Title: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ...
-----Original Message-----
From: Eriko Wistaria Dwi [mailto:[EMAIL PROTECTED]

Wa'alaikum salam wr.wb.

Begini Mas Agus maksud saya,

Seperti misalnya kita mempelajari ILMU EKONOMI (sebagai contoh) dimana kalau kita bagi secara umum ada yang namanya konsep ILMU EKONOMI KAPITALIS, konsep ILMU EKONOMI SOSIALIS dan konsep ILMU EKONOMI ISLAM. Yang sekarang 'berkuasa' secara mayoritas baik secara praktek maupun teori yang sering kita dapatkan pada kurikulum pendidikan kita mengarah kepada ILMU EKONOMI KAPITALIS yang apabila ILMU tersebut tertanam pada diri seseorang mengakibatkan terbentuknya kepribadian yang menganggap bahwa ILMU EKONOMI KAPITALIS adalah yang terbaik yang menyebabkan orang tsb bukannya menjadi dekat kepada ALLAH SWT akan tetapi malah semakin jauh dari NYA.

[Agus Safudi - HRD] Benar Mas Dwi, begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya seperti MBO, TPM/TQM, S. Chovey dengan 7 Habits, dll. Ditetapkannya target-target yang ketat pada seorang manusia, baik dia karyawan/pelaksana, ataupun sebagai employer dimana dalam kurun waktu tertentu menjadikan manusia sebagai robot-robot ekonomi, mesin-mesin efisiensi, sehingga akhirnya bisa menjadikan HATI manusia tersebut menjadi keras, tidak ada lagi sifat kasih & sayang, lemah lembut, akhirnya menjadikan manusia semakin jauh dengan-Nya, karena hati pun sudah tertutup, apalagi jika dia membenarkannya dan meyakininya bahwa dengan ilmu-ilmu itulah keberhasilan dan kesuksesan dunia bisa diraih.

Kalo sudah seperti ini maka Alloh akan menyesatkan orang tersebut dengan ilmu-ilmu tersebut. Ini semua terjadi karena yang bersangkutan menjadikan HAWA NAFSU sebagai tuhannya.

 QS 45:23

" Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya  sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?" 

Dalam kaidah Ushul Fiqh, Rasululloh saw bersabda:

"La dhororo wa la dhiroro", artinya "Jangan memudharatkan dan jangan menimbulkan mudharat".

Dan tugas orang tua juga untuk mendidik anaknya agar dia memiliki benteng yang kuat pada dirinya walaupun lingkuangan dan ilmu-ilmu yang diterima mengarah kepada hal-hal tersebut walaupun 'terpaksa' harus masuk pada sekolah atau kampus yang mengajarkan ilmu-ilmu tersebut.

Hanya saja dalam pelaksanaannya terkadang harus disepakati bersama, harus ada musawarah, harus ada kebersamaan. Maksud saya bisa jadi yang POKOK memang digariskan oleh Alloh dan Rasululloh saw, tapi ketika masuk pada yang CABANG, kita olah sendiri sesuai keadaan, waktu, kondisi, budaya, dll. yang mungkin tidak mesti sama pada setiap periode kehidupan manusia asalkan hal-hal yang pokok tidak melanggar ketentuan syara', maka mengapa tidak.

QS3:159 

" Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati  kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [politik,ekonomi, dll ].Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka  bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai  orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya"

Jadi, bagaiamana caranya ilmu politik, ekonomi, dll. diatur dan dijalankan dengan cara-cara yang islami asalkan bisa dicapai SEPAKAT UNTUK SEPAKAT(musayawarah/jalan tengah). Paling tidak untuk sekarang ini masing masing kita mempelajari dahulu konsepnya secara individu-individu.

  
 Kalau menurut saya 'ILMU ISLAM' (Ilmu yang bersumber dari ALLAH SWT) itu sudah UNIVERSAL, akan tetapi hal ini belum 'membumi' baik secara teori maupun praktek sehingga menurut saya mungkin hanya ILMU ISLAM lah yang dapat mendekatkan diri kita kepada ALLAH SWT. Sedangkan ILMU NON ISLAM (Ilmu yang bersumber bukan dari ALLAH SWT) bukannya membuat kita mendekatkan diri kepada ALLAH SWT malah semakin membuat kita jauh dari NYA.

[Agus Safudi - HRD] Setuju mas, dan ayat-ayat al-Qur'an juga 'menurut saya' masih sangat universal, kitalah yang mengaplikasikannya apakah harus INTEGRAL/PARSIAL untuk hal-hal tertentu, yang mungkin memang tergantung situasi, kondisi, dan banyak faktor lainnya.

Kalo suatu ilmu hanya menimbulkan mudharat maka Islam pasti melarangnya, sejatinya memang suatu/segala ilmu berasal dari-Nya, tetapi dalam perjalanan dari Yang MAHA MEMILIKI menuju yang mencari bisa saja tercemari di perjalanan. Ketika masuk pada hal-hal yang khusus maka instrument yang ada pada manusia harus difungsikan semaksimal mungkin, sehingga ada filter untuk menolak hal-hal yang buruk. Dan perintah menuntut ilmu ini sendiri bersifat umum, sama halnya dengan masalah-masalah keimanan juga sangat umum yang dituntut oleh Alloh dan Rasul-Nya, sebab kalo perintah Alloh dan Rasul-Nya mengarah pada hal-hal yang khusus maka akal manusia dikawatirkan belum mampu untuk menjangkaunya.

Dalam segala sesuatu selalu ada pilihan, dalam segala sesuatu selalu ada yang lebih baik, dan selalu ada JALAN TENGAH.

Supaya membumi, maka memang harus sedikit-sedikit diterapkan, saling mengingatkan, mengingatkan bahwa cara-cara syari'ah adalah lebih maslahat daripada non-syari'ah, dan sekali lagi ini tidaklah mudah. Dan berkaitan dengan tata-cara, penggunanan dari suatu produk hukum ayat-ayat al-Qur'an menggunakan kata "na", dimana dalam ilmu nahwu/sorof "na" disini adalah merupakan nahnu dhomir yang artinya memang harus bersama-sama.

Saya tidak membagi ILMU menjadi ILMU DUNIA dan ILMU AKHIRAT disebabkan bahwa ILMU itu harus dapat diterapkan tidak hanya untuk kepentingan akhirat saja akan tetapi dapat diterapkan juga untuk kepentingan dunia. Karena itu saya lebih cenderung membagi ILMU itu menjadi ILMU ISLAM dan NON ISLAM atau lebih luas lagi dikatakan menjadi Ilmu yang bersumber dari ALLOH SWT dan Ilmu yang bersumber bukan dari ALLAH SWT.

[Agus Safudi - HRD] Nggihmas, saya juga setuju. Dunia bahagia, akhirat tidak celaka kan gitu ya Mas Dwi, hehehe...

 QS 28:77

" Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu  dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" .

Wassalamu'alaikum wr.wb.

a.s. 

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] On Behalf Of Agus Safudi - HRD
Sent: Tuesday, February 21, 2006 4:21 PM
To: Milis is-lam
Subject: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ...


Assalamu'alaikum wr. wb.
Alhamdulillahirobbil'ala min,

Mas Dwi (maaf kalo kurang berkenan saya panggil anda demikian)
Pengertian ILMU dalam konteks tema ini yang saya maksud adalah
masih sangat-sangat umum (ijmali)dan tidak mengarah pada pengertian
yang khusus (tafsili).

Ilmu apa saja selama bisa mengantarkan untuk ber ma'rifat pada-Nya
baik melalui ILMU atau ASMA-Nya, maka ilmu itu pasti bermanfaat, artinya
ilmu apa saja yang bisa meningkatkan keimanan seorang mukmin maka 'menurut
saya' seorang mukmin bisa menjadi wajib untuk menuntutnya walaupun dilihat
kasus per kasus dan tentu saja sesuai dengan kemampuan, toh Alloh Azza Wa Jalla
tidak membebani manusia melebihi kapasitasnya.

Seperti misalnya Ilmu, Tauhid ini memang sudah seharusnya seorang muslim untuk
mempelajarinya, tapi bisa juga dengan ilmu-ilmu lain seseorang bisa bertambah
keimanannya, misalkan dengan ilmu Astronomi, ilmu kedokteran, kalo memang seperti
itu kenapa tidak, artinya ilmu-ilmu terapan apa saja kalo memang bisa
menambahkan keimanan seorang mukmin kenapa tidak untuk mempelajarinya kan gitu ya mas.

Memang ada beberapa ulama baik yang dahulu maupun yang sekarang yang membagi
ilmu menjadi ilmu dunia dan ilmu akhirat, ilmu yang fardhu 'ain untuk
menuntutnya dan ada juga yang fardhu kifayah.
Saya fikir ilmu-ilmu yang harus dituntut oleh muslim saat ini adalah harus
intens sama ilmu yang dahulunya dianggap fardhu kifayah untuk menuntutnya,
kalo muslim dan mukmin mau mengejar ketertinggalannya.

Dengan Ilmu seseorang memang bisa mendapat hidayah, tapi dengan Ilmu pula
seseorang bisa disesatkan, maka harus istiqomah dengan niat menuntut
ilmu itu untuk apa.

Itu saja Mas Dwi, dan mohon maaf bila diskusi ini tidak memuaskan.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

a.s.



-----Original Message-----
From: Eriko Wistaria Dwi [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, February 21, 2006 8:35 AM
To: 'Milis is-lam'
Subject: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ...


Wa'alaikum salam wr.wb.
Mas Agus,
Saya tertarik dengan pembahasan Mas Agus masalah ILMU. Yang ingin saya ketahui lebih dalam mengenai ILMU ini adalah ILMU yang bagaimana ? Karena di zaman sekarang ini orang yang BERILMU bukannya bertambah keyakinan tentang adanya ALLAH SWT dan semakin dekat dengan NYA akan tetapi malah semakin jauh dari ALLAH SWT.

Mohon pencerahannya.
Wassalam,
Abu Azzam
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]] On Behalf Of Agus Safudi - HRD
Sent: Tuesday, February 21, 2006 8:14 AM
To: Milis is-lam
Subject: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ...


Assalamu'alaikum wr. wb.
(lanjutan)
Kenikmaatan indrawi tertinggi adalah MENIKAH sbb:
QS 30:21 "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu  isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa  tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
kasih dan sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir")
Dengan demikian, seorang yang imannya benar seharusnya tidak mengambil
jalan hidup seperti pendeta atau rahib yang memutuskan untuk tidak menikah,
meninggalkan keruwetan, mengasingkan diri dan tidak mau menghadapi dan
menyelesaikan masalah.
Toh contoh terbaik ummat ini Rasululloh saw pun menikah, memiliki anak, dst.
Kecuali jika menikah dapat menyakiti atau mengecewakan pasangan,
maka mungkin pilihan terbaik adalah untuk tidak menikah, inipun
tentunya sudah diusahakan semaksimal mungkin dan ternyata memang tidak
bisa diupayakan, misalkan karena 'lemah'.
Artinya kalo sudah seperti ini maka Alloh tidak semata-mata melihat
hasilnya saja, tapi proses nya pun akan tetap mendapat nilai.
Kenikmatan berikutnya adalah kenikmatan AKLIYAH, dan puncak dari
kenimatan akliyah ini adalah ILMU.
Alloh SWT berfirman dalam kalam-Nya yang mulia sbb:
QS 58:11
",niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat".
Kalo tidak salah, Ibnu Abbas ra pernah mengomentari ayat tsb diatas sbb:
Jarak antara Alim dan Abid berkaitan dengan ayat di atas adalah sebanyak
7 derajat dimana jarak antara setiap 2 derajat adalah sama dengan perjalanan
500 tahun didunia lamanya, Subhanalloh.
Dengan Ilmu seseorang akan mengenal Tuhan-Nya,
Dengan Ilmu seseorang menjadi tahu mana yang Halal dan mana yang Haram,
Dengan Ilmu seseorang menjadi tahu hal-hal yang di perintahkan dan
dilarang dalam agamanya.
Dengan Ilmu seseorang menjadi utama,
dan dengan Ilmu pula Nabi Adam as dimuliakan oleh-Nya.
dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya karena ilmu.
Dengan demikian ketika seorang mukmin memiliki ilmu, maka
sebenarnya dia telah mendapatkan nikmat yang besar dari-Nya yang
tentu saja karena adanya usaha dari ybs juga.
Mungkinkah hal-hal tersebut diatas yang terkait dengan Ilmu
kita katakan bahwa itu bukanlah suatu nikmat yang besar dari-Nya?,
Saya kira tidak demkian adanya.
Insya Alloh akan dilanjutkan pada kenikmatan berikutnya yaitu
kenikmatan BATHINIYAH yang setelah itu akan kembali pada judul
yaitu DZIKIR.
Hadanallohu wa iyyakum ajma'in,
Wassalamu'alaikum wr. wb.
a.s.
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke