik, makanan ke > > tempat makanan, dst. Teknologi terbaik dunia > > berkembang dengan pesat disini. > > > > Walaupun memang banyak mereka juga berani > > mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri, ya > > itu juga resiko tidak memiliki keyakinan. Dan > > tentunya keyakinan (IMAN) itu adalah sangat > penting. > > > > Saya malah berpikir Indonesia yang mengaku negara > > percaya kepada Tuhan kok malah cendrung tidak > > memiliki hati nurani lagi. Contoh saja kasus IPDN, > > contonya Mr Inu Kencana itu, kalau saya bilang dia > > tidak memiliki nurani lagi belakangan ini, dia itu > > malah jadi aji mumpung, dia baik dalam membuka > > permasalahan, tetapi selanjutnya dia telah > > terkontaminasi oleh kenikamtan popularitas dengan > > menyudutkan banyak orang, apa itu baik? > > > > Contoh kasus DPR RI dan SBY sekarang masalah > > Interplasi Iran itu, menurut saya itu SBY bingung, > > Kalau didatangi salah kalau tidak didatangi salah. > > Yang mau di jumpai juga setan semua, cobalah habis > > interpelasi iran, kecewa nyambung lagi ke Lapindo? > > kemapa ndak dari dulu? apa ndak setan yang kurang > > kerjaan itu namanya. Sementara negara memerlukan > > energi untuk memikirkan hal-hal yang lain. Dan > > banyak contoh2 lain yang menunjukkan yang mengurus > > bangsa ini tidak memiliki kearifan dan > kebijaksanaan > > lagi. > > > > Untuk saudara Zunaidy Hary, dalam sebuah buku yang > > ditulis oelh seorang bernama Paulus mengatakan, > > bahwa selama nafas masih melekat pada daging > > (manusia hidup) keinginan berbuat dosa (contohnya > > munafik) itu selalu ada. Tidak terlepas dia > pendeta, > > Kiai, pejabat pemerintah, siapa saja, termasuk > saya > > dan anda. > > > > Yang dipersoalkan adalah orang2 yang mengaku > > bertuhan/taat beragama bahkan memiliki pendidikan > > tinggi, tetapi toh tidak ada bedanya/bahkan > mungkin > > lebih buruk dari mereka yang tidak mengenal Tuhan. > > Dan itu terjadi di kampung kita Indonesia. > > > > Itulah mengapa saya katakan negara yang MUNAK, dan > > resikonya adalah kita tidak diberkati/dirahmati > > contohnya, bencana dimana2, penyakit, kalau hujan > > kebanjiran, kalau panas kekeringan, seperti tidak > > memiliki planing atau istilah saya spt orang > bodoh. > > > > Selamat akhir pekan, > > Bode H. Tarigan, TW > > > > > > > > NUAH TARIGAN <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mejuah juah juga, > > > > Yang penting apakah bangsa ini sudah > > bertransformasi dan bukan saja berreformasi, > > transformasi adalah suatu keadaan dimana kita > semua > > saling membebaskan, dalam artian kita berubah dari > > suatu keadaan dimana kita saling menghormati > antara > > satu dengan yang lain, dari situasi seperti ulat > > kemudian kepompong dan akhirnya menjadi kupu kupu. > > Dan yang akhirnya memberikan warna dalam TAMAN > > INDONESIA yang penuh dengan aneka ragam ini. > Melting > > Pot yang begitu ragam dan bukan menjadi UNIFORM > yang > > pada akhirnya tidak membawa pembebasan dalam jiwa > > dan nurani. Karena memang kita pada hakikatnya > > diciptakan dengan kebebasan untuk menghirup udara > > dunia ini, tidak ada satupun yang dapat > menyetopnya > > selain Tuhan Allah. > > Akan tetapi hal inikan belum terjadi secara > > menyuluruh dikita sehingga tidak terjadi suatu > > transformasi yang meyeluruh dan holistik. Mari > kita > > wujudkan ini dalam hidup yang penuh warna ini, > > jangan sekali kali terjebak dengan TP atau tebar > > pesona yang penting bagaimana kita melakukan yang > > dikehendaki oleh Tuhan Allah, bukan saja di hari > > Minggu atau Jumat, akan tetapi disetiap hari > > kehidupan kita, menjadi orang orang yang > > transformatif di masyarakat yang galau ini. > > Norwegia dan Korsel adalah contoh negara > > transformatif yang patut kita banggakan dan mereka > > memulainya dari sekelompok petani yang takut pada > > Tuhan Allah dan mau bekerja keras guna mewujudkan > > masyarakat yang begitu dibanggakan di dunia ini, > > Amen. > > > > Nuah Tarigan > > > > zunaidi harry <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mejuah-juah. > > > > Yakin kah anda jika manusia yg tinggal di bumi ini > > 100% tanpa dosa dan tidak pernah berbuat salah? > > Tentu tidak > === message truncated === __________________________________________________________ Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC --------------------------------- Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV.
