MJJ
Yang penyelesaiannya mulus memang banyak dan tentu tidak jadi 
masalah ,yang tidak muluspun ada dan inilah problemanya, tapi kita 
tentu tidak melihat dari segi kuantitas, tidak bisa karena banyak 
yang mulus maka semuanya harus menurut.Mengenai pendekatan??kadang-
kadang gampang utk direncanakan tapi sulit realisasinya, rekan 
Haryanto Bode sudah menunjukkan contohnya orang Jawa ke orang Padang 
tsb.
Contoh riil yang lain juga ada tapi tidak etis untuk disebut namanya.
Di daerah Indonesia Timur ada beberapa marga (fam) yang menurut 
mereka adalah keturunan terkemuka(bangsawan), pada saat mereka tau 
mau diberi marga lain ,kakek, orang tua ybs tidak bersedia dengan 
alasan bahwa fam tsb bukan untuk diganti atau dirubah walaupun hanya 
sebentar (mungkin ada suatu latar belakang kenapa tidak bisa diberi 
marga lain). Ada yang bercerita bahwa "tempo doeloe" hanya orang yang
ditawanlah boleh diganti fam(marga)nya oleh sipenawan, begitu tinggi 
nilai marga tsb sehingga taruhannya darah.
Jadi mereka menganggap bahwa marga aslinyalah sebagai identitasnya 
yang harus dijunjung tinggi dimanapun mereka berada.
Orang kita juga sebaiknya demikian bahwa marga adalah identitas yang 
selalu melekat kemanapun kita, maka sebaiknya marga tsb jangan 
dihilangkan.
Sekedar masukan, tks. Salam





 In [email protected], haryanto bode <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> MJJ, NAKE, SITUHUNA ADI BANCI NYURATKEN IBAS BAHASA KARO EM 
SIMEJILENA, TAPI BANCI KANG SISURATKEN EE LA ERTURITURIN, JADI 
SENTABI MAN BANDU SI NGO LANCAR/ NGO BIASA, AKU KUSISIP SISIP GIA 
>    
>   Saya  jadi teringat, diskusi dengan teman saya disini seorang 
dosen Ekonomi UGM yang adalah seorang Jawa menikahi seorang gadis 
Padang. Dalam sebuah diskusi kami akhirnya masuk ke masalah ke 
sukuan khususnya perkawinan.
>    
>   Saya bilang, orang karo BIASANYA/ ADATNYA, kalau diambil atau 
mengambil suku lain di berikan marga yang sepadan untuk yang 
diambilnya, dan itu dilakukan dalam suatu pesta adat. Jika tidak 
bagai mana, tanya istri teman saya? Yah secara adat dia tidak 
memiliki tempat duduk di acara adat, jadi teman meriahlah/kawanlah, 
makan di tempat makan tamu umum bukan di tempat duduk adat. (ini 
adalah sepengetahuan saya, kalau salah coba diperbaiki).
>    
>   Lalu si istri teman saya menjawab, Iya ini si abang juga 
harusnya di beri gelar kehormatan dulu harusnya sebelum menikahi 
saya. Saya kan anak sultan, jadi sebenarnya dia harus di beri gelar 
dulu. Tapi dia ndak mau (suaminya).
>    
>   Saya bertanya, apa gelar yang seharusnya di terima suami anda. 
Dia menjawab SULTAN BAJANGUT. Lalu suaminya menjawab sambil senyum-
senyum, saya ndak mau itu karena diberi gelar SULTAN BAJANGUT, dan 
saya harus memakai JANGUT PALSU waktu di lantik jadi Sultan, padahal 
seluruh keluarga saya jarang yang ada jangutnya. HAHAHAHA
>    
>   Adat itu kan kebiasaan, kebiasaan yang dipelihara menjadi Adat 
istiadat dan adat yang terpelihara itu semakain luas menjadi budaya/ 
adatbudaya. Jadi seharusnya fleksibel. Saya rasa permasalahannya 
adalah masalah pendekatannya saja. 
>    
>   Khusunya menabalkan marga bagi orang lain yang memiliki adat 
yang lain tentunya perlu pendekatan yang bersahaja.
>    
>   Dalam keluarga kami, sudah banyak kami lakukan, orang jawa, 
manado, padang, aceh, NTT, kami tabalkan marga mereka sebelum 
mengambil saudara kami mereka ok-ok saja. Malah mereka banga sekali. 
Belum ada yang bermasalah, mungkin pendekatannya yang perlu 
diperbaiki.
>    
>   Jangan korbankan cinta demi adat, saya selalu katakan kepada 
orang yang sedang berpacaran, apakah kamu mencintai pasangan mu? 
Biasanya mereka menjawab Ya Saya mencintainya. Lalu saya katakan, 
Kamu luarbiasa, karena saat ini sulit mencari orang yang benar-benar 
mencintai pasangannya. (tapi kalau beda agama ini saya sarankan 
jangan dilanjutkan)
>    
>   Kalau anda yakin Jodoh di tangan Tuhan, ya menikahlah secara 
agama, adat bukan menjadi halangan, jika anda  nantinya sadar bahwa 
adat itu perlu lakukan pendekatan ke arah sana. Namun sebagai orang 
karo, kalau dapat dinikahkan dan segera di adati kan lebih baik.
>    
>    
>    
>   jrmtony <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Pernyataan anda yang mengatakan :kalau sepakat why not??
> Kalau sepakat yah oke. Tapi kalau anda jeli justru yang diangkat 
> disini adalah "jika tidak ada persesuaian" apa solusinya. Apakah 
> cukup hanya dengan pernyataan: "bukan jodohnya".
> Kalau sepakat tidak perlu kita diskusikan disini.
> Sama halnya kalau kita mau membaur dengan etnis yang di Lembah 
> Baliem sana dan kita sepakat menggunakan pakaian seperti 
mereka "why 
> not?". Bagi mereka tentu ini juga adalah penghargaan.
> Yang harus kita sepakati bahwa arena diskusi ini adalah 
mengemukakan 
> pendapat yang jelas berbeda-beda, bukan mengamandement apa yang 
ada, 
> tidak memaksakan kehendak. Ini sifatnya hanya masukan, kesimpulan 
> ada pada musyawarah tokoh adat.
> Setahu saya yang namanya diskusi ada ketentuan sbb:
> 1.Mengemukakan pendapat apa yang dipikirkan, apa yang dilihat tidak
> mengada-ada dan tidak mendramatisir.
> 2.Tidak lari dari topik semula.
> 3.Menghargai setiap pendapat (tidak berarti harus menuruti)
> 4.Menggunakan bahasa yang wajar.
> 5. dsb, dsb, (ada buku teori berdiskusi). 
> 
> sekian tks
> 
> -- In [email protected], "Waktu Budiman Sitepu" 
> <buddy_wondergel@> wrote:
> >
> > Saya Kutip dari beberapa Penyataan Saudara Jeremy Tony.
> > 
> > "Kita orang Karo tentu bangga dengan adat/kultur kita tapi 
> > etnis lain juga sama halnya, kalau semua menganggap dia lebih 
> super 
> > maka tidak ada titik temunya."
> > 
> > ****
> > **** 
> > Akan Lebih Bangga sebagai orang kalo kalo kita menggunakan 
Bahasa 
> Karo
> > Sebagai Pengantar disini. Nga ada alasan untuk mengatakan tidak 
> bisa
> > bahasa karo atau sebagainya, 
> > kembali ke orang tua masing2 yg dari kecil tidak mengajarkan 
anak2
> > mereka bahasa karo adalah suatu kesalahan besar menurut saya. At 
> least
> > mereka tau bahasa karo, walau dalam dunia pergaulan pada umumnya
> > menggunakan bahasa indonesia atau bahasa Inggris sebagai 
> pengantar. 
> > 
> > **** Pemberian Marga ke suku etnis lain yg bukan karo aku pikir 
> bukan
> > suatu pemaksaan lho. tapi aku pikir itu adalah suatu penghargaan 
yg
> > orang karo berikan buat orang tersebut. kadang2 orang yg diberi 
> marga
> > tersebutpun tidak akan memakai sebagai penggantian marga sebagai
> > penggantian suku.
> > 
> > Pernyataan Saudari Rere:
> > > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi 
marga?
> > > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu 
sikap 
> > > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam 
> kotak-
> > > kotak suku.
> > 
> > Masalah harus enggaknya sih tergantung kesepakatan ya. klo emank 
> dari
> > kedua pihak ok dengan pemberian marga tersebut ya why not??? toh 
> itu
> > merupakan sebuah kemauan dari mereka sendiri. 
> > Lagi Pula atas Dasar apa Anda mengatakan bahwa itu adalah sebuah
> > pemaksaan terselubung? kalo dalam pikiranku, pemaksaan 
tersebulung
> > tersebut dapat dikatakan JIKA...stlh pemberian marga tersebut 
orang
> > tersebut dipaksa untuk mengikuti adat2 orang karo. Adat orang 
karo 
> ga
> > semua lho orang bisa trima karena banyak yg menurut aku sendiri
> > sebagai orang karo bertentangan dengan nilai2 agama (tergantung 
dr
> > sudut pandang masing2 agama)
> > pada dasarnya semua orang didunia ini sudah dikotak2kan dalam 
suka
> > masing2 dan itu ga bisa dipungkiri. Walau kita bilang enggak....
> > 
> > > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia 
> dipaksa 
> > > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara 
untuk 
> itu 
> > > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah 
> > > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya.
> > 
> > TIDAK DIPAKSA.
> > Kebetulan aja anda tinggal dilingkungan yang memang ngak ada 
contoh
> > bahwa orang tua angkat yg anda maksud seperti yg anda mau.
> > Sikap Peduli anda dalam konteks yg mana dulu?
> > Klo misalnya nih: anggap aja dari 10 orang tua angkat dlm budaya
> > karo..anggap aja yg 9 ga baik or ga care ama anak angkatnya. 
> Menurut
> > aku nga bisa diambil averagenya bahwa semua orang tua angkat ga 
> peduli
> > ama anak angkatnya. paling enggak masih ada satu yg masih 
perduli.
> > 
> > sorry ya, penjelasannya ga lengkap banget. nga bisa fokus. ntar 
aku
> > bakalan kirimin penjelasan yg lebih rinci mengenai masalah ini. 
> > 
> > NOTE:
> > Paling Enggak Sebagai orang2 yg mau melestarikan budaya karo,
> > mendingan kita liat dari sisi positifnya aja deh. Bukan Menjudge 
> lho...
> > 
> > Bujur.
> > 
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "jrmtony" <jrmtony@> wrote:
> > >
> > > Mejuah-juah turang Santi.
> > > Saya sependapat dengan anda. Bahkan pernah terjadi kegagalan 
> karena 
> > > keharusan tsb, lalu diambil kesimpulan:bukan jodoh.
> > > Kalau kita menganggap berdiri sama tinggi duduk sama rendah 
> dengan 
> > > yang sebangsa dan setanah air maka harusnya dicari solusi yang 
> > > paling pas.
> > > Kondisi kawin silang antar suku ini makin lama makin tidak 
> dapat 
> > > dihindarkan karena semakin lama setiap etnis akan hidup dalam 
> > > lingkungan yang lebih heterogeen.Kalau hanya untuk acara adat 
> > > barangkali ditunjuk saja sementara yang dianggap sebagai 
> > > sembuyaknya yaitu bengkila dari siperempuan tanpa merubah atau 
> > > memberi marga pihak laki-laki sehingga didalam surat 
undanganpun 
> > > tidak usah dimodifikasi nama/marganya. 
> > > Banyak sekali suku lain apalagi memang sudah ada fam atau 
> marganya 
> > > keberatan utk dirubah. Jawaban dari kita simple saja:" La nge 
> atena 
> > > keleng, adina keleng atena nggit ng e ia aturna" inilah 
jawaban 
> yang 
> > > egois tsb.
> > > Demikian sekedar masukan.
> > > MJJ
> > > 
> > > 
> > > 
> > > In [email protected], Reh Atemalem Susanti <rere_aam@> 
> > > wrote:
> > > >
> > > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi 
marga?
> > > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu 
sikap 
> > > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam 
> kotak-
> > > kotak suku.
> > > > 
> > > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia 
> dipaksa 
> > > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara 
untuk 
> itu 
> > > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah 
> > > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya.
> > > > 
> > > > Reh Atemalem
> > > > 
> > > > 
> > > > ---------------------------------
> > > > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
> > > > Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's 
economy) 
> at 
> > > Yahoo! Games.
> > > >
> > >
> >
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Building a website is a piece of cake. 
> Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.
>


Kirim email ke