1. kalau berpikiran bersih, syukurlah ada org yg mau menggratiskan pelayanan kesehatan bagi si sakit bagai dirajakan.
2. kalau berpikiran agak 'keruh', semua kegiatan itu ada biayanya walau sesederhana ala sukarelawan lokal yg berkerja dgn apa adanya (lawaran). siapa si kaya raya yg rela belanjakan hartanya utk itu? 3. yg plg keruh, brgkali, pertanyaan 'udang' jenis apa dibalik 'mutiara pengrajaan' itu? silahkan pilih dr semua kemungkinan pikiran yg ada. peduli salah satunya saja tak peduli kemungkinan lain, ATAU ambil semua dgn porsi 'curiga & baik sangka' sesuka-suka diri. ;-) salam, Fahru --- "Mohd. Al-Khori" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Minggu, 06 Maret 2005 08:04 WIB > > Semalam di USNS Mercy > Humanis, dan Gratis Lagi > > [ rubrik: > <http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&top > ik=11> Serambi | topik: > <http://lambaro.bangkapos.com/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&top > ik=11> kesehatan ] > > > Seperti mimpi! Bukan saja mendapat pelayanan medis > berstandar dunia dan > gratis, tapi juga pelayanan yang sangat humanis. > Rasanya belum diobat sudah > pulih karena kami diperlakukan seperti warga sendiri > . > > > > Itulah beberapa kesan pasien dan keluarganya yang > saat ini > masih menjalani perawatan para dokter dan paramedis > di rumah sakit terapung, Kapal USNS Mercy, milik > Angkatan Laut Amerika > Serikat. Rumah sakit apung yang bermarkas di San > Diego itu telah berada di > perairan Aceh sejak 4 Februari lalu dalam misi > membantu korban bencana > tsunami. > > Serambi bersama belasan wartawan yang bertandang > selama 24 jam di US Navy > Hospital Ships itu, melihat puluhan pasien yang > sedang dirawat. Mereka bukan > saja sebagai korban tsunami, tapi juga pasien yang > memang sakit dan sudah > berobat ke mana-mana tidak kunjung sembuh. Mereka > dirujuk ke sini oleh rumah > sakit dari Banda Aceh, kata Letnan Mann, perwira > Asisten Officer USNS Mercy. > > > Para pasien dan keluarganya mengaku senang bisa > mendapat kesempatan dirawat > di Mercy. Pelayanannya sangat memuaskan. Yang > membuat mereka lebih senang, > tentu saja karena semuanya gratis. Kami juga sudah > bisa bahasa Inggris > sedikit. Apalagi setiap setengah jam, dokternya > datang dan menanyakan > keadaan kami. Mereka berbahasa Inggris, dan ada yang > menterjemah, ujar Ny > Adlina. > Para pasien dan keluarganya, mengaku terharu atas > per > hatian dokter dan paramedis yang menganggap seperti > keluarga sendiri. > Seperti dituturkan Saiful Bahri (26). Warga Jeunib > Bireuen itu mengalami > patah di paha kanannya karena jatuh ketika lari > menyelamatkan diri dari > gelombang tsunami. > Saiful sudah seminggu berada di rumah sakit > terapung, berada 60 mil di > tengah laut Banda Aceh itu. Pemuda semampai berkulit > hitam manis itu tampak > ceria. Sambil menunjukkan paha kanannya yang sudah > membaik, ia mengaku tidak > lama lagi sudah diperbolehkan pulang ke darat. > > Pemuda itu mengaku seperti mimpi ketika ia dibawa > dengan helikopter ke kapal > untuk dioperasi. Dan sampai mati pun pelayanan > seperti ini tak mungkin bisa > saya dapatkan. Saya diperlakukan seperti warga > Amerika, ujar Saiful yang > sebelumnya sudah berobat ke sebuah rumah sakit di > Banda Aceh, tapi merasa > diabaikan. Kemudian ia terlihat tim Mercy hingga > dibooyong ke kapal untuk > operasi kakinya. > > Perasaan serupa juga diungkapkan Adliana (50). Ia > berada di US Navy untuk > mendampingi suaminya, Yulizar Yusuf (60) karena > menderita Amilo Platoma > (tumor di daerah rahang). Keluarga itu mengaku, > sebelumnya mereka sudah > pasrah. Sebab, penyakit tumor yang diidap selama > lima tahun itu tipis > harapan bisa diobati. > > Adlina mengaku, suaminya yang bekerja sebagai PNS di > BPKP Aceh itu sudah > empat kali menjalani operasi di RS Gatot Subroto, > Jakarta, dan sudah > menghabiskan uang Rp 50 juta. Namun ternyata tumor > di wajah suaminya makin > membesar. > > Mendengar ada dokter asing yang melayani pengobatan > gratis, ia langsung > membawa suaminya untuk berobat. Setelah dilakukan > pemeriksaan tim dokter > asing, mereka diboyong dengan helikopter ke kapal > Mercy. > Adlina tampak menitikkan airmata ketika menceritakan > kisah selama dua minggu > di kapal rumah terapung itu. Kami diperlakukan > sangat istimewa di sini. > Tidak akan pernah didapatkan di negeri kita. Begitu > tinggi nilai > kemanusiaan. Dokternya kadang duduk di bawah sambil > menanyakan bagaimana > perasaan, apakah senang. Kami tak bisa membalas > kebaikan mereka. Alat mereka > sangat canggih, belum ada di Indonesia, papar > Adliana yang mengaku bekerja > sebagai bidan di RSUZA Banda Aceh.. > > Suaminya Yulizar, ternyata bukan cuma menderita > tumor di rahang, tapi ada > penyakit lagi di hidung, dan harus dioperasi. Tim > dokter melakukan operasi > dengan cara membedah batok kepala Yulizar untuk > mengangkat tumor serta > membuang tulang rahangnya. Kemudian tulang rahang > itu diambil dengan > mencangkok tulang rusuk bersangkutan. Sekarang > tulang rusuknya sudah kurang > untuk ganti rahang, kata Ny Adlina. > > Pasien lain adalah Nurbiah (47), warga Tanjung > Selamat Darussalam. > Isteri DR Daniel Juned, Direktur Pascasarjana IAIN > Ar-Raniry Darussalam > Banda Aceh itu, bersama seorang saudaranya dibawa ke > kapal USNS Mercy sejak > Selasa (1/3) lalu. > > Nurbiah mendeita tumor di bagian leher dan > sebelumnya datang ke rumah sakit > rujukan di Lhong Raya. Ia mendapat urutan 50 saat > mendaftar. Saya akan > dioperasi hari Jumat, ujarnya. > > Sementara Ny Nurbaiti, mengaku sudah dua hari berada > di USNS Mercy untuk > mendampingi bayinya Adrian (2 bl) karena tertutup > anus. Kami sangat senang > diperlakukan mereka. Mau makan apa saja dikasih, > minuman yang tak pernah > kami rasakan ada di sini. Tidur di AC dingin sekali, > ujar ibu asal Ujung > Blang Pidie itu yang terlihat seperti turis sedang > berjalan-jalan di geladak > kapal milik Angkatan Laut AS itu. > > Seorang keluarga pasien lain bernama Ny Mizwar (24), > warga Lancang Paru, > Pante Raja, Pidie, sudah dua hari berada di kapal AS > itu. Ia dibawa dengan > helikopter ke kapal untuk mendampingi bayinya > Muhammad Fadil (1,7) karena > menderita tumor di dalam perut. > > Sebelumnya, Ny Mizwar mengaku anaknya sudah > dioperasi di rumah sakit Sigli. > Namun sakitnya bertambah parah. Maka ia berangkat ke > Banda Aceh karena > mendengar ada dokter luar negeri yang mengobati > masyarakat secara gratis. > Mereka bilang perut anak saya sudah tembus. Mungkin > dicolok dokter di Sigli, > tutur Ny Mizwar yang sehari-hari menjadi petani di > kampungnya Lancang Paru. > > Para pasien itu merasa tenang karena pelayanan > terhadap mereka begitu baik. > Misalnya, kepada mereka dijelaskan tentang detail > penyakit yang dideritanya > serta jenis dan khasiat obat yang diminumnya. Mereka > juga diingatkan tidak > sungkan menceritakan apa yang dialammi. Ternyata, > hampir semua keluhan > pasien didengar secara saksama. Tidak jarang satu > pasien, menurut pengakuan > keluarganya, ditangani dokter lebih dari satu jam. > > Multifungsi > Kapal USNS Mercy dioperasikan 64 marinir sipil > Angkatan Laut AS. > Bekas kapal tanker raksasa yang dimodifikasi ini, > dilengkapi dengan 12 ruang > bedah, empat lab sinar-X, dan saggup melayani 300 > pasien per hari serta 1000 > tempat tidur. > > Kapal ini juga memiliki bank darah, pelayanan gigi, > CAT === message truncated ===> _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > __________________________________ Celebrate Yahoo!'s 10th Birthday! Yahoo! Netrospective: 100 Moments of the Web http://birthday.yahoo.com/netrospective/ _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
