Sedikit bahan pemikiran,

Di era demokrasi ini (yang penting mayoritas, tak perlu benar/salah), semua 
memang serba rancu. Banyak pendapat, banyak acuan/pertimbangan dan lain 
sebagainya sehingga kadang kita generasi muda ini sudah tidak mempedulikan 
(atau bahkan tidak tahu sama sekali) makna sesungguhnya dari sebuah 'karya' 
masa-lalu yang telah turun-menurun (adat) Suku Karo dan Asesori-nya, lebih 
spesifik marga.


Banyak pendapat, Satu contoh "tidak penting pencantuman marga, yang penting 
kepedulian terhadap karo itu sendiri". Ada lagi, "Supaya lebih (terlihat) 
nasionalist maka marganya tidak diakui". Bahkan banyak generasi muda yang 
merasa tidak perlu belajar Karo (bahasa, ada-istiadat,dlsb..) yang penting 
sukses dan peduli karo, itu lebih smart daripada tahu misalnya bahasa karo tapi 
bodoh atau tidak ada kepedulian, dst..

1001 alasan dan semua diterima logika akal sehat. Kadang sipembaca/pendengar 
masukan2 tadi, mempunyai pemikiran sendiri dan dikembangkan sendiri, dan 
seterusnya. 

Kalau menurut saya, hal-hal seperti ini tidak akan melestarikan budaya karo, 
tapi akan terjadi 'amandement karo', dan kelak bukan tidak mungkin bahasa karo 
itu hilang, marga karo pun akan sekedar basa-basi.

Memang sulit, era teknologi canggih dan globalisasi spt sekarang ini memaksa 
orang berpikir praktis, cepat dan tepat. Banyak kendala untuk hal-hal yang kita 
bahas sekarang ini. Bahkan ada yang tidak peduli belajar bahasa karo, katanya 
apa untung nya belajar bhs karo, mending bahasa inggris bisa dibawa ke 
pergaulan dunia. Bhs Karo tidak ada untungnya.. hmm... masuk akal juga sih 
(buat dia)  :D

Tapi hal-hal spt inilah, dari hal yang kecil.. lama2 memang akan muncul sikap 
tak peduli.



Jadi, menurut saya alangkah baiknya ditumbuhkan sikap mau dan peduli penuh, 
jangan setengah-setengah. DAri hal yang kecil.. mudah2an bisa utuh kepedulian 
dan kecintaan kita terhadap karo.

Mulailah dari hal terkecil, misalnya saja pakailah marga. Lihat dari sudut 
positif, marga itu kan bisa sebagai identitas. Ketahuilah Bhs Karo, supaya 
tidak asal2 saja.. supaya tidak terjadi spt contoh tadi, panggil "Bengkila" 
jadi "Bengkala".

Jangan berharap terlalu tinggi, selama kita mengabaikan hal-hal yang kecil. 
Tapi peduli lah terhadap hal yang kecil, mudah2an kita setia sampai perkara 
yang lebih besar.

Sekian, Bujur ras mejuah-juah,
P. Tarigan

Anthony Malem Ukur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
mejuah juah;
 
 wah ini asik membahas nya.
 
 menurut aku harus di mulai dari:
 " pentingkah bahasa karo ( mengerti dan memahami serta
 mengucapkannya ) bagi masyarakat karo (" manusia "
 yang lahir dari rahim atau " sperma ")"
 
 seperti contoh : - bagaimana seorang karo bisa
 memahami dan memanggil " bengkila " nya dengan santun
 dah hormat bila dia tidak tahu bahasa karo.
 kerena di kamus bahasa indonesia tidak terdapat kata "
 bengkila " .
 Kata bengkila hanya ada satu satu nya di dunia dalam
 kamus bahasa karo.
 Alahasil..kerena gak memahami arti kata bengkila itu
 ya bisa saja sekenanya akhirnya memanggil bengkila itu
 terpelesetkan ke kata " bengkala " <<<<wah bisa ryuam
 kan ...
 
 bujur 
 
 nayan-batam
 
 --- jrmtony <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
 > Mejuah-juah.
 > Dalam arena "brain storming"  seperti ini semua
 > pendapat sah-sah 
 > saja.
 > Kalau saya berpendapat bahwa penggunaan marga tsb
 > tidak melulu hanya 
 > masalah kebanggaan tapi juga merupakan
 > identitas.Tapi kembali bahwa 
 > semua merupakan hak azasi perorangan.
 > Ada statement anda yang bertolak belakang; pertama,
 > anda mengatakan 
 > bahwa pemakaian marga tsb tidak penting (anda
 > mengatakan tidak 
 > vital). Kedua, anda mengatakan harus menunjukkan
 > diri sebagai orang 
 > Karo. Pertanyaan saya: bagaimana orang tsb
 > menunjukkan diri  sebagai 
 > orang Karo, atau bagaimana kadar hubungan emosional
 > dengan 
 > kelompoknya  sementara identitas secara lahiriah
 > sudah tidak 
 > digunakan.???
 > Kalau sahabat kita etnis dari Indonesia Timur
 > menyatakan marga itu 
 > adalah "fam". Kadang-kadang terjadi friksi kecil
 > manakala ada pemuda 
 > dari sana ingin mempersunting putri dari daerah
 > kita. Kita ingin 
 > memberi dia marga sementara dia merasa sudah punya
 > marga dan 
 > adakalanya dia tidak mau kalau marga ("fam")nya tsb
 > dimodifikasi, 
 > alasannya bahwa itu adalah identitas darah dalam
 > tubuhnya turun 
 > temurun dari nenek moyangnya.
 > Saya menterjemahkan/mengartikan ini bahwa marga
 > (fam) tsb sangat 
 > penting bagi mereka.  
 > 
 > Maaf jika saya berpendapat lain.
 > 
 > Salam
 > 
 > 
 > 
 >  In [email protected], Steven Tarigan
 > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 > >
 > > SENTABI MAN KAM KERINA SI NGOGE TULISEN KU ENDA
 > ADI KATA SILEPAK
 > > 
 > > Menurut saya pribadi pemakaian marga atau beru
 > tidaklah menjadi 
 > masalah yang amat vital, karena yang teramat penting
 > adalah 
 > bagaimana kecintaan serta rasa memiliki dan tanggung
 > jawab terhadap 
 > etnis KARO itu sendiri,..banggakah kita menyandang
 > marga atau beru 
 > sebagai orang KARO jika kita sendiri terkesan tidak
 > acuh terhadap 
 > KARO itu sendiri.
 > > 
 > > Masalahnya sekarang bagaimana caranya agar orang
 > KARO itu sendiri 
 > dapat bersama-sama menyumbangkan pemikiran, tenaga
 > maupun materi 
 > demi kelestarian KARO. Banggalah jadi orang KARO 
 > dan tunjukkanlah 
 > jika  KITA  ORANG  KARO... 
 > > 
 > > 
 > > 
 > > Steven Tarigan Gersang
 > > 
 > > 
 > > Best Regards, Mejuah-juah !
 > > 
 > > 
 > > 
 > > Amor Steven
 > > 
 > >        
 > > ---------------------------------
 > > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
 > > Play Monopoly Here and Now (it's updated for
 > today's economy) at 
 > Yahoo! Games.
 > >
 > 
 > 
 > 
 
 __________________________________________________________
 Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for 
today's economy) at Yahoo! Games.
 http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow  
 
     
                       

       
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image.  Join our Network Research Panel today!

Kirim email ke