Menarik untuk diskusi, dalam artian berdiskusi/berkomunikasi yang sehat sesuai apa yang tertera dalam describsi InfoKaro ini. Pendapat tentu bermacam-macam karena hal tsb adalah pemikiran masing- masing dan dalam hal ini tidak ada yang harus dipersalahkan. Menurut hemat saya memakai marga tsb sebagai identitas tidak ada kaitannya dengan PEDE sehingga harus menyandang gelar DR dulu baru pakai marga.Kalau begitu berapa persen nantinya yang pakai marga. Demikian juga tidak berarti bahwa kalau dia pakai marga identik dengan pintar menari sehingga otomatis langsung berbudaya. Kalaupun ada kelompok yang menganut "kepercayaan lain" dan mereka tidak mengambil bagian untuk acara yang berkaitan dengan adat, itu juga adalah hak dan keyakinannya, tentunya masing-masing punya argumentasi yang disini tidak etis untuk dipertentangkan. Kembali ke topik. Mengenai kemudahan utk yang memakai marga dalam perjalanan keluar, saya tidak melihat sesuatu yang istimewa, baik ke Australia, ke Eropa maupun ke Amerika.Hal tsb karena pihak imigrasinya juga tidak dapat membedakan apakah yang tertera pada kolom last name itu marga atau nama. Jadi kalau nama di pasport tertulis: Heri Barus dan yang satu orang lagi bernama: Heri Kurnia bisa saja mereka menganggap Kurnia itu juga marga. Menurut pengalaman saya yang ditanya bukan marga tapi terutama tujuan apa kesana, siapa yang mengirim, tinggal dimana, berapa lama, dan kalau ke AS juga kadang ditanya brp uang yang dibawa.
Demikian sekedar tukar pendapat. Tks & salam mejuah-juah sentabi adi kurang cocok bas kam. -- In [email protected], haryanto bode <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ikut nimbrung ya, > > Sebagai orang karo yang tidak pake marga secara resmi, saya rasa tidak identik dengan konsisten atau tidak sebagai orang karo. Tetapi tentu ada untung ruginya. > > Kalau mau di cari-cari yang salah, maka mungkin orang tua lah yang salah mengapa mereka tidak memberikan marga kepada saya/kami. Tetapi apakah yang memakai marga otomatis beradat dan masih menggunakan kebiasaan karo dalam kehidupannya sehari-hari? itu belum tentu. > > Contohnya saja kelompok Gereja GKII yang memantangkan adat, yang sebagian besar pemimpinnya adalah orang karo. Apakah mereka lebih karo dari saya secara adat? Saya rasa belum tentu, mereka malah tidak mau menari karo pada acara adat karo si mate-mate. > > Memang ada juga ngak enaknya kalau tidak memakai marga, contohnya di kantor saya di USU, ada seorang kolega, yang ndak pake marga, dan saya juga ndak pake marga. Didalam buku daftar dosen saya ndak pernah menyangka dia orang karo, tapi mugkin dia juga demikian. Karena dia selama ini sekolah jadi kami jarang ketemu dan pada suatu seminar, saya membaca artikelnya dengan nama dan ditambah marga. Saya jadi bertanya-tanya mengapa dia sekarang sudah pake marga? Dalam benak saya, OHH MUNGKIN SETELAH BERGELAR DOKTOR DIA BARU PEDE MAKE MARGANYA. Saya tentu sangat menghargai dia walaupun kami sama- sama terlambat mencantumkan marga. Dia termasuk berani karena ini acara dinas/resmi, kalau acara adat tadi, saya otomatis menggunakan marga. > > Waktu jaman BOM Bali, jika mengurus visa ke australia, jika pake marga katanya lebih dipermudah ketimbang yang ndak pake. Apakah ini benar atau tidak saya juga kurang jelas. > > Demikian juga sebuah acara seminar di UNDIP Semarang beberapa tahun lalu, dalam makalah kami saya iseng-iseng menggunakan marga saya, Bode H Tarigan, karena nama pembimbing saya jadi mirif yaitu Tatang H Soerawidjaja. Itulah jalanya saya dicari-cari oleh seorang dosen UNDIP bernama Dr. Bakti Jos. Dia juga tidak pake marga dan rupanya dia orang karo bernarga Ginting, akhirnya kami boleh berkenalan hingga saat ini. Inilah untungnya mengguakan marga. > > Ruginya lagi, kalau saya menulis buku/diktat, pengarang Bode Haryanto, 2005, lalu orang mereferensi buku saya, mereka akan menulis Haryanto, 2005, jadi yang top dan terkenal orang jawa bukan orang karo, ini rugi secara kesukuan. Istri saya juga waktu ingin membuat surat undangan mengatakan Buatlah marganya nanti di kira saya menikah dengan orang Jawa. Hehehe. > > Saya rasa mengunakan marga itu baik, tetapi jika tidak juga tidak terlalu dirisaukan. Namun ada untung ruginya. > > Salam > Bode H. Tarigan,Tw > > > > > Anthony Malem Ukur <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > mejuah juah; > > wah ini asik membahas nya. > > menurut aku harus di mulai dari: > " pentingkah bahasa karo ( mengerti dan memahami serta > mengucapkannya ) bagi masyarakat karo (" manusia " > yang lahir dari rahim atau " sperma ")" > > seperti contoh : - bagaimana seorang karo bisa > memahami dan memanggil " bengkila " nya dengan santun > dah hormat bila dia tidak tahu bahasa karo. > kerena di kamus bahasa indonesia tidak terdapat kata " > bengkila " . > Kata bengkila hanya ada satu satu nya di dunia dalam > kamus bahasa karo. > Alahasil..kerena gak memahami arti kata bengkila itu > ya bisa saja sekenanya akhirnya memanggil bengkila itu > terpelesetkan ke kata " bengkala " <<<<wah bisa ryuam > kan ... > > bujur > > nayan-batam > > --- jrmtony <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Mejuah-juah. > > Dalam arena "brain storming" seperti ini semua > > pendapat sah-sah > > saja. > > Kalau saya berpendapat bahwa penggunaan marga tsb > > tidak melulu hanya > > masalah kebanggaan tapi juga merupakan > > identitas.Tapi kembali bahwa > > semua merupakan hak azasi perorangan. > > Ada statement anda yang bertolak belakang; pertama, > > anda mengatakan > > bahwa pemakaian marga tsb tidak penting (anda > > mengatakan tidak > > vital). Kedua, anda mengatakan harus menunjukkan > > diri sebagai orang > > Karo. Pertanyaan saya: bagaimana orang tsb > > menunjukkan diri sebagai > > orang Karo, atau bagaimana kadar hubungan emosional > > dengan > > kelompoknya sementara identitas secara lahiriah > > sudah tidak > > digunakan.??? > > Kalau sahabat kita etnis dari Indonesia Timur > > menyatakan marga itu > > adalah "fam". Kadang-kadang terjadi friksi kecil > > manakala ada pemuda > > dari sana ingin mempersunting putri dari daerah > > kita. Kita ingin > > memberi dia marga sementara dia merasa sudah punya > > marga dan > > adakalanya dia tidak mau kalau marga ("fam")nya tsb > > dimodifikasi, > > alasannya bahwa itu adalah identitas darah dalam > > tubuhnya turun > > temurun dari nenek moyangnya. > > Saya menterjemahkan/mengartikan ini bahwa marga > > (fam) tsb sangat > > penting bagi mereka. > > > > Maaf jika saya berpendapat lain. > > > > Salam > > > > > > > > In [email protected], Steven Tarigan > > <amor.steven@> wrote: > > > > > > SENTABI MAN KAM KERINA SI NGOGE TULISEN KU ENDA > > ADI KATA SILEPAK > > > > > > Menurut saya pribadi pemakaian marga atau beru > > tidaklah menjadi > > masalah yang amat vital, karena yang teramat penting > > adalah > > bagaimana kecintaan serta rasa memiliki dan tanggung > > jawab terhadap > > etnis KARO itu sendiri,..banggakah kita menyandang > > marga atau beru > > sebagai orang KARO jika kita sendiri terkesan tidak > > acuh terhadap > > KARO itu sendiri. > > > > > > Masalahnya sekarang bagaimana caranya agar orang > > KARO itu sendiri > > dapat bersama-sama menyumbangkan pemikiran, tenaga > > maupun materi > > demi kelestarian KARO. Banggalah jadi orang KARO > > dan tunjukkanlah > > jika KITA ORANG KARO... > > > > > > > > > > > > Steven Tarigan Gersang > > > > > > > > > Best Regards, Mejuah-juah ! > > > > > > > > > > > > Amor Steven > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! > > > Play Monopoly Here and Now (it's updated for > > today's economy) at > > Yahoo! Games. > > > > > > > > > > > __________________________________________________________ > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games. > http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow > > > > > > --------------------------------- > Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase. >
