|
Minggu, 06 Maret 2005 08:04 WIB
Semalam di USNS Mercy Humanis, dan Gratis Lagi [ rubrik: Serambi | topik: kesehatan ] Seperti mimpi! Bukan
saja mendapat pelayanan medis berstandar dunia dan gratis, tapi juga pelayanan
yang sangat humanis. Rasanya belum diobat sudah pulih karena kami diperlakukan
seperti warga sendiri . Itulah beberapa kesan
pasien dan keluarganya yang saat ini masih menjalani perawatan para dokter dan paramedis di rumah sakit terapung, Kapal USNS Mercy, milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Rumah sakit apung yang bermarkas di San Diego itu telah berada di perairan Aceh sejak 4 Februari lalu dalam misi membantu korban bencana tsunami. Serambi bersama belasan wartawan yang bertandang selama 24 jam di US Navy Hospital Ships itu, melihat puluhan pasien yang sedang dirawat. Mereka bukan saja sebagai korban tsunami, tapi juga pasien yang memang sakit dan sudah berobat ke mana-mana tidak kunjung sembuh. Mereka dirujuk ke sini oleh rumah sakit dari Banda Aceh, kata Letnan Mann, perwira Asisten Officer USNS Mercy. Para pasien dan keluarganya mengaku senang bisa mendapat kesempatan dirawat di Mercy. Pelayanannya sangat memuaskan. Yang membuat mereka lebih senang, tentu saja karena semuanya gratis. Kami juga sudah bisa bahasa Inggris sedikit. Apalagi setiap setengah jam, dokternya datang dan menanyakan keadaan kami. Mereka berbahasa Inggris, dan ada yang menterjemah, ujar Ny Adlina. Para pasien dan keluarganya, mengaku terharu atas per hatian dokter dan paramedis yang menganggap seperti keluarga sendiri. Seperti dituturkan Saiful Bahri (26). Warga Jeunib Bireuen itu mengalami patah di paha kanannya karena jatuh ketika lari menyelamatkan diri dari gelombang tsunami. Saiful sudah seminggu berada di rumah sakit terapung, berada 60 mil di tengah laut Banda Aceh itu. Pemuda semampai berkulit hitam manis itu tampak ceria. Sambil menunjukkan paha kanannya yang sudah membaik, ia mengaku tidak lama lagi sudah diperbolehkan pulang ke darat. Pemuda itu mengaku seperti mimpi ketika ia dibawa dengan helikopter ke kapal untuk dioperasi. Dan sampai mati pun pelayanan seperti ini tak mungkin bisa saya dapatkan. Saya diperlakukan seperti warga Amerika, ujar Saiful yang sebelumnya sudah berobat ke sebuah rumah sakit di Banda Aceh, tapi merasa diabaikan. Kemudian ia terlihat tim Mercy hingga dibooyong ke kapal untuk operasi kakinya. Perasaan serupa juga diungkapkan Adliana (50). Ia berada di US Navy untuk mendampingi suaminya, Yulizar Yusuf (60) karena menderita Amilo Platoma (tumor di daerah rahang). Keluarga itu mengaku, sebelumnya mereka sudah pasrah. Sebab, penyakit tumor yang diidap selama lima tahun itu tipis harapan bisa diobati. Adlina mengaku, suaminya yang bekerja sebagai PNS di BPKP Aceh itu sudah empat kali menjalani operasi di RS Gatot Subroto, Jakarta, dan sudah menghabiskan uang Rp 50 juta. Namun ternyata tumor di wajah suaminya makin membesar. Mendengar ada dokter asing yang melayani pengobatan gratis, ia langsung membawa suaminya untuk berobat. Setelah dilakukan pemeriksaan tim dokter asing, mereka diboyong dengan helikopter ke kapal Mercy. Adlina tampak menitikkan airmata ketika menceritakan kisah selama dua minggu di kapal rumah terapung itu. Kami diperlakukan sangat istimewa di sini. Tidak akan pernah didapatkan di negeri kita. Begitu tinggi nilai kemanusiaan. Dokternya kadang duduk di bawah sambil menanyakan bagaimana perasaan, apakah senang. Kami tak bisa membalas kebaikan mereka. Alat mereka sangat canggih, belum ada di Indonesia, papar Adliana yang mengaku bekerja sebagai bidan di RSUZA Banda Aceh.. Suaminya Yulizar, ternyata bukan cuma menderita tumor di rahang, tapi ada penyakit lagi di hidung, dan harus dioperasi. Tim dokter melakukan operasi dengan cara membedah batok kepala Yulizar untuk mengangkat tumor serta membuang tulang rahangnya. Kemudian tulang rahang itu diambil dengan mencangkok tulang rusuk bersangkutan. Sekarang tulang rusuknya sudah kurang untuk ganti rahang, kata Ny Adlina. Pasien lain adalah Nurbiah (47), warga Tanjung Selamat Darussalam. Isteri DR Daniel Juned, Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh itu, bersama seorang saudaranya dibawa ke kapal USNS Mercy sejak Selasa (1/3) lalu. Nurbiah mendeita tumor di bagian leher dan sebelumnya datang ke rumah sakit rujukan di Lhong Raya. Ia mendapat urutan 50 saat mendaftar. Saya akan dioperasi hari Jumat, ujarnya. Sementara Ny Nurbaiti, mengaku sudah dua hari berada di USNS Mercy untuk mendampingi bayinya Adrian (2 bl) karena tertutup anus. Kami sangat senang diperlakukan mereka. Mau makan apa saja dikasih, minuman yang tak pernah kami rasakan ada di sini. Tidur di AC dingin sekali, ujar ibu asal Ujung Blang Pidie itu yang terlihat seperti turis sedang berjalan-jalan di geladak kapal milik Angkatan Laut AS itu. Seorang keluarga pasien lain bernama Ny Mizwar (24), warga Lancang Paru, Pante Raja, Pidie, sudah dua hari berada di kapal AS itu. Ia dibawa dengan helikopter ke kapal untuk mendampingi bayinya Muhammad Fadil (1,7) karena menderita tumor di dalam perut. Sebelumnya, Ny Mizwar mengaku anaknya sudah dioperasi di rumah sakit Sigli. Namun sakitnya bertambah parah. Maka ia berangkat ke Banda Aceh karena mendengar ada dokter luar negeri yang mengobati masyarakat secara gratis. Mereka bilang perut anak saya sudah tembus. Mungkin dicolok dokter di Sigli, tutur Ny Mizwar yang sehari-hari menjadi petani di kampungnya Lancang Paru. Para pasien itu merasa tenang karena pelayanan terhadap mereka begitu baik. Misalnya, kepada mereka dijelaskan tentang detail penyakit yang dideritanya serta jenis dan khasiat obat yang diminumnya. Mereka juga diingatkan tidak sungkan menceritakan apa yang dialammi. Ternyata, hampir semua keluhan pasien didengar secara saksama. Tidak jarang satu pasien, menurut pengakuan keluarganya, ditangani dokter lebih dari satu jam. Multifungsi Kapal USNS Mercy dioperasikan 64 marinir sipil Angkatan Laut AS. Bekas kapal tanker raksasa yang dimodifikasi ini, dilengkapi dengan 12 ruang bedah, empat lab sinar-X, dan saggup melayani 300 pasien per hari serta 1000 tempat tidur. Kapal ini juga memiliki bank darah, pelayanan gigi, CAT Scaning, psikal terapi, pelayanan luka bakar, pusat gudang obat dan fasilitas lainnya. Sedangkan dapur umum bisa memberi makan 2500 pasien setiap hari. Dan untuk perawatan intensif, Mercy memiliki 80 unit tempat tidur, untuk penyembuhan 20 unit, penyakit ringan 400 tempat tidur, dan ringan 500 tempat tidur, serta 50 pos penerimaan laporan pasien. Kapal yang panjangnya 894 kaki (sekitar 300 meter) memiliki kecepatan 17.5 knot permil. Kapal itu memiliki awak yang merupakan gabungan sekitar 93 ahli medis dan teknisi. Mereka tergabung dalam HOPE (Health Opportunisties for People Everywhere). Mercy hanya utuk mengemban misi kemanusian, kata Kapten David M Lliewellyn, Comandemen Officer USNS Mercy. Ia menyebut, ada lebih 5000 ahli dan relawan kesehatan sejak 1958, untuk proyek HOPE. Misinya hanya untuk melakukan bantuan kesehatan di seluruh dunia. Di samping melaksanakan program pendidikan kesehatan, penelitian untuk kesehatan, penyediaan bantuan kemanusiaan di area-area yang diperlukan, termasuk memperbaiki pembangunan sosial dan budaya. Tugas khusus USNS Mercy, kata David, membantu masyarakat yang terkena bencana di seluruh dunia. Mereka memberi pelayanan di atas kapal di mana saja. Mereka memiliki tim ahli medis yang berkualitas dengan berbagai spesialisasi. Sepereti bedah umum, ortopedi, gigi dan kerongkorang, operasi plastik, saraf, kandungan dan dalam, THT, dan non medical, dermatologi, psychiatari, dan dialisys. David M Lliewellyn sendiri adalah ahli bedah dan pengobatan penyelaman. Ia memberi nama USNS Mercy dengan sebutan rumah sakit terapung dimasa damai . Anak buah kapal (ABK) Mercy dibagi dua kelompok, yaitu marinir yang melayani sipil, dan marinir yang menjalankan kapal. Selain itu, ada pegawai angkatan laut yang mempersiapkan fasilitas pengbatan dan dapat beroperasi penuh. Kita miliki fasilitas kesehatan bedah yang bisa mobil dan cukup kuat beradaptasi. Hal menarik mengenai USNS Mercy, adalah dapat menampung 300 pasien bedah setiap hari. Juga dapat menampung 35.000 ton air laut yang disuling menjadi air tawar. Di kapal itu juga ada tempat yang bisa membuat tawat air laut sebanyak 300,000 galons setiap harinya, dan mendaratkan sejumlah helikopter militer. Memang milik Angkatan Laut, tapi lebih cenderung non tempur karena orang sipil yang menangani, kata Lliewellyn. USNS Mercy adalah kapal penelitian yang dapat membuat peta dan skema bawah laut, dapat mempelajari keadaan di bawah laut, dan melakukan pengamatan. Juga secara strategi dapat mengerjakan bahan- bahan (kemasan) untuk perang. *** Selama 24 jam berada di kapal USNS Mercy, tidak banyak yang bisa diceritakan, kecuali kecanggihan sistem peralatan dan navigasi. Rombongan jurnalis didampingi seorang perwira, Letnan Bashon Mann. Setelah dijamu makan malam, dengan menu nasi, daging, jagung rebus, dan gulai kol, wartawan ditunjukkan berbagai fasilitas, termasuk ruang-ruang operasi, dan mendapat penjelasan dari para dokter kepala setiap ruang. Selama berada di kapal, ada sekitar 14 pasien sedang dirawat, dua orang sedang menjalani operasi. Pasien itu merupakan kiriman dari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Setelah pukul 20.00 WIB, para jurnalis dipersilakan istirahat dengan memberi satu ruang (sal) di lantai lima kapal (bawah laut). Selama istirahat, tidak dibenarkan melakukan kegiatan peliputan atau foto-foto. Termasuk adanya larangan memasuki beberapa ruang. Wartawan hanya dibolehkan ke gladak lantai dua untuk santai dan bisa merokok menunggu waktu tidur. Namun di gladak setiap lantai tampak dijaga Marinir AS bersenjata minimi dan pistol FN. Para pengawal berpakaian lengkap secara bergilir melakukan penjagaan di beberapa sisi kapal. Pagi Jumat pukul 08.00, jurnalis dipersilakan sarapan yang dilanjutkan dengan briefing dokter, dan paramedis di setiap klinik hingga pukul 13.00 WIB. Setelah peninjauan ke setiap klinik berakhir, para wartawan kembali dikumpulkan di ruang cafetaria untuk selanjutkan diangkut dengan helikopter militer AS ke Bandara Iskandarmuda (ampuh devayan) |
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
