Assalaamu`alaikum Wr. Wb.

Kalau boleh saya simpulkan.....
permasalahan dan juga solusinya sudah kita ketahui langsung
untuk itu marilah kita laksanakan dengan sebaik-baiknya
paling tidak dilingkungan kecil dululah
terutama yang mengikuti e-mail ini

Dan kalu boleh saya sarankan, mungkin permasalahan hukum tahlilan
sudah cukup, marilah kita pindah ke topik yang lainnya

Wassalam,
Cep Herman




Eriko Wistaria Dwi <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [EMAIL PROTECTED]

08/09/2005 10:05
Please respond to Milis is-lam

       
        To:        'Milis is-lam' <[email protected]>
        cc:        
        Subject:        RE: [is-lam] Hukum Tahlilan



Keluarga Saya bukan dari daerah Sumatera...tapi dari Jawa Tengah tepatnya di daerah Kebumen.
Tapi Mas Riko kenyataan yang ada di lapangan mayoritas memang demikian ceritanya. Mungkin beda dengan yang ada di tempatnya Mas Riko.
BTW, yang sudah dilakukan Mas Riko dan warga sekitarnya sudah cukup baik...tetapi mungkin lebih baik kalau pengeluaran untuk tahlilan tsb dialokasikan untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari keluarga yang ditinggalkannya seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dlsb. Apalagi kalau yang meninggal kepala keluarganya, sebaiknya warga (DKM) melalui pengumpulan dana apakah itu zakat, infaq, shodaqoh ataupun sumbangan sukarela membantu untuk membiayai kehidupan sehari-hari keluarga yang ditinggalkannya. Nah yang seperti inilah yang dinamakan Islam itu UKHUWAH ISLAMIYAH, SILATURRAHIM dan yang dicontohkan oleh Rasul dan para sahabatnya. Hanya saja hal ini masih sangat jarang ditemukan pada kehidupan bermasyarakat khususnya di Indonesia ini.
 
Wassalam,
 
Eriko Wistaria
-----Original Message-----
From:
[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Riko
Sent:
Thursday, September 08, 2005 9:54 AM
To:
[email protected]
Subject:
FW: [is-lam] Hukum Tahlilan

Maaf mbak Lina / mas .....
saya baru denger bahwa orang yang tahlilan di kasi amplop.
dan menyediakan rokok . Ini hal yang benar - benar nyusahin -
namanya...saya maklum anda kesulitan dan kesusahan tapi
mungkin kalo boleh nebak anda dari daerah sumatera yach...
sekali lagi saya kaget bila anda membayar orang yang tahlilan.
saya rasa tradisi ini yang harus di hilangkan terlebih dahulu.
jangan sampai jadi kebiasaan mbak ..
Dan anda harus membeli surat yasiiin bagaimana mungkin ..?
apakah anda tidak punya buku yasin atau kenapa anda tidak -
usaha untuk pinjam ke Musholla ?
menurut saya hal yang anda lakukan tersebut terlalu berlebihan.
Saya sama sekali sangat tidak setuju. ini hanyalah masalah tradisi -
di wilayah anda saja . Maaf sekali lagi bila saya salah.
di tempat saya kemaren ...orang yang terkena musibah menge-
luarkan Aqua gelas yang satu dus bisa sampai 5 hari dan makananya-
agar - agar dan gorengan 5 piring yang kalo di total memakan biaya -
Aqua gelas = 2 dus = Rp. 24.000
Agar - agar = 5 piring = Rp. 30.000
gorengan lebih kurang 50 biji @ Rp. 300 = Rp. 300 x 50 = Rp. 15.000
total biaya = Rp. 69. 000 x 7 hari = Rp. 483.000
Adapun biaya dan pemakaman kami sudah patungan ( lain dari Ibu - Ibu nya-
lain juga dari bapak - bapak nya ) semua ini di luar santunan dari DKM .
Bahkan kain kafan dan semua peralatan kami yang berinisiatif -
tanpa mengganggu warga kami yg terkena musibah tsb.Dia hanya terima -
beres. Pokoknya intinya adalah silaturahmi dan kekeluargaan yang baik-
hal ini bisa terwujud.Saya cerita ini jujur tanpa ada yang di kurangi dan -
di tambahkan.
Bagaimana paham mbak / mas...?
Sekali lagi saya sangat tidak setuju kalo tahlilan seperti yang anda tuliskan -
hal ini sudah menyimpang dari makna dan tujuan ..tapi malah ke ajang gengsi -
ada juga yang memberi yasin sendiri dengan foto almarhum/almarhumah di muka -
buku yasin ....itu mah sudah lain makna...
mohon maaf bila semua perkataan saya di atas salah .
Wassalamu'alaikum wr.wb
-----Original Message-----
From:
lina alwi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent:
Thursday, September 08, 2005 9:07 AM
To:
Milis is-lam
Subject:
RE: [is-lam] Hukum Tahlilan

assalamualaikum
Bisa ditambahkan lagi, di jabodetabek, disamping pengeluaran yang dirinci di bawah ini, keluarga yang "berpunya" masih merasa harus menambahkan cindera mata  berbentuk sajadah atau perlengkapan shalat lainnya (sarung, al Qur'an dll).
 
Jadi bagaimana mereduksi biaya, karena seringkali "tahlilan" sebagaimana pesta pernikahan seringkali menjadi ajang "adu gengsi keluarga"
salam


Eriko Wistaria Dwi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

Wa'alaikum salam Wr.Wb.

Mas Riko,

Kata siapa biaya tahlilan sampe jutaan itu tidak ada dan digede-gedein......
Contohnya ini berlaku pada keluarga besar saya....Ketika nenek saya meninggal, keluarga kami mengadakan tahlilan dari mulai 7 harian sampai dengan terakhir 1000 hari. Dimana tiap-tiap mengadakan tahlilan biaya tsb mencapai lebih dari 1 juta dan itu semua ditanggung oleh keluarga besar kami. Btw, ternyata keluarga kami memang termasuk "pendukung tahlilan" (walaupun saya sendiri termasuk yang anti) tetapi saya melihat cost yang dikeluarkan sangat besar. Dimana biaya tsb ditanggung oleh keempat keluarga anaknya (salah satunya ibu saya). Yang lebih parah lagi salah satu paman saya ada yang sudah di PHK bahkan sudah hampir 3 tahun tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Akan tetapi diusahakan untuk 'iuran biaya tahlilan'.

Kalau mas riko nggak percaya biaya tahlilan yang mencapai jutaan..itu berikut saya beritahukan rincian biayanya......

Biaya besekan untuk 30 orang @ Rp 7000 = Rp 210.000,- (ini udah masak sendiri)
Biaya amplop untuk orang yang tahlilan 28 @ Rp 25.000,- = Rp 700.000,-

                                               
   2 @ Rp 50.000,- = Rp 100.000,-
Biaya buku surat yasin 30 buah @ Rp 5.000,- = Rp 150.000,-

Belum lagi untuk rokok, dan makanan lainnya dan minuman yang disediakan ketika tahlilan.

Jadi silahkan aja dijumlah sendiri.

Memang benar ketika nenek saya meninggal mendapat sumbangan santunan dari warga...yang mana langsung habis untuk mengurus biaya pengurusan jenazah dan pemakaman bahkan sampai yang ikut nyo latin jenazah kudu' dibayar juga.

Jadi apakah kami harus 'membudgetkan biaya tahlilan' tiap bulan dari penghasilan keluarga kami?
Dan santunan yang diberikan oleh DKM hanya diberikan ketika hari meninggalnya saja, sedangkan untuk tahlilan 7,40,100 dst bahkan ibu saya sendiri harus sampai meminjam uang kepada anak-anaknya untuk membiayai tahlilan tsb ?

Bagaimana menurut mas Riko, Apakah secara manajemen budget masih dirasa cukup baik 'membudgetkan biaya tahlilan' ? Bagaimana cara membudgetkan 'biaya tahlilan tsb' bagi paman saya yang sudah 3 tahun diPHK ?

Wassalam,

Eriko Wistaria


 Harlina R. Koestoer

http://shaphira.multiply.com

 

 

 


Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort. _______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


----------------------------------------------------
EMAIL DISCLAIMER

This email and any files transmitted with it is
confidential and intended solely for the use of
the individual or entity to whom it is addressed.
Any personal views or opinions stated are solely
those of the author and do not necessarily
represent those of the company.

If you have received this email in error
please notify the sender immediately.
Please also delete this message and
attachments if any from your computer.
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke