ikut nimbrung ya,
Sebagai orang karo yang tidak pake marga secara resmi, saya rasa tidak
identik dengan konsisten atau tidak sebagai orang karo. Tetapi tentu ada untung
ruginya.
Kalau mau di cari-cari yang salah, maka mungkin orang tua lah yang salah
mengapa mereka tidak memberikan marga kepada saya/kami. Tetapi apakah yang
memakai marga otomatis beradat dan masih menggunakan kebiasaan karo dalam
kehidupannya sehari-hari? itu belum tentu.
Contohnya saja kelompok Gereja GKII yang memantangkan adat, yang sebagian
besar pemimpinnya adalah orang karo. Apakah mereka lebih karo dari saya secara
adat? Saya rasa belum tentu, mereka malah tidak mau menari karo pada acara adat
karo si mate-mate.
Memang ada juga ngak enaknya kalau tidak memakai marga, contohnya di kantor
saya di USU, ada seorang kolega, yang ndak pake marga, dan saya juga ndak pake
marga. Didalam buku daftar dosen saya ndak pernah menyangka dia orang karo,
tapi mugkin dia juga demikian. Karena dia selama ini sekolah jadi kami jarang
ketemu dan pada suatu seminar, saya membaca artikelnya dengan nama dan ditambah
marga. Saya jadi bertanya-tanya mengapa dia sekarang sudah pake marga? Dalam
benak saya, OHH MUNGKIN SETELAH BERGELAR DOKTOR DIA BARU PEDE MAKE MARGANYA.
Saya tentu sangat menghargai dia walaupun kami sama-sama terlambat mencantumkan
marga. Dia termasuk berani karena ini acara dinas/resmi, kalau acara adat tadi,
saya otomatis menggunakan marga.
Waktu jaman BOM Bali, jika mengurus visa ke australia, jika pake marga
katanya lebih dipermudah ketimbang yang ndak pake. Apakah ini benar atau tidak
saya juga kurang jelas.
Demikian juga sebuah acara seminar di UNDIP Semarang beberapa tahun lalu,
dalam makalah kami saya iseng-iseng menggunakan marga saya, Bode H Tarigan,
karena nama pembimbing saya jadi mirif yaitu Tatang H Soerawidjaja. Itulah
jalanya saya dicari-cari oleh seorang dosen UNDIP bernama Dr. Bakti Jos. Dia
juga tidak pake marga dan rupanya dia orang karo bernarga Ginting, akhirnya
kami boleh berkenalan hingga saat ini. Inilah untungnya mengguakan marga.
Ruginya lagi, kalau saya menulis buku/diktat, pengarang Bode Haryanto, 2005,
lalu orang mereferensi buku saya, mereka akan menulis Haryanto, 2005, jadi yang
top dan terkenal orang jawa bukan orang karo, ini rugi secara kesukuan. Istri
saya juga waktu ingin membuat surat undangan mengatakan Buatlah marganya nanti
di kira saya menikah dengan orang Jawa. Hehehe.
Saya rasa mengunakan marga itu baik, tetapi jika tidak juga tidak terlalu
dirisaukan. Namun ada untung ruginya.
Salam
Bode H. Tarigan,Tw
Anthony Malem Ukur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
mejuah juah;
wah ini asik membahas nya.
menurut aku harus di mulai dari:
" pentingkah bahasa karo ( mengerti dan memahami serta
mengucapkannya ) bagi masyarakat karo (" manusia "
yang lahir dari rahim atau " sperma ")"
seperti contoh : - bagaimana seorang karo bisa
memahami dan memanggil " bengkila " nya dengan santun
dah hormat bila dia tidak tahu bahasa karo.
kerena di kamus bahasa indonesia tidak terdapat kata "
bengkila " .
Kata bengkila hanya ada satu satu nya di dunia dalam
kamus bahasa karo.
Alahasil..kerena gak memahami arti kata bengkila itu
ya bisa saja sekenanya akhirnya memanggil bengkila itu
terpelesetkan ke kata " bengkala " <<<<wah bisa ryuam
kan ...
bujur
nayan-batam
--- jrmtony <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mejuah-juah.
> Dalam arena "brain storming" seperti ini semua
> pendapat sah-sah
> saja.
> Kalau saya berpendapat bahwa penggunaan marga tsb
> tidak melulu hanya
> masalah kebanggaan tapi juga merupakan
> identitas.Tapi kembali bahwa
> semua merupakan hak azasi perorangan.
> Ada statement anda yang bertolak belakang; pertama,
> anda mengatakan
> bahwa pemakaian marga tsb tidak penting (anda
> mengatakan tidak
> vital). Kedua, anda mengatakan harus menunjukkan
> diri sebagai orang
> Karo. Pertanyaan saya: bagaimana orang tsb
> menunjukkan diri sebagai
> orang Karo, atau bagaimana kadar hubungan emosional
> dengan
> kelompoknya sementara identitas secara lahiriah
> sudah tidak
> digunakan.???
> Kalau sahabat kita etnis dari Indonesia Timur
> menyatakan marga itu
> adalah "fam". Kadang-kadang terjadi friksi kecil
> manakala ada pemuda
> dari sana ingin mempersunting putri dari daerah
> kita. Kita ingin
> memberi dia marga sementara dia merasa sudah punya
> marga dan
> adakalanya dia tidak mau kalau marga ("fam")nya tsb
> dimodifikasi,
> alasannya bahwa itu adalah identitas darah dalam
> tubuhnya turun
> temurun dari nenek moyangnya.
> Saya menterjemahkan/mengartikan ini bahwa marga
> (fam) tsb sangat
> penting bagi mereka.
>
> Maaf jika saya berpendapat lain.
>
> Salam
>
>
>
> In [email protected], Steven Tarigan
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > SENTABI MAN KAM KERINA SI NGOGE TULISEN KU ENDA
> ADI KATA SILEPAK
> >
> > Menurut saya pribadi pemakaian marga atau beru
> tidaklah menjadi
> masalah yang amat vital, karena yang teramat penting
> adalah
> bagaimana kecintaan serta rasa memiliki dan tanggung
> jawab terhadap
> etnis KARO itu sendiri,..banggakah kita menyandang
> marga atau beru
> sebagai orang KARO jika kita sendiri terkesan tidak
> acuh terhadap
> KARO itu sendiri.
> >
> > Masalahnya sekarang bagaimana caranya agar orang
> KARO itu sendiri
> dapat bersama-sama menyumbangkan pemikiran, tenaga
> maupun materi
> demi kelestarian KARO. Banggalah jadi orang KARO
> dan tunjukkanlah
> jika KITA ORANG KARO...
> >
> >
> >
> > Steven Tarigan Gersang
> >
> >
> > Best Regards, Mejuah-juah !
> >
> >
> >
> > Amor Steven
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
> > Play Monopoly Here and Now (it's updated for
> today's economy) at
> Yahoo! Games.
> >
>
>
>
__________________________________________________________
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for
today's economy) at Yahoo! Games.
http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo!
FareChase.