Mejuah-juah Rahel dan mejuah-juah permilis kerina, Atas suratndu ini yang terasa sangat emosional, saya mencoba menjawabnya sebagai seorang yang merasa diserang.
Setelah membaca seluruh isi suratndu ini, inti permasalahannya adalah bahwa kam merasa telah dipecat sebagai pekerja Tabloid Sora Sirulo dengan istilah yang kam pakai dicopot. Saya akan membahas hal ini terlebih dahulu sebelum membahas yang lain-lainnya. Kami merasa tidak pernah mencopot kam dari Sora Sirulo karena kami memang tidak melakukannya. Tidak adanya beritandu dimuat karena memang kam tidak pernah mengirim berita lagi sama sekali jauh sebelum bulan April 2009 yang kam katakan. Hal ikhwal namandu tidak lagi tertera sebagai Kepala Biro Medan akan kujelaskan di bawah ini 1. Awalnya kam menyumbang beberapa berita untuk Sora Sirulo. Lalu, aku berpikir, seorang perempuan seperti Rahel ini perlu dimotivasi. Setelah beberapa kali chatting lewat Yahoo Messenger, aku meminta kam menjadi Kepala Biro Medan. Mulanya kam tidak bersedia karena sedang menulis skripsi. Aku katakan, gak apa-apa namandu aja dulu, bila kam sudah selesai dengan kuliah, baru kita harapkan kam aktif mengoperasionalkan biro Medan. Akhirnya, kam selesai kuliah. Setahun kam selesai kuliah tetap kam tidak ada berkata apa-apa. Aku sebenarnya tertap menunggu kam berkata, `enggo tammat ndai aku, abang, uga kin siban biro Medan ndai?´ Sampai sekarang la lit katandu sengkebabah pe. Malahan kam sejak sekitar Pebruari 2009 tidak pernah lagi mengirim bahan berita sekalipun. 2. Suatu kali, ketika saya ke Medan, saya mengajak teman-teman untuk manggang-manggang ikan di rumah agar terjalin kekompakan khususnya sesama anggota biro Medan. Kam kuundang dan kam datang. Sekitar Pkl. 11 malam, setelah makan ikan dan kami minum beberapa gelas tuak, kam tiba-tiba membuka catatan dan pulpen agar kita mengadakan rapat. Kataku, ini program menjalin hubungan pribadi antar pribadi untuk menggalang kekompakan, bukan untuk rapat. Kita bisa buat rapat di lain hari. Dan kam marah-marah. Kami yang minum tuak, tapi mabuknya ada di kam. 3. Beberapa hari sebelum manggang-manggang itu, kam juga kuajak ke rumah untuk berbincang-bincang. Entah atas keperluan apa, aku harus pergi sebentar dan meninggalkan kam di rumah bersama beberapa mahasiswaku. Besoknya, dua mahasiswa melapor padaku bahwa kam menghasut mereka untuk tidak mengerjakan Sora Sirulo. Ia nge kari ngetop je nari, kita si latih, katandu kepada mereka. Seolah-olah kami santai2 saja selama ini. Menanggapi ini, dalam hatiku, ada musuh dalam selimut. Mengapa dia sendiri tidak mengundurkan diri kalo dia berpikiran seperti itu dan malahan menghasut orang lain agar meninggalkan Sora Sirulo? Tapi, seperti biasanya, bukan aku tidak hati-hati, aku tetap berharap bahwa itu hanya dat-dat babahndu saja. Makanya masih kuajak untuk manggang-manggang ikan. Di pkl 11 malam itulah kam mengajak rapat. Padahal, kita masih sama membeli ikannya ke Pasar Sore. Saat itu, kam sama sekali tidak bilang apa-apa kepadaku. Jadi, aku tercenung, mengingat ketika suatu malam aku mengantarkanndu ke rumah dan kam mengajak minum bandrek susu tengku dekat rumahndu. Agak sepi saat itu, kita duduk berdua bercengkerama. Dan kam kelihatannya sangat bahagia saat itu. Tak ada keluar dari mulutndu apa-apa soal Sora Sirulo. Aku merasa sangat berhasil mengadakan pendekatan pribadi terhadap kam. Atau terlalu berhasil, sehingga begini jadinya? 3. Kalau memang sejak April 2009 kam merasa telah dicopot, mengapa kam tidak menanyakan apa-apa sampai sekarang kepadaku? Tanpa tanya apa-apa, tiba-tiba kam membuat surat seperti ini di milis. Ada apa? Apa yang kam harapkan dari sini? Tentunya merusak nama Sora Sirulo, nama Juara Ginting, nama Ita Apulina. Agar ketiga nama ini hancur. Atau memang dengan ini kam merasa nama2 ini akan melambung dan menaikkan oplah Sora Sirulo? 4. Kalau kam hanya mau mengungkapkan kebobrokan pimpinan Sora Sirulo dan melampiaskan sakit hatindu, sampai sekarang belum jelas bagiku kapan hatindu kusakiti. Karena, tidak seperti tuduhanndu, kam sama sekali tidak pernah dipecat dari Sora Sirulo. Kirim min beritandu, dahndu mis siterbitken bagi biasana. Kalau soal namandu tidak lagi tertera sebagai kepala biro Medan, itu soal reorganisasi. Dulunya kam juga mau membantu sora sirulo secara sukarela, kan? Mengapa sekarang seolah-olah ada kepentinganndu yang diinjak-injak oleh pimpinan hanya karena namandu tidak lagi sebagai kepala biro? Apa rupanya yang kam dapatkan dari jabatan sebagai kepala biro? Apa pula sebenarnya yang kam telah lakukan untuk jabatan itu? Pekerjaan kami selama bekerja di Sora Sirulo adalah, a.l. mengedit berita2, membantu designer mengerjakan layout, membawa CD ke percetakan, melipat koran, mengirim koran ke biro2/perwakilan, menagih uang setoran koran, kadang saya sendiri mengantar koran ke loper2 di Medan, mencari iklan, dan masih banyak lagi. Mana yang pernah kam kerjakan selain membuat berita? Silahkan kam paparkan di milis2 ini semua. Atas pertimbangan itu, kami mengganti kepala biro Medan. Juga atas kebutuhan reorganisasi bukan hanya biro Medan yang diganti. Kami memang menyurati yang bersangkutan terlebih dahulu. Sekedar menjaga hubungan pribadi. Dengan kam memang kami tidak surati. Dan kami tidak menyangka tiba-tiba kam membuat surat seperti ini di milis2. Apa gerangan yang terjadi pada dirindu? Benarkah dugaanku selama ini bahwa kam memang musuh dalam selimut yang merasa gagal menghancurkan Sora Sirulo? 5. Soal laporan keuangan. Ini memang resiko melakukan kerajsama dengan orang-orang Karo. Pada awalnya kita berbicara soal turut membantu perkembangan Sora Sirulo. Belakangan, orang yg kita harapkan membantu ini mendudukkan dirinya menjadi bos kita. Mana laporan keuangan, mengapa tidak menyembah dan menciumi telapak kaki anak buah, dlsb. Tidak apa-apa, kalo ´bos´ itu turut bekerja. Sekarang, perlu kam (Rahel) jelaskan di milis2 ini semua etika atau delik hukum yang mana atau norma mana yang mengharuskan kami membuat laporan keuangan kepada kam? Sudah pernah kam jualan koran, melipat koran, mencari iklan, atau ada sesuatu yang aku terupa bahwa kam sebenarnya sudah mengerjakan sesuatu yang sangat penting sehingga kami wajib membuat laporan kepada kam? Para penyandang dana Sora Sirulo sendiri tidak pernah menuntut kami membuat laporan. Apakah ini sangat mengganggu pikiranndu bahwa mahasiswa2ku sekarang menjadi pasukan gigih mengerjakan Sora Sirulo? Mengapa kam menghasut mahasiswa2ku untuk tidak mau mengerjakan Sora Sirulo? Atas kepentingan apa? Kam juga mendatangi perwakilan Kabanjahe untuk mengatakan managemen Sora Sirulo tidak beres. Atas kepentingan apa? Kam tidak tahu, perwakilan Sora Sirulo Kabanjahe itu adalah bekas mahasiswaku dan temanku begadang dari dulu dan teman minum tuak meski dia mahasiswa aku dosennya. Kesetiaan orang2 seperti ini padaku kah yang membuat kam tidak genah dan mengatakan mereka kena doktrin oleh aku? Kam lebih tahu mereka sudah kena puko oleh Juara daripada mereka sendiri, ya. (Bersambung) --- On Thu, 19/11/09, Putri Sibayak <[email protected]> wrote: From: Putri Sibayak <[email protected]> Subject: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo” To: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Date: Thursday, 19 November, 2009, 15:59 Saya Berharap meskipun nama yang saya sebutkan dalam Email ini ada sebagai moderator dibebepa milis Karo, saya berharap orang tersebut berbesar hati dan meloloskan email saya ini agar diketahui oleh semua anggota milis.... Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo” Bertindak semau gue seperti kebijakan yang sering dikeluarkan oleh orde baru masih terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Bertindak kurang terpuji telah pula mewarnai keputusan pimpinan salah satu media cetak bernuansa daerah Tanah Karo bernama Sora Sirulo. Dinilai kebijakan pimpinannya berkesan tidak ber-etika dan tidak profesional karena mencopot jabatan dalam suatu organisasi perusahaan pers dengan tidak mengirim surat pemberitahuan atau peringatan terlebih dahulu. Pencopotan terjadi sekitar bulan April 2009. Tapi sampai sekarang ditunggu, tetap tidak ada pemberitahuan pencopotan. Perlakuan dan kebijakan pimpinan Sora Sirulo bernama Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara Umum (Pimpinan Umum) yang berdomisili di Medan telah pula mencemarkan nama baik saya selaku seorang Jurnalis dan Penulis aktip disejumlah media cetak lokal dan nasional. Saya selaku Kepala Biro Medan, Media Karo “Sora Sirulo” telah dicopot begitu saja tanpa ada pemberitahuan dan peringatan terlebih dahulu. Padahal dengan mengirim surat pemberitahuan atau peringatan atau melalui jalur pribadi saya rasa itu merupakan tindakan terpuji. Perlakuan ini saya nilai sangat tidak terpuji dan mengandung emosional yang membabi buta dan jelas sangat menyinggung saya. Saya tegaskan kalau pun dicopot, tidak mengurangi rejeki saya, karena selama saya bekerja di Media Karo “Sora Sirulo” satu sen pun keuntungan perusahaan tidak pernah dibagikan pada saya, namun karena “semangat kedaerahan” sebagai putri daerah yang selama ini didoktrin oleh pimpinan membuat saya membantu perusahaan. Untuk itu saya menyatakan sikap bahwa tindakan pimpinan Media Karo “Sora Sirulo” dimana--Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara Umum (Pimpinan Umum) telah melecehkan saya. Untuk itu saya minta agar memuat pernyataan maaf dalam edisi terbaru Media “Sora Sirulo” karena telah mencopot saya tanpa memberitahukan dan mengirim surat peringatan terlebih dahulu. Kemudian meminta maaf karena tidak pernah transparan dalam keuangan perusahaan Sora Sirulo. Saya Yang Keberatan Rahel Sukatendel, S.Sos
