Sebagai orang pers, saya prihatin dengan kasus yang terjadi antara seorang 
kepala biro dengan manajemen Sorasirulo. Bukan hanya Rahel yang pernah 
mengalami hal sama. Tetapi tidak sedikit juga manejemen media yang arif 
menanggapi persoalan dengan reporter atau kepala bironya. Saya sudah baca 
keluhan Rahel, juga sudah baca jawaban manajemen. Tapi sya tidak berpretensi 
bisa menyelesaikan persoalan. Berdasarkan kasus-kasus yang pernah saya tahu 
baik di kompas maupun di media lain, kasus seperti itu biasanya hilang lenyap 
begitu saja. Ujung-ujungnya Rahel akan berada di pihak yang kalah, kecuali 
kalau owner berfikiran lain.
Tapi, menurut saya, dari pada mengembangkan konflik, lebih baik kita 
menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, saling membuang sikap negatif. 
Sebab dengan itu enerji positif kita masing-masing akan keluar dengan baik dan 
berguna. Amin
 
Petrus Barus 
 

--- On Fri, 11/20/09, Juara Ginting <[email protected]> wrote:


From: Juara Ginting <[email protected]>
Subject: Re: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. 
Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Friday, November 20, 2009, 4:04 AM


  







Terlebih dahulu saya meminta maaf kepada para permilis yang lain karena saya 
terpaksa melakukan advokasi terhadap diri saya yang dituduh melakukan 
pencemaran nama baik.

Bagian 2 ini saya beri judul Prosedur karena usaha menyerang saya ini berkaitan 
dengan prosedur2 umum.

A. Prosedur Keberatan
Sebagian besar pekerja Sora Sirulo tergabung sebagai member di Milis Sora 
Sirulo. Semua anggota Dewan Redaksi menjadi member dalam milis tersebut.
Perlu dipertanyakan, mengapa Sdri. Rahel mengirim surat seperti ini langsung ke 
milis2 lain.

Prosedur logis, saya kira, adalah mengikuti tahapan 1. menghubungi saya dan 
mempertanyakannya atau langsung mengatakan keberatan, 2. bila hasilnya negatip, 
mengadakan rapat anggota biro Medan, 3. bila juga tidak memuaskan, membuatnya 
menjadi skandal ke milis Sora Sirulo, 4. tak juga ditanggapi, baru membuat 
skandal seperti sekarang ini. Kenyataannya, tak ada satupun tahapan itu 
ditempuh kecuali yang terakhir. Ada apa?

B. Hubungan Dengan Pimred
Sdri. Rahel menuduh saya dan Sdri. Ita Apulina Tarigan melecehkan dan 
mencemarkan nama baiknya. Apa hubungannya dengan Pimred dalam masalah ini? 
Pimred tidak akan berani mengubah susunan pekerja tanpa seijin saya. Oleh 
karena itu, persoalan ini adalah tanggungjawab saya pribadi. Kalau kam 
mencurigai Ita Apulina yang mengusulkannya ke saya, perlu saya jelaskan bahwa 
usulan itu datangnya dari para anggota biro Medan.

Bagaimanapun prosesnya, persoalan yang kam lontarkan adalah tanggungjawab saya 
sebagai Pemimpin Umum.

C. Kepala Biro
Di Tabloid Sora Sirulo, biro adalah copy dari kepengurusan pusat. Biro2 yg 
sudah mapan bersifat otonomi. Mereka bertugas secara otonomous 
mendistribusikan/ memasarkan koran kita di wilayahnya, mengupayakan berita2 
dari wilayahnya, mencari iklan di wilayahnya, merekrut anggota baru bironya 
masing2, membentuk perwakilan2 baru di wilayahnya bila perlu. Kita bersedia 
membimbing biro2 baru yang belum mampu otonomous, tapi tujuan akhirnya adalah 
otonomi wilayah.

Kepala biro adalah seseorang yang memimpin/mendorong para anggota melaksanakan 
pekerjaan2 tsb.

Adakah Sdri. Rahel melaksanakan tugas itu setelah lebih setahun tammat kuliah? 
Kalau ada, saya persilahkan memaparkannya di sini.

D. Pencemaran Nama Baik
Sejauh membaca isi suratndu itu, pencemaran nama baik yang kam tuduhkan adalah 
dengan menghilangnya namandu sebagai kepala biro di board Sora Sirulo. Apakah 
kalau kam bukan lagi kepala biro sora sirulo namandu tercemar? Wah, sama sekali 
tidak menduga namandu tercemar oleh karena itu. Konon pula kami bermaksud 
mencemarkan namandu.

Atau otak saya yang sedang error tidak dapat menangkap pengertian dari 
kalimatndu. Sebagaimana di dalam suratndu kam tulis, bahwa kam adalah seorang 
jurnalis yang aktip menulis di koran lokal dan nasional, tentu saja Sora Sirulo 
untukndu terlalu kecil.

Atau yang kam maksud melecehkan itu adalah sebuah tuduhan kami tidak menghargai 
kam sebagai seorang penulis nasional? Dengan apa kami harus menghargainya? 
Sudah sejak awal kita pait2 berbicara tidak ada honor apapun bekerja di Sora 
Sirulo. Seorang wartawan senior SCTV yang pernah meliput perjalanan wakil 
presiden ke New York, Tokyo dan Den Haag juga secara rutin menulis di Sora 
Sirulo, tanpa honor seketep lah gia. Apakah kami melecehkan dia?

Ketua PWI Kab. Karo menuulis di Sora Sirulo secara rutin, tanpa honor, apakah 
kami melecehkan PWI Kab. Karo?

Dr. Clara Brakel (PhD) yang menjadi penulis tetap Sora Sirulo di Belanda, tidak 
pernah kita bayar sepeserpun. Marjolijn Groustra (Belanda) yang membuat 
ilustrasi editorial setiap edisinya dengan membaca dan menginterpretasi 
editorial yang ditulis oleh Ita Apulina, tidak kita bayar sebenggol pun.

Apakah kami melecehkan orang-orang ini?

Apapun ceritanya, sejak awal kita ngomong pait2 tidak ada honor apapun bekerja 
di Sora Sirulo kecuali menjualkan koran dan menemukan iklan ada persennya. Kita 
belum pernah sekalipun membayar tulisan siapapun. 


(Bersambung)


--- On Thu, 19/11/09, Juara Ginting <juara_ginting@ yahoo.co. uk> wrote:


From: Juara Ginting <juara_ginting@ yahoo.co. uk>
Subject: Re: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. 
Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
To: tanahk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com, 
info_tanahkaro@ yahoogroups. com, g...@yahoogroups. com, infok...@yahoogroup 
s.com, sorasirulo_redaksi@ yahoo.com
Date: Thursday, 19 November, 2009, 17:39


  





Mejuah-juah Rahel dan mejuah-juah permilis kerina,

Atas suratndu ini yang terasa sangat emosional, saya mencoba menjawabnya 
sebagai seorang yang merasa diserang.

Setelah membaca seluruh isi suratndu ini, inti permasalahannya adalah bahwa kam 
merasa telah dipecat sebagai pekerja Tabloid Sora Sirulo dengan istilah yang 
kam pakai dicopot. Saya akan membahas hal ini terlebih dahulu sebelum membahas 
yang lain-lainnya.

Kami merasa tidak pernah mencopot kam dari Sora Sirulo karena kami memang tidak 
melakukannya. Tidak adanya beritandu dimuat karena memang kam tidak pernah 
mengirim berita lagi sama sekali jauh sebelum bulan April 2009 yang kam katakan.

Hal ikhwal namandu tidak lagi tertera sebagai Kepala Biro Medan akan kujelaskan 
di bawah ini

1. Awalnya kam menyumbang beberapa berita untuk Sora Sirulo. Lalu, aku 
berpikir, seorang perempuan seperti Rahel ini perlu dimotivasi. Setelah 
beberapa kali chatting lewat Yahoo Messenger, aku meminta kam menjadi Kepala 
Biro Medan. Mulanya kam tidak bersedia karena sedang menulis skripsi. Aku 
katakan, gak apa-apa namandu aja dulu, bila kam sudah selesai dengan kuliah, 
baru kita harapkan kam aktif mengoperasionalkan biro Medan. Akhirnya, kam 
selesai kuliah. Setahun kam selesai kuliah tetap kam tidak ada berkata apa-apa. 
Aku sebenarnya tertap menunggu kam berkata, `enggo tammat ndai aku, abang, uga 
kin siban biro Medan ndai?´ Sampai sekarang la lit katandu sengkebabah pe. 
Malahan kam sejak sekitar Pebruari 2009 tidak pernah lagi mengirim bahan berita 
sekalipun.

2. Suatu kali, ketika saya ke Medan, saya mengajak teman-teman untuk 
manggang-manggang ikan di rumah agar terjalin kekompakan khususnya sesama 
anggota biro Medan. Kam kuundang dan kam datang. Sekitar Pkl. 11 malam, setelah 
makan ikan dan kami minum beberapa gelas tuak, kam tiba-tiba membuka catatan 
dan pulpen agar kita mengadakan rapat. Kataku, ini program menjalin hubungan 
pribadi antar pribadi untuk menggalang kekompakan, bukan untuk rapat. Kita bisa 
buat rapat di lain hari. Dan kam marah-marah. Kami yang minum tuak, tapi 
mabuknya ada di kam.

3. Beberapa hari sebelum manggang-manggang itu, kam juga kuajak ke rumah untuk 
berbincang-bincang. Entah atas keperluan apa, aku harus pergi sebentar dan 
meninggalkan kam di rumah bersama beberapa mahasiswaku. Besoknya, dua mahasiswa 
melapor padaku bahwa kam menghasut mereka untuk tidak mengerjakan Sora Sirulo. 
Ia nge kari ngetop je nari, kita si latih, katandu kepada mereka. Seolah-olah 
kami santai2 saja selama ini.

Menanggapi ini, dalam hatiku, ada musuh dalam selimut. Mengapa dia sendiri 
tidak mengundurkan diri kalo dia berpikiran seperti itu dan malahan menghasut 
orang lain agar meninggalkan Sora Sirulo?

Tapi, seperti biasanya, bukan aku tidak hati-hati, aku tetap berharap bahwa itu 
hanya dat-dat babahndu saja. Makanya masih kuajak untuk manggang-manggang ikan. 
Di pkl 11 malam itulah kam mengajak rapat. Padahal, kita masih sama membeli 
ikannya ke Pasar Sore. Saat itu, kam sama sekali tidak bilang apa-apa kepadaku.

Jadi, aku tercenung, mengingat ketika suatu malam aku mengantarkanndu ke rumah 
dan kam mengajak minum bandrek susu tengku dekat rumahndu. Agak sepi saat itu, 
kita duduk berdua bercengkerama. Dan kam kelihatannya sangat bahagia saat itu. 
Tak ada keluar dari mulutndu apa-apa soal Sora Sirulo. Aku merasa sangat 
berhasil mengadakan pendekatan pribadi terhadap kam. Atau terlalu berhasil, 
sehingga begini jadinya?

3. Kalau memang sejak April 2009 kam merasa telah dicopot, mengapa kam tidak 
menanyakan apa-apa sampai sekarang kepadaku? Tanpa tanya apa-apa, tiba-tiba kam 
membuat surat seperti ini di milis. Ada apa? Apa yang kam harapkan dari sini? 
Tentunya merusak nama Sora Sirulo, nama Juara Ginting, nama Ita Apulina. Agar 
ketiga nama ini hancur. Atau memang dengan ini kam merasa nama2 ini akan 
melambung dan menaikkan oplah Sora Sirulo?

4. Kalau kam hanya mau mengungkapkan kebobrokan pimpinan Sora Sirulo dan 
melampiaskan sakit hatindu, sampai sekarang belum jelas bagiku kapan hatindu 
kusakiti. Karena, tidak seperti tuduhanndu, kam sama sekali tidak pernah 
dipecat dari Sora Sirulo. Kirim min beritandu, dahndu mis siterbitken bagi 
biasana. Kalau soal namandu tidak lagi tertera sebagai kepala biro Medan, itu 
soal reorganisasi. Dulunya kam juga mau membantu sora sirulo secara sukarela, 
kan? Mengapa sekarang seolah-olah ada kepentinganndu yang diinjak-injak oleh 
pimpinan hanya karena namandu tidak lagi sebagai kepala biro?

Apa rupanya yang kam dapatkan dari jabatan sebagai kepala biro? Apa pula 
sebenarnya yang kam telah lakukan untuk jabatan itu? Pekerjaan kami selama 
bekerja di Sora Sirulo adalah, a.l. mengedit berita2, membantu designer 
mengerjakan layout, membawa CD ke percetakan, melipat koran, mengirim koran ke 
biro2/perwakilan, menagih uang setoran koran, kadang saya sendiri mengantar 
koran ke loper2 di Medan, mencari iklan, dan masih banyak lagi. Mana yang 
pernah kam kerjakan selain membuat berita?  Silahkan kam paparkan di milis2 ini 
semua.

Atas pertimbangan itu, kami mengganti kepala biro Medan. Juga atas kebutuhan 
reorganisasi bukan hanya biro Medan yang diganti. Kami memang menyurati yang 
bersangkutan terlebih dahulu. Sekedar menjaga hubungan pribadi. Dengan kam 
memang kami tidak surati. Dan kami tidak menyangka tiba-tiba kam membuat surat 
seperti ini di milis2. Apa gerangan yang terjadi pada dirindu? Benarkah 
dugaanku selama ini bahwa kam memang musuh dalam selimut yang merasa gagal 
menghancurkan Sora Sirulo?

5. Soal laporan keuangan. Ini  memang resiko melakukan kerajsama dengan 
orang-orang Karo. Pada awalnya kita berbicara soal turut membantu perkembangan 
Sora Sirulo. Belakangan, orang yg kita harapkan membantu ini mendudukkan 
dirinya menjadi bos kita. Mana laporan keuangan, mengapa tidak menyembah dan 
menciumi telapak kaki anak buah, dlsb. Tidak apa-apa, kalo ´bos´ itu turut 
bekerja.

Sekarang, perlu kam (Rahel) jelaskan di milis2 ini semua etika atau delik hukum 
yang mana atau norma mana yang mengharuskan kami membuat laporan keuangan 
kepada kam?  Sudah pernah kam jualan koran, melipat koran, mencari iklan, atau 
ada sesuatu yang aku terupa bahwa kam sebenarnya sudah mengerjakan sesuatu yang 
sangat penting sehingga kami wajib membuat laporan kepada kam? Para penyandang 
dana Sora Sirulo sendiri tidak pernah menuntut kami membuat laporan.

Apakah ini sangat mengganggu pikiranndu bahwa mahasiswa2ku sekarang menjadi 
pasukan gigih mengerjakan Sora Sirulo? Mengapa kam menghasut mahasiswa2ku untuk 
tidak mau mengerjakan Sora Sirulo? Atas kepentingan apa?

Kam juga mendatangi perwakilan Kabanjahe untuk mengatakan managemen Sora Sirulo 
tidak beres. Atas kepentingan apa? Kam tidak tahu, perwakilan Sora Sirulo 
Kabanjahe itu adalah bekas mahasiswaku dan temanku begadang dari dulu dan teman 
minum tuak meski dia mahasiswa aku dosennya. Kesetiaan orang2 seperti ini 
padaku kah yang membuat kam tidak genah dan mengatakan mereka kena doktrin oleh 
aku? Kam lebih tahu mereka sudah kena puko oleh Juara daripada mereka sendiri, 
ya.

(Bersambung)








--- On Thu, 19/11/09, Putri Sibayak <rahel_sibayak@ yahoo.com> wrote:


From: Putri Sibayak <rahel_sibayak@ yahoo.com>
Subject: [infokaro] [Penting Bagi Kita Semua], Mohon Diloloskan Moderator. 
Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
To: tanahk...@yahoogrou ps.com, komunitaskaro@ yahoogroups. com, 
info_tanahkaro@ yahoogroups. com, info_tanahkaro@ yahoogroups. com, 
g...@yahoogroups. com, infok...@yahoogroup s.com, sorasirulo_redaksi@ 
yahoo.com, juara_ginting@ yahoo.co. uk
Date: Thursday, 19 November, 2009, 15:59


  




Saya Berharap meskipun nama yang saya sebutkan dalam Email ini ada sebagai 
moderator dibebepa milis Karo, saya berharap orang tersebut berbesar hati dan 
meloloskan email saya ini agar diketahui oleh semua anggota milis....




Dilecehkan Pimpinan Media Tanah Karo “Sora Sirulo”
 
            Bertindak semau gue seperti kebijakan yang sering dikeluarkan oleh 
orde baru masih terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini. Bertindak kurang 
terpuji telah pula mewarnai keputusan pimpinan salah satu media cetak bernuansa 
daerah Tanah Karo bernama Sora Sirulo. Dinilai kebijakan pimpinannya berkesan 
tidak ber-etika dan tidak profesional karena mencopot jabatan dalam suatu 
organisasi perusahaan pers dengan tidak mengirim surat pemberitahuan atau 
peringatan terlebih dahulu. 
            Pencopotan terjadi sekitar bulan April 2009. Tapi sampai sekarang  
ditunggu, tetap tidak ada pemberitahuan pencopotan. Perlakuan dan kebijakan 
pimpinan Sora Sirulo bernama Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara 
Umum (Pimpinan Umum) yang berdomisili di Medan telah pula mencemarkan nama baik 
saya selaku seorang Jurnalis dan Penulis  aktip disejumlah media cetak lokal 
dan nasional.
Saya selaku Kepala Biro Medan, Media Karo “Sora Sirulo” telah dicopot begitu 
saja tanpa ada pemberitahuan dan peringatan terlebih dahulu. Padahal dengan 
mengirim surat pemberitahuan atau peringatan atau melalui jalur pribadi saya 
rasa itu merupakan tindakan terpuji. Perlakuan ini saya nilai sangat tidak 
terpuji dan mengandung emosional yang membabi buta dan jelas sangat menyinggung 
saya.
Saya tegaskan kalau pun dicopot, tidak mengurangi rejeki saya, karena selama 
saya bekerja di Media Karo “Sora Sirulo” satu sen pun keuntungan perusahaan 
tidak pernah dibagikan pada saya, namun karena “semangat kedaerahan” sebagai 
putri daerah yang selama ini didoktrin oleh pimpinan membuat saya membantu 
perusahaan. 
Untuk itu saya menyatakan sikap bahwa tindakan pimpinan Media Karo “Sora 
Sirulo” dimana--Ita Apulina Tarigan (Pimpinan Redaksi) dan Juara Umum (Pimpinan 
Umum) telah melecehkan saya. Untuk itu saya minta agar memuat pernyataan maaf 
dalam edisi terbaru Media “Sora Sirulo” karena telah mencopot saya tanpa 
memberitahukan dan mengirim surat peringatan terlebih dahulu. Kemudian meminta 
maaf karena tidak pernah transparan dalam keuangan perusahaan Sora Sirulo.
 
Saya Yang Keberatan
 
Rahel Sukatendel, S.Sos










      

Kirim email ke