Terlebih dahulu saya meminta maaf kepada para permilis yang lain karena saya 
terpaksa melakukan advokasi terhadap diri saya yang dituduh melakukan 
pencemaran nama baik.

Bagian 2 ini saya beri judul Prosedur karena usaha menyerang saya ini berkaitan 
dengan prosedur2 umum.

A. Prosedur Keberatan
Sebagian besar pekerja Sora Sirulo tergabung sebagai member di Milis Sora 
Sirulo. Semua anggota Dewan Redaksi menjadi member dalam milis tersebut.
Perlu dipertanyakan, mengapa Sdri. Rahel mengirim surat seperti ini langsung ke 
milis2 lain.

Prosedur logis, saya kira, adalah mengikuti tahapan 1. menghubungi saya dan 
mempertanyakannya atau langsung mengatakan keberatan, 2. bila hasilnya negatip, 
mengadakan rapat anggota biro Medan, 3. bila juga tidak memuaskan, membuatnya 
menjadi skandal ke milis Sora Sirulo, 4. tak juga ditanggapi, baru membuat 
skandal seperti sekarang ini. Kenyataannya, tak ada satupun tahapan itu 
ditempuh kecuali yang terakhir. Ada apa?

B. Hubungan Dengan Pimred
Sdri. Rahel menuduh saya dan Sdri. Ita Apulina Tarigan melecehkan dan 
mencemarkan nama baiknya. Apa hubungannya dengan Pimred dalam masalah ini? 
Pimred tidak akan berani mengubah susunan pekerja tanpa seijin saya. Oleh 
karena itu, persoalan ini adalah tanggungjawab saya pribadi. Kalau kam 
mencurigai Ita Apulina yang mengusulkannya ke saya, perlu saya jelaskan bahwa 
usulan itu datangnya dari para anggota biro Medan.

Bagaimanapun prosesnya, persoalan yang kam lontarkan adalah tanggungjawab saya 
sebagai Pemimpin Umum.

C. Kepala Biro
Di Tabloid Sora Sirulo, biro adalah copy dari kepengurusan pusat. Biro2 yg 
sudah mapan bersifat otonomi. Mereka bertugas secara otonomous 
mendistribusikan/ memasarkan koran kita di wilayahnya, mengupayakan berita2 
dari wilayahnya, mencari iklan di wilayahnya, merekrut anggota baru bironya 
masing2, membentuk perwakilan2 baru di wilayahnya bila perlu. Kita bersedia 
membimbing biro2 baru yang belum mampu otonomous, tapi tujuan akhirnya adalah 
otonomi wilayah.

Kepala biro adalah seseorang yang memimpin/mendorong para anggota melaksanakan 
pekerjaan2 tsb.

Adakah Sdri. Rahel melaksanakan tugas itu setelah lebih setahun tammat kuliah? 
Kalau ada, saya persilahkan memaparkannya di sini.

D. Pencemaran Nama Baik
Sejauh membaca isi suratndu itu, pencemaran nama baik yang kam tuduhkan adalah 
dengan menghilangnya namandu sebagai kepala biro di board Sora Sirulo. Apakah 
kalau kam bukan lagi kepala biro sora sirulo namandu tercemar? Wah, sama sekali 
tidak menduga namandu tercemar oleh karena itu. Konon pula kami bermaksud 
mencemarkan namandu.

Atau otak saya yang sedang error tidak dapat menangkap pengertian dari 
kalimatndu. Sebagaimana di dalam suratndu kam tulis, bahwa kam adalah seorang 
jurnalis yang aktip menulis di koran lokal dan nasional, tentu saja Sora Sirulo 
untukndu terlalu kecil.

Atau yang kam maksud melecehkan itu adalah sebuah tuduhan kami tidak menghargai 
kam sebagai seorang penulis nasional? Dengan apa kami harus menghargainya? 
Sudah sejak awal kita pait2 berbicara tidak ada honor apapun bekerja di Sora 
Sirulo. Seorang wartawan senior SCTV yang pernah meliput perjalanan wakil 
presiden ke New York, Tokyo dan Den Haag juga secara rutin menulis di Sora 
Sirulo, tanpa honor seketep lah gia. Apakah kami melecehkan dia?

Ketua PWI Kab. Karo menuulis di Sora Sirulo secara rutin, tanpa honor, apakah 
kami melecehkan PWI Kab. Karo?

Dr. Clara Brakel (PhD) yang menjadi penulis tetap Sora Sirulo di Belanda, tidak 
pernah kita bayar sepeserpun. Marjolijn Groustra (Belanda) yang membuat 
ilustrasi editorial setiap edisinya dengan membaca dan menginterpretasi 
editorial yang ditulis oleh Ita Apulina, tidak kita bayar sebenggol pun.

Apakah kami melecehkan orang-orang ini?

Apapun ceritanya, sejak awal kita ngomong pait2 tidak ada honor apapun bekerja 
di Sora Sirulo kecuali menjualkan koran dan menemukan iklan ada persennya. Kita 
belum pernah sekalipun membayar tulisan siapapun. 


(Bersambung)


--- On Thu, 19/11/09, Juara Ginting <[email protected]> wrote:

From: Juara Ginting <[email protected]>
Subject: Re: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. 
Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Thursday, 19 November, 2009, 17:39







 



  


    
      
      
      Mejuah-juah Rahel dan mejuah-juah permilis kerina,

Atas suratndu ini yang terasa sangat emosional, saya mencoba menjawabnya 
sebagai seorang yang merasa diserang.

Setelah membaca seluruh isi suratndu ini, inti permasalahannya adalah bahwa kam 
merasa telah dipecat sebagai pekerja Tabloid Sora Sirulo dengan istilah yang 
kam pakai dicopot. Saya akan membahas hal ini terlebih dahulu sebelum membahas 
yang lain-lainnya.

Kami merasa tidak pernah mencopot kam dari Sora Sirulo karena kami memang tidak 
melakukannya. Tidak adanya beritandu dimuat karena memang kam tidak pernah 
mengirim berita lagi sama sekali jauh sebelum bulan April 2009 yang kam katakan.

Hal ikhwal namandu tidak lagi tertera sebagai Kepala Biro Medan akan kujelaskan 
di bawah ini

1. Awalnya kam menyumbang beberapa berita untuk Sora Sirulo. Lalu, aku 
berpikir, seorang
 perempuan seperti Rahel ini perlu dimotivasi. Setelah beberapa kali chatting 
lewat Yahoo Messenger, aku meminta kam menjadi Kepala Biro Medan. Mulanya kam 
tidak bersedia karena sedang menulis skripsi. Aku katakan, gak apa-apa namandu 
aja dulu, bila kam sudah selesai dengan kuliah, baru kita harapkan kam aktif 
mengoperasionalkan biro Medan. Akhirnya, kam selesai kuliah. Setahun kam 
selesai kuliah tetap kam tidak ada berkata apa-apa. Aku sebenarnya tertap 
menunggu kam berkata, `enggo tammat ndai aku, abang, uga kin siban biro Medan 
ndai?´ Sampai sekarang la lit katandu sengkebabah pe. Malahan kam sejak sekitar 
Pebruari 2009 tidak pernah lagi mengirim bahan berita sekalipun.

2. Suatu kali, ketika saya ke Medan, saya mengajak teman-teman untuk 
manggang-manggang ikan di rumah agar terjalin kekompakan khususnya sesama 
anggota biro Medan. Kam kuundang dan kam datang. Sekitar Pkl. 11 malam, setelah 
makan ikan dan kami minum beberapa gelas tuak, kam
 tiba-tiba membuka catatan dan pulpen agar kita mengadakan rapat. Kataku, ini 
program menjalin hubungan pribadi antar pribadi untuk menggalang kekompakan, 
bukan untuk rapat. Kita bisa buat rapat di lain hari. Dan kam marah-marah. Kami 
yang minum tuak, tapi mabuknya ada di kam.

3. Beberapa hari sebelum manggang-manggang itu, kam juga kuajak ke rumah untuk 
berbincang-bincang. Entah atas keperluan apa, aku harus pergi sebentar dan 
meninggalkan kam di rumah bersama beberapa mahasiswaku. Besoknya, dua mahasiswa 
melapor padaku bahwa kam menghasut mereka untuk tidak mengerjakan Sora Sirulo. 
Ia nge kari ngetop je nari, kita si latih, katandu kepada mereka. Seolah-olah 
kami santai2 saja selama ini.

Menanggapi ini, dalam hatiku, ada musuh dalam selimut. Mengapa dia sendiri 
tidak mengundurkan diri kalo dia berpikiran seperti itu dan malahan menghasut 
orang lain agar meninggalkan Sora Sirulo?

Tapi, seperti biasanya, bukan aku tidak hati-hati,
 aku tetap berharap bahwa itu hanya dat-dat babahndu saja. Makanya masih kuajak 
untuk manggang-manggang ikan. Di pkl 11 malam itulah kam mengajak rapat. 
Padahal, kita masih sama membeli ikannya ke Pasar Sore. Saat itu, kam sama 
sekali tidak bilang apa-apa kepadaku.

Jadi, aku tercenung, mengingat ketika suatu malam aku mengantarkanndu ke rumah 
dan kam mengajak minum bandrek susu tengku dekat rumahndu. Agak sepi saat itu, 
kita duduk berdua bercengkerama. Dan kam kelihatannya sangat bahagia saat itu. 
Tak ada keluar dari mulutndu apa-apa soal Sora Sirulo. Aku merasa sangat 
berhasil mengadakan pendekatan pribadi terhadap kam. Atau terlalu berhasil, 
sehingga begini jadinya?

3. Kalau memang sejak April 2009 kam merasa telah dicopot, mengapa kam tidak 
menanyakan apa-apa sampai sekarang kepadaku? Tanpa tanya apa-apa, tiba-tiba kam 
membuat surat seperti ini di milis. Ada apa? Apa yang kam harapkan dari sini? 
Tentunya merusak nama Sora Sirulo, nama
 Juara Ginting, nama Ita Apulina. Agar ketiga nama ini hancur. Atau memang 
dengan ini kam merasa nama2 ini akan melambung dan menaikkan oplah Sora Sirulo?

4. Kalau kam hanya mau mengungkapkan kebobrokan pimpinan Sora Sirulo dan 
melampiaskan sakit hatindu, sampai sekarang belum jelas bagiku kapan hatindu 
kusakiti. Karena, tidak seperti tuduhanndu, kam sama sekali tidak pernah 
dipecat dari Sora Sirulo. Kirim min beritandu, dahndu mis siterbitken bagi 
biasana. Kalau soal namandu tidak lagi tertera sebagai kepala biro Medan, itu 
soal reorganisasi. Dulunya kam juga mau membantu sora sirulo secara sukarela, 
kan? Mengapa sekarang seolah-olah ada kepentinganndu yang diinjak-injak oleh 
pimpinan hanya karena namandu tidak lagi sebagai kepala biro?

Apa rupanya yang kam dapatkan dari jabatan sebagai kepala biro? Apa pula 
sebenarnya yang kam telah lakukan untuk jabatan itu? Pekerjaan kami selama 
bekerja di Sora Sirulo adalah, a.l. mengedit berita2,
 membantu designer mengerjakan layout, membawa CD ke percetakan, melipat koran, 
mengirim koran ke biro2/perwakilan, menagih uang setoran koran, kadang saya 
sendiri mengantar koran ke loper2 di Medan, mencari iklan, dan masih banyak 
lagi. Mana yang pernah kam kerjakan selain membuat berita?  Silahkan kam 
paparkan di milis2 ini semua.

Atas pertimbangan itu, kami mengganti kepala biro Medan. Juga atas kebutuhan 
reorganisasi bukan hanya biro Medan yang diganti. Kami memang menyurati yang 
bersangkutan terlebih dahulu. Sekedar menjaga hubungan pribadi. Dengan kam 
memang kami tidak surati. Dan kami tidak menyangka tiba-tiba kam membuat surat 
seperti ini di milis2. Apa gerangan yang terjadi pada dirindu? Benarkah 
dugaanku selama ini bahwa kam memang musuh dalam selimut yang merasa gagal 
menghancurkan Sora Sirulo?

5. Soal laporan keuangan. Ini  memang resiko melakukan kerajsama dengan 
orang-orang Karo. Pada awalnya kita berbicara soal
 turut membantu perkembangan Sora Sirulo. Belakangan, orang yg kita harapkan 
membantu ini mendudukkan dirinya menjadi bos kita. Mana laporan keuangan, 
mengapa tidak menyembah dan menciumi telapak kaki anak buah, dlsb. Tidak 
apa-apa, kalo ´bos´ itu turut bekerja.

Sekarang, perlu kam (Rahel) jelaskan di milis2 ini semua etika atau delik hukum 
yang mana atau norma mana yang mengharuskan kami membuat laporan keuangan 
kepada kam?  Sudah pernah kam jualan koran, melipat koran, mencari iklan, atau 
ada sesuatu yang aku terupa bahwa kam sebenarnya sudah mengerjakan sesuatu yang 
sangat penting sehingga kami wajib membuat laporan kepada kam? Para penyandang 
dana Sora Sirulo sendiri tidak pernah menuntut kami membuat laporan.

Apakah ini sangat mengganggu pikiranndu bahwa mahasiswa2ku sekarang menjadi 
pasukan gigih mengerjakan Sora Sirulo? Mengapa kam menghasut mahasiswa2ku untuk 
tidak mau mengerjakan Sora Sirulo? Atas kepentingan apa?

Kam
 juga mendatangi perwakilan Kabanjahe untuk mengatakan managemen Sora Sirulo 
tidak beres. Atas kepentingan apa? Kam tidak tahu, perwakilan Sora Sirulo 
Kabanjahe itu adalah bekas mahasiswaku dan temanku begadang dari dulu dan teman 
minum tuak meski dia mahasiswa aku dosennya. Kesetiaan orang2 seperti ini 
padaku kah yang membuat kam tidak genah dan mengatakan mereka kena doktrin oleh 
aku? Kam lebih tahu mereka sudah kena puko oleh Juara daripada mereka sendiri, 
ya.

(Bersambung)








--- On Thu, 19/11/09, Putri Sibayak <rahel_sibayak@ yahoo.com> wrote:

From: Putri Sibayak <rahel_sibayak@ yahoo.com>
Subject: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. 
Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
To: tanahk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com,
 info_tanahkaro@ yahoogroups. com, info_tanahkaro@ yahoogroups. com, 
g...@yahoogroups. com, infok...@yahoogroup s.com, sorasirulo_redaksi@ 
yahoo.com, juara_ginting@ yahoo.co. uk
Date: Thursday, 19 November, 2009, 15:59







 



    
      
      
      Saya Berharap meskipun nama yang saya sebutkan dalam Email ini ada 
sebagai moderator dibebepa milis Karo, saya berharap orang tersebut berbesar 
hati dan meloloskan email saya ini agar diketahui oleh semua anggota milis....

Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
 
            Bertindak
semau gue seperti kebijakan yang sering dikeluarkan oleh orde baru
masih terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Bertindak kurang
terpuji telah pula mewarnai keputusan pimpinan salah satu media cetak
bernuansa daerah Tanah Karo bernama Sora Sirulo. Dinilai kebijakan
pimpinannya berkesan tidak ber-etika dan tidak profesional karena
mencopot jabatan dalam suatu organisasi perusahaan pers dengan tidak
mengirim surat pemberitahuan atau peringatan terlebih dahulu. 
            Pencopotan terjadi sekitar bulan April 2009. Tapi sampai sekarang  
ditunggu, tetap tidak ada pemberitahuan pencopotan. Perlakuan dan kebijakan 
pimpinan Sora Sirulo bernama Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara 
Umum (Pimpinan Umum) yang berdomisili di Medan telah pula mencemarkan nama baik 
saya selaku seorang Jurnalis dan Penulis  aktip disejumlah media cetak lokal 
dan nasional.
Saya
selaku Kepala Biro Medan, Media Karo “Sora Sirulo” telah dicopot begitu
saja tanpa ada pemberitahuan dan peringatan terlebih dahulu. Padahal
dengan mengirim surat pemberitahuan atau peringatan atau melalui jalur
pribadi saya rasa itu merupakan tindakan terpuji. Perlakuan ini saya
nilai sangat tidak terpuji dan mengandung emosional yang membabi buta
dan jelas sangat menyinggung saya.
Saya
tegaskan kalau pun dicopot, tidak mengurangi rejeki saya, karena selama
saya bekerja di Media Karo “Sora Sirulo” satu sen pun keuntungan
perusahaan tidak pernah dibagikan pada saya, namun karena “semangat
kedaerahan” sebagai putri daerah yang selama ini didoktrin oleh
pimpinan membuat saya membantu perusahaan. 
Untuk
itu saya menyatakan sikap bahwa tindakan pimpinan Media Karo “Sora
Sirulo” dimana--Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara Umum
(Pimpinan Umum) telah melecehkan saya. Untuk itu saya minta agar memuat
pernyataan maaf dalam edisi terbaru Media “Sora Sirulo” karena telah
mencopot saya tanpa memberitahukan dan mengirim surat peringatan
terlebih dahulu. Kemudian meminta maaf karena tidak pernah transparan
dalam keuangan perusahaan Sora Sirulo.
 
Saya Yang Keberatan
 
Rahel Sukatendel, S.Sos




      

    
     



 







      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke