MJJ, NAKE, SITUHUNA ADI BANCI NYURATKEN IBAS BAHASA KARO EM SIMEJILENA, TAPI 
BANCI KANG SISURATKEN EE LA ERTURITURIN, JADI SENTABI MAN BANDU SI NGO LANCAR/ 
NGO BIASA, AKU KUSISIP SISIP GIA 
   
  Saya  jadi teringat, diskusi dengan teman saya disini seorang dosen Ekonomi 
UGM yang adalah seorang Jawa menikahi seorang gadis Padang. Dalam sebuah 
diskusi kami akhirnya masuk ke masalah ke sukuan khususnya perkawinan.
   
  Saya bilang, orang karo BIASANYA/ ADATNYA, kalau diambil atau mengambil suku 
lain di berikan marga yang sepadan untuk yang diambilnya, dan itu dilakukan 
dalam suatu pesta adat. Jika tidak bagai mana, tanya istri teman saya? Yah 
secara adat dia tidak memiliki tempat duduk di acara adat, jadi teman 
meriahlah/kawanlah, makan di tempat makan tamu umum bukan di tempat duduk adat. 
(ini adalah sepengetahuan saya, kalau salah coba diperbaiki).
   
  Lalu si istri teman saya menjawab, Iya ini si abang juga harusnya di beri 
gelar kehormatan dulu harusnya sebelum menikahi saya. Saya kan anak sultan, 
jadi sebenarnya dia harus di beri gelar dulu. Tapi dia ndak mau (suaminya).
   
  Saya bertanya, apa gelar yang seharusnya di terima suami anda. Dia menjawab 
SULTAN BAJANGUT. Lalu suaminya menjawab sambil senyum-senyum, saya ndak mau itu 
karena diberi gelar SULTAN BAJANGUT, dan saya harus memakai JANGUT PALSU waktu 
di lantik jadi Sultan, padahal seluruh keluarga saya jarang yang ada jangutnya. 
HAHAHAHA
   
  Adat itu kan kebiasaan, kebiasaan yang dipelihara menjadi Adat istiadat dan 
adat yang terpelihara itu semakain luas menjadi budaya/ adatbudaya. Jadi 
seharusnya fleksibel. Saya rasa permasalahannya adalah masalah pendekatannya 
saja. 
   
  Khusunya menabalkan marga bagi orang lain yang memiliki adat yang lain 
tentunya perlu pendekatan yang bersahaja.
   
  Dalam keluarga kami, sudah banyak kami lakukan, orang jawa, manado, padang, 
aceh, NTT, kami tabalkan marga mereka sebelum mengambil saudara kami mereka 
ok-ok saja. Malah mereka banga sekali. Belum ada yang bermasalah, mungkin 
pendekatannya yang perlu diperbaiki.
   
  Jangan korbankan cinta demi adat, saya selalu katakan kepada orang yang 
sedang berpacaran, apakah kamu mencintai pasangan mu? Biasanya mereka menjawab 
Ya Saya mencintainya. Lalu saya katakan, Kamu luarbiasa, karena saat ini sulit 
mencari orang yang benar-benar mencintai pasangannya. (tapi kalau beda agama 
ini saya sarankan jangan dilanjutkan)
   
  Kalau anda yakin Jodoh di tangan Tuhan, ya menikahlah secara agama, adat 
bukan menjadi halangan, jika anda  nantinya sadar bahwa adat itu perlu lakukan 
pendekatan ke arah sana. Namun sebagai orang karo, kalau dapat dinikahkan dan 
segera di adati kan lebih baik.
   
   
   
  jrmtony <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pernyataan anda yang mengatakan :kalau sepakat why not??
Kalau sepakat yah oke. Tapi kalau anda jeli justru yang diangkat 
disini adalah "jika tidak ada persesuaian" apa solusinya. Apakah 
cukup hanya dengan pernyataan: "bukan jodohnya".
Kalau sepakat tidak perlu kita diskusikan disini.
Sama halnya kalau kita mau membaur dengan etnis yang di Lembah 
Baliem sana dan kita sepakat menggunakan pakaian seperti mereka "why 
not?". Bagi mereka tentu ini juga adalah penghargaan.
Yang harus kita sepakati bahwa arena diskusi ini adalah mengemukakan 
pendapat yang jelas berbeda-beda, bukan mengamandement apa yang ada, 
tidak memaksakan kehendak. Ini sifatnya hanya masukan, kesimpulan 
ada pada musyawarah tokoh adat.
Setahu saya yang namanya diskusi ada ketentuan sbb:
1.Mengemukakan pendapat apa yang dipikirkan, apa yang dilihat tidak
mengada-ada dan tidak mendramatisir.
2.Tidak lari dari topik semula.
3.Menghargai setiap pendapat (tidak berarti harus menuruti)
4.Menggunakan bahasa yang wajar.
5. dsb, dsb, (ada buku teori berdiskusi). 

sekian tks

-- In [email protected], "Waktu Budiman Sitepu" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya Kutip dari beberapa Penyataan Saudara Jeremy Tony.
> 
> "Kita orang Karo tentu bangga dengan adat/kultur kita tapi 
> etnis lain juga sama halnya, kalau semua menganggap dia lebih 
super 
> maka tidak ada titik temunya."
> 
> ****
> **** 
> Akan Lebih Bangga sebagai orang kalo kalo kita menggunakan Bahasa 
Karo
> Sebagai Pengantar disini. Nga ada alasan untuk mengatakan tidak 
bisa
> bahasa karo atau sebagainya, 
> kembali ke orang tua masing2 yg dari kecil tidak mengajarkan anak2
> mereka bahasa karo adalah suatu kesalahan besar menurut saya. At 
least
> mereka tau bahasa karo, walau dalam dunia pergaulan pada umumnya
> menggunakan bahasa indonesia atau bahasa Inggris sebagai 
pengantar. 
> 
> **** Pemberian Marga ke suku etnis lain yg bukan karo aku pikir 
bukan
> suatu pemaksaan lho. tapi aku pikir itu adalah suatu penghargaan yg
> orang karo berikan buat orang tersebut. kadang2 orang yg diberi 
marga
> tersebutpun tidak akan memakai sebagai penggantian marga sebagai
> penggantian suku.
> 
> Pernyataan Saudari Rere:
> > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi marga?
> > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu sikap 
> > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam 
kotak-
> > kotak suku.
> 
> Masalah harus enggaknya sih tergantung kesepakatan ya. klo emank 
dari
> kedua pihak ok dengan pemberian marga tersebut ya why not??? toh 
itu
> merupakan sebuah kemauan dari mereka sendiri. 
> Lagi Pula atas Dasar apa Anda mengatakan bahwa itu adalah sebuah
> pemaksaan terselubung? kalo dalam pikiranku, pemaksaan tersebulung
> tersebut dapat dikatakan JIKA...stlh pemberian marga tersebut orang
> tersebut dipaksa untuk mengikuti adat2 orang karo. Adat orang karo 
ga
> semua lho orang bisa trima karena banyak yg menurut aku sendiri
> sebagai orang karo bertentangan dengan nilai2 agama (tergantung dr
> sudut pandang masing2 agama)
> pada dasarnya semua orang didunia ini sudah dikotak2kan dalam suka
> masing2 dan itu ga bisa dipungkiri. Walau kita bilang enggak....
> 
> > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia 
dipaksa 
> > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara untuk 
itu 
> > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah 
> > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya.
> 
> TIDAK DIPAKSA.
> Kebetulan aja anda tinggal dilingkungan yang memang ngak ada contoh
> bahwa orang tua angkat yg anda maksud seperti yg anda mau.
> Sikap Peduli anda dalam konteks yg mana dulu?
> Klo misalnya nih: anggap aja dari 10 orang tua angkat dlm budaya
> karo..anggap aja yg 9 ga baik or ga care ama anak angkatnya. 
Menurut
> aku nga bisa diambil averagenya bahwa semua orang tua angkat ga 
peduli
> ama anak angkatnya. paling enggak masih ada satu yg masih perduli.
> 
> sorry ya, penjelasannya ga lengkap banget. nga bisa fokus. ntar aku
> bakalan kirimin penjelasan yg lebih rinci mengenai masalah ini. 
> 
> NOTE:
> Paling Enggak Sebagai orang2 yg mau melestarikan budaya karo,
> mendingan kita liat dari sisi positifnya aja deh. Bukan Menjudge 
lho...
> 
> Bujur.
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "jrmtony" <jrmtony@> wrote:
> >
> > Mejuah-juah turang Santi.
> > Saya sependapat dengan anda. Bahkan pernah terjadi kegagalan 
karena 
> > keharusan tsb, lalu diambil kesimpulan:bukan jodoh.
> > Kalau kita menganggap berdiri sama tinggi duduk sama rendah 
dengan 
> > yang sebangsa dan setanah air maka harusnya dicari solusi yang 
> > paling pas.
> > Kondisi kawin silang antar suku ini makin lama makin tidak 
dapat 
> > dihindarkan karena semakin lama setiap etnis akan hidup dalam 
> > lingkungan yang lebih heterogeen.Kalau hanya untuk acara adat 
> > barangkali ditunjuk saja sementara yang dianggap sebagai 
> > sembuyaknya yaitu bengkila dari siperempuan tanpa merubah atau 
> > memberi marga pihak laki-laki sehingga didalam surat undanganpun 
> > tidak usah dimodifikasi nama/marganya. 
> > Banyak sekali suku lain apalagi memang sudah ada fam atau 
marganya 
> > keberatan utk dirubah. Jawaban dari kita simple saja:" La nge 
atena 
> > keleng, adina keleng atena nggit ng e ia aturna" inilah jawaban 
yang 
> > egois tsb.
> > Demikian sekedar masukan.
> > MJJ
> > 
> > 
> > 
> > In [email protected], Reh Atemalem Susanti <rere_aam@> 
> > wrote:
> > >
> > > Haruskah suku lain yang akan menikahi orang karo diberi marga?
> > > Pasalnya, aku menganggap itu pemaksaan terselubung. Itu sikap 
> > yang egois. Tidak semua orang percaya dan mau terjebak dalam 
kotak-
> > kotak suku.
> > > 
> > > Kalau dia merasa cukup berbangsa Indonesia, haruskah ia 
dipaksa 
> > untuk bermarga dan diberi "orangtua angkat". Apalagi acara untuk 
itu 
> > cenderung berbelit2. Padahal sampai sekarang aku tidak pernah 
> > melihat ada "orangtua angkat" yang peduli pada anaknya.
> > > 
> > > Reh Atemalem
> > > 
> > > 
> > > ---------------------------------
> > > Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
> > > Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) 
at 
> > Yahoo! Games.
> > >
> >
>



         

       
---------------------------------
Building a website is a piece of cake. 
Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online.

Kirim email ke