|
Yang namanya kebaikan kalau
tanpa diringi kepentingan lain kecuali hanya keikhlasan,
dari manapun dan dari
siapapun datangnya,
memang patut kita syukuri dan ucapkan terima kasih.
Dengan tidak bermaksud
mengecilkan atau meng-kufuri arti bantuan itu.
Tidak seharusnya juga kalau
kita langsung memberikan penilaian/pujian/sanjungan yang berlebihan
terhadap itu semua, karena
pada kenyataannya hal itu baru kali ini kita dapatkan.
Bukankah orang sering
mengatakan dan ini sudah menjadi trend, bahwa "didunia sekarang ini tidak
ada
yang gratis".
Seperti kita tahu imbalan itu
tidak harus selalu dalam bentuk materi/uang, boleh jadi
berupa
konsesi, dispensasi, dan
entahlah apalagi namanya atau bahkan mungkin hanya sekedar
"the cleaning imaging",
dimana yang kita tahu
betapa tidak
manusiawinya perlakuan tentara AS
terhadap tahanan yang ada
dibawah pengawasan
mereka.
"Panas
setahun hilang dengan hujan sehari" itulah kira-kira pepatah lama
kita mengatakan. Dan
itu pula yang sekarang sedang
terjadi dengan sebagian masyarakat Aceh.
Waspada terhadap sesuatu yang
mungkin akan terjadi itu sudah merupakan suatu keharusan dalam
hidup ini kalau kita
tidak ingin penyesalan
diakhirnya.
Waspada tidak berarti
curiga.
wassalam
Hmm
Minggu, 06 Maret 2005 08:04 WIB
Semalam
di USNS Mercy Humanis,
dan Gratis Lagi
[ rubrik: Serambi
| topik: kesehatan
]
Seperti mimpi!
Bukan saja mendapat pelayanan medis berstandar dunia dan gratis, tapi juga
pelayanan yang sangat humanis. Rasanya belum diobat sudah pulih karena kami
diperlakukan seperti warga sendiri .
Itulah beberapa
kesan pasien dan keluarganya yang saat ini masih menjalani perawatan para
dokter dan paramedis di rumah sakit terapung, Kapal USNS Mercy, milik
Angkatan Laut Amerika Serikat. Rumah sakit apung yang bermarkas di San Diego
itu telah berada di perairan Aceh sejak 4 Februari lalu dalam misi membantu
korban bencana tsunami.
Serambi bersama belasan wartawan yang
bertandang selama 24 jam di US Navy Hospital Ships itu, melihat puluhan pasien
yang sedang dirawat. Mereka bukan saja sebagai korban tsunami, tapi juga
pasien yang memang sakit dan sudah berobat ke mana-mana tidak kunjung sembuh.
Mereka dirujuk ke sini oleh rumah sakit dari Banda Aceh, kata Letnan Mann,
perwira Asisten Officer USNS Mercy.
Para pasien dan keluarganya
mengaku senang bisa mendapat kesempatan dirawat di Mercy. Pelayanannya sangat
memuaskan. Yang membuat mereka lebih senang, tentu saja karena semuanya
gratis. Kami juga sudah bisa bahasa Inggris sedikit. Apalagi setiap setengah
jam, dokternya datang dan menanyakan keadaan kami. Mereka berbahasa Inggris,
dan ada yang menterjemah, ujar Ny Adlina. Para pasien dan keluarganya,
mengaku terharu atas per hatian dokter dan paramedis yang menganggap
seperti keluarga sendiri. Seperti dituturkan Saiful Bahri (26). Warga
Jeunib Bireuen itu mengalami patah di paha kanannya karena jatuh ketika lari
menyelamatkan diri dari gelombang tsunami. Saiful sudah seminggu berada di
rumah sakit terapung, berada 60 mil di tengah laut Banda Aceh itu. Pemuda
semampai berkulit hitam manis itu tampak ceria. Sambil menunjukkan paha
kanannya yang sudah membaik, ia mengaku tidak lama lagi sudah diperbolehkan
pulang ke darat.
Pemuda itu mengaku seperti mimpi ketika ia dibawa
dengan helikopter ke kapal untuk dioperasi. Dan sampai mati pun pelayanan
seperti ini tak mungkin bisa saya dapatkan. Saya diperlakukan seperti warga
Amerika, ujar Saiful yang sebelumnya sudah berobat ke sebuah rumah sakit di
Banda Aceh, tapi merasa diabaikan. Kemudian ia terlihat tim Mercy hingga
dibooyong ke kapal untuk operasi kakinya.
Perasaan serupa juga
diungkapkan Adliana (50). Ia berada di US Navy untuk mendampingi suaminya,
Yulizar Yusuf (60) karena menderita Amilo Platoma (tumor di daerah rahang).
Keluarga itu mengaku, sebelumnya mereka sudah pasrah. Sebab, penyakit tumor
yang diidap selama lima tahun itu tipis harapan bisa diobati.
Adlina
mengaku, suaminya yang bekerja sebagai PNS di BPKP Aceh itu sudah empat kali
menjalani operasi di RS Gatot Subroto, Jakarta, dan sudah menghabiskan uang Rp
50 juta. Namun ternyata tumor di wajah suaminya makin membesar.
Mendengar ada dokter asing yang melayani pengobatan gratis, ia
langsung membawa suaminya untuk berobat. Setelah dilakukan pemeriksaan tim
dokter asing, mereka diboyong dengan helikopter ke kapal Mercy. Adlina
tampak menitikkan airmata ketika menceritakan kisah selama dua minggu di kapal
rumah terapung itu. Kami diperlakukan sangat istimewa di sini. Tidak akan
pernah didapatkan di negeri kita. Begitu tinggi nilai kemanusiaan. Dokternya
kadang duduk di bawah sambil menanyakan bagaimana perasaan, apakah senang.
Kami tak bisa membalas kebaikan mereka. Alat mereka sangat canggih, belum ada
di Indonesia, papar Adliana yang mengaku bekerja sebagai bidan di RSUZA Banda
Aceh..
Suaminya Yulizar, ternyata bukan cuma menderita tumor di
rahang, tapi ada penyakit lagi di hidung, dan harus dioperasi. Tim dokter
melakukan operasi dengan cara membedah batok kepala Yulizar untuk mengangkat
tumor serta membuang tulang rahangnya. Kemudian tulang rahang itu diambil
dengan mencangkok tulang rusuk bersangkutan. Sekarang tulang rusuknya sudah
kurang untuk ganti rahang, kata Ny Adlina.
Pasien lain adalah Nurbiah
(47), warga Tanjung Selamat Darussalam. Isteri DR Daniel Juned, Direktur
Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh itu, bersama seorang
saudaranya dibawa ke kapal USNS Mercy sejak Selasa (1/3) lalu.
Nurbiah
mendeita tumor di bagian leher dan sebelumnya datang ke rumah sakit rujukan di
Lhong Raya. Ia mendapat urutan 50 saat mendaftar. Saya akan dioperasi hari
Jumat, ujarnya.
Sementara Ny Nurbaiti, mengaku sudah dua hari berada
di USNS Mercy untuk mendampingi bayinya Adrian (2 bl) karena tertutup anus.
Kami sangat senang diperlakukan mereka. Mau makan apa saja dikasih, minuman
yang tak pernah kami rasakan ada di sini. Tidur di AC dingin sekali, ujar ibu
asal Ujung Blang Pidie itu yang terlihat seperti turis sedang berjalan-jalan
di geladak kapal milik Angkatan Laut AS itu.
Seorang keluarga pasien
lain bernama Ny Mizwar (24), warga Lancang Paru, Pante Raja, Pidie, sudah dua
hari berada di kapal AS itu. Ia dibawa dengan helikopter ke kapal untuk
mendampingi bayinya Muhammad Fadil (1,7) karena menderita tumor di dalam
perut.
Sebelumnya, Ny Mizwar mengaku anaknya sudah dioperasi di rumah
sakit Sigli. Namun sakitnya bertambah parah. Maka ia berangkat ke Banda Aceh
karena mendengar ada dokter luar negeri yang mengobati masyarakat secara
gratis. Mereka bilang perut anak saya sudah tembus. Mungkin dicolok dokter di
Sigli, tutur Ny Mizwar yang sehari-hari menjadi petani di kampungnya Lancang
Paru.
Para pasien itu merasa tenang karena pelayanan terhadap mereka
begitu baik. Misalnya, kepada mereka dijelaskan tentang detail penyakit yang
dideritanya serta jenis dan khasiat obat yang diminumnya. Mereka juga
diingatkan tidak sungkan menceritakan apa yang dialammi. Ternyata, hampir
semua keluhan pasien didengar secara saksama. Tidak jarang satu pasien,
menurut pengakuan keluarganya, ditangani dokter lebih dari satu jam.
Multifungsi Kapal USNS Mercy dioperasikan 64 marinir sipil
Angkatan Laut AS. Bekas kapal tanker raksasa yang dimodifikasi ini,
dilengkapi dengan 12 ruang bedah, empat lab sinar-X, dan saggup melayani 300
pasien per hari serta 1000 tempat tidur.
Kapal ini juga memiliki bank
darah, pelayanan gigi, CAT Scaning, psikal terapi, pelayanan luka bakar, pusat
gudang obat dan fasilitas lainnya. Sedangkan dapur umum bisa memberi makan
2500 pasien setiap hari.
Dan untuk perawatan intensif, Mercy memiliki
80 unit tempat tidur, untuk penyembuhan 20 unit, penyakit ringan 400 tempat
tidur, dan ringan 500 tempat tidur, serta 50 pos penerimaan laporan pasien.
Kapal yang panjangnya 894 kaki (sekitar 300 meter) memiliki kecepatan 17.5
knot permil. Kapal itu memiliki awak yang merupakan gabungan sekitar 93 ahli
medis dan teknisi. Mereka tergabung dalam HOPE (Health Opportunisties for
People Everywhere).
Mercy hanya utuk mengemban misi kemanusian, kata
Kapten David M Lliewellyn, Comandemen Officer USNS Mercy. Ia menyebut, ada
lebih 5000 ahli dan relawan kesehatan sejak 1958, untuk proyek HOPE. Misinya
hanya untuk melakukan bantuan kesehatan di seluruh dunia. Di samping
melaksanakan program pendidikan kesehatan, penelitian untuk kesehatan,
penyediaan bantuan kemanusiaan di area-area yang diperlukan, termasuk
memperbaiki pembangunan sosial dan budaya.
Tugas khusus USNS Mercy,
kata David, membantu masyarakat yang terkena bencana di seluruh dunia. Mereka
memberi pelayanan di atas kapal di mana saja. Mereka memiliki tim ahli medis
yang berkualitas dengan berbagai spesialisasi. Sepereti bedah umum, ortopedi,
gigi dan kerongkorang, operasi plastik, saraf, kandungan dan dalam, THT, dan
non medical, dermatologi, psychiatari, dan dialisys.
David M
Lliewellyn sendiri adalah ahli bedah dan pengobatan penyelaman. Ia memberi
nama USNS Mercy dengan sebutan rumah sakit terapung dimasa damai . Anak
buah kapal (ABK) Mercy dibagi dua kelompok, yaitu marinir yang melayani sipil,
dan marinir yang menjalankan kapal. Selain itu, ada pegawai angkatan laut yang
mempersiapkan fasilitas pengbatan dan dapat beroperasi penuh. Kita miliki
fasilitas kesehatan bedah yang bisa mobil dan cukup kuat beradaptasi.
Hal menarik mengenai USNS Mercy, adalah dapat menampung 300 pasien
bedah setiap hari. Juga dapat menampung 35.000 ton air laut yang disuling
menjadi air tawar. Di kapal itu juga ada tempat yang bisa membuat tawat air
laut sebanyak 300,000 galons setiap harinya, dan mendaratkan sejumlah
helikopter militer. Memang milik Angkatan Laut, tapi lebih cenderung non
tempur karena orang sipil yang menangani, kata Lliewellyn.
USNS Mercy
adalah kapal penelitian yang dapat membuat peta dan skema bawah laut, dapat
mempelajari keadaan di bawah laut, dan melakukan pengamatan. Juga secara
strategi dapat mengerjakan bahan- bahan (kemasan) untuk perang. ***
Selama 24 jam berada di kapal USNS Mercy, tidak banyak yang bisa
diceritakan, kecuali kecanggihan sistem peralatan dan navigasi. Rombongan
jurnalis didampingi seorang perwira, Letnan Bashon Mann. Setelah dijamu makan
malam, dengan menu nasi, daging, jagung rebus, dan gulai kol, wartawan
ditunjukkan berbagai fasilitas, termasuk ruang-ruang operasi, dan mendapat
penjelasan dari para dokter kepala setiap ruang.
Selama berada di
kapal, ada sekitar 14 pasien sedang dirawat, dua orang sedang menjalani
operasi. Pasien itu merupakan kiriman dari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin.
Setelah pukul 20.00 WIB, para jurnalis dipersilakan istirahat dengan
memberi satu ruang (sal) di lantai lima kapal (bawah laut). Selama istirahat,
tidak dibenarkan melakukan kegiatan peliputan atau foto-foto. Termasuk adanya
larangan memasuki beberapa ruang.
Wartawan hanya dibolehkan ke gladak
lantai dua untuk santai dan bisa merokok menunggu waktu tidur. Namun di gladak
setiap lantai tampak dijaga Marinir AS bersenjata minimi dan pistol FN. Para
pengawal berpakaian lengkap secara bergilir melakukan penjagaan di beberapa
sisi kapal.
Pagi Jumat pukul 08.00, jurnalis dipersilakan sarapan yang
dilanjutkan dengan briefing dokter, dan paramedis di setiap klinik hingga
pukul 13.00 WIB. Setelah peninjauan ke setiap klinik berakhir, para
wartawan kembali dikumpulkan di ruang cafetaria untuk selanjutkan diangkut
dengan helikopter militer AS ke Bandara Iskandarmuda (ampuh
devayan)
|