Mas Riko yth ...
Ini mungkin khas kehidupan kota besar. Waktu bapak saya meninggal dunia lebih dari 10 thn yang lalu, kami memang tidak berniat untuk membuat tahlilan. Tetapi repotnya semua orang nanya, kapan ada tahlilan, akhirnya, kami pikir lebih baik dibuat tahlilan sekaligus silaturahim dengan tetangga (kalau tidak karena ada kematian, hubungan bertetangga di Jakarta memang seakan terputus). Maka salah satu adik saya menghubungi mesjid dekat rumah untuk mengundang jamaah masjid. Persoalannya muncul karena pengurus mesjid minta disediakan dana sebesar +/- 1 juta (ini tahun 1992) untuk satu minggu tahlilan di luar biaya makan malam (disediakan oleh pemilik rumah). Kami tentu saja berkeberatan, sehingga akhirnya tahlilan itu hanya dilakukan oleh keluarga dekat saja dan kenalan yang datang takziah. Biayanya... saya lupa, rasanya kami memang menyediakan makan malam sekedarnya, karena tahlilan dilaksanakan ba'da Isya. Tapi itu saja, tidak ada souvenir atau biaya tambahan lain. Jujur
saja,
saya termasuk orang yang tidak setuju dengan tahlilan, apalagi yang berlebihan.
Mengenai adanya souvenir (sajadah dll), ini karena saya seringkali diundang untuk menghadiri tahlilan 40 - 100 - 1000 hari. Dalam tahlilan model ini, suasananya jadi seperti pesta besar, bukan suasana berkabung. Pemilik rumah memasang tenda, memesan makanan mewah a la catering dan pulangnya kami dibekali dengan souvenir, biasanya buku Yasin yg dihias photo almarhum/ah plus 1 dus kue (tart/brownies) dari bakery yang saya taksir harganya sekitar Rp.25-30 ribu/dus atau sajadah/piring/keramik souvenir dll.
Menilai kondisi seperti itu, saya memperkirakan bahwa biaya tahlilan mewah yang jorjoran di kalangan kelas menengah - kelas atas Jakarta bisa sebesar Rp.100.000,-/pax. Ini belum termasuk biaya untuk tenda dan amplop si pembaca doa yang minimal berjumlah 10 orang. Apakah si penyelenggara keberatan dengan biaya itu? Saya pikir, belum tentu juga ... karena mereka umumnya orang2 berduit yang lebih mementingkan gengsi dan gaya hidup.
Tentu saja, gaya tahlilan yang jorjoran dan adu gengsi seperti ini yang perlu dipertanyakan lagi manfaatnya. Tapi sungguh lho.... tahlilaln seperti ini ada.... di kalangan tertentu khususnya di Jakarta.
salam.
-----------
Riko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Riko <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maaf mbak Lina / mas .....saya baru denger bahwa orang yang tahlilan di kasi amplop.dan menyediakan rokok . Ini hal yang benar - benar nyusahin -namanya...saya maklum anda kesulitan dan kesusahan tapimungkin kalo boleh nebak anda dari daerah sumatera yach...sekali lagi saya kaget bila anda membayar orang yang tahlilan.saya rasa tradisi ini yang harus di hilangkan terlebih dahulu.jangan sampai jadi kebiasaan mbak ..
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
