Assalamu'alaikum wr. wb.
Alhamdulillahirobbil'ala min,

Mas Dwi (maaf kalo kurang berkenan saya panggil anda demikian)
Pengertian ILMU dalam konteks tema ini yang saya maksud adalah 
masih sangat-sangat umum (ijmali)dan tidak mengarah pada pengertian
yang khusus (tafsili).

Ilmu apa saja selama bisa mengantarkan untuk ber ma'rifat pada-Nya
baik melalui ILMU atau ASMA-Nya, maka ilmu itu pasti bermanfaat, artinya
ilmu apa saja yang bisa meningkatkan keimanan seorang mukmin maka 'menurut
saya' seorang mukmin bisa menjadi wajib untuk menuntutnya walaupun dilihat
kasus per kasus dan tentu saja sesuai dengan kemampuan, toh Alloh Azza Wa Jalla
tidak membebani manusia melebihi kapasitasnya.

Seperti misalnya Ilmu, Tauhid ini memang sudah seharusnya seorang muslim untuk
mempelajarinya, tapi bisa juga dengan ilmu-ilmu lain seseorang bisa bertambah
keimanannya, misalkan dengan ilmu Astronomi, ilmu kedokteran, kalo memang 
seperti
itu kenapa tidak, artinya ilmu-ilmu terapan apa saja kalo memang bisa
menambahkan keimanan seorang mukmin kenapa tidak untuk mempelajarinya kan gitu 
ya mas.

Memang ada beberapa ulama baik yang dahulu maupun yang sekarang yang membagi
ilmu menjadi ilmu dunia dan ilmu akhirat, ilmu yang fardhu 'ain untuk
menuntutnya dan ada juga yang fardhu kifayah.
Saya fikir ilmu-ilmu yang harus dituntut oleh muslim saat ini adalah harus
intens sama ilmu yang dahulunya dianggap fardhu kifayah untuk menuntutnya,
kalo muslim dan mukmin mau mengejar ketertinggalannya.

Dengan Ilmu seseorang memang bisa mendapat hidayah, tapi dengan Ilmu pula
seseorang bisa disesatkan, maka harus istiqomah dengan niat menuntut
ilmu itu untuk apa.

Itu saja Mas Dwi, dan mohon maaf bila diskusi ini tidak memuaskan.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

a.s.



-----Original Message-----
From: Eriko Wistaria Dwi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 21, 2006 8:35 AM
To: 'Milis is-lam'
Subject: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ...


Wa'alaikum salam wr.wb. 
Mas Agus, 
Saya tertarik dengan pembahasan Mas Agus masalah ILMU. Yang ingin saya ketahui 
lebih dalam mengenai ILMU ini adalah ILMU yang bagaimana ? Karena di zaman 
sekarang ini orang yang BERILMU bukannya bertambah keyakinan tentang adanya 
ALLAH SWT dan semakin dekat dengan NYA akan tetapi malah semakin jauh dari 
ALLAH SWT.
Mohon pencerahannya. 
Wassalam, 
Abu Azzam 
-----Original Message----- 
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Agus Safudi - 
HRD 
Sent: Tuesday, February 21, 2006 8:14 AM 
To: Milis is-lam 
Subject: RE: [is-lam] DAHSYATNYA ZIKIR: BETAPA MUDAHNYA BERZIKIR ITU ... 


Assalamu'alaikum wr. wb. 
(lanjutan) 
Kenikmaatan indrawi tertinggi adalah MENIKAH sbb: 
QS 30:21 "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan 
untukmu  isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung 
dan merasa  tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa 
kasih dan sayang.  Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar 
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir") 
Dengan demikian, seorang yang imannya benar seharusnya tidak mengambil 
jalan hidup seperti pendeta atau rahib yang memutuskan untuk tidak menikah, 
meninggalkan keruwetan, mengasingkan diri dan tidak mau menghadapi dan 
menyelesaikan masalah. 
Toh contoh terbaik ummat ini Rasululloh saw pun menikah, memiliki anak, dst. 
Kecuali jika menikah dapat menyakiti atau mengecewakan pasangan, 
maka mungkin pilihan terbaik adalah untuk tidak menikah, inipun 
tentunya sudah diusahakan semaksimal mungkin dan ternyata memang tidak 
bisa diupayakan, misalkan karena 'lemah'. 
Artinya kalo sudah seperti ini maka Alloh tidak semata-mata melihat 
hasilnya saja, tapi proses nya pun akan tetap mendapat nilai. 
Kenikmatan berikutnya adalah kenikmatan AKLIYAH, dan puncak dari 
kenimatan akliyah ini adalah ILMU. 
Alloh SWT berfirman dalam kalam-Nya yang mulia sbb: 
QS 58:11 
",niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan 
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". 
Kalo tidak salah, Ibnu Abbas ra pernah mengomentari ayat tsb diatas sbb: 
Jarak antara Alim dan Abid berkaitan dengan ayat di atas adalah sebanyak 
7 derajat dimana jarak antara setiap 2 derajat adalah sama dengan perjalanan 
500 tahun didunia lamanya, Subhanalloh. 
Dengan Ilmu seseorang akan mengenal Tuhan-Nya, 
Dengan Ilmu seseorang menjadi tahu mana yang Halal dan mana yang Haram, 
Dengan Ilmu seseorang menjadi tahu hal-hal yang di perintahkan dan 
dilarang dalam agamanya. 
Dengan Ilmu seseorang menjadi utama, 
dan dengan Ilmu pula Nabi Adam as dimuliakan oleh-Nya. 
dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya karena ilmu. 
Dengan demikian ketika seorang mukmin memiliki ilmu, maka 
sebenarnya dia telah mendapatkan nikmat yang besar dari-Nya yang 
tentu saja karena adanya usaha dari ybs juga. 
Mungkinkah hal-hal tersebut diatas yang terkait dengan Ilmu 
kita katakan bahwa itu bukanlah suatu nikmat yang besar dari-Nya?, 
Saya kira tidak demkian adanya. 
Insya Alloh akan dilanjutkan pada kenikmatan berikutnya yaitu 
kenikmatan BATHINIYAH yang setelah itu akan kembali pada judul 
yaitu DZIKIR. 
Hadanallohu wa iyyakum ajma'in, 
Wassalamu'alaikum wr. wb. 
a.s. 
_______________________________________________ 
is-lam mailing list 
[email protected] 
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam 
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke